
An dan Vera sudah duduk di kantin.
Mereka memesan dua cangkir kopi dan beberapa makannan ringan.
An sesekali curi-curi pandang melirik wajah Vera.
"Astaga, ternyata dia sangat cantik saat kalem seperti ini. Huh... apa yg aku pikirkan, tidak, aku tidak pantas berbicara begitu, dia adalah seorang artis sedangkan aku hanya orang suruhan kakaknya. Eh, ada apa dengan ku kenapa aku memikirkan dia, bahkan aku begitu gugup saat bersamanya." An berbicara sendiri dalam hati dan senyum-senyum sendiri seperti orang sedang kasmaran.
Vera ingin ketawa melihat An yg salah tingkah kaya gitu namun Vera menahan tawanya.
"Kak An kenapa, kenapa senyum-senyum sendiri? Apa ada sesuatu yg membuatmu bahagia?" Tanya Vera menyelidik
"Kamu yg sudah bikin aku kaya gini." Jawab An keceplosan. Mulutnya segera Ia tutup dengan telapak tangannya karena malu dengan Vera.
"Hahaha,,, kenapa begitu, apa kau mulai tertarik dengan ku, atau kau mulai jatuh hati padaku, hehe...!" Vera malah mengodanya dan membuat wajah An menjadi merah seperti kepiting rebus.
"Hem, aku jadi malu." An mengaruk kepalanya yg tidak gatal itu dan tersenyum malu karena godaan Vera.
Vera dan An asik bercanda ria selayaknya sepasang kekasih yg sedang kasmaran dan tak perduli dengan orang di sekelilingnya.
Banyak orang yg mengenal Vera karena Vera adalah seorang artis.Banyak yg minta foto dengannya, Vera melayani mereka dengan baik tidak seperti dulu yg tak perduli dan mengabaikan semua orang yg ingin minta foto dengannya. Kini Vera benar-benar berubah menjadi orang yg baik.
An merasa bahagia melihat perubahan Vera yg begitu derastis itu. Rasa kagum yg luar biasa terselimut dalam benaknya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Kafka merasa lelah dan akhirnya Ia tertidur di atas kursi samping Diandra dengan kepalanya telungkup di atas ranjang rumah sakit. Meskipun Kafka sedang tertidur namun tangganya tak pernah melepaskan genggamannya.
Haripun mulai pagi, Vera masuk ke ruangan membawa satu kotak makanan untuk sarapan Kafka.
Ia duduk di sofa menatap punggung Kafka dari kejauhan.
Perlahan mata Kafka terbuka lalu meregangkan tangannya ke atas, dan
memutar-mutar kepalanya yg terasa sangat kaku akibat tidur yg tidak benar.
Kafka menoleh ke arah Vera yg duduk di pojok sana.
"Semalam kau tidur di mana?" Tanya Kafka serak karena baru bangun tidur.
"Aku tidur di sini." Jawab vera menunjuk sofa yg Ia duduki saat itu.
"Kak, mandi dulu sana, lalu sarapanlah?" perintahnya yg di angguk i Kafka.
Kafka menatap Vera tajam setelah
melihat jaket yg Ia kenakan adalah jaket An.
"Apa itu jaket An?" jawabnya agak sedikit melebarkan bola matanya.
"Ia, ini milik Kak An." Vera langsung melepaskan jaket yg Ia kenakan. Takut jika Kafka akan marah padanya. Namun Kafka hanya mengangguk dan tidak memprotesnya.
Merasa lelah dan mengantuk akhirnya Kafka pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kafka sudah duduk di samping Vera dan mulai makan bersama Vera.
Vera melirik ke arah Kafka tajam.
"Kenapa dia diam, apa dia marah padaku karena jaket ini? Ah... ngk mungkinlah dia marah." Batinnya.
__ADS_1
Kafka kembali duduk di samping Diandra dan menyeka tubuh istrinya dengan air hangat yg di siapkan oleh perawat.
Perlahan Jemari Diandra bergerak pelan, matanya juga ikut terbuka perlahan.
Kafka merasa lega dan tersenyum bahagia melihat Istrinya sadar.
Vera segera bangkit dari duduknya dan mendekati ranjang Diandra.
"Kak, Dia sudah sadar." Ucap Vera dengan senyuman yg merekah.
Kafka hanya mengangguk dengan melebarkan senyumannya.
Diandra menatap setiap sudut ruangan dengan mata sayupnya.
Bola matanya menatap ke arah Vera dan Kafka bergantian. Seperti ada yg aneh pada dirinya.
"Aku ada dimana? Kalian siapa?" Tanya Diandra yg tak mengingat siapapun yg ada di ruangan itu.
Diandra memegang kepalanya yg masih terasa sakit karena bekas jahitan.
Kafka dan Vera menarik senyumannya kembali dan saling menatap satu sama lain.
Mereka merasa Heran dengan sikap Diandra yg tak mengenali diri mereka.
"Sayang, ini aku suami mu dan dia Vera adiku. Ada apa denganmu, Apa kau tidak mengenali kita?" Tanya Kafka dengan Wajah sedihnya.
Diandra masih diam mencoba mengacak memorinya, namun dia benar-benar tidak mengingatnya.
"Apa aku sudah menikah, lalu kapan aku menikah, kenapa aku tidak mengingatnya?" Jawab Diandra merasa bingung.
Baginya Kafka dan Vera adalah orang asing.
Diandra hanya menggelengkan kepalanya karena memang tidak mengingat mereka.
Kepala Diandra terasa pusing hingga Ia merintih kesakitan dan memegang kepalanya erat.
Dokter segera memeriksa kondisi Diandra saat itu lalu menjelaskan secara detail.
Menurut pemeriksaan Saat ini Diandra kehilang sebagian memori ingatannya.
Akibat benturan yg cukup keras di kepalanya lah yg menyebabkan Ingatan Diandra hilang separuh.
Mendengar penjelasan Dokter, Kafka langsung kembali terkulai lemas. Dadanya terasa sesak dan pikirannya saat ini benar-benar kacau.
Wajahnya kembali muram seperti habis kehilangan emas segudang.
Vera sangat paham betul dengan apa yg di rasakan Kafka saat ini. Vera mengusap punggung Kafka lembut, Ia berusaha menenangkan hati Kafka yg saat ini benar-benar hancur lebur seperti butiran debu.
"Kak, bukankah kata dokter ingatannya akan bisa kembali normal lagi. Kakak harus sabar ya, jangan sedih lagi. Yakinlah kalau Tuhan akan selalu ada di sampingmu. Kakak harus tetap semangat dan terus berjuang demi kesembuhannya." Vera tersenyum tipis lalu memeluk tubuh Kafka.
Kafka masih beruntung saat ini Vera benar-benar selalu ada di sampingnya dan terus memberinya semangat.
Bahkan Ia rela kehilangan kontrak kerja hanya demi bisa selalu menemani Kafka.
Kafka mengangguk dan membalas pelukan Vera. Kelopak matanya terlihat berkaca-kaca ingin rasanya Ia menangis dan menjerit meluapkan semua kesedihannya.
Namun pelukan Vera membuatnya lebih tenang dan semagat lagi demi mengembalikan ingatan Istri tercinta.
"Terima kasih, kamu sudah mau menemani ku hingga detik ini, kau sudah menjagaku dan memperhatikan ku, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" Ucap Kafka serak dan samar.
__ADS_1
"Pekerjaan tidak begitu penting bagiku, yg terpenting saat ini adalah kesehatan kakak dan juga kesembuhan Diandra. Jangan pikirkan pekerjaan ku, aku cukup senang bisa menemani kakak di sini. Kakak harus semangat, ok." Jawab Vera lalu mengusap air mata Kafka yg jatuh dari pelupuk matanya.
"Heem, terima kasih !" balasnya lalu kembali menghampiri Diandra.
Kafka dan Vera berdiri di samping Diandra.
Ingin sekali Kafka memeluk Diandra, namun Diandra menepisnya, Ia menganggap kalau Kafka adalah orang asing baginya.
"Maaf, aku belum bisa menerima mu sebagai suami ku, karena aku tidak pernah mengingat jika kita pernah menikah. Maafkan aku." tegasnya dengan wajah sedihnya.
Kafka menarik nafasnya dalam lalu menghempaskan secara kasar.
Ia menatap wajah Diandra sendu dan menarik ujung bibirnya.
"Baikalah, aku paham dengan kondisi mu, tapi ku mohon biarkanlah aku merawatmu hingga kau mengingat semuanya." Jelasnya.
Diandra menatap wajah Vera ingin minta penjelasan darinya.
Anggukan Vera menjelaskan jika Diandra harus menerima permohonan Kafka.
Vera barharap Diandra akan menerimanya.
"Baiklah, aku akan membiarkan mu merawat ku tapi hanya sebatas pasien dan perawat." ucap Diandra.
Diandra kembali membaringkan tubunya.
Ia merasa ada yg aneh dengan kehidupannya yg sekarang.
Yg Ia ingat saat ini, dia masih sekolah.
Iya ingat betul jika Ayah dan Kakaknya tidak menyukainya.
Hanya Rosi dan Jaka lah teman dekatnya.
"Vera, bolehkah aku bertanya padamu?" Tanya Diandra ragu.
"Iya, mau tanya apa, katakanlah?" balasnya
"Apa Ayah dan Kakak ku benar tidak menyukai ku, apa benar aku punya teman bernama Rosi dan Jaka? Seingatku aku masih sekolah, tapi entahlah semua terlihat samar." Diandra ingin sekali mendengar jawaban dari Vera.
"Iya, dulu Ayah dan Kakak mu memang tidak menyukai mu, tapi sekarang mereka begitu menyanyangimu. Semua orang sangat menyanyangimu. Jangan terlalu banyak berfikir, kamu harus banyak istirahat agar jahitan di kepalamu cepat sembuh." jelas Vera apa adanya.
Diandra mengangguk paham dan tak ingin berbicara lagi Karena kepalanya masih terasa pusing.
😭😭😭😭😭😭😭😭
selesei baca jangan lupa tinggalkan
like, komen, vote dan rate5
Terima kasih 🙏🙏
Jangan lupa mampir juga di novel aku lainnya
🌹Aku & Maru Ku
🍀Love in facebook
🌹Tujuan Hidup
__ADS_1