
Kafka kembali dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yg Ia lilitkan di atas pinggangnya.
Bahkan tanpa rasa malu Kafka berganti baju di depan Diandra.
Diandra merasa malu dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya setelah melihat tubuh Kafka telanjang bulat.
"Kenapa kau telanjang di depan ku !" protes Diandra.
"Biasanya juga begitu, aku kan selalu ganti baju di depanmu lalu kenapa sekarang kamu melarang ku." jawab Kafka enteng tanpa merasa bersalah.
"Terserah kamu, cepat ganti baju mu." Bengisnya dengan memalingakn wajahnya.
"Dasar cowok mesum, bisa-bisanya ganti baju di depan ku." Batinnya
Kafka terkekeh melihat wajah Diandra yg terlihat merah merona karena menahan malu.
"Sejak kapan dia seperti itu, dasar aneh." Ucap Kafka lirih.
"Astaga aku lupa, Dia kan lagi amnesia." Kafka baru ingat jika kini Istrinya masih hilang ingatan.
Selesei berganti pakain Kafka duduk di samping Diandra dengan menyandarkan kepalanya di pundak Diandra.
"Seharian tadi kamu ngapain saja?" tanya Kafka halus.
"Tidak ngapa-ngapain." sinisnya lalu mendorong kepala Kafka agar jauh darinya, namun Kafka kembali menyandarkan kepalanya lagi.
Kafka ingin mencium Diandra namun Diandra segera menepisnya.
"Kenapa kau mau mencium ku?" Bengisnya dengan melebarkan bola matanya.
Diandra memukul dada Kafka keras hingga merintih kesakitan.
"Aw,, kenapa kau memukul ku, sakit tau. Aku merindukan mu, makanya aku ingin mencium mu."Jawabnya.
"Dasar otak ngeres, awas jika kau berani mencium ku akan ku pukul kepala mu." Jawab Diandra jutek sambil mengancungkan kepalan tangannya.
Kafka hanya bisa menelan ludahnya yg sudah terlihat kering itu.
sekitar jam setengah delapan malam Kafka masih duduk di samping Diandra.
Ia bingung harus ngomong apa karena dari tadi Diandra hanya diam sambil membaca novel yg berjudul 'Aku & Maru ku'.
"Sayang, apa kamu suka baca Novel?" Tanya Kafka mencoba mencairkan suasana.
"Iya." jawabnya singakat tanpa menoleh ke arah Kafka.
"Sejak kapan kamu suka membaca Novel?"
"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi tadi pas aku bersihin tu lemari banyak benget buku Novel di sana dan ini salah satunya, memangnya kenapa?" Jawab Diandra sambil menatap wajah Kafka.
"Ow,,, ya sudah lanjutkan." jawabnya putus asa. Kafka berusah memutar otaknya agar Diandra tidak begitu cuek dengannya.
"Sayang, gimana kalau kita makan bakso di luar, pasti enak tu." Ucap Kafka sambil menelan ludahnya karena kepingin banget makan bakso.
Diandra menghentikan aktivitasnya dan menaruh bukunya di atas meja.
"Boleh juga tu, aku juga udah lama ngak makan bakso, pasti enak deh." Ia membayangkan betapa enak dan nikmatnya makan bakso di malam yg sedingin ini pasti seru dan nyaman.
"Yuk kita berangkat." Ajak Kafka.
__ADS_1
Diandra pun patuh dan mengikuti langkah Kafka.
Kafka dan Diandra berjalan santai mencari warung bakso yg ada di dekat rumahnya.
Diandra begitu antusias saat Kafka mengajaknya makan bakso, karena bakso adalah makanan kesukaannya.
"Diandra." panggil Kafka mesra.
"iya, ada apa?" jawab Diandra tersenyum dan menatap Kafka.
"Dulu kita pernah makan bakso bareng, habis makan bakso perutku langsung sakit dan mules banget karena bakso yg aku makan adalah bakso mercon. Aku tidak pernah makan-makanan pedas tapi demi dirimu aku rela makan bakso mercon itu. Huh... rasanya pedas gila, bahkan rasanya aku pingin pingsan waktu itu tapi aku berusaha menahannya, semua aku lakukan hanya demi diri mu." ucap Kafka mengenang masa lalu bersamanya.
Diandra terkekeh mendengar pengakuan Kafka.
"Kau begitu bod*h, kenapa harus menyiksa diri mu hanya demi aku coba, kalau kamu mati gimana? Pasti aku akan merasa bersalah saat itu." Wajah Diandra tiba-tiba terlihat sedih.
Diandra menatap Kafka lekat dan mengambil tangan Kafka lalu memegangnya.
"Kafka, terima kasih buat semuanya, kamu sudah menjaga dan menyayangi ku. Maaf jika selama ini aku sudah menyusahkan mu. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya." Ucap Diandra sendu.
"Kamu adalah istri ku, sudah kewajiban ku untuk menjaga dan menyayangi mu. Kamu tidak perlu meminta maaf atau berterima kasih pada ku. Aku melakukan semua itu karena aku sangat mencintai mu." jawab Kafka lalu mengusap rambut Diandra lembut.
"Sudahlah jangan bahas itu, ayo kita cari lagi warung baksonya nanti keburu malam." Ucap Kafka yg tidak ingin membuat Diandra larut dalam kesedihan.
Tak berselang lama mereka menemukan. warung bakso dan langsung saja masuk.
"Pak, bakso dua porsi sama es jeruk dua ya." Kafka memesan bakso dan minuman sama bapak penjual bakso itu.
"Kafka, sepertinya aku pernah kesini deh, tapi entah kapan aku lupa." Diandra kembali mengacak memorinya. Diandra merasa tidak asing dengan warung bakso itu.
"Entahlah aku lupa." imbuhnya.
"Iya terima kasih."
Tak berselang lama dua porsi bakso sudah tersaji di atas meja dan siap untuk di nikmati.
"Huh,, sedap sekali pasti enak banget deh." Diandra segera melahapnya dan menikmati setiap gigitannya. Diandra tidak perduli dengan apapun masalahnya, semangkuk bakso bisa menghilangkan rasa stresnya.
"Sayang, pelan-pelan makannya nanti kamu kesedak lo." Ucap Kafka memperingatkan.
Mata Kafka terlihat berbinar saat melihat istrinya begitu lahap menikmati bakso itu.
"Iya, iya. Oh,,, ya kamu jangan makan sambal banyak-banyak nanti perut mu sakit lagi lo." jawab Diandra lalu kembali melahap baksonya tanpa menoleh kanan kiri maupun keberadaan Kafka.
"Iya." jawab Kafka singkat, kali ini Kafka tidak makan sambal hanya mkan baksonya saja tanpa menambahi apapun.
Kafka tak ingin sakit perut seperti kemaren.
Mereka menikmatinya sambil bercanda ria.
Diandra pun sudah terlihat akrab dengan Kafka dan tidak secanggung dulu.
Kafka dan Diandra pulang dengan berjalan kaki.
Mereka juga menikmati angin di malan hari, membiarkan angin menerpa wajahnya lalu menikmatinya.
"Kafka, malam ini udaranya sejuk sekali, jarang sekali aku merasakan udara seperti ini." ucap Diandra sambil meregangkan dua tangannya dan menutup matanya.
Ia benar-benar marasakan sejuknya angin malam itu.
__ADS_1
Kafka langsung melepas jaketnya dan membalutkan ke tubuh Diandra.
"Pakai jaket ini, angin malam akan membuat mu sakit dan aku tidak ingin kau sakit, apa kau mengerti." ucapnnya.
"He'em, terima kasih." jawabnya singkat.
Diandra terus berjalan tanpa melihat ke bawah, tanpa ia sadari ada lubang di trotoar itu, tiba-tiba kaki Diandra terkilir dan hampir terjatuh.
Namun tangan Kafka langsung menangkapanya.
Diandra memandang wajah Kafka lekat dan tersenyum tipis. Jantungnya berdegup kencang dan pikirannya terasa melayang jauh ke langit. Kini hatinya merasa nyaman saat ada di dekapan Kafka.
"Kau tidak apa-apa, hati-hati kalau jalan." ucap Kafka yg lansung membuyarkan lamunan Diandra.
"Kaki ku terasa sakit." Diandra memegang bahu Kafka sambil merintih kesakitan.
Kafka memijatnya pelan lalu mengurutnya.
Kafka jongkok dan menyuruh Diandra naik le punggungnya.
"Ayo cepetan naik, biar aku gendong sampai rumah." ucap Kafka.
Diandra masih diam memandang punggung Kafka.
"Apa, dia mau menggendongku, bagaimana ini, aku terima ngak ya." ucapnya dalam hati.
Diandra menutup matanya dan langsung naik ke punggung Kafka pelan.
Kafka mengendongnya dan berjalan santai.
"Sayang, apa kau kurang makan tubuh mu enteng banget." ledek Kafka sambil terkekeh.
Diandra memukul bahunya pelan.
"Kau ini dasar cowok aneh, kenapa ngatain aku kaya gitu. Apa kamu meledekku?" jawabnya kesal lalu mencubit hidung Kafka pelan.
"Aku kan cuma bercanda kenapa kamu marah." jawab kafka terkekeh.
Suansana kembali hening hingga beberapa menit.
Kini ganti Diandra yg mengodanya.
Diandra meniupi telinga Kafka pelan yg membuat Kafka geli dan merinding.
Ia tak mengubrisnya meskipun Kafka memprotesnya.
"Sayang, tolong hentikan geli tau." ucap Kafka yg sudah tahan menahan geli.
Kafka berusaha menghentikannya namun Diandra tetap tak mengubrisnya.
"Sayang, apa kau sedang mengoda ku." ucapnya lagi.
"Tidak." jawabnya singkat.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Habis baca jangan lupa like, komen, rate dan Vote.
Terima kasih biat yg sudah ngedukung terus karya" aku.
__ADS_1
🙏🙏🙏