
"Kenapa kakak menggebrak mejaku,apa salahku?" tanya Diandra.
"Pokok kamu jangan berani melawan printahku." jawab Susana ketus lalu pergi meninggalkan Diandra.
"Aneh, ada apa dengannya kok tiba- tiba marah ngak jelas kaya gitu." Ucapny dalam hati.
Ruangan terasa sunyi sepi tidak ada suara bising dan ricuh seperti biasanya. Mereka hanya fokus menatap kertas ujian. Berpikir untuk bisa menjawab setiap lembar pertanyaan.
Diandra sangat siap dengan ujian hari ini karena sudah sejak lama ia mempersiapkan diri menghadapi ujian itu.
"Aku tidak ingin tinggal kelas dan harus lulus ujian." Semangatnya terus membara.
Tidak ingin perjuangannya sia sia begitu saja. Dia harus lulus tidakk ingin orang lain meremehkannya.
Lulus sekolah Diandra ingin segera cari pekerjaan karena tidak ada biaya buat ngelanjutin ke jenjang lebih tinggi.
Mungkin dengan dirinya banyak uang mereka akan menutup mulutnya dan tidak akan menghinanya lagi. Bagi mereka uang adalah segalanya, uanglah yang membedakan tingkat sosialita.
Ujian telah selesei, Diandra, Jaka dan Rosi bisa bernafas lega. Mereka tidak berniat langsung pulang ingin bersantai sebentar menghilanglang rasa leleh dan penatnya.
"Gimana kalau kita makan mie ayam duku?" Ajak Rosi ke Jaka dan Diandra.
"Ok tidak masalah biar aku yang traktir." Sahut Jaka.
Mereka akhirnya setuju saja. Mereka bertiga berjalan menuju warung mie ayam milik pak Tejo yg tidak jauh dari sekolah.
Mereka sangat menikmati lezatnya mie ayam pak Tejo karena mie ayam itu terkenal sangat enak dan murah.
"Lama aku ngak kesini, huuh sangat nikmat dan nyaminya mie ayam in.
Sungguh enak tidak kalah dengan masakan di resto berbintang ." Ucap Diandra yg memang sudah lama tidk makan mie ayam. Mungkin karena Ia sibuk kerja hingga tidak ada waktu untuknya walau hanya sekedar makan mie ayam.
"Tentu saja enak ini tu makanan pling enak karena rasa bayar ." Jawab Rosi ngakak yg di ikuti oleh Diandra dan juga Jaka.
"Apa kalian tau, mie apa yang pling enak di dunia." Tanya Jaka. Diandra dan Rosi diam untuk berfikir.
"Mie ayam !"jawab Diandra.
"Salah."balas jaka.
"Mi setan, mi soto, mi kuah."Sahut Rosi.
"Salah, ya mie minta." Jawab Jaka. Mereka kembali tertawa dan saling bergantian memberi tebakan.
Di tengah tawa mereka, ada tiga cewek resek datang tanpa dinundang.
"Minggir, aku mau duduk di sini? Ucap Hera mengusir mereka bertiga.
"Maaf Nona, tapi kami sudah duduk di sini duluan dan sebentar lagi mie kita mau habis, kalau mau silahkan tunggu sebentar ok!"
Jawab Rosi hingga membuat mereka keluar siung dan tanduknya karena tidak terima dengan Jawaban rosi.
"Kita mau duduk disini sekarang." Jawab Aira sok galak.
"Ok sebentar ." Diandra menyuruh Rosi dan Jaka pindah tempat, bukan Diandra namanya jika tidak mampu bikin ulah membalasnya.
Diandra mengambil es teh yang ia pesen tadi lalu meneteskan ke atas kursi.
Rosi dan Jaka ketawa melihat tingkah Diandra.
Aira, Hera dan Nana adalah cwek resek yg suka bikin ulah di manapun mereka berada.
"Silahkan duduk Nona." Perintah Diandra meledek karena bangku itu terlihat basah semua.
__ADS_1
"Dasar cewem gila beraninya kamu membuatku marah." Jawab Aira yg tidak terima jika bangkunya di basahi .
Rosi, Jaka dan Diandra ketawa tidak perduli.
Aira mengambil segelas es teh hendak menyiram ke wajah Diandra, namun seseorang segera menghentikan langkahnya
"Hentikan, atau aku akan menghukummu." Ucap pria tampan itu dengan lantang dan jelas, menatap wajah Aira dengan tatapan membunuh.
Aira merasa takut tapi dia juga marah melihat cowok tampan itu membela Diandra.
"Sejak kapan ada cowok tampan perduli dengan gadis bau ini. Sihir apa yg Ia gunakan untuk memeletnya." Gerutu Aira dalam hati.
Aira, Hera dan Nana lebih memilih pergi takut dengan ancaman Raffa.
"Kak Raffa, kenapa ada di sini? Terima kasih telah menolongku." Diandra sangat senang melihat sang pangeran tampan datang menyelamatkannya Dia tesenyum tipis, hatinya berbunga dan jantungnya seolah berirama.
Rosi dan Jaka hanya diam mematung melihat Raffa yg tampan itu.
"Sungguh sangat tampan dia ,siapa dia ingin rasanya aku memeluknya, omg."ucap Rosi lirih.
Matanya berkedip kedip, bibirnya tersenyum merekah, hati Rosi sangat bahagai melihat ketampanan Raffa.
"Kamu tidak apa apa kan?"tanya Raffa sambil mengelus rambut Diandra
"Heem,," Diandra tersipu malu.
"Oh ya kak, kenalkan ini temen ku, Rosi dan Jaka." Diandra memperkenalkan mereka
"Hai,,, aku Raffa." Sapa Raffa ramah sembari menyodorkan tangannya.
Jaka ingin membalas uluran tanggan Raffa namun Rosi dengan cepat mengambil tangan Raffa lebih dulu.
"Aku Rosi kak!" Rosi lama tidak melepaskan gengamannya. Dia menatap wajah Raffa kagum dengan senyuman tidak biasa sembari menggigit bawah bibirnya pelan.
Namun Raffa segera melepaskan tangannya.
Raffa duduk di sebelah Diandra, Rosi dan Jaka kembali duduk di depan Raffa. Rosi terus menatap wajah Raffa dan menggigit sendok yg ia pegang. Jaka hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Kenapa kakak di sini?" Tanya Diandra pelan berbisik di telinga Raffa.
"Hanya ingin menjemputmu!" Jawab Raffa jujur.
Menatap wajah Diandra dan Diandra kembali menunduk malu
"Benarkah, apa kakak ingin makan mie biar aku pesenin." Tanya Diandra grogi karena Raffa terus memandangnya.
Tatapan matanya membuat hati Diandra meleleh tidak karuan, ingin rasanya ia memeluk Raffa saat itu juga.
"Tidak perlu, ayo ikut aku?"Raffa menarik pelan tangan Diandra dan mengajaknya keluar dari warung itu.
Dengan murah hati Raffa membayar tiga mangkok mie ayam dengan selembar kertas merah(seratus ribu).
Diandra hanya mengikuti langkah Raffa sembari cengar cengir penuh kebahagian.
Rosi dan ajaka hanya tertegun heran tidak percaya, Dia berfikir jika mereka sudah berpacaran karena mereka sangat serasi yg satu cantik dan yg satu tampan.
Raffa dan Diandra masuk kemobil yg di kemudikan Raffa. Dia sengaja tidak membawa sopir karena Raffa ingin lebih dekat dengan Diandra .
Raffa melajukan mobilnya dengan sangat pelan bahkan lebih pelan dari pejalan kaki.
"Kita mau kemana Kak?" Tanya Diandra
"Temani aku makan." Jawab Raffa yg hanya di angguki Diandra.
__ADS_1
Raffa memegang jemari Diandra dan mencium punggung tangannya .
Diandra tersenyum, jantungnya berdegup kencang, wajahnya semakin memerah
Dia menyembunyikan wajahnya dan memilih menunduk menahan malu.
Raffa menghentikan mobilnya di depan resto mewah.
Tempat ini tak asing bagi Diandra karena
dulu ini tempatnya bekerja namun karena
pria sombong itu kini Diandra harus kehilangan pekerjaanya itu.
Hati Diandra mulai tidak tenang ingin rasanya Ia lari dari tempat itu. tudk ingin bertemu pria sombong itu lagi tapi Diandra tidak mampu menolak ajakan pangeran tampannya itu.
Tidak ingin menyia nyiakan kesempatan itu, Ia pun terpaksa mengikuti langkah Raffa dan membuang jauh rasa ragunya.
"Kak, kenapa kita makan di sini, di sini kan mahal harga makanannya?" Diandra mencoba membujuk Raffa, sesungguhnya Ia tidak yakin jika Raffa akan menyetujui usulannya. Alasan sebenarnya bukan karena mahalnya harga makanannya tapi karena ia tidak ingin ketemu Kafka.
"Tidak masalah harga mahal yg penting makanannya sehat dan higenis." Jawab Raffa. Tentu saja uang bukan masalah besar baginya karena dengan kekayaan yg Ia miliki Dia mampu membeli resto itu. Yang Ia pentingkan hanya menikmati makanan sehat karena kesehatan nomer satu baginya.
Diandra dan Raffa masuk ke resto itu. Raffa menggandeng tangan Diandra lembut.
Diandra tidak menolak dan membiarkan saja.
Raffa memilih tempat kusus seperti ruangan pribadi. Bahkah Diandra yg bekerja lama di situ pun tidak pernah tahu jika ada ruangan sebagus itu.
Itu seperti ruangan kusus, ada meja lengkap dengan kursinya yg empuk.
Ada tv dan juga ada kamar mandi pribadi.
Banyak lukisan dan foto tertempel di dinding putih dan bersih itu dengan tertata rapi.
Ruangan itu berbau wangi terasa di hotel.
Dua pelayan membawa nampan berisikan makanan dan minuman sehat.
Diandra merasa heran, perasaan Raffa belum memesannya tapi dengan cepat makanan sudah tersaji sempurna di atas meja.
Diandra berfikir mungkin Raffa pesen lewat online.
Diandra sangat mengenal dua pelayan itu. Mereka adalah teman kerjanya kemaren.
Dua pelayan itu juga sangat hormat dengan Raffa.
Mereka menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
"Apa yang terjadi, kenapa mereka seperti kenal dengan Kak Raffa." Pikir Diandra dalam hati.
BERSAMBUNG.........
_______*********______
selesei membaca jangan lupa like dan komen.
vote dan rate
jangan lupa mampir ke novel aku yang berjudul.
---tujuan hidup &
----roda kehidupan
__ADS_1
terima kasih🙏🙏🙏