
Diandra dan Rosi merasa lelah setelah hampir setengah hari berkeliling mall.
"Ros, ayo kita balik?" ucap Diandra yg sudah terlihat lelah.
"Baiklah ! Ndra, kamu pulang duluan aja, soalnya Egi mau jemput aku." jawab Rosi sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Ok, ya udah aku duluan ya Ros, daaah..."
Diandra pergi meninggalkan Rosi menuju Kantor.
Rosi bahagia karena akhirnya bisa kembali baikan lagi dengan sahabatnya.
Ia berjalan buru-buru takut jika Egi lama nunggunya.
Rosi tersenyum lebar setelah melihat kedatangan Egi.
"Hai sayang !" sapanya renyah dengan senyuman yg mengembang.
"Sayang, maaf telat soalnya tadi mampir ke pom dulu." Jawab Egi lalu membukakan mobil untuk kekasihnya.
"Sayang, kita mau kemana ni?" tanya Egi dengan menaik turunkan alisnya.
"Terserah kamu aja deh."Rosi pasrah begitu saja.
"Ok !"
Egi memutuskan untuk makan siang dulu, setelah itu pergi ke danau yg ada di dekat lestoran Kafka.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Diandra sudah hampir sampai, tak sabar ingin rasanya melihat suaminya.
"Apa reaksi Kafka setelah ada karyawan seksi baru? Apa dia merayunya? Apa dia tergoda? Apa dia hanya meliriknya?Huh...pikiran macam apa ini, ngak mungkin dia seperti itu. Awas aja kalau main di belakangku, aku pites tu kepalanya, hiiihh." Diandra menarik nafasnya dalam, melebarkan matanya dan memainkan alisnya.
Diandra segera masuk ruagan Kafka dengan hati yg dag dig dug tak karuan.
"Siang Kak An?" Diandra segera menyapa An yg ada di dekat pintu lift.
"Pagi Nona." balas An dengan menundukkan kepalanya.
"Bagaimana rencana kita, apa berhasil?" Tanya Diandra antusias.
"Aku rasa begitu Nona." An tersenyum tipis dengan mengacungkan jempolnya 👍.
"Aku rasa si Bos tidak berani mengodanya, takut ancaman Nona." An kembali tersenyum.
"Baguslah kalau begitu. Apa sekarang Ayu dan Kafka ada di dalam?"
"Iya Nona." Jawab An mengangguk.
Diandra dan An berjalan mendekati pintu.
Mereka mencoba mengintip dan menguping pembicaraan Kafka dan An.
"Tuan, ini ada di dokumen dari Pak An ." Ucap Ayu lalu menaruh dokumen itu di depan Kafka.
"He'em." Kafka tidak berani membuka mulutnya apa lagi melirik Ayu.
"Sialan, kenapa gadis ini masuk ke sini, apa An sengaja menjebakku? Awas kau An, jika berani memasang perangkap pada ku, akan ku jitak kepalamu sampai benjol." Batin Kafka kesal.
Kafka segera menandatangani dan menyerahkan kembali ke Ayu.
"Apa Tuan butuh bantuan?" Tanya Ayu perhatian.
"Tidak, keluarlah!' Kafka sedikit meninggikan nada bicaranya tanpa menoleh ke arah Ayu.
Kafka benar benar menjaga pandangan Matanya.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." Ayu segera keluar dengan langkah santai .
"Aku pikir si Bos orangnya ramah, eh... ngak taunya jutek amat." Batin Ayu.
Diandra masih menguping di balik pintu bersama An.
Diandra tidak tau jika Ayu sudah ada di depannya.
__ADS_1
"Siang Nona, kenapa Nona berdiri di sini?" Tanya Ayu heran melihat Diandra berdiri di depan pintu dengan menempelkan telingannya di papan pintu.
"Tidak, tadi aku cuma mau masuk, eh ngak taunya kamu udah buka pintunya duluan."
Diandra nyengir menahan malu, dan sedikit memaksakan senyumnnya.
"Ow, ya sudah kalau begitu permisi Nona."
Ayu menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan tingkah Bos mudanya.
"Huh, aman, aman." Diandra bisa bernafas lega sambil mengusap dadanya pelan .
"Nona, saya permisi dulu. Jangan lupa omelin Tu Bos kalau berani genit sama cewek." An menaikan alis tebalnya dan tersenyum licik.
"Tenang saja kak 👌🏾." Dindra tersenyum dan sedikit menaikan alisnya sebagai tanda setuju.
Diandra masuk dan menaruh makan siangnya di atas meja, lalu berjalan mendekati suaminya.
"Hai..sayang." Diandra menyapa Kafka dengan gaya mesranya.
"Sayang kamu sudah datang." bola mata Kafka langsung membulat melihat kedatangan Istrinya.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu, Apa kau tidak suka dengan kedatangan ku?" Tanya Diandra menyelidik.
Diandra duduk di pangkuan suaminya dan memainkan dasi Kafka.
Diandra menatap Wajah Kafka dengan tatapan yg tak biasa.
"Suka, aku suka banget malahan." Jawaban Kafka sedikit glagapan.
"Apa tadi dia melihat jika karyawan baru itu habis dari sini, matilah aku jika Dia melihatnya." Batin kafka apes
Kafka melingkar tangannya di pinggang istrinya.
Kafka menciumi pipi dan bibir Diandra.
"Sayang, ayo kita makan. Aku udah laper ni." Kafka mengalihkan pembicaraan.
Alis kafka kini semakin meninggi dan memaksakan senyumannya.
"Hei, apa kamu sudah pikun, ini baru jam sebelas, sayang. Lihatlah jam di tangan mu." Diandra sedikit meninggikan suaranya.
Ia tahu jika kini Kafka sedang mencoba menghindari pertanyaannya nanti.
Diandra ingin tertawa melihat ekspresi Kafka yg ke bingungan tapi Ia berusaha menahannya.
Kafka segera melihat jam di tangannya.
"Astaga, bodohnya aku, alasan macam ini, hanya bikin aku malu saja." Kafka hanya bisa nyengir.
Diandra menatap Kafka tajam dan menarik dasi Kafka kencang.
Wajah mereka kini sudahlah sangat dekat.
Diandra semakin menajam pandangan sinisnya.
Deg....
Jantung Kafka berdetak kencang, bola matanya bulat melebar, bibirnya tertutup rapat.
"Astaga , tatapan apa itu, apa dia mau mengintrogasi ku, apa dia akan mencakar wajah ku. Tatapan itu seperti ingin membunuhku. kenapa dia masih menatapku, apa yg sebenarnya terjadi sama dia?" Kafka menelan ludahnya dalam dalam, Kafka semakin salah tingkah dengan tatapan tajam Diandra.
Cuups......
Diandra mengecup mesra bibir Kafka.
Diandra tersenyum puas bisa ngerjain suaminya.
"Sayang, kenapa mata kamu? Apa ada cicak masuk ke matamu sehingga kamu tidak bisa berkedip." Goda Diandra meledek.
Kafka terkejut dengan aksi Diandra.
Ia segera mengedip ngedipkan matanya dengan cepat.
"Sayang, aku pikir kau akan marah?" Ia bisa bernafas lega dan terseyum lepas.
__ADS_1
"Ayo kita makan." Ajak Diandra lalu melepaskan dasi yang ia tarik tadi.
Diandra beranjak dari pangkuan Kafka.
Kafka mengaruk kepalanya kasar dan menarik nafasnya panjang.
"Aku pikir tadi kamu akan marah, Sayang."
Ucap Kafka yg berjalan menghampiri Diandra.
Diandra menata makanan di atas meja.
"Kenapa aku harus marah?" Tanya Diandra belagak bo*oh.
"Soalnya tadi ada karyawan baru masuk ruangan ku." ucap Kafka jujur dan tertawa geli.
"hahaha... Dasar bo*oh, mana mungkin aku marah jika kau tidak menggodanya, tapi jika kau berani mengodannya akan ku potong bur*ng mu. Aku sudah tau itu. Ayo cepat makan."
"Sudah tau, apa maksudnya?" Kafka mengerutkan keningnya merasa bingung dan ngeri dengan ucapan istrinya.
"Jika sampai bur*ng ku di potong, aku mau pakek apa kalau ingin itu*****." batinnya ngeri.
"Pikir aja sendiri !" Diandra ogah menjelaskannya.
Diandra melahap makan siangnya dengan rakus.
Kafka masih binggung di buatnya.
"Apa semua istri akan seperti ini sifatnya.
Kadang marah, kadang senyum senyum ngk jelas. Ah,,, bodo amat, pusing mikirin sifat cewek." Kafka memasukkan nasi ke mulutnya dengan kasar karena Merasa kesal.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tok,,, tok,, tok,,,
An segera masuk setelah mendengar sahutan dari dalam.
"Tuan kok sepi amat, mana Nona?" Tanya An meledek. An masih tersenyum melihat tampang kusut Bosnya.
"Kenapa kau tanya Istriku." Bengisnya.
Kafka menajamkan sorot matanya.
"Apa kau tau sesuatu tentang istriku?" Tanya Kafka lirih dan sedikit menyondongkan kepalanya.
"Tau apa Tuan? Dia kan istrimu mana aku tahu." An menaikkan bahu dan alis tebalnya.
pleetak....
"Dasar kau ini, semakin hari kau semakin membuatku kesal." Kafka menjitak jidat An keras.
"Aw... kenapa kau menjitakku?" protes An memegang jidatnya yg merasa panas akibat jitakan Kafka.
"Sepertinya Bos butuh piknik deh, biar otak bos ngak kaku, haha haha..." An paling suka meledek Kafka karena gampang terpancing emosi.
Beda dengan Raffa yg selalu kalem dan ngak gampang uring uringan.
"Keluar sana, sebelum aku tendang pantat mu!" gretak Kafka dengan emon kesalnya.
"Ok bos. Ingat Bos, jangan main mata lo, apa lagi main hati. siap siap tu burung lepas dari sangkarnya." ledek An.
An pergi dengan mulutnya komat kamit baca mantra.
"Dasar Bos kurang piknik, sabar, sabar."
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Author sudah kehabisan kata" ni, buat kalian bisa ketawa terus.
jangan lupa jempolnya di tinggal dulu ya.
Biar author punya kata kata lagi buat bikin kalian ketawa.
🙏🙏🙏🙏
__ADS_1