Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
70. Rujak pedas


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa suka dan duka sudah banyak di laluinya.


Hari yg sulitpun berganti dengan hari yg mudah dan penuh kebahagian.


Diandra berjalan menyusuri jalan, menikmati sejuknya suasana di pedesaan.


Sesekali Ia merenggangkan tangannya menyapa setiap terpaan angin yg melewati wajah cantiknya.


Ia sungguh menikmatinya tanpa ada beban dalam hidupnya.


Kafka dan Diandra sedang berlibur ke salah satu pedesaaan, jauh dari kota dan jauh dari suara bising knalpot. Udaranya masih sejuk dan segar tanpa ada yg tercemari.


Diandra berhenti di salah satu toko yg berjualan aneka makanan ringan. Ia masuk dan membeli beberapa makanan ringan. Kafka hanya mengikutinya dari belakang sambil menenteng keranjang belanjaan


setelah selesei membayarnya mereka segera pergi dan kembali ke Vilanya.


Meskipun hari sudah mulai siang tapi hawa dingin masih terasa hingga menusuk kedalam tulang.


Diandra duduk di halaman belakang sambil menikmati gurihnya cemilan yg ia beli tadi.


Kacang asin dan keripik belinjo adalah salah satu cemilan kesukaanya.


Kafka ikut duduk di sampingnya sambil memandang jauh ke arah sana.


Hijaunya padi di tengah sawah telah menyejukkan hati dan membuat mata termanjakan, semilirnya angin sepoi-sepoi menambah suasana semakin syahdu.


"Kafka, aku betah tinggal di sini dan rasanya aku tidak ingin kembali ke kota." ucapnya sambil memasukkan kacang ke mulutnya.


Ia tersenyum lepas memandang jauh ke arah persawahan.


Kafka menoleh kearah Istrinya lalu memandangnya lekat. Ia bisa melihat wajah ceria dan bahagia Istrinya saat itu.


"Kalau kita tinggal di sini lalu gimana dengan kerjaan ku?" Jawab Kafka apa adanya.


Sejujurnya Ia pun juga merasakan hal sama, bahagia tanpa ada rasa beban, tapi balik lagi ke masalah ekonomi. Gimana dengan kerjaanya lalu mau kerja apa Ia di sana.


Tidak semua sanggup hidup susah di perdesaan.


"Iya aku tau itu memang tidak mungkin terjadi, maaf aku hanya asal bicara." Jawabnya dengan wajah lesu. Ia terlihat kecewa dengan jawaban Kafka.


"Kita bisa tinggal lama di sini kalau An mau mengerjakan semua tugas ku. Walaupun kita tinggal di kota kita kan masih bisa sering datang ke sini." Sahut Kafka menenangkan hati Istrinya yg sudah terlanjur kecewa itu.


Diandra kembali diam dengan raut wajah yg memerah, entah karena kepanasan atau karena marah yg jelas saat itu hatinya sedang kecewa.


Ia menyesap minumannya lalu kembali memasukkan keripik belinjo ke mulutnya.


Kafka tau jika istrinya sedang merajuk saat itu. Tidak ada pilihan lain selain menghiburnya.


"Sayang, gimana kalau kita jalan-jalan aja sambil cari makan siang." ucap Kafka memulai pembicaraan yg sudah dari beberapa menit sepi tidak ada kata yg keluar dari mulut Istrinya.

__ADS_1


"Males." jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah Kafka. Ia masih diam membisu sambil mengunyah cemilan yg Ia pegang dari tadi.


Entah sejak kapan Ia punya sifat pemarah seperti itu. Hatinya mudah tergores dan sangat sensitif untuk akhir-akhir ini.


"Aku pingin rujak, pasti enak deh siang siang makan rujak pedas." ucapnya sambil menelan ludahnya yg hampir menetes itu.


"Di mana kita belinya, kan jauh dari kota." jawab Kafka binggung harus cari kemana.


"Usaha dong, di sini kan banyak penjual siapa tau ada penjual rujak. Memangnya di Kota saja yg ada penjual rujaknya." Ketusnya sambil menatap Kafka tajam. Kali ini dia benar-benar membuat kepala Kafka pusing.


"Iya aku akan cari, kamu mau ikut ngak?" Tanya Kafka dengan wajah lesunya. Kafka sebenarnya malas keliling kampung tapi demi istrinya tidak ada masalah lah.


Kafka dan Diandra pergi menggunakan sepeda motor Pak Ali.


Pak Ali adalah pengurus Vila itu, sudah lama Dia bekerja di Vila itu.


Itu adalah Vila milik keluarga Kafka yg sudah lama tidak pernah di kunjungi.


Dulu Raffa yg sering datang ke Vila, semenjak Kafka pergi Vila itu kosong. Pak Ali lah yg setiap hari menjaga dan merawatnya.


Sudah hampir setengah jam berkeliling namun Mereka tidak menemukan orang yg berjualan rujak.


"Sayang, aku sudah capek dan muter-muter dari tadi tapi tidak ada satu orang pun yg jualan rujak di sini." ucap Kafka merasa putus asa karena lelah.


"Ya sudah kamu pulang sana, biar aku cari sendiri." Ketusnya dengan kekeh.


"Entah apa yg terjadi dengannya, kenapa coba pingin banget makan rujak. Kan bisa makan yg lain gitu selain rujak." Batinnya.


Ternyata Tuhan masih berpihak padanya, ada seorang ibu-ibu jualan rujak di pinggir jalan.


Kafka langsung menghentikan motornya di depan warung itu.


Dengan antusias Diandra turun dan langsung memesan rujak pedas yg sudah Ia idam-idamkan dari tadi.


Ia duduk di kursi plastik sambil melihat ibu penjual itu. Ia tersenyum lebar sambil menahan air liurnya jatuh dari tempatnya.


Kafka membayar dengan uang lebih sebagai rasa syukurnya tanpa meminta kembaliannya.


Ibu itu sangat senang mendapatkan uang lebihan dari Kafka. Satu bungkus rujak pedas Kafka bayar dengan uang dua ratus ribu rupiah.


Kafka dan Diandra kembali ke Vila.


Diandra langsung mengambil piring dan sendok lalu duduk di halaman belakang tempat Ia duduk tadi pagi.


Ia membukanya dan langsung memakannya dengan rakus. Diandra benar-benar sangat rakus seperti orang sedang kesurupan.


Kafka hanya melihatnya sambil menelan ludahnya yg sudah semakin mengering karena kehausan.


Matanya menjadi lebar bulat saat melihat istrinya makan rujak itu tanpa ampun.

__ADS_1


Hanya sekejap mata rujak sebanyak itu langsung ludes tanpa ampun.


"Sayang, kau sehat kan?" Tanya Kafka yg heran dengan tingkah istrinya lalu memegang jidatnya.


Diandra menyipitkan matanya dan menoleh ke arah Kafka.


Ia menarik bibirnya ke samping sambil mengangguk-angguk.


"Aku sehat, memangnya kenapa?" Jawabnya enteng tanpa ada rasa curiga.


"Tidak ada apa-apa cuma tanya aja." Jawabnya dengan tersenyum kecut.


Kafka masih bingung di buatnya namun ia berusaha menepisnya.


"Alkhamdulillah,,, akhirnya aku kenyang juga." ucapnya sambil mengusap perutnya yg terlihat membuncit karena kekenyangan.


"Sayang, kenapa kamu ngak makan?" tanyanya ke Kafka


"Aku sudah kenyang." Jawab Kafka singkat.


"Bagaimana aku tidak kenyang kalau lihat nafsu makan mu seperti orang kerasukkan, lihat dirimu saja aku sudah ikut kenyang." Batinnya.


"Terserah kamu." Ketusnya lalu masuk kadalam Vila. Ia duduk di sofa sambil menonton tv.


Di Vila itu memang jauh dari kota dan juga jauh dari tetangga. Selain sinyal susah di sana juga harus pakai parabola jika ingin melihat tv tanpa parabola tv akan terlihat buram seperti banyak nyamuk beterbangan dalam tv itu.


Kafka ikut masuk dan duduk di samping istrinya.


Ia ikut melihat chanel tv yg di tonton istrinya, tiba-tiba ada iklan minuman dingin rasa asam. Entah kenapa air liur Diandra tiba-tiba terasa penuh dan ingin menetes begitu saja.


"Sayang, aku pingin banget deh makan buah asam." Katanya sambil membayangkan segarnya makan buah asam itu.


"Apa buah asam yg sangat kecut itu." Jawab Kafka terkejut mendengar keinginan Istrinya.


Kafka kembali menelan ludahnya yg saat ini sudah mempenuhi mulutnya. Bahkan Ia tidak bisa membayangkan betapa kecutnya buah itu.


"Apa harus sekarang ya makannya?" Tanyanya sambil mengaruk kepalanya yg terasa gatal padahal tidak sedang gatal.


🤤🤤🤤🤤🤤🤤🤤🤤🤤


Kenapa coba Diandra terus pingin makan makanan yg aneh-aneh kaya gitu???


Jangan lupa like, komen dan rate serta Vote juga.


Mampir di karya aku lainya


♥️Aku & maru ku


🍀Love in Facebook

__ADS_1


🌹Cowok Pecemburu


🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2