
Setelah menghabiskan makanan mereka, Rian dan Rossi berniat untuk langsung pulang, apalagi saat melihat cuaca mendung yang sudah pasti akan turun hujan.
Tapi baru saja mereka melangkahkan kaki keluar tiba-tiba hujan pun turun, dan semakin lama hujan pun semakin lebat, hingga mereka masuk kembali kedalam warung bakso itu.
Sejak tadi Rossi merasakan kegelisahan di dalam hatinya, ia ingin segera pulang agar tidak membuat ibunya khawatir, ia juga tahu bahwa Yuda pasti ikut menunggu ia pulang seperti biasanya.
Rossi mengambil ponsel di dalam tasnya, lalu melihat ponsel yang sudah berada di tangannya, karena biasanya Yuda akan mengirim pesan dan bertanya apakah dia sudah pulang atau belum seperti yang sudah-sudah. Tapi entah mengapa hari ini tidak ada pesan masuk dari Yuda, dan hal itu membuat Rossi semakin gelisah saja.
Sebenarnya Rian menyadari kegelisahan Rossi, gadis itu sejak tadi terlihat meremas jari-jemarinya, juga berulang kali melihat ponselnya, namun Rian berfikir bahwa Rossi seperti itu karena cemas melihat hari yang sudah sore. Rian memilih diam dan membiarkan Rossi, agar gadis itu tidak semakin gelisah jika ia dekati, dan berniat langsung menghantar Rossi pulang dengan cepat setelah hujan reda.
Beberapa menit kemudian hujan terlihat mulai berhenti, dan setelah hujan benar-benar reda, Rossi segera meminta Rian untuk mengantarnya pulang.
Di tengah perjalanan, Rossi dan Rian melihat adanya kerumunan orang-orang di jalan mereka juga melihat ada sebuah mobil ambulan dan juga mobil patroli di sana. Karena penasaran Rian pun memutuskan untuk sedikit mendekat lalu ia pun bertanya kepada seseorang yang berdiri di dekat motor mereka.
"Ada apa ya pak?" Tanya Rian kepada seorang laki-laki.
"Ada yang kecelakaan dek." Jawab Laki-laki itu.
"Lalu bagai mana keadaan orangnya, pak?" Tanya Rian lagi.
"Itu sudah di dalam ambulan dek." Jawab laki-laki itu sambil menunjuk ke mobil ambulan. "polisi juga lagi berusaha menghubungi keluarganya tuh, sepertinya anak daerah sini, karena gak bawa identitas." Sambung pria itu lagi.
Rossi yang masih berada di atas motor, berusaha untuk melihat, namun karena kerumunan orang yang lumayan banyak membuatnya susah untuk melihat siapa korba kecelakaan itu .
Rian kembali menarik gas motornya setelah selesai bertanya kepada laki-laki tadi, dan saat melewati kerumunan orang yang masih terlihat di TKP, samar-samar Rossi melihat sepeda motor yang akan di naikkan ke atas mobil patroli polisi, dan ia pun merasa seperti mengenali sepeda motor itu.
Rossi terus menatap sepeda motor itu, bahkan sampai mereka telah jauh.
"Itu seperti motornya Yuda, Rian." Akhirnya Rossi bersuara mengeluarkan isi kepalanya.
"Ah masa sih?" Tanya Rian, ia sempat menoleh namun tidak dapat lagi melihat motor itu karena mereka sudah lumayan jauh.
"Iya, motornya persis banget, aku kan hampir tiap hari naik motor Yuda." Ucap Rossi lagi.
"Mungkin cuma kebetulan mirip, Ros. Lagian motor seperti itu kan banyak. Udah ah jangan mikir yang bukan-bukan, kalau memang itu motor Yuda, berarti yang tadi kecelakaan Yuda dong." Jawab Rian lagi.
Rian kembali menarik gas sepeda motornya, agar mereka cepat sampai karena sepertinya akan kembali turun hujan.
Saat tiba di rumah Rossi, Rian langsung berpamitan dan segera pergi dari sana, Rossi yang ingin masuk ke dalam rumah, sesaat berhenti dan melihat arah rumah Yuda yang bersampingan dengan rumahnya.
__ADS_1
Rumah itu nampak tertutup dan terlihat mobil milik ayah Yuda yang ada di teras rumah. Rossi tampak tersenyum, karena sepertinya memang tidak terjadi apa-apa kepada temanya itu, buktinya saja semua terlihat baik-baik saja seperti biasanya, meskipun entah mengapa ia masih merasakan kegelisahan di hatinya.
Ia memang tidak melihat sepeda motor milik Yuda, karena biasanya memang sepeda motor Yuda akan langsung ia masukkan ke dalam rumah, jika tidak lagi ingin di pakai keluar.
Rossi melangkah masuk dan menemui ibunya yang terlihat sedang memasak makanan untuk mereka malam ini.
"Udah pulang, Ros?" Tanya ibunya.
"Iya bu." Jawab Rossi sambil mengalami ibunya.
Setelah itu ibunya melanjutkan aktifitasnya dan tidak menanyakan dengan siapa ia pulang, karena memang terlihat masih sibuk memasak makanan untuk makan malam, sedangkan Rossi langsung segera menuju kamar mandi setelah sebelumnya meletakkan peralatan sekolahnya di kamar.
Malam pun tiba, rasa dingin akibat hujan yang sempat turun kembali terasa menusuk hingga kedalam tulang, Rossi terlihat menyingkap gorden yang menutupi kaca rumahnya, ia menatap ke arah jalan berharap sahabatnya itu segera mengunjunginya seperti biasanya saat ia tidak ikut menemani Rossi latihan, menanyakan tentang keadaannya dan memastikan dirinya baik-baik saja.
Namun, sampai jam menunjukan pukul sembilan malam, yang di tunggu Rossi tidak kunjung datang. Perasaannya mulai kembali gundah, hatinya pun bertanya-tanya kemana Yuda pikirnya.
Rossi menatap layar ponselnya dan mencoba melihat pesan yang ia kirim kepada Yuda melalui WhatsApp, tapi ternyata masih belum juga di baca.
"Gak biasanya Yuda sepeti ini, masa chat ku sampai sekarang belum di baca." Gumam Rossi, ia pun mulai gelisah lagi dengan pikiran yang sudah banyak pertanyaan, ingatannya kembali pada sebuah kecelakaan sore tadi.
"Gak, Yuda pasti baik-baik saja, mungkin dia sudah tidur lebih cepat, karena hujan kan jadi dingin, bikin ngantuk." Gumam Rossi.
Tapi saat Rossi kembali membuka ponselnya, ternyata pesan yang ia kirim masih juga belum terbaca.
Rossi keluar dari dalam kamar dan langsung membuka pintu, ia keluar dua langkah dari pintu untuk melihat ke arah rumah Yuda, dan anehnya mobil yang kemarin sore ia lihat masih terparkir, kini sudah tidak ada lagi di tempat biasnya itu.
"Om dan tante kemana ya? Masa sepagi ini sudah berangkat kerja sih? Biasanya kan pasti aku dan Yuda yang berangkat lebih dulu dari mereka'' Gumam Rossi.
Ia pun berniat untuk pergi menuju rumah Yuda, namun langkahnya terhenti karen ibu yang menegurnya.
"Kamu mau kemana, Ros?" Tanya bu Nurmala pada putrinya yang terlihat di luar.
"Mau ke rumah Yuda bu." Jawab Rossi
"Mau ngapain pagi-pagi begini ke sana? Ayo buruan mandi dan sarapan, nanti kalau mau berangkat kan kamu pasti ke rumah Yuda dulu. Gak enak tante Ratna pasti sedang sibuk." Ujar Bu Nurmala yang tau persis tetangga baiknya itu pasti sedang sibuk membereskan rumah dan bersiap untuk pergi kerja.
"Tapi itu mobil om dan tante sepertinya gak ada ya, Bu." Ujar Rossi lagi, yang terlihat berjalan masuk kedalam rumah.
"Mungkin mereka sedang keluar. Lagian kamu kenapa kepo begitu?" Tanya Nurmala.
__ADS_1
"Sepagi ini?" Tanya Rossi lagi.
"Ya mana ibu tau, Ros. Namanya orang ada keperluan kan gak kenal waktu, lagian kamu kenapa pagi-pagi sudah kepo dengan urusan orang." Ulang Nurmala lagi.
"Bukan gitu bu. Biasanya om dan tante pasti akan pamit dengan kita kalau ingin bepergian bukan?" Jawab Rossi.
"Mungkin mereka ada perlu mendadak. Sudah buruan mandi, nanti malah Yuda yang kelamaan nungguin kamu gak kelar-kelar, kan gak enak." Ucap bu Nurmala.
Rossi langsung pergi dari hadapan ibunya menuju kamar, ia terlihat mengambil handuknya dan langsung menuju kamar mandi.
Rossi terlihat berdiri di pinggir jalan tepat di depan rumahnya, ia berniat untuk pergi menghampiri Yuda di rumahnya, namun saat melihat lampu bagian teras rumah Yuda masih menyala ia pun mengurungkan niatnya, apa lagi Rossi masih juga tidak melihat mobil di tempat biasanya itu.
"Sepertinya memang gak ada orang deh. Tapi tumben sekali tante gak bilang apa-apa, biasanya kalau mau pergi, pasti pamit dengan ibu."
Kebiasaan Ratna yang selalu berpamitan saat akan bepergian ke pada Nurmala dan Rossi, tentu saja menimbulkan pertanyaan jika mereka sampai tidak ada di rumah tapi Rossi dan ibunya tidak mengetahui kemana mereka.
Rossi masih celingukan menunggu, berharap ada yang keluar dari dalam rumah itu, apa lagi hari sudah semakin siang, tapi Yuda juga tidak kunjung keluar, dan sampai akhirnya Rian datang menghampirinya, Rossi masih tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan orang di rumah Yuda.
"Tumben belum jalan, Ros. Biasanya jam segini aku sudah gak liat kamu di rumah." Tanya Rian.
Rian pernah saat itu membonceng Rossi ke sekolah, tapi saat itu Rian sengaja berangkat pagi biar bisa mengajak Rossi pergi sekolah bersamanya, karena ingin mengajak anak perempuan itu ikut ekstrakurikuler musik bersamanya.
Saat Rian melintasi dua anak perempuan yang dulu juga teman SMP Rossi, tengah duduk di kantin dan ngobrol mengatakan bahwa Rossi jago bermain musik, dari situ dia mulai berfikir untuk mengajak teman yang pernah ia jahili habis-habisan itu untuk mengikuti ekstrakurikuler bersama.
"Iya ni, Rian. Aku juga gak tahu Yuda kemana? Sampai jam segini rumahnya masih kelihatan sepi, sepertinya gak ada orang deh di sana." Rossi mengarahkan dagunya menunjuk arah rumah Yuda.
"Mungkin mereka lagi pergi Ros." Ujar Rian.
"Iya kali ya, tapi tumben gak pamitan dulu. Biasanya tante Ratna pasti berpamitan dengan ibu sebelum berangkat, dan minta di jagain Rumahnya." Jawab Rossi.
"Jagain Rumah? Emang rumahnya mau kemana?" Rian mencoba membuat lelucon. tapi Rossi hanya tersenyum sambil memutar bola matanya saja.
"Kamu ada-ada saja, Rian. Maksud tante kalau ada yeng mau maling gitu." Jelas Rossi.
"Oh.. kirain." Jawab Rian sambil mangut-mangut dan tersenyum samar
"Ya sudah kalau begitu bareng aku saja, Ros. Brang kali Yuda memang gak masuk sekolah hari ini, dari pada kamu telat." Usul Rian.
Rossi kembali menoleh melihat ke arah Rumah Yuda, setelah memastikan benar-benar tidak ada tanda-tanda akan keluarnya Yuda dari dalam rumah, Rossi pun menyetujui usulan Rian untuk berangkat bersama dirinya.
__ADS_1