Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
17. Mengingat Kenangan Saat SD.


__ADS_3

Dengan semakin sibuknya Rosa, membuat komunikasinya bersama Reno semakin berkurang, apa lagi Reno sering menasehati gaya hidup Rosa yang semakin boros karena mengikuti tren, membuat Rosa terkadang merasa jengah untuk mendengar ocehan Reno, hingga Rosa sering mengabaikan telpon dari kekasihnya itu.


Dengan sabar Reno tetap memahami tingkah Rosa, ia berusaha positif thinking dengan berfikiran bahwa Rosa hanya sedang menikmati hidup dari hasil jerih payah dan juga kesuksesannya saat ini.


Dan benar saja, semakin banyak pundi rupiah yang ia dapatkan, kehidupan Rosa terlihat semakin glamor, ia tidak segan-segan menghamburkan uangnya hanya untuk kesenangan semata, ia juga mulai suka mengumpulkan barang-barang trendy yang cukup mahal.


Om dan tante Rosa tentunya memberikan nasehat kepada gadis yang sejak kecil mereka rawat itu, namun seperti angin berlalu Rosa menanggapi nasehat yang di berikan kepadanya. Rosa akan mengiyakan ucapan yang di katakan om dan tantenya saat mereka tengah berbicara di hadapannya, namun nyatanya ia tidak benar-benar mendengarkan segala nasehat itu dan masih melakukan apa saja yang membuatnya senang.


Rosa kini tidak hanya bekerja sama dengan Dewi, ia juga menerima tawaran dari pihak lain untuk mempromosikan busana dan juga lainya, namun tentu saja penghasilannya masih lebih besar dari kontrak bersama Dewi, bonus pun selalu Rosa dapatkan saat target penjualan perusahaan Dewi mencapai targetnya.


********


Teriakan siswa siswi terdengar begitu mendominasi di telinga, jam istirahat memang menjadi momen yang sangat di nantikan para pelajar setelah berjam-jam berkutat dengan buku dan pulpen mereka.


Seorang anak perempuan terdengar berteriak sambil berlari mendekati Rossi dengan membawa ponsel yang ada di genggamannya. Ia ingin menghampiri Rossi yang tengah duduk menikmati camilannya.


"Rossi!"


"Rossi!"


Suara itu terdengar berulang kali memanggil dan terdengar semakin kencang karena semakin mendekati daun telinga si pemilik nama.


Rossi hanya melihat tanpa menjawab, ia memperhatikan langkah Tina yang semakin cepat mendekatinya.


"Ada apa?" Tanya Rossi, saat anak itu sudah berada di hadapannya.


"Ros, coba kamu lihat, bukannya ini kakak mu ya, kak Rosa?" Ucapnya sambil menunjukan sebuah vidio yang sedang berputar di ponselnya.


Sebagai tetangga Rossi, tentu saja Tina mengenali Rosa, meski sudah lama mereka tidak berjumpa karena Rosa memang jarang sekali pulang.


"Iya benar, ini kak Rosa." Jawab Rossi dengan sedikit senyuman.

__ADS_1


"Wah, kak Rosa sekarang jadi artis ya, Ros? Lihat deh penampilannya cantik banget ya?" Pujian itu terdengar begitu mendamba.


"Ros, nanti kalau kakak mu pulang kampung beritahu aku ya, aku ingin foto bareng hehehe." Rossi hanya mengangguk menanggapi ucapan Tina.


Namun di dalam pikiran Rossi, entah kapan hal itu akan terjadi. Saat belum terkenal saja kakaknya jarang sekali pulang kampung, apa lagi setelah terkenal seperti ini, bisa saja Rosa tidak mau lagi menginjak kampung kelahirannya itu.


Biasanya jika hari raya tiba, ia dan ibunya lah yang akan diminta datang ke Jakarta. Pamannya akan mengirimkan uang sebagai ongkos mereka, dan memang sudah jarang sekali pulang kampung halaman karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan.


Nenek dan kakek Rossi juga memang sudah tiada, hanyalah Rossi dan ibunya kerabat yang tinggal di kampung halaman itu.


Mengetahui kakaknya sudah jadi terkenal beberapa minggu lalu, membuat Rossi dan ibunya sangat senang, tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama, setelah tahu sikap Rosa yang mulai berubah dan seperti sangat tidak ingin mereka ganggu.


Nurmala berulang kali mencoba menghubungi putri tertuanya itu hanya untuk menanyakan kabar, tapi telpon darinya jarang sekali mendapat respon, dan bila Rosa mengangkat telponnya, itu tidak akan mungkin lebih dari lima menit, karena Rosa akan mengatakan bahwa ia sedang sibuk.


Semenjak berpenghasilan cukup banyak, Rosa memang tidak lupa untuk membagi rezekinya kepada ibu dan adiknya, namun tentu saja sebagai seorang ibu, bukalah materi yang menjadi hal penting, tapi kebersamaan dan juga komunikasi yang baik yang sangat diharapkan Nurmala.


Di tempat yang sedikit jauh dari tempatnya duduk, pandangan Rossi terlihat tertuju kepada dua orang anak laki-laki yang sepertinya tengah berbincang.


Sesekali seorang anak laki-laki itu menoleh kepadanya sambil melemparkan senyuman, dan langsung mendapat balasan dari Rossi, namun ketika salah satunya lagi yang melihat ke arahnya, dengan cepat Rossi membuang pandangannya.


Tak berselang lama, Yuda tampak menghampiri Rossi, lalu duduk di kursi yang ada di sampingnya.


"Hari ini ada latihan?" Tanya Yuda.


"Iya."


"Aku temani ya. Hari ini aku dan Rian mau main futsal." Rossi pun tak menjawab apa-apa.


Semenjak perubahan sikap keduanya, Rian memang memilih berhenti mengikuti les musik, dan lebih memilih bermain futsal, ia juga sering mengajak Yuda untuk ikut bermain, hitung-hitung sebagai pengusir kebosanan saat sedang menunggu Rossi selesai latihan.


Yuda menerima ajakan Rian, dan ternyata ia juga merasa senang mengikuti oleh raga itu, hingga hampir tiap hari ia mengikuti permainan futsal, meski terkadang Rossi sedang tidak latihan.

__ADS_1


Menyadari perubahan sikap ke duanya membuat Yuda sebenarnya merasa prihatin dengan hubungan pertemanan antara Rian dan Rossi, walau sebenarnya ia juga merasa senang karena Rossi menolak Rian, entah mengapa Yuda tak rela jika Rossi memiliki hubungan dengan laki-laki lain.


Tapi bukan pula permusuhan seperti sekarang ini yang dia harapkan, terkadang Yuda merasa bingung dengan ini semua, kenapa Rossi dan Rian harus memilih saling berjauhan satu sama lain, namun ia tidak bisa terlalu jauh ikut campur, bagaimana pun Rossi mempunyai privasi yang harus Yuda hargai.


Seperti biasa, setelah bel pulang berbunyi ketiganya langsung menuju tempat mereka berlatih masing-masing, dan setelah dua jam bergulat dengan aktifitas mereka, ketiganya pun pulang.


"Ros, gak kerasa ya, sebentar lagi kita kelas dua SMA." Ujar Yuda yang tiba-tiba membuka suara saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dengan menggunakan sepeda motor Yuda.


"Kamu masih ingat gak waktu kita SD, pulang sekolah terkena hujan malamnya kamu demam, dan bunda marahin aku karena nekan ngajak kamu pulang sekolah dalam keadaan hujan." Yuda mengingatkan Rossi tentang kenangan masa kecil mereka.


"Hehehe, iya aku ingat dong." Jawab Rossi sambil tertawa mengingat momen itu.


"Kamu itu cengeng banget Ros, sampai sekarang pun masih cengeng, hahaha." Yuda merasa ada cubitan kecil di pinggangnya yang membuatnya merasa geli.


"Kamu juga, bukannya kamu selalu takut kan kalau aku sedang sakit, kamu pasti nangis di samping tempat tidur di kamar ku. Aku tau lho karena aku kadang pura-pura tidur cuma pengen liat kamu nangis." Rossi pun tak kalah senangnya mengingat hal itu, tawanya memenuhi pendengaran Yuda.


"Ih jahil kamu." Ujar Yuda.


"Ros, nanti saat kita naik kelas dua, aku gak tau apa kita bakal satu kelas atau enggak, tapi kalau kita gak satu kelas lagi, aku harap kamu sudah bisa jaga diri dan gak cengeng lagi." Ujar Yuda.


"Memangnya kenapa?" Rossi membuang wajahnya menatap kearah pinggiran jalan yang terdapat banyak penjual keliling yang sedang mangkal. Jujur saja dia sedikit malu dengan ucapan Yuda yang mengatakan bahwa dirinya cengeng.


"Kata bunda, semakin kita dewasa maka akan semakin berat tantangan hidup. Ada kalanya, kita menghadapi masalah yang tidak dapat kita ceritakan kepada orang lain dan hanya kita yang dapat menyelesaikannya. Jadi, jika suatu hari kamu menemui masalah seperti itu, aku harap kamu bisa kuat Ros, karena gak selamanya aku ada di samping kamu."


"Yuda mau pergi tinggalin aku?" Pertanyaan Rossi terdengar beran dan sedih.


"Enggak, Ros. Bukan begitu, selama aku bisa aku akan selalu ada buat kamu. Tapi.. Ah nanti suatu hari kamu pasti akan mengerti." Jawab Yuda yang seperti kebingungan ingin menjelaskannya kepada Rossi.


Tanpa Yuda sadari dia telah membuat gadis di belakangnya bersedih, Rossi merasa Yuda akan menjauhinya, padahal Rossi berharap Yuda akan terus bersama dengannya karena diam-diam Rossi menyimpan perasaan takut kehilangan kepada Yuda.


Mungkin inilah yang dikatakan Yuda, bahwa suatu saat ada masalah yang tidak bisa di katakan kepada orang lain, seperti perasaanya kepada Yuda yang tidak bisa ia katakan kepada siapapun termasuk laki-laki di depannya itu.

__ADS_1


Namun sebenarnya rasa sayang Yuda kepada Rossi juga mulai berubah menjadi perasaan takut kehilangan, mungkin karena hanya Rossi gadis yang mengerti dan tahu tentang segala sesuatu mengenainya,


Yuda berusaha memendamnya karena dia tidak ingin persahabatan mereka berubah dan hancur seperti saat Rian mengungkapkan perasaanya kepada Rossi. Yuda pun berfikir bahwa suatu saat nanti lebih baik dirinya menjauhi Rossi untuk mengubur perasaanya, agar persahabatan mereka tidak kandas hanya karena masalah cinta.


__ADS_2