
Sesampai di rumah Vera langsung berlari dan masuk ke kamarnya.Ia segera masuk kamar mandi untuk membersihka badannya.
Baunya yg sangat amis membuat dirinya tidak betah lagi.
"Huh..segernya." ucap Vera saat air dari shower mengguyur seluruh tubuhnya.
Berkali kali ia mengusap shampo dan sabun yg berbau strobery ke seluruh tubuhnya namun bau amis itu tk kunjung hilang dari badannya.
"Sial, kenapa masih bau aja sih tubuh ku!" seru Vera kesal sambil membuang sabun ke lantai.
Vera keluar dan segera berganti pakain santai lalu mengeringkan rambutnya.
"Huh...aku laper!" seru Vera lalu keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang makan.
"Masak apa ma?" tanya Vera ketika melihat mamanya sibuk menyiapkan makan siang.
"Mama masak sayur sop ke sukaan Iffa. Apa kamu mau makan?" jawab mama sambil menata lauk pauk di atas meja.
"Iya Ma, aku udah lapar." jawab Vera sambil memegang perutnya yg sudah keroncongan karena menahan lapar .
"Kamu makan duluan aja, biar mama menunggu Iffa pulang." ucap Mama lalu pergi meninggalkan Vera.
Karena sangat lapar akhirnya Vera menyerbu makanan itu dengan rakusnya.
"enak banget masakan mama." ucap vera sambil mengunyah makanannya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Kak, udah siang aku harus pulang.Kasihan mama pasti lama menunggu aku." Tutur Iffa .
"Baiklah, salam buat Mama ya." jawab Diandra .
"Iya kak!" Balas vera sembari memeluk Diandra.
"Jangan lupa besok ke rumah ya, kak !" imbuhnya lagi mengingatkan agar Diandra dan Kafka tidak lupa jika Papa menyuruhnya ke rumah besok.
"Iya, cerewet !" sahut Kafka sambil melemparkan senyuman jeleknya.
Iffa segera pergi karena Han sudah menunggu di bawah.
Diandra kembali dan duduk di samping Kafka setelah mengantar Iffa sampai depan pintu.
Diandra memandang wajah Kafka dengan senyuman liciknya.
Diandra mengambil lipstik yg tergeletak di atas meja dekat ia duduk.
Dengan pelan dan hati-hati Diandra mencoret coret wajah Kafka. Q
Wajah tampan Kafka kini berubah seperti wajah badut.
Kafka memegang tangan kanan Diandra ketika Diandra akan mencoret hidung Kafka.
Kafak memandang Diandra tajam sambil menarik pinggang Diandra hingga menempel di tubuhnya.
Tanpa ampun kafka terus menghapus wajahnya dengan cara mengusap-ngusapkankan wajahnya ke wajah Diandra.
Diandra tertawa terbahak-bahak karena merasa geli.
"Ampun Kafka, aku geli ha..ha..ha..!" teriak Diandra.
Kafka bukannya melepaskan justru semakin memeluk tubuh Diandra erat hingga Diandra semakin susah untuk bergerak.
"Ini hukuman buat mu, sayang." jawab kafka yg terus menempelkan wajahnya ke wajah Diandra.
Perut Diandra terasa sakit karena lama ketawa.
"hahaha...Ku mohon hentikan, aku geli." berontak Diandra sambil katawa terus.
Kafka menghentikan hukumannya.
Wajah mereka kini berubah merah semua karena terkena lipstik.
Mereka saling ketawa ketika melihat wajah mereka tak berbentuk dan berantakan.
"Sayang, kamu terlihat keren kalau kaya gitu, ha..ha..ha.." ucap Diandra
__ADS_1
"Sama, kamu juga cantik kalau kaya gitu." balasnya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
mereka kembali dan tidur tiduran di atas ranjang.
Kakfka menyandarkan kepalanya di gunungan ranjang.
Sedangkan Diandra tiduran di atas pangkuan Kafka.
"Sayang, giman kalau nantk sore kita pergi ke rumah Raffa.Kita bisa renang di sana." ucap Kafka sambil menyilakan rambut Diandra.
"Boleh, tapi aku tidak bisa renang." jawabnya jujur.
"Nanti aku ajari." jawabnya Kafka.
"Ok,.tapi sekarang aku mau tidur, aku ngantuk." ucap Diandra sambi menguap.
"Tidurlah." jawab kafka.
Diandra berganti posisi dan membenarkan posisi tidurnya.
Kafka juga ikut Membaringkan tubuhnya di samping Diandra.
Diandra memeluk tubuh kafka dan menindihkan kakinya di atas kaki Kafka.
seolah Kafka adalah gulingnya.
Kafka pun ikut tertidur lelap di samping istrinya.
ππππππ
Sekitar jam setengah lima Diandra dan Kafka baru bangun tidur.
"sayang, ayo bangun." ucap Diandra setelah melihat jam di atas meja samping ranjangnya.
Perlahan Kafka membuka matanya. Runagan sudah terlihat gelap karena sudah sore.
"Memang sekarang jam berapa." Tanya Kafka sambil mengeryip-ngeryipkan matanya.
Silau Cahaya lampu membuat Kafka terbangun lalu pergi ke kamar mandi.
Kafka segera mandi.
Sedangkan Diandra membereskan ranjangnya yg terlihat berantakan.
Kafka kembali dari kamar mandi dan segera berganti pakain. Selanjutnya giliran Diandra untuk Mandi.
Diandra duduk di samping Kafka sambil memainkan poselnya.
"Sayang, gimana kalau kita nonton aja, tadi siang kita kan ngak jadi renang." Rengek Diandra sambil mengecup pipi Kafka.
"Ehm... boleh." jawabnya.
Diandra segera bersiap dan mengambil tas jinjingnya
"Aku sudah siap." Ucapnya saat Ia berdiri di depan Kafka sambil berpose ala model.
Kafka segera berdiri dan berganti pakaian.
"Ayo berangkat." ucapnya sambil mengandeng pinggang Istrinya.
sekitar dua puluh menit mereka sampai di Bioskop.
Kafka segera memesan dua tiket.
Tak sengaja Ia bertemu Rosi yg saat itu juga sedang memesan tiket.
"Rosi." Panggil Kafka lirih.
"iya." jawab Rosi lalu menoleh ke arah Kafka.
Rosi terkejut melihat Kafka ada di situ.
"Kamu, kamu sedang apa di sini?" Tanya Rosi canggung.Bagiamana tidak canggung, dulu ia pernah mencintai Kafka namun kini Kafka justru menikah dengan sahabatnya sendiri .
__ADS_1
"Aku mau nonton. Kamu ke sini sama siapa?" tanya Kafka ramah seolah tidak pernah terjadi apa apa di antara mereka.
"Aku sama Egi." Jawab Rosi sambil meunjuk ke arah Egi.
Tak berselang lama Egi datang mendekati Rosi.
"Apa kabar, Tuan." sapa Egi renyad denga sedikit membungkukkan badannya.
"Baik." ucap Kafka datar tanpa ekspresi ketika melihat wajah Egi. Kafka masih tetap cemburu ketika melihat Egi.
Diandra sedikit berlari mendekati Kafka tanpa melihat ada seseorang di depan Kafka.
"Sayang, kenapa la..ma." ucap Diadra lirih, Ia terkejut melihat Rosi dan Egi ada si situ juga.
Diandra segera menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Rosi dengan wajah sendunya.
"Rosi, apa kabar?" sapa Diandra pelan dan ragu.
Rosi diam tanpa menjawabnya dengan pandangan dinginnya.
Pandangannya menynjukkan rasa tidak suka dengan kehadiran Diandra.
"Hai, Dra." sapa Egi mencoba membuat suasana mencair.
Mereka hanya terdiam sambil adu pandang.
Diandra dengan wajah sendu karena rasa bersalahnya.
Sedangkan Rosi dengan pandangan sinisnya karena rasa bencinya terhadap Diandra.
Ia merasa Diandra sudah menghianatinya.
Rosi menarik pergelangan tangan Egi lalu pergi meninggalkan Diandra dan juga Kafka.
Diandra berusaha mengejarnya karena invin meminta maaf. Namun Kafka menghentikannya.
"Kafka, kenapa kau menghentikanku. Aku hanya ingin meminta maaf padanya." ucap Diandra sendi sembari menteskan air matanya.
"Saat ini bukan waktu yg tepat, yg ada Rosi justru akan semakin membencimu." Jawab Kafka lembut sambil memeluk Istrinya.
"Jangan menangis, suatu hari nanti Rosi pasti akan memaafkanmu." tuturya lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku mau pulang." ucap Diandra serak dengan sedikit mengabgkat wajahnya.
Kafka mengangguk dan paham dengan kondisi istrinya yg sekarang ini.
Kafka tidak ingin memaksakan Diandra untuk melakukan apapun.
rencana nontonnya pun gagal total.
Kafka segera mengandeng Diandra menuju tempat parkir mobilnya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Rosipun kembali pulang dan tidak ingin nontoon lagi, moodnya yg tadi heppy kini berubah jadi sendu dan sedih.
Egi menghentikan mobilnya di pinggir taman.
"Sayang, aku tau perasaanmu, tapi kamu juga harus bisa berdamai dengan hatimu.
Sampai kapan kamu akan membencinya.
Bukankah jodoh itu sudah ada yg ngatur.
Berjanjilah demi diriku jika kamu akan buang semua rasa benci itu dari hatimu.
Jangan ingat semua kesalannya tapi ingatlah saat kalian bersama sama dahulu. Buakankah kalian dulu adalah teman, lalu kenapa kamu harus membencinya karena masalah pria.
Jangan hukum Dia karena rasa bencimu.
Maafkanlah karena dia adalah sahabatmu, kan??" Tutur Egi lembut sambil memegang pipi Rosi lembut.
Rosi hanya mengangguk dengan rasa sedihnya.
"Maafkan aku, egi. Aku butuh waktu untuk bisa bertemu dan bertatap muka dengannya." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Egi mengusap punggung Rosi lembut dan kembali melajukan mobilnya.