Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
58. Diandra Terjebak.


__ADS_3

Hei,,, apa kamu sudah mulai gi*a, kenapa senyum-senyum sendiri?" Ledek Kafka.


Kafka tersenyum kejut melihat tingkah An yg sok genit itu.


"Sepertinya kau menikmatinya!" ujarnya yg membuat wajah An menjadi semu merah.


Kini giliran Kafka yg menang dalam permainan ini.


An kembali duduk di kursi yg berada di depan Kafka.


An jadi salah tingkah karena ledekan Kafka.


Mengaruk garuk kepalanya yg tak gatal adalah kebiasaan An saat sedang malu.


"Tuan, dia sangat cantik, apa boleh dia untukku?" tanya An dengan memainkan Alis tebalnya naik turun.


Senyuman An menandakan jika Ia sedang merayu kafka Agar diperbolehkan pacaran dengan Ayu.


Kafka menajamkan padangannya dan tersenyum sinis.


"Apa kau lupa dengan peraturan Kantor ini?"


Ucap Kafka memperingatkan. Ya, kantor ini punya aturan jika di larang pacaran sesama karyawan perusahaan.


An kembali menarik dua sudut bibirnya yg tadi tersenyum.


"Iya aku ingat, tapi Bos kan juga menikah dengan salah satu Karyawan sini." Protes An tak terima dengan jawaban Kafka.


"Dasar tuyul ! Apa kau lupa jika aku adalah pemilik perusahaan ini, jadi suka-suka aku mau menikah dengan siapa, siapa yg berani melarangku !" ucap Kafka ketus dan menatap An dengan senyum kemenangan.


Kini Ia puas bisa bikin An mati kutu.


"Dasar bos stres, bisa-bisanya buat peraturan gila seperti itu."Batinnya.


" Tau ah bos gelap, berdebat dengan mu memang tidak akan menangnya, yg ada hanya bikin kepalaku tambah benjol." Jawab An pasrah dan menyerah. An mengerutkan kening dan alisnya lalu pergi meninggalkan ruangan Kafka.


Kafka hanya tersenyum puas penuh kemenangan sambil memainkan pensil di jemari tangannya.


"Dasar kutu kupret." ucapnya


⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Diandra masih tertidur pulas di atas ranjang.


Tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya.


Wajahnya terlihat pucat pasif karena sudah beberapa kali Ia bolak balik ke kamar mandi hanya untuk menguras isi perutnya.


Perutnya terasa mual dan kepanya sangat pusing.


kring..kring..kring..


Bunyi ponselnya berdering namun Diandra enggan untuk mengangkatnya.


Berkali kali suara itu terdengar berisik di telinga Diandra.


Dengan terpaksa Diandra mengangkatnya.


Tanpa melihat siapa yg menelpon Diandra segera mengeser tombol hijau yg terlihat samar di matanya.

__ADS_1


"Hallo, ini siapa?" jawab Diandra lesu, matanya masih terpejam meskipun bibirnya sedang berbicara.


"Maaf Nona, apa benar ini istri dari Tuan Kafka?" bukannya menjawab pertanyaan Diandra tapi wanita dalam telpon itu malah bertanya balik.


"Iya saya sendiri, ada apa dengannya?"


Diandra sedikit membuka matanya dan tetap berbaring lemah di atas ranjangnya.


"Nona bisakah kau datang kesini, karena Tuan Kaka mengalami kecelakaan. Saya akan kirim alamatnya." Ucap gadis itu dengan nada tegangnya, Seolah Kafka benar benar sedang mengalai kecelakaan.


Mata Diandra terbuka lebar dan terkejut mendengar ucapan gadis itu.


Tanpa pikir panjang Diandra segera melompat dari atas ranjang lalu mengambil jaket levisnya dan pergi ke tempat yg di kirim gadis tadi .


Hati Diandra begitu cemas dan tidak tenang takut kehilangan Kafka .


Air matanya jatuh meluncur begitu saja tanpa bisa Ia bendung.


Diandra pergi mengunakan taxi.


"Pak tolong lebih cepat lagi ya, suamiku sudah menunggu ku!" Perintah Diandra yg fi angguki pak sopir.


Tak henti hentinya Ia memanjatkan doa, berharap Kafka akan baik-baik saja.


"Ya Allah, tolong selamatkan suami hamba, aku tidak sanggup jika harus kehilangan orang yg aku cintai. Jangan kau ambil dia dariku seperti kau ambil Kak Raffa dari ku."


Tubuh Diandra gemetar karena takut kehilangan. Isak tangis Diandra semakin kencang tak tertahankan.


Pak sopir menghentikan taxinya di sebuah bangunan tua, lebih tepatnya sebuah gudang tua yg lama tak terpakai.


"Non, udah sampai." kata pak sopir dengan pandangan heran. Bagaimana tidak heran, jika ada seorang gadis datang ke gudang tua yg jauh dari pemukiman warga.


"Nona mau ngapain ke sini? Disini sepi Non dan jarang orang lewat karena jauh dari rumah warga." Jelas bapak itu dengan wajah sedikit cemas.


Sebenarnya Diandra juga tidak yakin jika ini tempatnya.


Diandra kembali membuka ponselnya dan melihat alamat yg di kasih di gadis penelpon.


Entahlah pada saat itu hanya ada pikiran Kafka di otaknya.


Diandra segera turun dari taxi dan berjalan mendekati gudang tua itu.


Tanpa pikir panjang Diandra segera masuk ke gudang dengan hati yg cemas.


"Kafka, kamu di mana?" teriak Diandra memanggil suaminya dan masih dalam keadaan menangis.


"Kafka, kau mendengarku." Teriaknya lagi.


Namun sayang tak ada jawaban dari dalam.


Diandra terdiam dan melihat setiap sudut ruangan sembari menyeka air matanya.


Ruangan itu tampak sepi tk berpenghuni dan tak ada tanda-tanda habis adanya kecelakaan.


"Apa ini jebakan?" Diandra mulai mulai berpikir dan yakin jika ini sebuah jebakan." Diandra balik badan ingin cepat lari keluar dari ruangan itu, namun dua orang pria berbadan besar menghadangnya lalu menutup pintu gudang dengan rapat.


Gudang itu tampak gelap dan engap hanya ada lampu bulat berwarna kuning dengan cahaya yg sangat minim.


Badan Diandra gemetar karena merasa takut.

__ADS_1


"Siapa kalian!" Bengis Diandra dengan tatapan tajamnya.


Tangannya terkepal dan seluruh jiwanya bergemetar namun Ia tetap berusaha tegar.


Dua pria itu hanya tersenyum licik dan sama-sama melirik satu sama lain tanpa menjawab pertanyaan Diandra.


"Siapa kalian, kenapa menjebakku dan ada masalah apa kalian denganku." Tanya Diandra penuh amarah. Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum licik tanpa mau membuka mulutnya. Diandra semakin geram dibuatnya.


Tak berselang lama pintu terbuka dan ada suara seorang gadis bertepuk tangan datang menghampiri Diandra.


karena minimnya cahaya, Diandra tidak bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.


Tap,, tap,, tap,,


Gadis itu berjalan dengan angkuhnya dan langkahnya kini hampir mendekati Diandra.


"Apa kau takut Nona, heh,,?" Tanya gadis itu dengan senyuman sinisnya.


Ia berdiri tepat di depan Diandra dan tatapan matanya menunjukkan rasa tidak kesukaanya terhadap Diandra.


Diandra memincingkan matanya dan mengingat wajah gadis itu.


"Kau, untuk apa kau menjebakku disini?" Bengis Diandra dengan tatapan membunuh.


Diandra semakin menajamkan pandangannya


dengan menyatukan dua derertan giginya yg teramat getir.


Gadis itu tersenyum licik dan membulatkan matanya.


"Dasar wanita jal*ng, beraninya kau merebut Kafka dariku." Gadis itu berbicara dengan amarahnya dan mencengkeram dagu Diandra erat.


"Lepaskan aku." jawabnya lalu menepis tangan Lusi dengan kasar. Kedua bola matanya semakin lebar bulat.


"Apa kau bilang, aku jal*ng. Hei Nona, apa kau tidak salah bicara? Siapa di sini yg jal*ng, aku atau kamu?" Diandra bertanya balik dengan nada penuh penekanan dan tersenyum tipis setelah meledeknya.


plakk...


Lusi menampar pipi Diandra dengan keras hingga terasa panas di tangannya.


"Beraninya kau bilang aku jal*ng !"


Tangan Lusi semakin terkepal keras dan geram ingin rasanya Ia mencekik Diandra sampai mam*us.


Lusi menyatukan deretaan giginya dan menatap Diandra tajam.


Ia ingin menampar wajah Diandra lagi, namun Diandra berhasil menepisnya.


Diandra memandang wajah Lusi dengan tatapan membunuh.


plak...


Diandra berasil membalasnya.


Namun Lusi segera mengerahkan anak buahnya untuk memegang tangan Diandra.


Lusi mencengkeram dagu Diandra erat hingga Diandra merintih kesakitan.


😡😡😡😡😡😡😡😡😡

__ADS_1


Habis baca jangan lupa👍 like, komen dan ⭐rate 5. Syukur" kalau mau kasih votenya.


Terima kasih buat yg sudah ngedukung terus karya aku 🙏🙏


__ADS_2