
Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa Mama memilih dia yang menjemputku di bandara? Lagipula, kenapa Mama bisa ingat cowok ini? Bagaimana ceritanya? Pokoknya sampai rumah, aku akan menanyakannya! Melihatnya yang melangkah maju. Aku sontak mengambil langkah sebaliknya.
"Ngapain lo disini?!" Tanyaku ketus.
"Jemput lo lah. Ngapain lagi?" Dia menjawab santai. Cih, tipikal. Merasa muak pernah terbuai dalam kesantaiannya tersebut yang menurutku cool.
Kalau aku bisa kembali ke waktu dulu jaman-jaman aku masih ingusan dan polos. Ingin ku tempeleng kepalaku sendiri saat berpikir kalau cowok didepanku sekarang cool dan sebisa mungkin aku akan menghindarinya.
"Gue nggak mau dijemput lo." Aku bersiap menarik koperku dan berjalan meninggalkannya.
"Tapi, nyokap lo udah nitipin lo ke gue."
"Nggak peduli." Melihat reaksi acuhku. Secepat kilat tanpa dapat kucegah, koperku sudah diraihnya.
"Balikin nggak koper gue!"
"Nggak."
Aku berdecak kesal. "Yaudah. Bawa tu koper gue!" Aku berbalik dan berjalan berlawanan arah dengan dia. Dalam hati masih merutuk. Ya, bagus deh. Bawa aja koperku yang berat. Malah enak aku pulang tanpa membawa apapun. Lumayan, jasa kurir gratis.
"Mau masuk ke mobil cara alus apa kasar?" suaranya tepat berada di sebelah telingaku. Membuatku bergidik ngeri. Teringat kalimat itu seperti jaman-jaman dulu sewaktu SMA. Yang dia maksud cara kasar adalah dengan menggendongku. Tak peduli semua orang yang lewat memandang kami berdua. Membuat malu saja!
"Mau lo apa sih, Bi?!" Kekesalanku semakin menjadi-jadi. Sudah bagus-bagus aku tidak bertemu dia lagi selama aku melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Kenapa sekarang harus ketemu lagi?!
"Jemput lo. Nganter lo sampe rumah."
"Anterin aja nenek-nenek yang butuh pertolongan."
"Ini gue lagi mau nolongin nenek-neneknya," aku menatapnya tajam. "Lo, neneknya."
"Ngomong aja sama tembok." Aku melipat kedua tangan didepan dada. Malas berdebat lagi. "Mana mobil lo?" Tanyaku malas dan ketus tentu saja.
Abimanyu Putra Mahendra. Cowok playboy. Tukang main cewek. Tukang tebar pesona. Cowok ternggak punya hati sedunia. Aku benci dia. Kalau ada kata yang lebih dari benci. Ya, itu, perasaanku ke dia. Benci sampai ubun-ubun.
Ada satu seringaian yang muncul menanggapi reaksiku. "Kalo ngadepnya ke samping terus. Lo nggak bakal tau gue jalan kemana."
"Hm."
Apa yang harus dibicarakan jika kalian berada dalam satu mobil yang sama, hanya berdua, dengan orang yang pernah menyakiti kalian? Iya, Abimanyu, si tengik satu ini adalah mantanku waktu dulu. Cinta monyet sekaligus patah hati pertamaku. Dulu banget waktu aku masih ***** berseragam putih abu-abu. Apalagi waktu itu aku murid baru. Makin ***** aja aku dibuatnya. Tidak tau reputasinya seperti apa. Padahal orang-orang sudah sering mengatakan padaku kalau Abi ini tipe cowok seperti apa. Tapi, aku seakan tutup kuping. Aku menelan mentah-mentah segala rayuannya dan percaya-percaya saja apa yang diucapkannya.
Astaga. Kenapa sih aku dulu tololnya kebangetan?
Sampai aku menemukan dia dengan santainya mencium bibir seorang cewek yang satu angkatan dengannya. Namanya aku tidak ingat dan tidak mau ingat. Padahal kami baru jadian selama satu minggu! Bisa dibayangkan bagaimana hancurnya hatiku saat itu?! Bisa, kan??? Hah! Sedari awal seharusnya aku mendengarkan apa kata orang. Dasar playboy sialan!!! Mengingatnya lagi membuat amarah kembali muncul. Saat itu juga aku langsung menampar dia dan memutuskan hubungan. Meski berkali-kali dia mencoba menjelaskan dan meminta maaf. Aku tidak peduli. Tidak ada kesempatan kedua pada cowok tukang selingkuh! Sana, pacaran aja kalian semua sama monyet-monyet di ragunan!
Untungnya kami beda dua tahun. Dan saat aku naik kelas 11, dia sudah tidak ada. Meski dia sudah lulus dan melanjutkan kuliah. Bayang-bayang dirinya kadang masih muncul di benakku. Membuatku muak dan makin kesal dibuatnya.
"Lo banyak berubah, Gem. Gue nggak nyangka." Sepanjang perjalanan aku hanya menatap jendela. Malas melihat wajah Abi yang tengah menyetir. Mendengar Abi yang memulai pembicaraan aku semakin getol menarik kepalaku agar tetap menghadap jendela.
"Satu yang nggak berubah," ujarnya. "Sifat lo."
Bodo.
"Jadi, gue dibiarin ngomong sendirian nih?" Tantangnya. "Oke, kalo gitu. Nggak papa." Cetusnya lagi.
"Lo masih marah ya karena gue cium Mita di belakang sekolah?" Eh, gembel, mana ada cewek yang nggak marah liat pacarnya lagi ciuman sama cewek lain? Udah gila kali ya yang nggak marah?! Dalam hati aku sudah bersungut-sungut. Tarik napas buang.. Harus sabar, Gem. Nggak usah dibalas.
Abi tertawa kecil. "Berarti lo cinta banget ya sama gue. Soalnya lo keliatan marah banget."
Dasar kurang ajar! Masih bisa dia bercanda disaat seperti ini?
"Maafin gue ya, Gem. Soal waktu itu. Gue beneran—"
"Kalo lo mau bahas masa lalu. Sana, bahas di neraka aja sama Mita." Ujarku ketus. Tidak tahan untuk tidak berbicara mendengar ucapannya yang mulai ngelantur. Sekilas aku berbicara dan menatap wajahnya. Tapi, setelah selesai, aku kembali mengedarkan pandangan keluar jendela.
"Yah, terus bahas apa dong? Lo nggak mau ngomong sama gue. Udah pasti kalo gue nanya, lo nggak bakal jawab." Aku tetap bergeming.
"Gue serius, Gem. Gue minta maaf karena udah bikin lo sakit hati." Bagus kalau sadar! "Namanya juga manusia. Banyak khilafnya."
"Lo kalo ngomong terus. Mending turunin gue disini." Sahutku.
"Gue bakal berhenti ngomong sebelum lo maafin gue."
__ADS_1
"Minta maaf aja sana sama kuburan."
Abi malah tertawa mendengar komentarku. "Lucu banget sih Gem marahnya? Daridulu lo selalu bikin gue gemes," komentar Abi. "Dan itu yang bikin gue suka."
--
Aku membanting pintu mobil Abi dengan kasar. Tidak menunggu Abi yang masih harus mengambil koperku, aku berjalan masuk kedalam rumah dan meninggalkannya di belakang. Mama yang mendengar kedatanganku, tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya.
"Lho? Nak Abinya mana?" Tanya Mama.
"Di tong sampah." Jawabku asal. Tak peduli raut wajah Mama yang berubah.
"Gema, omongannya." Kalau sudah memanggil nama, berarti serius.
"Iya, maaf." Sahutku cepat. "Lagian, Mama ngapain sih suruh jemput dia? Kenapa tiba-tiba bisa kenal Abi?"
"Abi itu anak almarhumah dosen Mama waktu kuliah. Mama udah kenal dia waktu tahun lalu waktu datang ngelayat ke rumahnya."
"Mamanya Abi udah meninggal?" Sebelum Mama menjawab, sebuah suara salam terdengar. Abi masuk kedalam sambil mendorong koperku. Melihat Mama, ia langsung mendekatinya dan menyalami Mama.
"Makasih ya Nak Abi udah nganterin Gema. Gimana? Dia nggak rewel, kan? Biasanya kalo lagi pulang. Permintaannya banyak. Pulang-pulang nanti bawa kantong belanjaan banyak."
"Nggak kok, Tante. Gema nggak rewel sama sekali." Abi melirik kearahku dan menyembunyikan senyumannya.
Aku menatapnya tajam. Tahu kalau itu merupakan sindiran karena pada kenyataannya aku diam saja dan tidak menanggapi omongannya.
"Nak Abi udah makan? Makan dulu yuk bareng-bareng?"
"Dia udah kenyang, Ma." Sambarku cepat. Usaha mengusir dia secara halus.
"Oh, iya, Tante. Aku juga laper lagi nih." Wajah Abi menunjukkan raut penuh kemenangan. Hih, nggak tau malu banget sih!
"Gema ke kamar ya. Capek!"
"Makan dulu, Nduk. Nggak sopan ada tamu main kabur gitu aja ke kamar."
"Tapi, Ma—"
--
Penderitaanku tidak berhenti sampai disitu aja. Usai makan, saat Abi hendak pamit ingin pulang. Mama menyuruhku mengantarku sampai kedepan.
"Mama aja deh." Sanggahku.
"Jangan gitu dong! Ya, harus kamu, to? Lumayan kan sekalian reuni. Abi ini satu SMA kan sama kamu?"
Lagi-lagi kulihat wajah Abi yang menyebalkan itu. Meski hati ingin sekali menolak. Tapi, aku bisa apa? Kalau Mama sudah memerintah, mau tidak mau aku harus mematuhinya.
Kedua tanganku terlipat didepan dada sembari mengantar Abi sampai kedepan. Entah sengaja atau tidak. Tapi, aku merasa langkah Abi sangat lambat menurutku.
"Besok gue main lagi boleh nggak?" Tanyanya sumringah.
"Gak."
"Kok gak boleh sih, Gem?" Lo udah tau alasan gue kenapa pake nanya segala lagi sih, kesel gue!
"Boleh ya?" Pintanya sekali lagi.
"Berisik lo. Sana pulang. Males gue liat muka lo."
"Jahat deh, Gema." Walau begitu terdengar kekehannya. "Lucu banget sih." Gumamnya pelan.
"Gak papa kalo lo nggak ngebolehin gue main ke rumah. Yang penting nyokap lo ngebolehin."
"Apa-apaan sih lo! Sana pergi!"
"Kalo nyokap lo udah setuju. Masalah gue tinggal lo doang."
"Omongan lo nggak bermutu."
"Gue pergi ya? Jangan kangen. Besok gue kesini lagi."
__ADS_1
"Najis!"
Padahal Abi belum menaiki mobilnya. Tapi, aku sudah ngeloyor kedalam. Kulirik Mama yang tengah membereskan piring-piring diatas meja makan dibantu Bi Iyem.
"Nak Abi udah pulang?" Melihat kehadiranku, Mama bertanya.
"Udah." Aku menjawab singkat.
Mama menghampiriku. "Gimana sama Nak Abi?"
"Maksud Mama?"
"Dia baik, kan? Sopan lagi. Dulu tuh Mama suka banget sama Ibunya. Dosen favorit Mama banget. Nggak heran kalo sifatnya bakal nurun ke anaknya."
"Idih, jadi maksud Mama Abi itu baik sama sopan gitu?"
"Ya iya dong! Mama setuju kalo kamu sama dia. Dia baru lulus S2 di UGM loh. Susah banget dihubungin. Untungnya, kemarin bisa. Dan Mama langsung minta tolong dia jemput kamu. Bersyukur banget dia mau dan bisa."
"Hah?"
"Kalo kamu mau sama Abi, Mama nggak bakal nolak lamaran dia."
"Gak!" Aku menghambur ke kamarku dan langsung menjatuhkan tubuh diatas kasur. Kuhembuskan napas kesal. Kenapa sih dunia ini? Kenapa juga Mamanya tiba-tiba aneh dan seakan ingin menjodohkanku dengan Abi? Big NO. Mending aku jadi perawan tua daripada harus hidup seumur hidup dengan dia!
--
Pagi-pagi telingaku sudah mendengar suara Abi di bawah. Semalaman aku tidak bisa tidur. Memikirkan kembali pertemuanku yang tak terduga bersama Abi. Sengaja aku tidak ingin keluar kamar meski beberapa kali Mama membangunkanku lewat ketukan pintu dan juga Bi Iyem yang pura-pura menawarkan sarapan.
Aku nggak bakal keluar sampai Abi pergi dari rumah. Hingga siang baru suara Abi tidak terdengar lagi. Suara Mama juga tidak terdengar. Perutku sudah lapar belum sarapan padahal sudah siang. Oleh karena itu, berbekal keyakinan serta tak ada lagi suara Abi dan Mama yang terdengar, kuputuskan untuk keluar kamar. Masih memakai baju tidur dan rambut acak-acakan. Aku juga tidak sempat mencuci muka.
Langkahku berjinjit tanpa sadar. Takut untuk menimbulkan suara. "Akhirnya keluar juga." Bagai disambar petir mendengar suara itu. Langkahku sontak terhenti. Sambil menarik napas kesal, aku berbalik menatapnya.
"Kenapa lo masih disini?!"
"Gue nungguin lo."
Kebetulan Bi Iyem lewat. "Bi, Mama mana?"
"Oh, Mama lagi ke supermarket sebentar. Soalnya mau masak."
"Kenapa? Lo pikir gue udah pulang?" Abi terkekeh pelan. "Tujuan gue kesini kan mau ketemu lo. Jadi, gue nggak bakal pulang sebelum ketemu lo."
"Bi, tolong bawain makanan ya ke kamar. Aku laper." Ujarku pada Bi Iyem yang masih berdiri di tempatnya. Ia mengangguk dan berjalan ke dapur.
Pandanganku beralih lagi pada Abi. "Sekarang, udah ketemu, sana pergi. Pulang. Jangan balik-balik lagi. Ogah liat muka lo."
Abi bangkit dari duduknya. Langkahnya lebar mendekat kearahku. Membuatku mengambil langkah mundur. Beberapa langkah sebelum jarak kami benar-benar terhapus. Aku sudah bersiap berbalik dan berlari ke kamar. Tapi, tangan Abi lebih dulu menangkap pergelangan tanganku.
Genggaman tangannya semakin mengencang kala aku berusaha melepasnya. "Bi, lepasin!" ujarku ketus.
Kepalanya mendekat. Membuat kepalaku mundur. Ditariknya sudut-sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyum penuh arti. Membuat bulu kudukku tanpa sadar berdiri.
"Lo mau ngapain?! Jangan macem-macem, sialan lo!!"
"Gue mau ngapain? Hmm.. Menurut lo gue mau ngapain?"
"Bi.. Jangan macem-macem. Gue teriak sekarang juga!"
"Teriak aja. Kalo itu bikin lo lega."
Tapi, yang ada suaraku tercekat di kerongkongan. Aku sama sekali tak bisa bersuara. "Walaupun lo udah banyak berubah," ujarnya pelan. "Lo masih Gema yang dulu. Gema yang gue suka. Gema yang bikin gue bertahun-tahun nggak pernah bisa berhenti buat mikirin dia."
"Ngomong apa sih?"
Sudut bibirnya kembali terangkat keatas. Sebuah seringaian muncul. "Lo masih marah soal gue yang bikin lo patah hati. Gue nggak nyangka lo semarah itu. Bahkan sampe detik ini. Dan gue seneng. Karena artinya, masih ada sisa cinta dari lo buat gue."
__ADS_1