Terpaksa Menikahinya

Terpaksa Menikahinya
74. kunjungan Susana


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa kok pucet banget."


Kafka mengusap pipi Diandra yg masih terlihat pucat.


"Apa kau saki?"


Ia begitu khawatir dengan keadaan Istrinya.


"Aku tidak apa-apa. Kafka, apa kau sudah siap jika saat ini kita punya anak?"


Diandra ragu dengan pertanyaannya, takut jika Kafka akan marah padanya.


Sejujurnya Diandra belum siap jika saat ini Ia harus punya anak dari Kafka.


Namun apalah daya Tuhan telah memberi ya ke turunan secepat itu.


Berbeda dengan Kafka yg sudah sangat menginginkan keturunan, selain umur yg sudah cukup dan pekerjaan yg mapan Kafka juga siap lahir batin jika saat ini harus punya anak.


"Sayang, aku sudah siap jika kita harus punya anak tapi ada apa dengan mu? Apa kamu tidak ingin punya anak dari ku?"


Ia ingin tau apa yg saat ini Istrinya pikirkan.


"Aku hanya takut jika aku tidak bisa merawatnya."


"Kamu tidak perlu khawatir, kan ada Mama ada Bibi juga, mereka pasti akan membantu mengurus bayi kita."


Kafka berusaha menjelaskan agar Istrinya bisa menerima kehadiran sang jabang bayi .


Diandra hanya mengangguk lalu berjalan santai menuju ruang istirahatnya.


Kafka berbincang sama Bibi mengenai kondisi Diandra dan kehamilannya.


Bibi sangat bahagia mendengar berita kehamilan Diandra.


Bibi akan siap siaga menjaga Diandra dengan baik seperti Ia menjaga dirinya sendiri.


Kafka kembali menemani Istrinya sambil mengusap punggungnya.


Ia tau apa yg di rasakan Istrinya mungkin karena Usia Diandra saat ini masih muda sehingga Diandra belum siap untuk hamil.


Kafka membujuknya agar Istrinya tidak perlu khawatir lagi mengenai kehamilannya.


Tak berselang lama Bibi mengetuk pintunya pelan untuk ngasih kabar kalau ada tamu di bawah.


Diandra dan Kafka keluar lalu turun menemui tamu itu.


Mereka penasaran dengan tamu itu.


"Kak Susana."


Diandra berjalan cepat mendekati Susana.


"Kakak ke sini kok ngak kasih kabar dulu sih."


Diandra terlihat senang saat melihat kedatangan kakaknya, rasa sedih dan gelisah sirna begitu saja.


Susana memeluk erat Adiknya yg sudah lama Ia rindukan.


"Apa kabar kamu, sehat kan?"


Susana tersenyum bahagia sambil mengusap wajah cantik adiknya.


"Kenapa lama ngak datang ke rumah, Ibu dan Ayah juga kangen sama kamu."


"Alkhamdulillah sehat Kak, maaf kak kalau aku lama ngak temui Kakak.


Ayo duduk Kak, gimana kabar keluarga di rumah sehat kan?"


Diandra dan Susana duduk berdampingan, tangan Susana memegang tangan Adiknya. Saking asiknya mengobrol mereka sampai lupa kalau ada cowok tampan memperhatikannya.


"Ehemm,,, kok aku di cuekin."

__ADS_1


Kafka berdehem saat dirinya merasa di cuekin.


Diandra dan Susana langsung menoleh ke arah Kafka.


"Maaf aku lupa kalau ada Adik ipar di situ, apa kabar kamu?"


"Aku sehat Kak, gimana kabar Kakak sendiri?'


Kafka membalas sapa Kakak iparnya.


"Aku juga sehat."


"Dra, kapan kamu ada rencana program?"


Susana ingin punya keponakan dari Adiknya.


Ia tersenyum sambil memandang Diandra.


"Apa kakak mau membantu mengurus bayi ku kalau aku punya anak nanti?"


Diandra jadi konyol saat berbicara mengenai anak.


Susana tertawa saat mendengar pertanyaan dari Adiknya.


"Kau ini dasar lugu, tentu saja aku akan membantu mu, kau ini dasar aneh."


"Kafka kapan kamu kasih aku keponakan yg lucu, aku ngak sabar pingin cepet ngendong bayi kamu."


Susana sangat antusias dan semangat berbicara soal bayi karena Ia pingin mengulang masa dulu yg tak pernah ia lakukan pada adiknya.


"Yg sabar kak, bentar lagi juga lahir kok."


Kafka melirik ke arah Diandra dengan senyuman liciknya.


Ia memberi kode dengan menunjuk ke arah perut Diandra yg masih terlihat ramping itu.


"Maksudnya sekarang kamu hamil gitu."


Ia langsung memeluk Adiknya dan menciumi pipinya.


"Alkhamdulillah, akhirnya aku punya keponakan juga."


"Kak, tolong jangan kasih tau Ibu ya, aku mau bikin kejutan."


"Beres."


Susana mencubit pipi Diandra saking senengnya.


Kafka ikut bahagia berkat kedatangan Susana akhirnya Diandra bisa tersenyum lagi.


Ia terlihat sudah bisa lega setelah mendengar jika Susana akan membantu merawatnya.


Bibi datang membawa minuman dan juga cemilan lalu meletakkan di depan mereka.


Susana menyuapi adiknya cemilan itu.


Lalu menyuruh Bibi mengupas mangga yg tadi di bawanya.


Susana sengaja beli buah mangga dan kedondong karena tadi pas Ia lewat ada bapak-bapak tua jualan buah keliling.


Karena kasihan akhirnya Ia membelinya.


Susana dengan senang menyuapi buah mangga dan kedondong ke mulut adiknya.


Kafka hanya memperhatikan keakraban mereka.


Tak menyangka jika kehadiran keluarga terdekat bisa membuat hati Istrinya bahagia.


Diandra dengan manja menerim setiap suapan dari tangan Kakaknya.


Ini adalah saat yg Ia tunggu setelah belasan tahun Kakaknya tak memperlakukannya dengan baik.

__ADS_1


"Kak, terima kasih ya sudah mau nyuapin aku."


"Tentu saja, kamu kan adik ku jadi aku berhak dong nyuapin kamu."


Susana ingin menjadi Kakak yg baik untuk saat ini. Ia telah menyesal karena dulu Ia sudah jahat sama adik kandungnya sendiri.


Saat ini Ia ingin menebus semua kesalahannya yg Ia lakukan belasan tahun yg lalu.


"Ndra, Ayah nitip ini buat kamu."


Susana mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya lalu membuka kotak itu.


Diandra seneng mendapat kado itu dari Ayahnya, karena Itu adalah kado yg pertama dari sang Ayah.


Diandra langsung mengambil isinya dan memakai di jemarinya.


"Cantik sekali Kak."


Tak terasa air matanya jatuh bercucuran karena haru, Ia memeluk erat Kakaknya.


"Terima kasih Kak, akhirnya aku punya kakak dan Ayah yg sayang sama aku."


Susana mengusap rambut Adiknya dan merasakan kehangatan yg sudah lama tidak pernah Ia rasakan.


Mereka saling berpelukan melepaskan rindu yg sudah lama terlepas jauh.


Kafka terharu dengan keakraban mereka tiba tiba Ia terbayang wajah Raffa yg sudah lama meninggalkannya.


Seandainya waktu bisa di putar kembali, Ia akan memperlakukan Raffa dengan baik.


Tidak akan menghianatinya dan tidak akan iri atau cemburu dengannya.


"Kok pada nangis, gimana kalau kita jalan-jalan saja."


Kafka berusaha membuat suasana mencair lagi.


Akhirnya Diandra dan Susana pun setuju dengan ajakan Kafka.


Mereka jalan ke taman sambil menikmati indahnya pemandangan sore.


Banyak orang berlalu lalang melintasi mereka.


Mereka memutuskan berhenti di salah satu penjual aneka bakaran.


Ada pentol bakar, sosis bakar dan masih banyak lagi.


Kafka yg tadinya tidak suka dengan makan itu kini justru sebaliknya, Ia memakannya dengan rakus.


Susana heran dengan nafsu adik iparnya yg sangat rakus itu, karena yg Ia tahu selama ini Kafka makan dengan anggun dan sopan.


Tapi saat ini berbeda, Ia seperti kuda lumping yg makan tanpa batas.


"Kak, jangan heran ya, mungkin karena bawaan si baby."


Diandra menepuk bahu Kakaknya sambil menjelaskan nafsu makan Kafka ahir-ahir ini.


Susana mengangguk dan tersenyum tipis.


"Seharusnya yg makan rakus tu kamu bukan dia."


Ia berbisik di telinga adiknya yg membuat Diandra ikut tertawa.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Aku tunggu saran, komennya.


Di tunggu juga like, rate dan votenya.


Mampir juga di novel aku yg lainnya


*Terpaksa Menikahinya.

__ADS_1


__ADS_2