
Mendengar Aris mengundurkan diri dari pertaruhan mereka, kedua temannya pun jadi mengolok-olok dirinya dan mengatakan Aris cemen.
Dan karena rasa penasarannya, kini Firman yang mengatakan ingin maju untuk mencoba mendekati Rossi.
"Baru segitu aja kamu sudah menyerah, Ris. Cemen banget sih." Ujar Firman.
"Aku sudah peringati kalian untuk berhenti, tapi kalau kalian memaksa, ya terserah saja. Yang pasti aku sudah gak mau ikut-ikutan." Ucap Aris yang merasa benar-benar sudah kapok untuk mendekati Rossi.
"Alah, baru gitu aja kamu udah menyerah. Payah." Jawab Dirman.
"Aku jadi penasaran, sesusah apa sih mendekati Rossi." Firman mulai penasaran.
"Gimana kalau sekarang giliran kamu?" Usul Dirman.
"Oke, boleh juga. Aku yakin Rossi pasti akan bertekuk lutut kepada ku." Jawab Firman dengan penuh percaya diri. Dan Aris hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Firman.
Saat melihat kehadiran Rossi di ruang kelas, ketiganya pun langsung diam dan kembali duduk di kursi mereka masing-masing.
"Ris, gimana keadaan kamu?" Rossi mendekati kursi Aris.
"Aku baik-baik saja. Cuma teh asin mah gak mungkin buat akau jadi lemah." Jawab Aris dengan tersenyum, tapi sebenarnya di dalam hati ia masih menyimpan rasa kesalnya terhadap Rossi.
"Sekali lagi aku minta maaf ya, Ris." Ucap Rossi. Meski senang berhasil memberi pelajaran kepada Aris, tapi Rossi tetap merasa bersalah.
"Sudah santai aja kali, lupain aja lah, anggap aja yang semalam gak pernah terjadi." Aris mengibaskan tangan di depan wajahnya dengan santai.
Rossi duduk di kursinya setelah selesai berbicara dengan Aris. Tapi setelah itu Firman terlihat mendekati tempat duduk Rossi.
"Ros, malam minggu ada acara gak?" Tanya Firman yang mulai membuka suara.
Rossi menoleh ke arah Firman, sambil memicingkan matanya?
"Gak ada, kenapa?" Rossi menyadari sesuatu, mengingat Firman ikut terlibat dalam taruhan bersama Aris.
"Kalau gak ada acara, gimana kalau kita pergi ke pasar malam." Ajak Firman, kebetulan sedang di adakan pasar malam yang tidak begitu jauh dari kediaman Rossi.
"Aku sudah pernah ke sana." Jawab Rossi mencoba menolak.
"Ayolah, Ros. Sekali-kali jalan sama aku." Bujuk Firman.
"Aku pikir-pikir dulu." Jawab Rossi.
Rossi tahu bahwa ini salah satu bagian dari rencana mereka, ia pun jadi bingung mau menerima atau tidak ajakan Firman, dia tidak bisa memutuskannya sendiri tanpa Yuda.
Saat jam istirahat tiba, Rossi segera menemui Yuda dan menceritakan tentang ajakan Firman. Mereka terlihat berdiskusi sambil berfikir rencana apa yang akan mereka susun untuk memberi pelajaran kepada Firman.
"Gimana?" Tanya Rossi.
"Terima saja tawarannya." Jawab Yuda.
__ADS_1
"Kamu yakin? Nanti bilang sama Ibu gimana? Kamu tahu sendiri ibu gak akan ngizinin aku keluar tanpa kamu." Kata Rossi.
"Itu masalah gampang, nanti biar aku yang minta izin dengan tante." Jawab Yuda.
Saat jam istirahat telah habis, Rossi masuk ke dalam ruang kelasnya dan lagi-lagi Firman menanyakan tentang ajakannya.
"Gimana, Ros. Ayolah, sesekali jalan sama aku. Gak bosen jalan sama Yuda mulu." Ucap Firman.
"Oke, jemput aku sebelum jam tujuh malam." Jawab Rossi mengiyakan ajakan Firman.
Sebenarnya Rossi merasa tidak senang dengan ucapan Firman. Bagaimana mungkin Ia bisa bosan kepada Yuda, sementara sejak kecil hingga kini, hanya Yuda lah satu-satunya orang yang selalu di sampingnya dalam setiap keadaan.
Malam yang di tunggu datang, tepat jam tujuh kurang lima belas menit Firman sudah tiba di kediaman Rossi menggunakan sepeda motor gedenya.
Rossi yang sudah menunggu di teras rumahnya segera menghampiri Firman yang masih duduk di atas motornya. Ia sedikit ragu untuk pergi, tapi Yuda memaksanya dengan beralasan ini adalah saat yang tepat untuk memberi pelajaran kepada Firman.
"Ayo naik, Ros."
"Tunggu sebentar." Jawab Rossi sambil melihat ke arah rumah Yuda.
"Nungguin apa?" Tanya Firman yang mengikuti arah pandang Rossi, namun belum sempat menjawab Rossi langsung tersenyum saat melihat Yuda datang dengan sepeda motornya.
"Kamu mau ngapain." Tanya Firman kepada Yuda yang sudah berada di dekatnya.
"Nemenin Rossi pergi." Jawab Yuda enteng.
"What? Aku cuma ngajak Rossi buat pergi, gak ngajak kamu juga." Firman tampak terkejut, dan wajahnya mulai tidak bersahabat.
"Kenapa?" Tanya Firman bingung.
"Karena Ibu hanya mengizinkan aku keluar malam dengan Yuda, tanpa Yuda kita tidak akan jalan malam ini." Rossi menjawab dengan tersenyum.
Firman mulai jengkel, tapi demi jalan dengan Rossi mau tidak mau ia harus membiarkan Yuda ikut bersama mereka.
"Ya sudah, tapi sampai di sana kamu gak perlu ikuti aku dan Rossi." Ucap Firman dengan kesal. Dan Yuda hanya memutar bola matanya.
Mereka bertiga pergi menuju pasar malam yang di gelar tak begitu jauh dari kediaman Rossi dan Yuda. Sesampainya di sana Yuda langsung sedikit menjaga jarak sesuai permintaan Firman.
Tapi tentu saja Yuda tidak akan membiarkan keduanya pergi hanya berdua, ia sangat khawatir jika Firman akan melakukan sesuatu kepada Rossi.
Diam-diam Yuda membuntuti mereka, ia sembunyi-sembunyi di kerumunan orang saat Firman menoleh karena merasa di ikuti.
"Man, makan dulu ya. Aku dari tadi belum makan, lapar. Kita juga sudah muter-muter dari tadi." Ucap Rossi.
"Boleh, kamu mau makan apa?" Tanya Firman.
"Tuh ada tulisan nasi goreng, kita makan itu saja ya?" Rossi menunjuk ke salah satu penjual nasi goreng yang berada di barisan pinggir.
"Oke, kita ke sana."
__ADS_1
Mereka berdua segera menuju tempat penjual nasi goreng yang terlihat ramai oleh pengunjung pasar malam.
"Sepertinya penuh, Ros. Kita cari tempat lain saja ya." Ucap Firman yang melihat tidak ada bangku kosong di tempat penjual nasi goreng.
"Eh itu ada tempat kosong." Tunjuk Rossi sambil menunjuk tempat itu.
Mereka pun menuju tempat kosong yang ditunjuk Rossi, namun tidak di sangka saat mereka tiba di sana, Yuda pun tiba di tempat duduk itu.
"Yuda." Firman terkejut. "Kamu ngikutin kami ya?" Firman kembali kesal, dia memang sudah merasa ada yang mengikutinya sejak tadi.
"Enak saja, siapa yang ngikuti kalian. Aku duluan yang sampai sini." Elak Yuda.
"Sudah jangan ribut, ini tempat umum, malu tau." Rossi melerai sambil melirik orang-orang sekitar yang memang memperhatikan mereka.
"Kita cari tempat lain, Ros." Firman menarik tangan Rossi.
"Gak mau, aku mau makan disini, kalau kamu gak mau ya sudah pergi saja sana." Rossi menghempas tangan Firman yang ingin menariknya.
Firman menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.
"Ya sudah kita makan di sini saja." Jawab Firman sambil melirik tajam Yuda yang terlihat tersenyum penuh kemenangan.
Yuda yang melihat arah tangan Rossi saat menunjukan tempat makan itu, langsung berinisiatif untuk mengikuti mereka, dan saat tahu hanya satu tempat duduk yang kosong di sana, ia dengan segera mendekat agar bisa duduk bersama Rossi dan Firman. Membuat jengkel Firman memang salah satu dari Rencana mereka.
"Man, kamu yang traktir aku ya, sekali-kali lah." Ucap Yuda.
Firman pun terkejut dengan ucapan Yuda, saat ia berniat untuk buka suara, Firman menoleh kearah Rossi yang duduk di hadapannya menatap seolah ikut menunggu jawaban atas permintaan Yuda.
"Aku gak mungkin nolak, mau di tarok kemana muka ku kalau sampai tidak mau membayarkan makanan tuyul satu itu. Rossi pasti berfikir aku pelit dan nolak aku nanti, dasar pengganggu, Akhhhh." Batin Firman.
"Ya sudah iya, lagian juga cuma nasi goreng." Jawab Firman.
Firman memesan tiga nasi goreng kepada penjual lalu kembali duduk bersama Rossi dan Yuda.
"Nah, kalau makan diluar gini kan gak mungkin ada kejadian seperti Aris yang minum teh asin. Untuk aku berinisiatif untuk ngajak Rossi keluar, dari pada harus berkunjung di rumahnya yang ada nanti aku di kasih kopi asin." Batin Firman. Ia pun bergidik ngeri membayangkan minum kopi atau teh asin.
"Kamu kenapa, Man? Kok kayak bergidik gitu?" Tanya Rossi yang melihat Firman bergidik karena membayangkan sesuatu.
"Eh, gak apa-apa, Ros. Aku kedinginan aja." Jawab Firman sembarang.
"Kalau gitu habis ini kita pulang saja, nanti kamu masuk angin terus sakit." Jawab Rossi.
"Gak kok, gak apa-apa." Jawab Firman.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya makanan mereka bertiga pun datang, mereka segera memakannya hingga habis.
"Aku duluan ya." Yuda bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Rossi dan Firman.
"Mau kemana?" Tanya Rossi.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja." Jawab Firman.