
Itu semua membuat Kafka jadi delima.Tak tau apa yg harus ia lakukan.Di sisi lain ia sangat mencintai Diandra, dan di Sisi lain ia tak ingin membuat hati Rosi terluka.
Ini keputusan yg sulit dan tak mudah untuk ia ambil.
Diandra terbangun dari tidurnya setelah merasa ada yg menyentuh pipinya.mata Diandra sedikit menyipit karena masih mengantuk,mungkin karena semalam ia tak bisa tidur.
"maaf,aku tertidur!" ucap diandra lesu.
Diandra masih diam karena nyawanya belum seratus persen menyatu.
Kafka tak tega melihatnya,akhirnya kafka mengambil nasi dan lauk pauk ia taruh di piring diandra.lagi lagi Diandra masih diam memaku dengan pandangan kosongnya.
"buka mulutmu?" perintah kafka lembut.
Mata Diandra terbelalak tak percaya dengan sikap Kafka yg tiba tiba lembut padanya.
"kamu mau apa?" tanya diandra balik.
"sudah diam,buka saja mulutmu." perintah Kafka sedikit keras.
Diandra tak ingin berdebat,terpaksa ia membuka mulutnya.ia melakukan karena terpaksa.
Kafka menyuapi diandra dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Bahkan sesekali ia mengusap bibir Dandra yg sedikit belepotan terkena kuah sayur.
"kamu harus banyak makan,biar kamu ngak sakit."tutur kafka perhatian.
"Terima kasih,tapi kamu juga tidak perlu sampai menyuapiku seperti ini."jawab diandra lirih.
"sudah diam,makan saja biar kamu cepat gemuk.Raffa pun disana akan sedih,jika melihat badan mu yg kurus kriping kaya gini." balas Kafka meledek.
"apa itu benar,baiklah aku akan makan yg banyak supaya gemuk.aku ingin melihat dia tersenyum bahagia di sana."ucap Diandra sembari menitihkan air matanya.
kafka menyeka air matanya dengan tisu.
Kafka merasa bersalah karena barusan tadi ia menyebut nama Raffa.
"maaf,bukannya aku ingin mengingatkanmu padanya,tapi aku hanya ingin mengingatkanmu, supaya kamu harus tetap semangat hidup walaupun tanpa dia." tutur kafka haru.
"tidak apa- apa. Kafka,terima kasih kamu sudah perhatian padaku. maaf,jika dulu aku pernah menyakitimu."ucap diandra sedih.
"lupakan yg dulu,mari kita buka lembaran baru.jangan pernah sesali masa lalu,biarkan semua berjalan apa adanya." jawab kafka sembari mengusap kepala Diandra.
mereka tak menyadari jika ada sepasang mata menyaksikan dan mendengar obrolan mereka.
mama menitihkan air mata melihat kedekatan mereka.
Sebelum meninggal Raffa telah menceritakan hubungan Kafka dan Diandra.
mama tidak heran jika kini Kafka akan bersikap lembut dan perhatian sama Diandra.
Mama tak ingin menyakiti hati putranya ataupun Diandra.Mama membiarkan hubungan mereka berjalan apa adanya.sudah cukup mama mengorbankan perasaan kafka dan juga diandra.
__ADS_1
Mama masuk dan mendekati mereka.
"sayang,apa kalian sudah selesei makan?" tanya mama tersenyum tipis.
"iya ma,kita sudah selesei makan." jawab kafka .
"mama tunggu di ruang tamu,ada pengacara iwan datang." balas mama lalu melangkah pergi meninggalkan kafka dan juga Diandra.Mama kembali ke ruang tamu menemui iwan.
Diandra mengambil makanan dan menyuapinya ke mulut kafka.karena dari tadi kafka belum sempat makan sedikitpun,ia lebih sibuk menyuapi Diandra
"buka mulutmu, ganti aku yg akan menyuapimu."tutur Diandra pelan.
kafka patuh dan membuka mulutnya.
sesendok demi sesendok makanan mendarat mulus ke mulut Kafka.
kafka tersenyum bahagia melihat perhatian Diandra.momen seperti ini adalah momen yg paling ia tunggu- tunggu sejak dulu. berharap setiap hari Diandra akan memperhatikan dirinya selayaknya sepasang kekasih.Kafka tak ingin sedikitpun menutup matanya,ia ingin melihat perhatian Diandra yg begitu ia nantikan sejak lama.Ini adalah pertama kalinya kafka mendapatkan perhatian dari Diandra.
"sayang,terima kasih ,kamu sudah perhatian padaku !" ucap kafka menggoda.
"apa katamu?" jawab diandra tengil sembari menatap wajah kafka tajam.Diandra menjewer telinga kafka hingga merah.
"auw...sakit tau,apa salahnya,aku cuma memanggilmu sayang." balas kafka membela diri.
"diam dan buka mulutmu,atau aku akan menjewermu lebih dari ini." jawab Diandra sinis.
"hei,,nona,bagaimana aku diam,jika kau menyuruhku buka mulutku?" balas kafka meledek.
Diandra semakin kesel di buatnya.Diandra menyuapinya dengan kasar.
namun kafka tetap melahapnya dengan rakus,melihat wajah diandra saja rasanya sudah bikin nasi putih berasa ayam pangang.
"sudah selesei,giliranmu nyuci piring,biar aku bereskan mejanya."perintah Diandra sembari menyodorkan piring kotor ke kafka.
tanpa menolak kafka pun menerimanya, dan mulai mencuci piring bekas mereka makan.ini pertama kalinya ia terjun langsung ke dapur.
semua ia lakukan demi Diandra.
Diandra membereskan meja makan dengan rajin tanpa mengeluh.
selesei beberes,merekapun pergi menuju ruang tamu,di sana sudah ada mama,papa,iffa dan pengacara iwan.
kafka duduk di sebelah iwan, sedangkan Diandra duduk di sebelah mama mertuanya.
"semua sudah berkumpul, sekarang katakan apa yg ingin kau sampaikan." perintah mama ke iwan.
setelah mendapatkan perintah dari nyonya besar, iwan pun mulai membacakan surat wasiat yg di tulis Raffa sebelum pergi untuk selamanya.
yg intinya sebagai berikut:
tiga puluh persen kekayaan Raffa menjadi milik Kafka.
Tiga puluh persen lagi milik mama yg kelak akan di berikan ke Iffa, dan empat puluh persen lagi untuk diandra.rumah yg di tempati selama ini adalah milik Diandra sepenuhnya.
__ADS_1
Dan ada sejumlah uang yg tersimpan di bank akan di sumbangkan kepanti asuhan.
ya seperti itulah rincian surat wasiat itu.
Diandra terkejut mendengar isi surat itu."maaf kak,tapi itu terlalu berlebihan.saya tidak pantas mendapatkan semua itu." ucap diandra mengelak.
"maaf nona,saya hanya menjalankan tugas.semua ini tuan Kafka sendiri yg menulisnya." jawab iwan jujur.
mama mengambil tangan diandra lalu menggengamnya erat.
diandra memandang mama dengan mata berkaca kaca.
"sayang,itu tidak berlebihan.kamu pantas mendapatkannya.kamu sudah berkorban banyak demi Raffa.kamu juga sudah menjaga dan merawatnya dengan benar.semua itu tak sebanding dengan pengorbananmu.terimalah demi Raffa." jelas mama panjang lebar.
Diandra hanya diam sembari menitihkan air mata dan memeluk mama mertuanya.
"diandra,betul apa kata mamamu.tugasmu sekarang menjaga dan menjalankan amanahnya." sahut papa dengan senyuman tipisnya.
Diandra hanya mengangguk tanpa kata.hanya air matanya yg mampu ia titihkan.
hatinya masih remuk dan hancur lebur setelah di tinggal orang yg paling ia cintai.
Dunianya terasa berhenti ketika ingat waktu itu.
setelah membacakan surat wasiat itu,iwan mengambil dua amlop putih.satu di berikan kafka dan yg satu diberikan Diandra.
Diandra mengambilnya lalu membacanya dengan seksama.melihat tulisan tangan Raffa yg tetata rapi itu,Diandra lagi lagi menangis hingga terisak.tangisannya semakin pecah.entah apa isi surat itu,yg jelas membuat hati diandra haru dan bersedih.
Begitu juga dengan Kafka,kafka mengambilnya lalu membaca dengan teliti.
hatinya merasa terguncang tak karuan,antara senang dan sedih.selesei membaca kafka menatap Diandra tajam.entah apa yg tertulis dalam isi surat itu,hanya dia, Raffa dan Tuhan yg tau.
semua sudah pergi meninggalkan ruang tamu hanya ada diandra dan kafka masih duduk terpaku dengan menyandarkan tubuhnya di gunungan sofa.
kafka pindah dari posisi duduknya,kini ia ada di samping diandra.
Kafka memeluk tubuh diandra yg dari tadi masih menangis.
"aku benci air matamu,hapuslah dan jangan bersedih lagi." ucap kafka sembari menyeka air mata diandra dengan tisu.
mendengar ucapan kafka,tangisan diandra malah semakin pecah.
"kafka,kenapa kamu baik padaku." tanya diandra serak.
"karena kamu adalah kakak iparku ." jawab kafka berbohong.sejujurnya bukan itu alasannya, karena ia masih sangat mencintai Diandra.bahkan cintanya tidak pernah pudar sedikitpun.
bersambung.....
😭😭😭😭😭😭
Di tunggu ya kak like,komen dan kritiknya.
Terima kasih yg sudah pada kasih like ,vote dan ratenya.semoga tambah sukses dan sehat selalu.
__ADS_1
salam hangat dari saya ♥️♥️♥️♥️