
Namun Lusi segera mengerahkan anak buahnya untuk memegang tangan Diandra.
Lusi mencengkeram dagu Diandra erat hingga Diandra merintih kesakitan.
"Lepaskan aku." Diandra berusaha memberontak tapi Lusi semakin buas dengan aksinya.
Lusi me**mpar muka Diandra beberapa kali dan menj*mbak rambutnya dengan kasar.
"Ini adalah hukuman buat kamu yg berani melawanku." ucapnya dengan wajah menyeramkan. Lusi ingin Diandra juga merasakan apa yg Ia rasakan.
Lebih tepatnya Lusi ingin menyiksa Diandra sebelum Ia membu**hnya.
"Ahww,,, sakit Lusi, ku mohon lepaskan aku. Tolong lepaskan aku Lusi." Diandra terus menangis dan memohon agar Lusi tidak menyiksanya lagi.
Sekujur tubuh Diandra terasa sakit semua akibat pukulan Lusi yg sangat buas itu.
Wajahnya terlihat lebab, darah segar keluar dari kedua sudut bibirnya.
Kondisinya saat ini sungguh mengenaskan.
Lusi tidak puas dengan aksinya, kini Ia menc**gkeram perut Diandra lalu meremas-remasnya.
Ia melakuaknnya dengan sangat keji seperti sedang kesurupan.
"Ahww.... sakit lusi." Rintih Diandra kesakitan.
Lusi mere*asnya semakin keras hingga Diandra tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu. Lusi tersenyum licik sambil menyatukan kedua alisnya. Ia merasa puas melihat Diandra merasa kesakitan.
Diandra tak sanggup lagi menahan rasa sakit di perut dan tubuhnya. sekujur badannya terasa lemas tak berdaya. Pandangan matanya terlihat sayup dan samar, bahkan Ia tak sanggup lagi untuk bergerak.
Diandra terjatuh di lantai sambil memegang perutnya yg teramat sakit luar biasa.
Diandra berjalan ngesot mencari tembok untuk bersandar.
Diandra menyandarkan tubuhnya ditembok yg terlihat kotor dan lembab.
"Ya Allah, tolong selamatkan aku dari dia, ku mohon bantulah aku keluarka aku dari sini." ucap Diandra dalam hati.
Ia masih memegang perutnya dan manangis.
Lusi dan dua penjaga itu keluar dari ruangan itu. Entah pergi kemana ketiga ba*ingan itu.
Setidaknya Diandra sedikit bisa lega karena Lusi berhenti menyiksanya.
ππππππ
Hari mulai sore, sekitar jam tiga Kafka pulang karena cemas dengan keadaan istrinya.
Ia membuka pintu kamarnya namun tak menemukan istrinya.
Ia mencari ke setiap sudut ruangan tapi tetap saja nihil karena Diandra tak ada di apartemennya.
Kafka semakin bingung dan khawatir dengan keadaan Diandra yg sekarang.
Kafka berusaha menelponnya namun tak ada jawaban dari Diandra.
"Sayang, kamu di mana, kenapa tak mengangkat teleponku?" Batinnya.
Kafka segera menghubungi orang tua Diandra
"Hallo Bu, apa Diandra ada di rumah Ibu?" Tanya kafka cemas dan khawatir.
"Tidak Nak, dia tidak ada di sini. Memangnya kenapa, apa kalian bertengkar?" Tanya Bu laila menyelidik.
"kita baik baik saja, kita juga tidak bertengkar mungkin Diandra pergi ke rumah Iffa. Ya sudah Bu kalau begitu, jika ada kabar tolong kabari saya." Kafka segera mengakhiri telponnya dan berusaha mencari keberadaan Istrinya.
Ibu laila merasa khawatir setelah mendapat telpin dari menantunya .
__ADS_1
Ayah dan Susana berusaha menenagkan Ibu lail.
ππππππ
Kafka sudah menelpon Rosi dan Jaka namun Diandra juga tidak ada di sana.
"Kamu di mana sayang, jangan bikin aku cemas, ayo tolong angkat teleponnya." Ucapnya menyerah." Diandra tak juga menerima panggilannya.
Kafka mencoba menghubungi Iffa berharap Diandra ada bersamanya.
"Hallo kak, ada apa?" Tanya Iffa dari seberang sana
"Iffa, apa Diandra bersamamu?" Tanya Kafka dengan nada getirnya.
"Tidak ada, memangnya kenapa kak?" Iffa penasaran dan juga ikut khawatir.
Mama segera mengambil ponsel Iffa dari tangannya.
Sedangkan Vera segera menghentikan aktifitasnya lalu berdiri mendekati Mama.
Kafka menceritakan semuanya tanpa ada yg terlewatkan
Mama, Iffa dan vera terkejut mendengar penjelasan Kafka.
Mama segera menghubungi suaminya agar cepat pulang.
Vera masuk ke kamarnya dan mencari tau keberadaan Diandra melalui Lusi.
"Hallo Lusi, apa benar kau menculik Diandra.
Tanya Vera menyelidik.
"Ha..ha.. Apa mereka sedang mencarinya?" jawab Lusi dengan gelak tawa yg membuat merinding bulu kuduk Vera.
"kalau iya memang kenapa?" Tanya vera tajam.
"Tidak apapa, aku hanya ingin memastikan saja, baguslah kalau begitu, aku juga ikut senang." ucapnya dengan nada liciknya.
"Lalu di mana kau menyekapnya?" Vera terus mengorek informasi dari Lusi.
"Apa kau akan kesini? Aku menyekapnya di gudang kosong yg jauh dari pemukiman warga." Lusi begitu percaya sama Vera karena dari dulu Vera dan Lusi sama-sama licik dan jutek.
Vera segera menutup teleponnya lalu pergi keluar dengan mengendarai mobilnya.
Entah mau kemana dia
πππππππ
Kafka segera menghubungi An untuk mengerahkan anak buahnya mencari tau keberadaan Diandra.
Kafka dan An tidak tinggal diam, dia juga mencari keberadaan Diandra dengan menyusuri setiap jalanan dan tempat-tempat yg biasnya di datangi Diandra.
Ia mencoba melacaknya lewat ponselnya namun sayangnya ponsel Diandra sudah tidak aktif lagi.
Kring...kring..
Kafka segera mengangkat telpon dari Vera.
"Ada apa kau menelponku." Tanya Kafka ketus.
"Kak ,aku mau kasih info, nanti aku kirimi alamatnya kaka segera kesana ya, karena aku dapat kabar kalau Lusi telah menyekap Diandra di gudang tua yg jauh dari pemukiman warga." jawab Vera buru buru.
"Dari mana kau tau?" Tanya Kafka tak percaya.
"Sudah jangan banyak tanya, bukan saatnya untuk mencurigaiku, aku sekarang sudah dalam perjalanan kesana." jawabnya lalu menutup tlpnya.
Kafka segera mengerahkan anak buahnya untuk segera menuju alamat yg di kirim Vera..
__ADS_1
"Sialan, beraninya dia bermain denganku." culetuknya.
Kafka mengepal tangannya erat tak sabar ingin menghajar Lusi.
Hatinya semakin tak tenang takut jika Lusi akan berbuat nekat pada istrinya.
An segera melajukan mobilnya dengan kencang sesui dengan perintah Kafka.
ππππππ
Diandra masih dengan kondisinya yg mengenaskan.
Merasakan sakit yg luar biasa disekujur tubuhnya terutama perutnya.
"Lusi, lepaskan aku, ku mohon lusi tolong lepaskan aku. Hikss,, Hikss." teriaknya yg di iringi dengan isak tangis.
Diandra terus menangis dan memohon agar Lusi melepaskan hukumannya
Tap...tap..tap..
Lusi berjalan mendekati Diandra yg terkulai lemas tak berdaya di lantai.
Lusi duduk berjongkok di depan Diandra dan menatap Diandra dengan keji.
Lusi menyiram Diandra dengan sebotol air mineral yg membuat luka Diandra semakin perih.
Diandra menjerit kesakitan menahan betapa perihnya luka yg ada di tubuhnya.
"Lusi, tolong lepaskan aku, biarkan aku pulang, Lusi." Ucap Diandra memelas.
"Apa katamu, mau pulang Ha..ha..ha.. ! Aku ingin kau mem*usuk di sini, bo*oh !" jawab Lusi sinis.
Lusi kembali mencengkeram dagu Diandra keras lalu membenturkan ke*ala Diandra ke tembok.
Pandangan Diandra semakin gelap hingga membuatnya tak sadarkan diri.
Lusi tertawa puas melihat Diandra menderita
"Dasar wanita jal*ng, sekarang rasakan itu, aku ingin kau ma*pus secara perlahan hahaha." Lusi kembali tertawa renyah karena puas membuat Diandra menderita.
Hari sudah mulai gelap Vera tiba di gudang itu dengan hatinya yg dag dig dug tak karuan.
Ia ingin memastikan jika yg di sekap Lusi itu beneran Diandra.
Vera masuk dan di sambut gembira oleh Lusi.
"Hai kawan, akhirnya kau datang juga." sapa Lusi lalu memeluk Vera erat.
Vera hanya tersenyum tipis karena tak suka dengan cara licik Lusi.
"Di mana dia?" Tanya Vera penasaran.
Ia berharap yg Ia sekap bukanlah Diandra tapi orang lain.
Lusi dan Vera berjalan mendekati Diandra yg masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
Vera menyalakan senter ponselnya lalu mengarahkan ke wajah Diandra.
Betapa terkejutnya setelah tau kondisi Diandra yg mengenaskan itu.
Sekujur tubuhnya lebab dan memar, banyak darah keluar dari sudut bibir, dan kepalanya.
Yg bikin mata Vera terbelalak kaget ketika melihat bagian bawah Diandra mengeluarkan banyak darah segar.
π€π€π€π€π€
Terus dukung karya aku dengan cara πlike, komen, βrate 5, syukur" kalu mau kasih vote.
__ADS_1
Buat yg sudah ngedukung terus karya aku, aku ucapkan banyak terima kasih ππ