Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
17.mantan raffa kembali


__ADS_3

Karyawan Raffa pada kepo dengan penampilan Nona mudanya.


Cici merasa gagal membuat malu Diandra.


Hatinya sangat kesal dan ingin sekali marah.


Raffa dan Diandra duduk di bangku tengah, sang sopir melajukan mobilnya pelan.


Diandra menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Sesekali Raffa mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Sayang....aku mau mampir ke toko bunga." Ucap Diandra lirih.


Raffa hanya mengangguk dan meminta sopir untuk berhenti di toko bunga.


Dia memilih beberapa macam bunga yg ternam cantik dalam pot untuk di bawa pulang. Setelah membayar dia memanggil sang sopir untuk memasukkan bunga-bunga tersebut ke bagasi mobil.


Tak sengaja Diandra menabrak seorang wanita cantik.


brukk....


"Maaf Nona, saya tidak sengaja." ucap Diandra sembari membungkukan kepalanya.


"Tidak apa-apa." jawab Nona itu sopan.


Diandra pergi dan berlalu begitu saja tanpa memperhatikan wajah gadis itu jelas karena ia tak ingin membuat suaminya menunggu lebih lama lagi.


Diandra masuk mobil dan kembali duduk di samping suaminya.


Raffa menarik sabuk pengaman dan memasangkannya pada Diandra.


"Terima kasih sayang."ucap Diandra genit lalu mencium pipi suaminya.


Raffa hanya tersenyum tipis memandang istrinya penuh cinta.


Mobil raffa melenggang mulus di halaman rumahnya.


Bibi membukakan pintu dan keluar membantu sang sopir menurunkan beberapa pot bunga dari atas mobil.


Diandra menyuruhnya menaruh di taman belakang dekat kolam renang.


Raffa naik ke atas terlebih dahulu tanpa menunggu istrinya,


kemudian di susul Diandra jauh di belakangnya.


Diandra duduk di sofa sambil membalas beberapa cat dari Rosi.


"Dra, besok antar aku belanja ya." pesan dari Rosi.


"Ok.. aku tunggu langsung di sana ya ." jawab Diandra.


Diandra dan Rosi ingin pergi ke mall besok pagi untuk membeli beberapa keperluan rumah.


Raffa keluar dari kamar mandi dan duduk di sebelah Diandra.


Dia hanya memakai handuk putih yg ia lilitkan di pinggangnya dan mengusap rambut basahnya dengan handuk putih kecil.


Diandra melihat tubuh kekar suaminya dengan tersenyum tipis.


"Kau sangat tampan Tuan." ucap Diandra lalu memeluknya.


"Aku memang tampan sejak lahir Nona." jawab Raffa sembari mencubit hidung Diandra pelan.


"Nona, mandilah sana karena badan mu sudah bau asam." tambahnya.


Diandra melepas pelukannya lalu menciumi tubuhnya.


"Kau jahat Tuan, aku tidak sebau itu." jawab Diandra lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.


Raffa terkekeh melihat istrinya sedikit ngambek.


*****


Di tempat lain ada Kafka yg baru saja selesei mandi dan bersiap.


Pakainnya sangat rapi dan memakai parfum wangi.

__ADS_1


Dia pergi dengan mengendarai mobil mewahnya, wajahnya terlihat berseri dan bersemangat.


Dia tersenyum tak sabar ingin bertemu orang yg ia sukai.


Senyumannya sungguh merekah, hatinya sedang berbunga, matany berbinar cerah.


Kafka memarkirkan mobilny pelan di halaman rumah Raffa.


Mematikan mesinnya lalu turun dan masuk ke dalam rumah.


Raffa turun setelah tau adiknya datang tanpa memberitahunya.


Menyambut dengan kedua tangan terbuka lebar.


"Ada apa kamu ke sini, kenapa tidak mengabariku dulu." Ucap Raffa lalu memeluk adiknya.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tau kabar mu saja." jawab Kafka berbohong karena sesungguhnya ia tidak ingin melihat kakaknya namun ia hanya ingin melihat wajah Diandra yg cantik itu.


Dia tau perasaan itu salah dan tak sepantasnya ia membiarkan perasaan itu tumbuh subur, namun perasaan itu tak mampu ia kubur. Semakin hari perasaan itu semakin tumbuh subur tanpa terkendali.


Selesei mandi Diandra berganti pakaian santai lalu turun menyusul suaminya.


Ciandra berjalan agak buru buru dia tidak tahu jika ada Kafka berkunjung ke rumah.


Dia menuruni setiap anak tangga dengan cepat.


Di anak tangga yg terakhir dia menghentikan langkahnya memandang ke arah suami dan adik iparnya yg duduk berhadapan.


Hati diandra terasa tersentak kaget tidak menduga jika Kafka akan senekat itu.


Diandra memutar balik dan ingin kembali ke atas namun Raffa terlebih dahulu memanggilnya sebelum ia kembali ke atas.


"Sayang, kemarilah ada Kafka datang." ucap Raffa yg melambaikan tangganya.


Senyuman Kafka terlihat sumringah ketika melihat orang yg ia cari datang.


Ingin rasanya ia memeluknya namun ia tak mungkin melakukannya karena ada Raffa di dekatnya.


Diandra menarik nafas panjang lalu menghepaskanny pelan. Berjalan lirih dan duduk di samping suaminya. Tangganya menggegam tangan Raffa erat tak ingin melepaskannya.


Diandra hanya mengangguk tanpa melihatnya. Dia mengalihkan pandangannya entah ke arah mana untuk menghindari keresahannya.


Hati dan pikirannya seperti di aduk aduk,m tak tau harus berbuat apa dan bagaimana cara menghindarinya.


Raffa mengajak adiknya untuk menyantap hidangan makam malam bersama.


Diandra duduk di sebelah Raffa sedangkan Kafka duduk di depan Diandra.


Diandra hanya menunduk mencoba menahan amarahnya. Dia berpura- pura seolah tidak ada apa- apa. Ia mulai memutar otak bagaimana caranya menghindari Kafka.


"Sayang, aku harus ke atas duluan karena kepalaku terasa pusing." ucap Diandra berbohong.


Raffa memegang kening istrinya dengan telapak tangganya.


"Badan kamu tidak panas...."


"Iya tapi aku gk enak badan." Sahut Diandra memotong ucapan Raffa lalu pergi meningalkan suami dan adik iparnya.


Diandra berjalan sedikit cepet dan masuk ke kamar.


Membanting tubuhnya kasar sedikit bisa bernafas lega.


Diandra tidak tahu apa yg akan terjadi jika Raffa tau yg sebenarnya.


Dia sangat takut jika Raffa akan meninggalkannya.


Kafka tau jika Diandra mencoba menghindarinya tapi dia tidak akan putus asa untuk mengejarnya.


Setidaknya hari ini dia masih bisa melihat wajah Diandra walaupun hanya sebentar.


Hari sudah larut malam, Kafka pergi dan kembali pulang kerumah.


Raffa kembali ke kamar dan melihat istrinya bersembunyi di bawah selimut.


Mendekati dan mengecek suhu tubuhnya.


"Sayang, apa kau masih sakit, kita harus ke rumah sakit sekarang karena aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu." ucap Raffa khawatir.

__ADS_1


"Tidak perlu ke rumah sakit, aku sudah baikan kok." jawab Diandra.


Raffa percaya dengan istrinya, dia ikut membaringkan tubuhnya lalu memeluk dan mencium istrinya mesra


******


Mentari pagi sudah bersinar terang.


Raffa sudah pergi ke kantor sedangkan Diandra sudah bersiap hendak pergi ke mall bersama Rosi.


Rosi sudah menunggu Diandra di depan pintu masuk.


Tak lama Diandra datang berlari menghampiri sahabatnya.


"Pagi sayang." Sapa Diandra, memeluk Rosi dan mencium pipinya.


"Pagi juga sayang ku."balas Rosi.


Mereka masuk ke mall dan mengujungi beberapa toko pakaian dan beberapa toko lainnya untuk menemukan barang yg mereka inginkan.


Mereka merasa lelah setelah hampir setengah hari mengelilingi mall.


Merek memutuskan untuk istirahat di kedai cofee shop.


Rosi memesan dua minuman dan beberapa cemilan.


Diandra menunggu di meja paling pojok.


Mengambil ponselnya dari tasnya lalu mengirim pesan ke suaminya.


"Sayang, mungkin aku akan sedikit terlambat datang ke kantor karena aku masih di mall."send


Raffa dengan cepat membalas pesen dari istrinya.


"Jika kau terlambat maka aku akan menghukum mu nanti malam." Balasan dari Raffa membuat geli Diandra.


"Terima kasih Tuan, aku sangat suka dengan hukuman mu, hukuman mu membuatku sangat bahagia." Balas Diandra sambil cengingisan.


Rosi membawa nampan yg berisikan dua gelas minuman dan beberapa cemilan.


Mereka menikmatinya dengan santai tiba- tiba seseorang tak sengaja tersandung dan jatuh di samping Diandra.


Diandra membantunya untuk berdiri.


Gadis itu sangat cantik dan seksi dengan beberapa bentuk tubuh yg menonjol,


gadis itu seperti model.


Diandra merasa tidak asing dengan wajah gadis itu. Mencoba mengacak memomorinya yg hampir penuh itu,


ya dia sekarang ingat siapa gadis itu.


Diandra pernah menabraknya di toko bunga hias kemaren sore.


"Terima kasih Nona, kamu sudah menolong mu."ucap gadis cantik itu.


"Tidak perlu sungkan Nona."jawab Diandra.


Gadis itu lalu pergi meninggalkan Diandra.


Gadis itu sangat terburu buru dengan menenteng paperbag di tangganya.


♥️♥️♥️♥️


jangan lupa


👍like


vote


⭐rate dan


tekan tanda♥️


terima kasih jangan lupa juga mampir ke novel aku lainnya


🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2