
Diandra kembali dari kamar mandi dan langsung saja melingkarkan kedua tangannya di leher Kafka.
"Sayang, tadi kau berbicara sama siapa?"
"Sama si tuyul An." Jawab Kafka sinis.
Diandra tertawa ringan melihat wajah Kafka kesal.
"Hahaha... sejak kapan kalian berubah jadi Tom and Jerry?" Diandra sengaja mengoda suaminya bahkan kini tangannya juga suka menjaili Kafka.
"Uluh,, uluh,, emesnya." Diandra mengoyangkan bibir Kafka pelan.
Kafka memaksakan senyumannya dan menunjukkan deretan giginya yg putih dan bersih itu.
"Hehehe... Sayang, aku pingin cepet pulang."
Ucap Kafka yg di ikuti gerakan bibirnya yg lincah.
Kafka ******* bibir seksi Diandra.
Diandra merasa geli dengan sikap suaminya yg selalu bertingkah mesum tanpa tahu tempat.
"Hentikan !" protes Diandra lalu mendorong tubuh Kafka.
Diandra segera mengambil tasnya dan berjalan mendekati pintu.
"Ayo cepetan, katanya mau cepet pulang. Dasar lelet !" Ucap Diandra dengan suara galaknya .
"Iya sebentar."
Kafka dan Diandra turun melewati lift pribadi.
Tangan Kafka terus mengandeng tangan Diandra erat.
"Sayang, jangan lupa aku minta jatah lo nanti malam, ok?" Bisiknya di telinga Diandra.
Kafka memainkan alisnya dan memandang Diandra dengan tatapan mesumnya.
Diandra hanya menarik satu ujung bibirnya.
Ia merasa geli melihat Kafka yg bersikap menyebalkan.
Pintu lift terbuka, mereka segera keluar dan langsung berjalan menuju tempat parkir.
"Kafka!" Panggil seseorang dari belakang.
Diandra dan Kafka segera menoleh ke asal
suara itu.
Diandra bersikap biasa saja karena tidak mengenal gadis itu.
Sedangkan Kafka sangat terkejut melihat kedatangan gadis yg sudah lama Ia kenal itu.
"Dia, kenapa kemari?" Batin Kafka.
Gadis itu berjalan mendekati Kafka.
"Kafka, apa kabar?" Tanya gadis itu dengan wajah ceria.
Kafka hanya diam mematung tanpa ada respon apa apa.
Diandra diam memperhatikan mereka secara bergantian.
"Kafka, aku datang kesini menagih janji mu.
Aku ingin kau menjawabnya sekarang." Gadis itu terus mengumbar senyumannya.
Ia meraih tangan Kafka, namun Kafka segera menepisnya kasar.
__ADS_1
Kafka membulatkan matanya sambil mengacak memori di otaknya beberapa tahun yg lalu tentang gadis itu.
Kini ia mengingatnya dengan jelas apa janjinya dulu.
Wajah ceria gadis itu berubah menjadi merah dan kecewa saat Kafka menepis tangannya.
"Kafka, ada apa dengan mu?"
Tanya gadis itu sendu.
"Kau ingin aku menjawabnya sekarang bukan?" Jawab Kafka dengan tatapan sinisnya.
"Iya benar." Gadis itu kembali tersenyum saat mendengar ucapan Kafka, berharap jawabannya akan sesuai dengan yg Ia inginkan.
"Maaf Lusi, tapi aku sudah menikah." ucap
Kafka dengan melirik ke arah Diandra.
"Dia adalah istriku." imbuhnya.
Kafka kembali mengengam tangan Diandra yg tadi sempat terlepas.
Diandra hanya diam menyaksikan drama yg ada di depan matanya.
Ia mencerna setiap kata yg keluar dari bibir mereka.
Diandra menyimpulkan jika mereka pernah deket atau bisa di bilang sepasang kekasih.
Air mata Lusi jatuh bercucuran menggenangi pipi cabinya.
Ia sangat kecewa dengan jawaban Kafka.
Batinnya terasa sakit dan perih seperti teriris pedang tajam.
"Aku tidak percaya kau setega itu, Kafka.
Bertahun tahun aku menunggu mu dan ini jawaban mu.
Kau jahat, Kafka." Lusi menangis tersedu-sedu sambil memukuli dada Kafka.
Kafka segera menarik tubuhnya dan tangan Diandra mundur beberapa langkah.
"Lusi, dulu aku sudah pernah katakan padamu, jika aku tidak pernah mencintaimu, tapi kamu sendiri yg mau menunggu ku. Lalu di mana jahatnya aku. Sekarang pergilah dan jangan ganggu aku. Kita jalani hidup kita masing-masing." ucap Kafka datar tanpa ekspresi.
"Kafka, jika aku tidak bisa memilikimu maka siapapun juga tidak boleh memilikimu, termasuk dia." Jawab Lusi kasar dengan menunjuk Diandra.
"Terserah kamu, aku tak perduli."
Kafka langsung meninggalkan Lusi tanpa memperdulikan ancamannya. Kafka l
segera melajukan mobilnya dengan kencang bak roket lepas landas.
Deretan giginya saling beradu dan Kedua alisnya hampir menyatu.
Kafka terlihat marah dan ingin rasanya Ia melempar Lusi itu jauh ke laut.
Diandra yg tadinya mengoceh tak ada hentinya kini hanya duduk dan diam seribu bahasa.
Diandra tak berani berbicara apa lagi bertanya.
Kafka menghentikan mobilnya kasar di parkiran apartemen.
Ia berjalan cepat bahkan sempat meninggalkan Diandra.
Diandra sedikit berlari mengejar langkah cepat Kafka.
"Ya Allah semoga semuanya baik baik saja." ucap Diandra dalam hati.
Kafka membuka pintunya kasar.
__ADS_1
Ia berdiri dengan wajah menyeramkan, seperti macan siap menerkam mangsanya.
Kafka membanting tubuhnya di sofa dengan kasar.
"Sialan, kenapa dia harus kembali. Apa dia tuli dan tidak punya rasa malu. Berkali kali aku menolaknya, masih saja dia mengejarku. Dasar wanita sia*an." Batinnya .
Diandra datang membawa segelas air putih lalu menyodorkan ke Kafka.
"Minumlah dan tenangkan hatimu." Diandra mengusap punggung suaminya dengan lembut lalu duduk di samping kafka.
Kafka menerimanya lalu menyesapnya separuh.
"Sayang, aku minta maaf." ucap Kafka sendu lalu memeluk Diandra.
"Kamu tidak salah, kenapa harus minta maaf."
Jawabnya mencoba sabar.
Diandra melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Kafka dengan lembut dan perhatian.
"Apa kau marah pada ku?" Ujar Kafka khawatir jika Istrinya akan marah.
Kafka menatap wajah Diandra sendu penuh kecemasan.
"Kenapa aku harus marah padamu, itukan hanya masalalu mu. Bukankah semua orang punya masalalu. Aku cukup bangga padamu karena kamu sudah mau jujur padaku. Aku mencintai mu karena kamu begitu tulus mau mencintaiku meskipun kamu sudah tau semua tentang diriku. Tidak ada alasan untuk marah padamu, karena aku percaya jika cintamu hanya untukku." Diandra mengusap pipi Kafka dengan lembut. Pandangan matanya menunjukkan jika Diandra benar benar mencintai Kafka dan tak perduli dengan masalalunya.
"Terima kasih." Kafka tersenyum tipis mendengar ucapan Istrinya. Ia kembali memeluk dan mencium kening Diandra dengan lembut.
ππππππ
Lusi masih tak terima dengan jawaban Kafka.
Hatinya masih terasa sakit.
kedua tangannya terkepal keras dan kedua bibirnya masih bergetir.
Matanya menatap tajam ke arah kaca.
Pyaaarrr... krompyang.....
Hancur sudah kaca itu kena pukulan maut Lusi.
Semua yg ada di atas meja rias itu jatuh berantakan.
Kamar yg tadinya terlihat rapi dan bersih kini berubah menjadi berantakan seperti kapal pecah.
Perihnya luka di tangannya yg terkena serpihan kaca masih perihan luka di hatinya.
"Awas kamu, tak akan ku biarkan kau bahagia dengan pria ku. Aku akan buat kamu menyesal karena telah merebut dia dariku.
Lusi meyipitkan matanya dan menyatukan deretan giginya.
"Lihat saja nanti, apa yg akan aku lakukan untuk membalas rasa sakit hatiku ini." Ucapnya dengan tatapan sadisnya.
π‘π‘π‘π‘
Lusy adalah adik kelas Kafka saat masih SMA.
Sudah lama Lusi menyukai Kafka, bahkan sudah berkali-kali juga Ia mencoba menyatakan cintanya, namun sayangnya Kafka tidak mennyukainya dan selalu menolak cinta Lusi.
Akhirnya Lusi pindah ke Amerika untuk
melanjutkan kuliahnya.
Sebelum pindah Lusi menyatakan cintanya ke Kafka yg kesekian kalinya.
Kafka tidak langsung menjawabnya, dia bilang akan menjawab kalau Lusi sudah lulus kuliah
ππππππππ
__ADS_1
gitu lo gaes ceritanyaππΎππΎππΎ