
Raden Rara Gema Ardini Putri dijuluki mahasiswa abadi oleh seantero kampus. Hobinya yang sering keluar malam, nongkrong sampai pagi buta, dan gila belanja merupakan alasan yang menjadikan tugas akhir kuliahnya tidak pernah kelar alias MOLOR. Seharusnya tahun ini dia sudah lulus dan menunggu giliran wisuda. Kenyataannya, dia masih stuck pada rasa malas bahkan untuk sekedar menyentuh tugas akhirnya.
Sampai Gema bertemu Aksa, cowok keren yang ternyata ngekos tepat didepan kosnya! Ditambah, kamar Aksa tepat bersebrangan dengan kamar Gema. Sehingga tiap pagi Gema harus menelan ludahnya dalam-dalam demi memandangi pemandangan segar dari balik kaca jendela kamar Aksa. Aksa lebih muda dua tahun dari Gema. Tapi, sikap dewasanya seolah menghapus prahara umur diantara mereka berdua. Pembawaan diri Aksa yang kalem dan tenang seolah mampu mengerem sikap urakan Gema.
Dari awal Gema memang sudah kepincut oleh Aksa. Tapi, karena seringnya pula Aksa menolong Gema disetiap kesulitan yang terjadi pada dirinya membuat perasaannya tumbuh lebih dari sekedar kepincut. Gema jatuh cinta setengah mati pada Aksa! Herannya, meski mati-matian Gema menunjukkan rasa jatuh cinta setengah matinya pada Aksa. Cowok itu seakan menutup mata dan menganggapnya hanya sekedar bercandaan belaka.
--
Baru 10 menit mataku memandangi tugas akhir yang tidak kelar-kelar. Tapi, 10 menit itu juga kepalaku berdenyut-denyut pusing. Dari bulan kemarin, tampilan file tugas akhirku masih menunjukkan huruf besar-besar 'BAB II'. Melihatnya saja membuat perutku mual. Ya Tuhan yang maha baik, tidak bisakah tiba-tiba tugas akhir ini mengetik sendiri sampai pada BAB penutup? Aku lelah dengan semua ini. Rasanya ingin nikah saja lama-lama. Tapi, boro-boro nikah, pacar saja saat ini tidak punya.
Kulirik ponselku yang tergeletak mengenaskan di ujung kasur. Niat awalku memang ingin mengerjakan tugas akhir. Kemudian membuang ponsel jauh-jauh dari jangkauanku agar hatiku tidak tergerak mengutak-atik barang itu. Tapi, sepertinya niat itu perlahan meredup.
"Masa bodo ah!"
Tanpa rasa menyesal kuraih benda kecil tersebut kedalam genggamanku. Padahal ponsel itu hanya kutinggal selama 10 menit. Tapi, chat grup bersama ketiga sahabatku sudah ada sampai ratusan.
RR. Gema A. Putri: hai evribadi
Keyna Wilona Geraldi: hebat ngerjain skripsweet hanya dalam 10 menit
Kanasya A. Nameera: dah kelar?
Viola Siesyadipta: boleh juga luh
RR. Gema A. Putri: gue bosen
RR. Gema A. Putri: cabut kek kemana
Kanasya A. Nameera: KIRAIN
Kanasya A. Nameera: cabut mulu kapan kelarnya
Kanasya A. Nameera: otw
Keyna Wilona Geraldi: otw
Viola Siesyadipta: OOD (omong-omong doang)
Viola Siesyadipta: lo kan lagi di rumah nenek lo key di medan
Viola Siesyadipta: naik burok lo bilang otw buat sampe Jakarta?
Keyna Wilona Geraldi: love u Gem, Vi, Sya gue absen dulu
Kanasya A. Nameera: gue beneran OTW gilaaa bnrn di jalan nih. Ketemu di café biasa gak pake lama!
RR. Gema A. Putri: syaaap
Viola Siesyadipta: hihihi
Dari kita berempat, hanya Kanasya yang benar-benar sudah lulus bahkan sudah bekerja di salah satu perusahaan. Sementara Viola tinggal menunggu wisudanya bulan depan. Menyisakan aku dan Keyna. Tapi, nasib Keyna sepertinya lebih beruntung dariku. Dia sudah memiliki pacar yang siap menikahinya kapan saja jika ia sudah stress dengan tugas akhirnya. Hahaha. Bercanda! Tapi, soal dia sudah punya pacar, memang benar. Keyna sedikit lebih beruntung dariku karena dia sudah sampai pada bab terakhir. Sementara aku... Ah sudahlah, tidak usah dibahas.
Sambil bersiap-siap untuk bertemu kedua sahabatku di café yang biasa kita sambangi. Aku menutup laptop dan menaruhnya diatas meja belajar. Hanya butuh lima menit hingga aku keluar dari kamar kosku. Sampai di parkiran, aku mendapati mobilku yang terhimpit dengan mobil lain di sisi kanan dan kiri. Kalau aku memaksa keluar, aku tidak yakin mobilku dan salah satu mobil yang berada disebelahku akan selamat.
"Ck, mobil Dita sama Nana nih!" sungutku.
Aku hendak kembali kedalam kos ketika teringat bahwa Dita dan Nana sedang tidak ada di kos. Percuma juga jika aku menelpon mereka untuk memintanya segera pulang karena pasti akan memakan waktu yang lama. Sedangkan Kanasya sudah on the way sejak tadi. Aku menghela napas panjang. Bisa-bisa dia ngomel panjang kalau aku sampai telat. Apalagi kesibukannya di kantor yang seringkali membuat moodnya jelek. Nanti aku malah jadi kambing hitamnya lagi!
Kuambil ponsel dari saku celana, berniat memesan taksi online. Aku menunggu hingga beberapa menit kedepan. Tapi, satupun tidak ada yang mengambil pesananku. Kucoba menunggu selama beberapa saat lagi. Sengaja tidak melihat ponselku, agar ketika aku melihatnya lagi, semoga saja sudah ada driver yang mengambil pesananku.
"Ting! Ada!"
Seperti orang gila, aku berkata pada ponselku sendiri. Sialnya, aplikasi tersebut masih saja mencarikan driver untukku. Dengan perasaan kesal, kucancel orderanku kemudian berjalan keluar kos. Siapa tau ada taksi biasa yang lewat. Aku berdiri diluar, menunggu kendaraan yang lewat hingga kakiku pegal. Tapi, tak ada satupun yang datang.
"Jakarta.. Oh.. Jakarta.. Kenapa suka macet sih? Nggak ada yang mau kesini kan jadinya!"
Kosku memang daerah yang rawan macet. Baru keluar sedikit ke jalanan besar saja sudah terhadang oleh kemacetan. Wajar saja jika tidak ada yang menerima orderan onlineku apalagi pada jam-jam padat.
Saat itu seorang cowok keluar dari kos seberang. Sejenak aku mengamati wajahnya dari samping. Tanpa ragu, aku berjalan menuju kearahnya yang tengah membuka pintu mobil. Bodo amat deh nggak tau malu. Gas terus sajalah!
"Eh, Mas, Mas, boleh minta tolong nggak?"
__ADS_1
Cowok itu menoleh menatapku. Ya Tuhan semesta alam, ganteng banget! Sumpah! Kenapa aku baru liat dia ya? Dia siapa sih?
"Minta tolong apa, Mbak?"
Aku menggaruk kepalaku sendiri. Saking terpesonanya dengan pemandangan didepanku sekarang aku hampir kehilangan kalimatku. "Ngg.. Anu.. Bisa tolong ngeluarin mobil saya gak?" Untung aku masih ingat tujuanku mendatanginya.
"Mobil Mbak yang mana?"
Aku menunjuk mobilku yang terhimpit oleh dua mobil lainnya. "Itu." bersama cowok ganteng ini aku berjalan ke mobilku. Sejenak cowok itu terdiam, sepertinya sedang berpikir, menimbang-nimbang sesuatu. Pasti dia juga tidak bisa mengeluarkan mobilku. Karena ini benar-benar super mepet. Hanya iron man yang bisa membawa mobilku keluar dari parkiran dengan jubah supernya.
"Ini terlalu mepet, Mbak. Bisa sih ini dikeluarin. Tapi, saya nggak berani ambil resiko buat ngeluarinnya. Takut bodinya kena mobil sebelah." Kalau itu juga aku sudah tau! Huuu! Tapi, nggak apa-apa deh, hitung-hitung cuci mata ngeliatin mukanya yang ganteng.
"Emang Mbak mau kemana?"
"Mau ke café di daerah sriwijaya, ketemu temen. Udah coba pesen taksi online. Tapi, nggak ada yang ambil." Sebenarnya kalau dipikir-pikir, aku bisa saja memesan ojek motor online. Tapi, udah malam, dingin banget bok!
"Oh, gitu." Jangan 'Oh, gitu' doang dong! Tawarin diriku untuk menumpang mobilmu. Tawarin sekalian jadi pacar juga boleh. Kikikik. "Mbak mau ke sriwijaya ya? Kebetulan, saya nanti lewat sana. Gimana kalo bareng aja?"
Masa iya nolak sih? Nggak mungkinlah!
"Duh, nggak ngerepotin nih?" kikikik. Basa-basi sedikit bolehlah ya? Ya kali langsung ngangguk setuju. Kalo di lamar baru gue langsung ngangguk deh! Suer!
"Nggak sama sekali kok. Kan saya ngelewatin juga nantinya."
"Oke deh kalo gitu. Sori ya jadi numpang gini." Kataku. "Ngomong-ngomong, kok saya nggak pernah liat Masnya ya? Baru?"
Cowok itu mengangguk. "Iya, baru kemarin pindah ke kos ini."
"Oh iya, saya Gema. Tinggal di kos sebrang." Aku mengulurkan tanganku.
"Aksa."
"Disini kuliah atau?" tanyaku sengaja berbasa-basi agar didalam mobil tidak sunyi-sunyi amat.
"Kuliah, Mbak."
"Semester berapa?"
"5, Mbak."
Ternyata brondong, cyin. "Mbak kuliah juga? Atau kerja?" emang tampangku udah tua banget ya sampai ditanyain udah kerja juga?
"Kuliah, semester 9."
"Hampir lulus dong?"
"Harusnya sih. Tapi, skripsweet menghalangi jalanku untuk lulus." Aksa terlihat terkekeh karena kalimatku. Duh, Justin Bieber kalah dah ini mah sama senyum si Aksa. Cute banget nggak boong.
"Ini sriwijayanya dimana, Mbak?"
"Itu, café depan. Saya janjian sama temen saya disana." Mobil Aksa melipir ke café yang kutunjuk. Sebelum turun kuucapkan sekali lagi rasa terima kasihku. "Hati-hati ya! Makasih loh sekali lagi." Aksa hanya tersenyum dan mengangguk sebagai balasan. Kemudian mobilnya meninggalkan pelataran café dan hilang diantara mobil-mobil yang lain.
"Cakep banget? Banget nget nget nget?" tanya Kanasya setelah kuceritakan soal Aksa.
"Senyum Justin bieber? Ah, kalah! Muka seksi Jamie Dornan? Basi! Badan sixpack Luke Evans? Biasa aja!" kujawab pertanyaan Kanasya dengan berapi-api. Viola sibuk meminum minumannya sambil sesekali menanggapi.
"Ah, gak percaya gue lebih seksi dari Jamie Dornan!"
"Sumpah, Vi! Seksi abis! Seksi yang cute gitu!"
"Anak mana sih? Udah kerja?"
Aku menghela napas. "Semester 5."
"Brengseeekk... Doyan lo brondong nih sekarang?"
Sambil memegang gelas minumannya, Viola geleng-geleng kepala. "Emang bener-bener lo ya! Sampe brondong lo sikat! Kelamaan jomblo lo! Keabisan stok yang seumuran lo ya?" kalimat Viola diakhiri dengan tawa.
"Tapi, Aksa tuh beda. Gak kaya brondong. Apa ya? Ya gue gak terlalu tau sih orang baru sekali ketemu. Yang jelas cara bawa diri dia tuh calm aja gitu. Nggak kaya brondong banget deh."
"Deuh... Ileh... Segala udah sebut nama Aksa Aksa segala. Baru juga kenalan."
"Hmm.. Masa sih? Berasa udah kenal lama aja sama si dedek brondong."
__ADS_1
"Eh, udah deh, biarin aja, Sya. Weekend kita sleepover di kos Gema. Pengen tau gue muka brondong seksi nan cute dan calm itu. Awas aja nggak sesuai ekspetasi gue!"
"Awas lo berdua sampe naksir! Jatah gue tuh!" ancamku.
Viola mengibaskan tangannya keudara. "Sori, nggak doyan brondong!"
"Tos dulu, Vi!"
--
Sinar matahari yang mengintip dari gorden jendela kamar yang sedikit terbuka membuat mataku melek. Sambil menguap dan mengerjapkan mata yang terasa berat. Aku memaksakan diriku untuk bangun, hendak menutup gorden tersebut. Hari ini tidak ada jadwal bimbingan sehingga waktunya tidur sepuasnya. Apalagi tadi malam aku kelamaan ngobrol dengan Kanasya dan Viola di café. Sampai tidak sadar jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Kanasya yang pertama kali sadar dan panik. Takut besok terlambat ngantor. Sedangkan aku dan Viola santai-santai saja.
Diantar Viola, aku sampai di kos tepat pukul dua pagi dan tanpa melakukan aktivitas apapun lagi, aku langsung menjatuhkan tubuhku diatas kasur dan tak menunggu lama hingga akhirnya aku terlelap. Sadar kalau aku masih mengenakan pakaian lengkap seperti semalam. aku berniat mengganti pakaianku dengan pakaian tidur usai menutup gorden. Tapi, gerakanku terhenti ketika hendak menutup gorden kamarku.
Dari jendela kamarku, aku bisa melihat seorang cowok hanya mengenakan handuk, berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Selama satu tahun aku kos disini. Yang kutahu kamar di sebrangku tidak ada penghuninya. Bulu kudukku sudah berdiri membayangkan siapa cowok didalam kamar itu.
Tapi, kedua alisku mengerut ketika aku semakin mengamati cowok itu. Sepertinya aku kenal dia. Aku sampai menyipitkan mataku sendiri demi mengingat cowok itu. Tepat saat itu cowok itu berjalan kearah jendela. Mengambil sesuatu diatas meja yang memang terletak didepan jendela kamarnya. Baru kusadari ternyata cowok itu adalah... Aksa!
Ya Tuhan yang maha baik, kenapa engkau memberikanku cobaan di pagi hari seperti ini? Kutelan ludahku tanpa sadar. Sekali lagi mengamati tubuh Aksa yang hanya di balut handuk dari kamarku. Ketika wajah Aksa beralih menatap ke jendela. Dengan kekuatan super aku langsung menutup gorden kamarku. Takut ketahuan sedang mengintip. Napasku naik turun, padahal aku tidak habis berolahraga. Segera aku membalikkan tubuhku, menatap lurus kedepan. Menetralkan pergolakan irama napasku yang tiba-tiba aneh.
Seketika rasa kantukku hilang. Tanpa pikir panjang aku mengambil ponsel dan membuka grup chat bersama ketiga sahabatku.
RR. Gema A. Putri: KAMAR DIA DI SWBRSGA KMR GE
Viola Siesyadipta: duh cyin pusing eyke liat tulisan ente
RR. Gema A. Putri: DI SEBRANG KAMAR GUE
RR. Gema A. Putri: KAMAR AKSA DI SEBRANG KAMAR GUE
Viola Siesyadipta: muka gile lu! Dapet pemandangan seger gak?
RR. Gema A. Putri: sumpah
RR. Gema A. Putri: gue gak mimpi kan
RR. Gema A. Putri: cubit gue skrg jg
Kanasya A. Nameera: EH MALIH DEMI APA LU
Kanasya A. Nameera: boong lu ya
Kanasya A. Nameera: gue lg di lift hampir telat
Kanasya A. Nameera: gue relain bales chat lo krn geter trs
Kanasya A. Nameera: awas lo kl boong
Kanasya A. Nameera: CEPETAN GEM BALES
Viola Siesyadipta: *cubit*
RR. Gema A. Putri: gue liat Aksa shirtless
RR. Gema A. Putri: pake anduk doang
Viola Siesyadipta: no pic hoax
Viola Siesyadipta: fotoin skrg
Kanasya A. Nameera: eh kok gue deg degan
RR. Gema A. Putri: APALAGI GUE
RR. Gema A. Putri: gila lo gue foto skrg td hmpir aja ketauan ngintip
Keyna Wilona Geraldi: anjir baru dua hari gue tinggal berasa tinggal di goa gue, kudet
Keyna Wilona Geraldi: aksa siapa? Cowo apa cewe?
Keyna Wilona Geraldi: WOIIIII
__ADS_1