Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
78. Maaf


__ADS_3

Rosi tersenyum lega setelah mendengar semua penjelasan dari Chika.


Ia tersenyum sambil melirik Egi pelan.


Tidak ingin terlihat malu di depan Suaminya, Rosi lebih memilih jalan santai menyusuri jalan yg ada di pinggir taman.


Memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku jaketnya sambil membayangkan sesuatu yg indah saat bersama orang yg ia cintai.


"Tak ku sangka jika ternyata kau memang cowok yg setia, semoga selamanya kau akan selalu setia pada ku." Gumannya dalam hati sembari menggigit bawah bibirnya hingga membekas memerah.


Egi yg sendari tadi berjalan mengikutinya dari belakang masih bingung dengan sikap dingin istrinya, padahal Chika sudah menjelaskan kebenarannya.


Egi bukan tipe cowok yg mudah menyerah, Ia akan terus berusaha membuat Istrinya kembali hangat seperti kemaren-kemaren.


Egi berhenti di toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar merah dan putih.


Egi berlari mengejar istrinya dan menghadangnya dari depan, Rosi pun berhenti melangakahkan kakinya.


Egi duduk berjongkok sembari memberi sebuket bunga di depan Rosi.


Sikap romantisnya di saksikan ratusan orang yg melintas di sekitar jalanan itu.


"Sayang, maukah kau memaafkan ku?


Aku janji pada mu, aku akan selalu setia pada mu hingga akhir hayat ku. Aku tidak akan menghianati mu dan akan selalu mencintai mu apa adanya." Ucap Egi memohon di depan Rosi dan ratusan pasang mata telah menjadi saksinya.


Rosi tersenyum malu melihat sikap romantis suaminya.


Ia menoleh ke kanan, ke kiri dan ke setiap sudut jalan, Ia semakin malu ketika dia tahu bahwa banyak orang yg menyaksikannya.


Teriakan keras terdengar nyaring hingga rongga telinga Rosi.


Terima,terima,terima


((Teriakan para pendukung mereka yg ada di taman itu))


Seperti adegan romantis seorang kekasih melamar kekasihnya di tempat umum.


Vera dan Iffa yg melintas pun menyaksikan kisah romantis mereka.


Rosi mengangguk sembari menerima bunga itu dengan senyuman yg mengembang.


Egi berdiri dan berteriak keras dan langsung jingkrak-jingkrak seperti habis menang lotre milyaran rupiah.


"Terima kasih sayang, kau sudah mau memaafkan aku." Ucap Egi girang.


Tanpa rasa malu Egi memeluk mesra istrinya lalu mengecup kening Rosi.


Semua orang bertepuk tangan ikut merasakan kebahagian mereka meskipun mereka tidak mengenalnya.


Vera dan Iffa turun dari mobil menyaksikan mereka haru.


"Kak, mereka sangat romantis ya." Ucap Iffa.


Iffa menggandeng tangan Vera erat sambil tersenyum membayangkan kisah mereka.

__ADS_1


Iffa juga ingin punya kekasih seperti Egi yg setia dan romantis seperti itu.


Iffa ngehalu sesaat sambil membayangkan pangeran itu melamarnya di depan ribuan orang seperti Egi dan Rosi tadi lakukan.


Pangeran itu adalan 'Lee min ho' artis tampan yg sudah lama Ia idolakan.


"Hei, kamu ngehalu ya." Ucap Vera mengagetkan Iffa.


"Ih, kakak kok ngagetin aku sih!" Ketusnya.


Iffa memoncongkan bibirnya karena kesal Vera sudah membuyarkan lamunannya.


Iffa kembali masuk mobilnya tanpa nyamperin Rosi dan Egi karena tidak ingin mengacaukan acara mereka.


Vera duduk di bangku tengah memandang keluar cendela.


Tanpa Ia sadari bayangan An melintas di benaknya yg membuatnya tersenyum geli.


Vera tidak sabar ingin rasanya Ia cepat menikah sama An. Dalam sekejap senyumannya kembali meredup, Ia yakin jika Mama dan Papa angkatnya tidak akan merestui hubungan mereka.


Vera menghembuskan nafasnyan kasar lalu menyandarkan kepalanya kebelakang.


"Ada apa kak, kok kelihatannya kakak sedang sedih, apa ada masalah?" Tanya Iffa yg menyadari glagat Vera yg tak biasa.


Iffa memeluk Vera dari samping dengan tatapan sayupnya.


"Cerita dong Kak kalau ada masalah, siapa tahu aku bisa bantuin." Ucap Iffa yg tau jika kini Vera dalam masalah yg sulit.


"Tidak ada masalah kok ,Dik. Aku cuma lelah karena tadi malam kan aku pulang syuting larut malam dan sekarang sudah ada syuting lagi, kan aku lelah." Jawabnya berbohong.


Han menghentikan mobilnya di depan kampus Iffa, Iffa turun kemudian melangkah masuk gerbang sedangkan Vera masih harus pergi ke lokasi Syuting karena ada syuting iklan yg harus Ia seleseikan.


Meskipun lelah Vera tetap negejalaninya dengan senang hati karena ini adalah cita-citanya sejak dari kecil.


Vera turun dengan langkah lesunya karena masih mengantuk.


Langkah lesunya sirna sudah dan dia bisa kembali tersenyum setelah melihat mobil Kafka sudah terparkir di lokasi syutingnya.


Vera melangkah sedikit cepat menghampiri mobil Kafka.


An keluar dari mobil membawa sedompol bunga mawar merah yg terikat rapi dan cantik.


Ia memberikan ke Vera sebagai bukti cintanya kepada Vera.


"Pagi sayang!" sapa An renyah sembari memberikan bunga itu ke Vera.


An mengecup kening Vera lembut.


Kini Vera tidak ingin menyembunyikan kisah cinta mereka. Tidak perduli apa kata orang karena cinta tidak mengenal status.


"Terima kasih, kamu sudah mau datang. Apa kak Kafka ada di dalam." Tanya Vera lirih.


An mengangguk pelan dan tersenyum.


"Kamu harus semangat ya, maaf nanti aku tidak bisa jemput kamu karena Bos ada rapat penting." Ucapnya.

__ADS_1


Vera mengangguk dan berjalan mendekati Kafka.


Vera mengetuk kaca mobil Kafka pelan.


Kafka pun membukanya dan menyambut Vera dengan senyuman manisnya.


"Pagi Kak." Sapa Vera bahagia


"Pagi, semangat kerjanya buat nyewa gedung pernikahan." Goda Kafka yg hanya di senyumin sama Vera dan juga An.


"Ya sudah sana masuk, aku mau berangkat kerja dulu." imbuhnya.


"Iya Kak, hati-hati di jalan, Kakak juga harus semangat kerjanya buat baby junior." Balasnya.


"Dari mana kau tahu jika Diandra hamil." Tanya Kafka heran padahal Kafka belum kasih tau Vera.


"Tu, tapi tenang aku ngak akan cerita sama Mama kok !" jawab Vera menunjuk ke arah An.


"Dasar ember bocor." Ketus Kafka melirik An keras.


An hanya tersenyum kecut sambil menutup wajahnya.


Vera masuk ke ruang tempatnya Syuting sedangkan Kafka dan An kembali ke kantor.


Vera menatap bunga itu dan sesekali menciuminya.


Hatinya sedikit tenang karena Kafka sudah merestui hubunganya sama An, kini tinggal cari cara kasih tau ke Mama dan Papanya.


"Non ini bajunya yg harus di pakai syuting." Ucap Seli sambil menata riasan Vera.


Seli adalah asisten pribadi Vera sekaligus yg merias wajah Vera, karena cuma Seli yg tau selera Vera.


Seli adalah cowok yg mengubah dirinya menjadi cewek alias bencong, hehehe...


"Seli, menurutmu kado yg cocok untuk ulang tahun pernikahan Mama sama Papa apa ya?" Tanya Vera yg masih bingung harus kasih kado apa ke orang Tua angkatnya.


"Mending kado tiket wisata aja, Beb ." Jawab Seli yg sibuk menata rambut Vera.


"Ehm,,, bener juga ide mu." sahut Vera yg masih menatap dirinya dari dalam cermin.


Vera sudah selesei bersiap dan akan segera melakukan sesi syutingnya.


Kini Ia lebih bersemangat dalam bekerja karena banyak ke inginan yg harus Ia wujudkan tanpa harus ngeropoti orang tuanya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


**Di tunggu like, komen, rate dan vote nya ya.


Mampir juga di karya terbaru aku


**Cowok pecemburu **


Pasti ngak kalah seru ceritanya


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2