
Vera tak sanggup melihat kondisi Diandra yg begitu mengenaskan. Meskipun Ia tidak suka dengannya bukan berarti Ia tidak punya hati.
Ingin rasanya vera menghajar Lusi, namun apalah daya Vera hanya segelitir orang sudah jelas pasti akan kalah jika Ia melawannya sendirian.
Vera menghela napasnya dalam dan kembali berdiri.
Ia berharap Kafka akan segera datang menolong Diandra.
Vera mencoba mengalihkan perhatiannya agar Lusi tidak menyiksa Diandra lagi.
"Lusi, kau sangat hebat bisa membuat orang lain menderita, Aku bangga pada mu. Apa kau tidak takut jika Kafka akan semakin membencimu, kalau dia tahu ternyata kamu sudah menyiksa istrinya." Vera tersenyum licik sambil menepuk bahu Lusi pelan. Itu bukan sebuah pujian tapi sebuah sindiran secara halus.
"Haha,, apa kau baru sadar jika sahabat mu ini memang hebat. Aku tak perduli lagi dengannya. Aku sudah cukup puas bisa membalaskan dendam sakit hatiku karena penolakannya." Lusi tertawa puas dengan aksinya. Ia tak sedikitpun merasa tersindir atau takut dengan ucapan Vera, malah Ia merasa bangga.
"Dasar wanita ib*is, bisa-bisanya Ia malah tertawa di atas penderitaan orang lain." Batin Vera, namun lagi lagi vera hanya tersenyum kecut.
Ia memainkan jemarinya dan terlihat gelisah. Ia terus menoleh ke arah luar gudang berharap Kafka akan cepat datang sebelum terjadi hal yg tak inginkan.
Keringat dingin bercucuran keluar dari kulit mulus Vera, entah kenapa Ia begitu khawatir dengan kondisi Diandra saat ini.
"Jangan bergerak." Ucap gerombolan pria berbadan tegap dan gagah dari luar gudang.
Mereka adalah anak buah Kafka.
Gudang telah terkepung, Lusi dan dua anak buahnya tidak bisa berkutik.
Vera bisa tersenyum lega akhirnya yg di tunggu datang menyelamatkan Diandra.
Namun Vera berpura-pura seolah Ia juga terjebak dalam kondisi saat itu.
Lusi menatap Vera tajam, Ia curiga jika ini adalah ulah Vera.
"Apa kau yg mengajak mereka kesini." ketusnya Lusi dengan melebarkan bola matanya.
"Tidak, aku malah tidak tahu siapa mereka ?" Jawab Vera berbohong. Namun hatinya tertawa bahagia akhirnya Lusi mendapatkan karmanya.
Kafka datang dengan kepalan yg teramat keras. Wajahnya terlihat menyeramkan seperti orang yg sedang kesurupan.
Kafka berjalan mendekati Lusi yg berdiri di samping Vera.
Kafka menatap Lusi tajam, ingin rasanya Ia menghabisi Lusi saat itu juga.
plakk..
Kafka menampar wajah Lusi keras hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Berani kau menyakiti Istriku dasar ib*is !" Ketusnya yg membuat tubuh Lusi bergetar ketakutan.
"Ini semua salah mu, jika kau tidak menolakku maka aku tidak akan melakukan ini. Kau yg sudah jahat padaku, kau menolakku hanya demi wanita ja*ang itu. Sampai kapanpun aku tidak akan mengampuni mu ." Ketusnya dengan nada tinggi.
Vera hanya diam tak berani berkata apapun, Ia menikmati drama itu. Ia sangat puas karena akhirnya Lusi kena batunya juga.
"Cepat bawa wanita ib*is ini, jangan biarkan mereka lolos." Perintahnya mengerahkan anak buahnya.
Para anak buah Kafka sangat paham dengan tugasnya.
Lusi dan kedua anak buahnya di seret keluar sama Anak buah Kafka.
"Lepaskan aku, Aku tidak akan memaafkan kamu kafka." Ancam Lusi namun Kafka tk mengubrisnya.
"Kak, dia ada di pojok sana!" Ucap Vera.
__ADS_1
Kafka dan vera segera meghampiri Diandra yg masih terkapar tak sadarkan diri.
Di sana sudah ada An merangkul kepala Diandra.
Kafka terkejut melihat tubuh istrinya yg sudah dipenuhi darah yg hampir mengering itu.
Kafka segera mengambil alih dan merangkul tubuh Diandra.
"Sayang bangunlah, kumohon buka matamu."
Kafka menangis dan langsung membopong tubuh Diandra menuju Mobilnya.
An segera membantu kafka membuka pintu mobilnya. Sedangkan Vera naik ke mobilnya sendiri dan mengikuti mobil Kafka dari belakang.
An melajukan mobilnya dengan kencang mencari Rumah Sakit terdekat.
Hati Kafka seperti tersayat sembilu melihat kondisi istrinya yg mengenaskan.
Kafka segera membuka jaketnya dan membalutkannya di tubuh Diandra.
Kafka mencoba membangunkan Diandra, namun mata Diandra tetap tertutup rapat.
"Sayang, bukalah matamu, Kumohon sadarlah. Kau harus kuat demi aku, sayang." Ucap Kafka yg diiringi isak tangis.
"An, tolong cepat cari RS atau aku akan menghajarmu, kau bisa ngak sih nyetir lebih cepat." ketusnya yg membuat An merinding
An tau gimana perasaan Kafka saat ini. Ia tidak sedikitpun marah meskipun Kafka sudah membentaknya.
Hampir setengah jam perjalanan An baru menemukan Rumah Sakit.
An menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk RS.
An keluar dan segera membuka pintu untuk Kafka.
Dengan sigap para perawat segera menangani Diandra.
Kini Diandra sudah ada di ruang ICU.
Kafka, Vera dan An menunggu di luar pintu.
Vera dan An duduk di kursi panjang, sedangkan Kafka berdiri mondar mandir seperti setrikaan rusak.
Vera menerima panggilan dari Mama dan menceritakan kondisi Diandra yg sekarang.
Mama shok mendengar kabar dari Vera dan tiba-tiba tak sadarkan diri.
Iffa dan Papa juga ikut panik melihat Mama pingsan.
πππππππ
Diandra sudah lama di ruang ICU namun para tim Dokter belum juga memberi kabar ke Kafka perihal kondisi Diandra saat ini.
Kafka terus berdoa demi keselamatan Diandra.
Ada satu Dokter keluar dari ruangan itu dengan wajahnya yg sendu. Di lihat dari raut wajahnya Seperti telah terjadi sesuatu yg tak di inginkan.
Kafka berbalik badan dan mendekati Dokter itu.
"Dok, gimana keadaan Istri saya?" Tanya Kafka penuh harapan, berharap jika kondisi Diandra saat ini baik baik saja.
Vera dan An juga ikut bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Ingin mendengarkan penjelasan dari Dokter itu. Mereka berharap Diandra akan cepat sehat.
Dokter itu menarik nafasnya dalam dan terdiam sejenak.
"Maaf Tuan, kami para tim dokter sudah berjuang keras tapi kami hanya bisa menyelamatkan Istri Anda.
Kafka terdiam sejenak mencerna ucapan Dokter.
"Satu nyawa, apa maksud mu, Dok?" Tanya Kafka yg tak mengerti dengan apa yg di maksud dua nyawa oleh dokter.
Kafka seperti orang bodoh saat itu, Ia tak bisa berpikir dengan jernih. Yang Ia pikirkan saat ini hanya keselamatan Diandra.
"Apa Tuan tidak tahu jika istri Anda saat ini sedang mengandung?"
"Apa Dok, istri saya hamil?" Kafka terkejut dan tak percaya mendengar ucapan Dokter itu.
Kafka mengelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya secara kasar.
Ia tak menyangka jika Istrinya saat ini sedang hamil, Ia pikir Diandra hanya sakit biasa.
"Benar, usia kandungannya saat ini sudah enam minggu, tapi maaf kami tidak bisa menyelamatkan janinnya. Istri anda mengalami keguguran." Tegas Dokter itu iba.
Dokter itu bisa mengerti bagaiman perasaan Kafka saat ini, pasti terpukul dan sedih karena kehilangan calon bayinya.
Tubuh Kafka langsung lemas tak bertulang mendengar penjelasan Dokter.
Tubuhnya terjatuh dan terkulai lemas di lantai. kafka hanya bisa menangis dan menyesal dengan kejadian ini.
Seandainya Ia tak meninggalkanya sendiri di apartemen maka semua tidak akan seperti ini.
Vera ikut menangis bersedih lalu memeluk tubuh Kafka.
"Kak, kakak harus kuat dan tegar. Ini semua adalah cobaan dari Allah, kakak harus bisa terima kenyataan ini." Vera berusaha menenangkan hati Kafka.
Vera menyeka air mata Kafka dengan jemarinya.
Kafka hanya diam tanpa kata, Ia memeluk tangan Vera erat.
Ia tak sanggup melihat Istrinya jika tau Ia mengalami keguguran.
Diandra pasti akan terpukul mendengarnya.
"Apa yg harus aku katakan padanya mengenai janinnya?" Kafka berbicara dengan pandangan kosongnya dan wajah sembabnya.
"Kak, sudah dong jangan nangis, kasihan Diandra jika tau kakak sedih kaya gini." Vera kembali menyeka air mata Kafka.
"Kakak harus bisa merahasiakan tentang kehamilannya, aku yakin dia juga belum tau jika saat ini dia sedang hamil. Percayalah padaku, ok." vera tak sanggup melihat Kafka bersedih seperti itu.
ππππππ
Maaf jika aku menabur bawang merah lagi.
Biar ngak sedih lagi kakak bantu aku like, komen , vote dan rate5 ya.
Jangan lupa mampir juga di karya aku yg lainnnya.
πAku & maru ku
πΉLove in facebook.
πTujuan hidup
__ADS_1
ππππ