The Boy Next Window

The Boy Next Window
Imbalan Yang Tidak Seimbang


__ADS_3

"Lo cemburu ya?"


Sepertinya Abi menyadari perubahan raut wajahku. Pertanyaan Abi telak membuatku terpojok. Bukannya menjawab pertanyaan Abi, aku malah terdiam dan tertunduk lemas. Kenapa reaksiku berlebihan seperti ini, ya Tuhan?


Gelagatku yang aneh membuat Abi membuka pagar kosku. Satu tangannya yang bebas menangkup wajahku yang tertunduk lemas. Membawa pandanganku kedalam matanya.


"Tenang aja. Kan, masih ada gue."


Masih sempat-sempatnya dia bercanda seperti itu. Ia nyengir lebar mendapati reaksiku yang cemberut.


"Masih mantan terakhir yang dateng. Belom mantan-mantan yang lain."


Mataku membulat. "Masih ada yang lain?" Aku menatap Abi dengan pandangan tak percaya. Satu saja udah bikin aku belingsatan seperti ini. Gimana kalau ada dua dan seterusnya?


"Mungkin."


Menyadari kalau itu hanya banyolan belaka. Aku mendorong pelan lengan Abi dan mengambil Jco yang dibawakan olehnya.


"Makasih Jconya." Gumamku cepat.


"Apa? Nggak kedengeran!"


"MAKASIH JCONYA YA ABI!!!"


"Iya, sama-sama." Jawabnya kalem. "Udah di kasih Jco. Jangan cemberut gitu ah. Tenang aja, kalopun Aksa pada akhirnya jadian sama cewek lain. Lo masih punya gue."


"Lo jadi cadangan dong?" Sahutku.


"Ya, nggak apa-apa. Selama ceweknya itu elo. Jadi cadangan boleh juga di coba."


"Nggak boleh coba-coba."


"Biarin. Lo kan kaya narkoba buat gue. Semakin dicoba semakin bikin ketagihan." Aku ingin marah dengan Abi. Tapi, gurauannya kali ini benar-benar tidak dapat menahan senyuman diwajahku.


"Masuk gih udah mau malem." Aku mengangguk. "Semangat ya ngerjain skripsinya." Lagi, aku mengangguk.


Padahal Abi sudah menyuruhku masuk. Tapi, aku tetap bergeming ditempatku berdiri. Seolah ada magnet yang menancap dijalanan dan membuatku tidak beranjak.


"Kok diem aja? Masuk sana!"


"Lo dulu aja masuk."


"Kan gue dulu yang nyuruh lo masuk."


Aku melenguh tidak jelas. Mengedarkan pandangan ke sekitar. Didepanku, Abi masih sama posisinya seperti tadi. Satu alisnya terangkat keatas. Bingung melihat reaksiku. Pikiranku dipenuhi berbagai macam spekulasi dan juga kilas balik peristiwa-peristiwa kemarin. Mungkin efek kegalauanku soal melihat Aksa dan mantannya tiba-tiba datang. Apalagi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri tadi di mall.


"Kenapa sih, Gem?"


Suara Abi menghentakkan kembali kesadaranku. Aku mengerjap selama beberapa detik.


"Bi," Panggilku.


"Hmm?"


Bingung menjawab apa. Aku memutuskan kembali ke kamar. "Nggak jadi deh. Gue ke kamar dulu ya."


"Yeh.. Bukannya daritadi. Yaudah, gih."


Dibenakku hanya ada satu pertanyaan. Yang dilakukan Abi itu beneran nggak sih? Ucapan yang selalu ia lontarkan padaku apa memang benar itu kenyataannya? Maksudnya, apa Abi memang benar menyukaiku? Kenapa dia bisa gampang banget mengatakan suka padahal kita sudah tidak ketemu lama? Tapi, kalau dia benar menyukaiku kenapa dia kelihatan santai aja waktu tahu kalau aku malah menyukai Aksa?


Aneh banget.


Tapi, lebih aneh lagi dengan diriku. Kenapa tiba-tiba aku kepikiran seperti ini? Aduh, aku kenapa sih? Efek galauku selama ini kayanya nggak gini-gini amat. Gara-gara Aksa sama Abi nih! Om sama keponakan kelakuannya sama aja! Bikin aku jadi aneh gini!


--


Sebuah keajaiban yang datang pada diriku pagi ini. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali lari pagi. Yah, bukan lari—jogging lebih tepatnya. Tapi, tidak bisa dikatakan jogging juga karena pada kenyataannya aku hanya melangkahkan kakiku pelan-pelan memutari lapangan di dekat taman sambil melihat deretan jajanan yang tersedia. Membuat perutku tiba-tiba keroncongan.


"Gema? Kok tumben jogging sendirian?"


Tersentak.


Aku menolehkan pandangan dengan takut-takut. Di sebelahku sudah ada Aksa dengan kaos slim fit berwarna abu-abu yang memamerkan tubuhnya yang tegap serta dada bidangnya yang membuatku menelan ludah serta celana olahraga berwarna hitam. Kedua telinganya tersumpal earphone dan saat menyapaku, earphone itu ia lepas.


"Iya, lagi pengen." Kataku kikuk.


"Udah sarapan?"


Aku cepat-cepat mengangguk. "Udah." Padahal belum. Daritadi aku baru memilih-milih makanan apa yang sekiranya enak dimulutku.


Aksa tersenyum. "Kalo gitu, jogging bareng yuk."


"Nggak, Sa. Ini.. Gue udah mau pulang kos. Capek." Entah kenapa aku memilih berbohong. Padahal aku berjalan memutari lapangan belum ada 15 menit. Sepertinya peristiwa Aksa dengan cewek yang kuketahui adalah mantannya membuat moodku bersama anjlok. Aku tidak se-excited waktu itu. Malah seperti sekarang ini, aku lebih memilih pulang daripada jogging bareng Aksa.


"Mm.. Gue duluan ya, Sa."


Aku melangkah melewati tubuh Aksa yang berada dihadapanku. Kakiku melangkah dengan cepat sampai-sampai napasku ngos-ngosan ketika sampai depan kos. Terlihat Abi yang menggunakan kaos oblong berwarna putih tengah mengelap mobilnya.


"Jogging?" Sapanya.


Aku meliriknya. "Iya."


"Aksa juga lagi jogging tuh."


"Udah tau."


"Kok tau?"

__ADS_1


"Ketemu."


Kegiatan mengelap mobilnya terhenti begitu aku menjawab. "Kenapa nggak bareng?"


"Gue duluan. Capek."


Diselampirkannya lap yang ia pakai ke bahu kanannya. Ia berjalan mendekatiku. "Capek apa males ketemu Aksa?" Tuduhnya.


"Hmm." Aku bergumam malas.


"Udah sarapan belom?"


"Belom."


"Mau sarapan nggak?"


"Nggak ah kalo sama lo."


"Beneran nih? Gue traktir lo." Radar matreku langsung keluar begitu mendengar kata traktir. Tapi, masa aku semurah itu? Cuma gara-gara mau ditraktir langsung mengiyakan ajakannya.


"Gema jalannya cepet banget. Dipanggil-panggil nggak nengok." Terkejut aku melihat kehadiran Aksa yang sudah berada di belakangku. Masa sih dia daritadi mengejarku? Jangan-jangan tadi aku lari tapi aku nggak ngerasa? Pantas saja aku ngos-ngosan begini. Tapi, kalau lari, Aksa kenapa nggak bisa ngejar?


"Tadi ketemu temen dijalan. Ngobrol sebentar. Tau-tau Gema udah ilang dipersimpangan." Oh, dia ketemu temen dulu. Pantas nggak kekejar.


"Kenapa lo ngikutin gue pulang?" Tanyaku bingung.


"Iya, Sa. Ngapain lo? Baru juga berangkat tadi." Abi ikut bertanya. Bingung juga melihat keponakannya itu tiba-tiba balik ke kos lagi.


Aksa salah tingkah untuk beberapa saat. Meski bisa ditutupinya dengan baik. Aku tahu gelagat aneh pada dirinya.


"Abis Gema kaya aneh tadi."


"Hah? Aneh kenapa? Perasaan gue biasa aja deh, Sa." Aku pura-pura ****.


Aksa mengusap belakang lehernya dan meringis pelan. "Aku juga nggak ngerti kenapa."


"Ada juga lo yang aneh."


"Eh, Gem, lo belom jawab pertanyaan gue. Mau nggak sarapan? Gue traktir."


"Emang Gema belom sarapan? Katanya tadi udah?"


Mampus gue!


Gelagapan aku dibuat oleh dua orang cowok dihadapanku. Kulirik Abi tajam. Yang kulirik malah menaikkan satu alisnya keatas, bingung.


"Nggak. Maksud gue, ya gue udah sarapan tadi di kos. Minum susu."


"Minum susu mah bukan sarapan kali." Abi menyahut dengan wajah tanpa dosa. "Kenapa sih Gem lirik-lirik gitu?"


Hih! Memang tidak bisa diandalkan! Abi ini pura-pura tidak tahu apa beneran **** sih? Kenapa dia tidak langsung mengerti situasinya?


"Arum? Kamu ngapain disini?" Tatapan Aksa fokus menatap cewek yang baru kutahu bernama Arum.


"Halo, Mas Abi." Arum menyapa Abi terlebih dahulu. Abi membalas dengan lambaian tangan sesaat. "Aku mau ngajak kamu jogging bareng. Kamu baru mau jogging, kan? Abis itu sekalian sarapan."


Kuperhatikan pakaian Arum dari atas sampai bawah. Sepertinya cewek ini datang dari rumahnya benar-benar berniat untuk jogging.


"Kamu kan nggak suka jogging." Jawab Aksa.


Arum tersenyum manis. Kelewat manis sampai aku menelan ludah. Meski hanya mengenakan pakaian khas ingin jogging. Kalau dibandingkan dengan Arum. Rasanya aku benar-benar minder. Bagaimana tidak? Arum benar-benar menggambarkan sesosok cewek dari imajinasi liar para cowok-cowok diluar sana. Tubuhnya yang semampai serta wajahnya yang cantik, benar-benar paket komplit.


"Ehem... Kayanya gue bayar pajak deh tiap bulan. Kok berasa ngontrak ya?" Seru Abi sarkatis.


Arum tertawa. Ya ampun! Tertawanya aja seperti sudah di-setting sedemikian rupa sehingga ditelinga terdengar sangat mendayu.


"Oh iya, Arum, kenalin nih. Ini Gema, temenku. Dia tetangga kos sebrang." Seakan seruan Abi mengingatkan Aksa sosok diriku yang berada diantara mereka.


"Oh, ya ampun! Iya.. Maaf ya.. Aku nggak sadar ada kamu. Aku Arum." Yakali nggak sadar. Segede gini masa iya sih nggak sadar?


Arum mengulurkan tangannya kearahku. Demi menjaga sopan santun, aku membalas uluran tangannya.


"Gema." Jawabku singkat. "Eh, gue duluan ya. Gerah mau mandi." Sambungku.


"Tunggu. Sarapan dulu sama gue." Abi mencegahku.


"Kalo gitu, sarapan bareng aja." Ajak Aksa.


Arum menatap Aksa. "Loh? Kamu mau sarapan dulu, Sa?"


"Nggak usah. Makasih tawarannya. Gue keatas dulu ya." Meninggalkan ketiga orang itu, aku naik keatas dan masuk kedalam kamar.


Didalam kamar aku bingung harus melakukan apa. Jogging tidak jadi. Sarapan juga belum. Perutku sudah keroncongan. Tapi, mau gimana lagi? Tawaran Aksa sangat menggiurkan sebenarnya. Ia mengajak jogging dan sarapan bareng. Kalau saja situasinya tidak seperti ini. Pasti aku akan sangat senang menerima tawarannya. Tapi, aku benar-benar sedang malas ketemu Aksa. Ditambah cewek yang waktu itu dan kutahu adalah mantannya Aksa tiba-tiba pagi ini datang. Benar-benar merusak suasana.


Bunyi ponselku memecah keheningan. Keningku berkerut melihat layar ponsel. Untuk apa Abi menelpon?


"Aksa udah jogging sama Arum tuh."


Ini anak satu, bukannya halo kek atau apa kek, malah sudah dicecar dengan info paling nggak penting sedunia. Maunya apa sih?


"Nggak peduli."


"Mungkin, lebih tepatnya berusaha nggak peduli." Jawab Abi. "Buruan turun. Lo belom sarapan, kan? Yuk sarapan. Nanti Aksa keburu balik loh."


"Apa sih Bi maksudnya?"


"Hmm.. Perlu dijelasin?"

__ADS_1


Tidak sih. Aku sangat mengerti maksud Abi. Dan aku tidak ingin Abi memperjelasnya.


"Bayarin."


"Iya, gampang."


"Yaudah. Bentar."


"Siap. Ditunggu."


Baru saja sepertinya aku naik keatas tapi kemudian turun lagi. Abi masih mengenakan baju yang sama untuk mengelap mobil.


"Ih, jorok banget sih nggak ganti."


"Lo juga. Abis jogging nggak ganti."


"Tapi, gue wangi!"


"Emangnya gue bau?"


"Mau sarapan dimana?" Aku mengalihkan pembicaraan. "Buruan."


"Ngikut lo aja. Kan, lo yang lebih lama disini. Gue mah pendatang baru."


"Yaudah. Bubur ayam aja ya."


"Iya aja gue mah."


Untung bubur ayam langgananku belum habis. Biasanya jam segini sudah habis saking lakunya. Lumayan sekali karena selang kami datang. Tiga orang yang ingin memesan tidak kebagian buburnya. Sambil menunggu pesanan, lagi-lagi aku mulai mencecarku dengan pernyataan serta pertanyaan sok tahunya.


"Gimana perasaannya liat Aksa sama Arum?"


"B aja."


"Masa siiih? B aja kok kabur gitu tadi?"


"Siapa yang kabur sih? Gue kan mau ke kamar."


"Tetep aja judulnya kabur. Okelah nggak kabur. Tapi, menghindar."


"Nggak tuh."


"Percaya deh."


"Beneran. Gue bukannya menghindar. Gue Cuma lagi males."


"Sama Aksa?" Aku tidak menjawab. "Pasti gara-gara Arum ya?"


"Arum tuh mantan Aksa yang ke berapa sih?"


"Nah, kan, dipancing dikit keluar juga akhirnya." Abi tersenyum senang. Aku mendengus mendengarnya dan tidak menjawab. "Lo mau tau banget apa mau tau aja?"


"Terserah."


"Gitu aja ngambek." Abi menarik hidingku. Membuatku meringis dan mengelusnya pelan.


"Apa sih, Bi! Merah nih!"


"Nggak papa. Lucu kaya tomat." Seru Abi. "Lo mau tentang Arum nih jadinya?"


"Mau."


"Oke." Sahutnya. Ia menarik napas panjang sebelum memulai memberikan informasi padaku. "Jadi, Arum itu mantan terakhirnya Aksa. Mereka pacaran 3 tahun." Lama juga.


"Mereka mulai pacaran waktu Aksa baru-baru masuk SMA. Arum kakak kelasnya Aksa waktu SMA."


"Hah?! Jadi Arum lebih tua dari Aksa?" Abi mengangguk kalem. "Nggak nyangka!" Artinya Arum seumuran denganku dong?


Abi meringis pelan mendengar ocehanku dan kembali meneruskan. "Gue nggak tau deh mereka putus gara-gara apa. Pokoknya Aksa mulai masuk kuliah, mereka putus. Kayaknya sih gara-gara si Arum sibuk sama kegiatan kampusnya. Secara Arum itu setau gue emang pinter banget. Denger-denger dia jadi asdos juga."


"Dan," Abi memberi jeda pada kalimatnya. "Selama ini Arum kuliah di Surabaya. Sekarang dia lagi ambil S2 di kampus yang sama tempat Aksa kuliah."


"Yang bener lo???"


"Ya, masa gue boong? Kalo nggak percaya tanya aja sana sama Aksa sendiri. Jangan tanya sama gue."


"Iya, iya, maap deh."


"Oke, maaf diterima. Lanjut lagi. Jadi, kayanya sih mereka ketemu lagi di kampus. Terus, ya gitu deh. Mungkin deket lagi. Nggak tau juga. Nanti deh gue tanya sama Aksa."


"Beneran ya????"


Abi melirikku dan menarik sudut bibirnya keatas. "Gue dapet apa nih?"


"Apanya yang dapet apa?"


"Imbalannya buat ngasih informasi soal Aksa sama Arumlah. Apa lagi?"


"Oh, itu. Pelit banget sih pake imbalan segala."


"Kalo nggak mau yaudah."


Aku berdecak pelan. Mau tidak mau harus mengikuti apa kata Abi. "Yaudah. Lo mau imbalan apa?"


Abi tersenyum penuh kemenangan. Melihat raut wajahnya. Sepertinya sisi kelicikannya akan muncul cepat atau lambat.


"Imbalannya, lo jadi pacar gue, gimana?"

__ADS_1


 


 


__ADS_2