The Boy Next Window

The Boy Next Window
A Little Mystery?


__ADS_3

Betapa senangnya saat akhirnya aku mulai memasuki BAB IV skripsinya. Benar juga kata orang, untuk memulai sesuatu dibutuhkan niat yang kuat untuk menyingkirkan rasa malas. Tapi, kalau sudah memulai, pasti akan ketagihan. Entah kenapa akhir-akhir ini aku giat sekali mengerjakan skripsi. Aku lebih memilih didalam kamar ketimbang nongkrong bersama sahabat-sahabatku.


Apalagi jika Abi mengajak keluar makan atau sekedar nonton di mall. Jelas itu kutolak mentah-mentah. Abi didalam hidupku merupakan urusan ke sekian ratus dalam daftar panjang hal penting yang masuk dalam hidup. Nggak peduli kalau status Abi sekarang adalah pacarku. Pacar pura-pura ini. Itu juga terjadi hanya karena sebuah pernjanjian konyol dan tidak jelas.


"Senyum-senyum aja sendiri terus sampe nanti kesambet jin iprit," kulirik tajam pada Abi yang sedang menyetir. Tiba-tiba saja Abi sudah menjemputku dikampus. Tahu sekali sepertinya kalau aku memang tidak membawa mobil hari ini karena malas.


Aku memang tidak pernah menerima tawarannya untuk dia menjemput. Tapi, untuk kali ini karena Abi sudah terlanjur menunggu diparkiran. Mau tidak mau aku harus menerimanya. Kasian juga dia sudah rela-rela pulang kantor dan ke kampusku yang jaraknya jauh dari kantornya hanya untuk menjemputku.


"Suka-suka gue kek. Nggak bisa banget liat orang seneng ya?"


"Tau deh yang revisiannya dikit," meski sebal tapi kalau mengingat hal itu membuatku kembali senyum-senyum sendiri. "Nah loh, makin lebar tu senyum. Beneran kesambet ya?"


Aku berdecak pelan. Tak menanggapi kalimat Abi. Kuakui, semua ini terjadi karena ada bantuan Abi juga. Kalau dia tidak membantuku untuk mengisi kuesioner, pastinya tidak akan bisa aku sampai di bab ini. Mungkin sekarang aku masih sibuk tidur-tiduran didalam kamar. Mengajak ketiga sahabatku nongkrong karena terlalu gabut. Sekarang justru malah sebaliknya, keadaan benar-benar telah berubah. Semangatku kian terpompa karena tahu, hanya selangkah lagi yang kubutuhkan untuk lulus.


Kutarik napas panjang dan menoleh pada Abi. "Thanks ya, Bi." Ucapku.


"Hah? Kenapa?" Abi yang bingung dengan ucapanku mengernyitkan dahinya. "Thanks buat apaan lagi?"


"Ya, thanks aja pokoknya." Buat semuanya. Ngisiin kuesioner, bantuin buktiin perasaan ke Aksa yang sebenarnya. Meskpin dengan cara paling menyebalkan untuk tahu perasaan Aksa karena harus melibatkan sebuah perjanjian.


"Beneran kesambet nih kayaknya," kudorong pelan bahunya yang tengah memegang stir Ia mengeluh pelan.


"Kalo gue nabrak, jangan salahin gue lo!" Aku hanya tertawa menanggapi.


"Makan dulu ya. Gue laper banget." Abi melipirkan mobilnya pada sebuah restoran yang ia temukan ditengah jalan.


"Terserah." Aku menjawab singkat kemudian mengikuti Abi yang sudah lebih dulu turun dari mobil.


Setelah memilih meja ditemani seorang pelayan. Aku dan Abi mulai memesan makanan. "Lo mau apa?" Tanya Abi.


Aku membolak-balikkan buku menu itu. Kutatap pelayan yang menunggu kami menyebut pesanan.


"Saya mau Caesar salad aja deh, Mbak. Hmm.. Sama lasagna juga. Red velvetnya juga boleh deh. Tapi, nanti dianternya pas selesai makan aja, Mbak. Minumnya air mineral nggak dingin sama jus alpukat aja." Kututup buku menu didepanku.


"Laper apa doyan?" Abi menahan senyumnya.


Aku mencebik. "Berisik. Lo pesen apa?" Abi menyebutkan pesanannya. Setelah mengulang kembali pesanan kami, pelayan tersebut pergi sembari membawa buku menu yang ada ditangan kami.


"Di target dong. Mau selesai kapan itu skripsi? Jadi, bisa cepet sidang. Terus wisuda. Terus—"


"Terus apa?"


"Nikah sama gue."


"Astaga. Masih aja sih, Bi." Abi terkekeh pelan. "Ngomongin soal skripsi, gue udah punya target. Bulan depan harusnya sih udah kelar dan udah bisa minta sidang. Lo doain aja deh ya. Bosen juga gue lama-lama ngeliat bangunan kampus."


"Baru juga mau 5 tahun lo liat bangunan kampus udah bosen. Gimana nanti kalo kerja? Bertahun-tahun ntar lo ada di sebuah perusahaan. Kalopun bosen, mau resign gimana? Jaman sekarang nyari kerja susah. Sukur-sukur udah dapet kerja."


"Siapa bilang gue mau kerja kantoran?"


"Emang lo nggak mau? Terus mau jadi apa?"


"Mau jadi ibu-ibu sosialita. Kerjanya Cuma nyalon sama belanja. Kan, makin cantik tuh gue. Suami gue makin cinta deh ntar. Biar dia semangat kerja biar istrinya tetep cantik. Nanti kalo jelek malu dibawa ke kondangan sama acara-acara kantor."


"Yee.. Dasar! Apa gunanya kuliah kalo pemikiran lo sempit begitu? Nih ya, mau lo dandan segimana juga. Mau lo secantik apapun juga. Masih banyak cewek cantik yang lebih dari lo dan nggak perlu modal belanja berlebihan sama nyalon kebanyakan. Suami lo juga paham begituan. Pasti dia nyari yang lebih dari lo. Ngapain bertahan sama lo kalo ada yang jauh lebih cantik tanpa mengeluarkan modal banyak?"


"Ya, itu mah kalo suaminya lo. Makanya gue nggak mau nikah sama lo. Hidup gue pasti tersiksa banget tuh."


"Bukan gitu. Maksud gue, waktu lo udah punya suami nanti, jangan deh bersikap kaya gitu. Lo nggak papa nggak kerja. Sebagai seorang cowok, gue juga mengharapkan istri gue dirumah aja biar bisa ngurusin anak. Seorang istri tuh bisa dinilai dari cara dia didik ke anak. Kalo anak berhasil artinya si istri juga berhasil. Seharusnya lo banggain itu. Bukan banggain muka lo yang makin cantik karena rajin perawatan."


Aku berdecak keras. "Yaelah, Bi. Serius amat! Bercanda doang kali! Gue juga sadar diri. Emang gue sebego itu apa?"


Abi tertawa. "Gue juga bercanda. Kalo lo yang jadi istri gue nanti. Terserah lo deh mau jadi istri kaya apa. Asal lo tetep bisa bikin gue cinta mati sama lo. Contohnya," Abi memajukan wajahnya beberapa jengkal kearahku hingga dadanya menyentuh pada kedua tangannya yang terlipat diatas meja. "Urusan ranjang."

__ADS_1


"Brengsek." Abi tertawa-tawa menanggapi reaksiku.


"Oh iya," disela memakan pesanan kami. Abi seperti melupakan satu hal. "Minggu depan gue pindah."


Aku mengernyitkan dahi. "Pindah apa? Pindah tempat tinggal?"


Abi mengangguk. "Iya. Pindah dari kos Aksa. Gue udah dapet apartemen yang pas buat gue."


"Oh." Aku mengangguk-angguk sambil melanjutkan kegiatan makanku.


"Apartemen gue nggak kosong-kosong amat sih. Belom fully furnished tapi. Besok, lo temenin gue nyari barang-barang buat ngisi apartemen gue ya."


"Hmm.. Besok? Liat nanti deh."


"Aksa juga ikut buat bantuin gue."


Mendengar nama Aksa disebut, aku berhenti. "Oke. Besok."


"Giliran Aksa aja lo langsung oke."


"Ya iyalah. Senggak bisa-bisanya gue, bakal selalu gue luangin waktu buat Aksa."


"Gombal basi kaya susu didalem kulkas selama setahun. Jamuran."


"Bodo amat. Yang penting kenyataannya emang gitu." Aku menjulurkan lidah pada Abi.


--


Bersama Abi dan Aksa, aku pergi ke IKEA untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan Abi untuk apartemen barunya. Aku pura-pura menarik kaca kecil yang berada diatas mobil untuk melihat bayanganku dikaca. Padahal maksud hati kulakukan itu adalah melihat Aksa yang duduk di belakang.


Urusan kursi sebelum berangkat menjadi perdebatan. Aku hendak duduk di kursi belakang. Tapi, Aksa mencegah dan menyuruhku tetap duduk didepan, disebelah Abi. Mendapati pacar serta keponakannya sedang beradu pendapat soal itu, Abi hanya mengamati sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Satu sudut bibirnya terangkat keatas melihat perdebatan yang terjadi.


"Yaudahlah, Gem. Ngalah aja sama Aksa. Walopun keliatannya anak baik-baik. Dia suka batu juga. Biarin aja. Buruan sini duduk didepan, nanti kita pulang kemaleman lagi." aku mendengus kesal dan memutuskan duduk didepan. Menuruti kata Abi dan membiarkan Aksa dengan permintaannya.


"Hitam,"


"Hitam," aku dan Aksa saling memandang selama beberapa saat dan buru-buru kualihkan sebelum aku meleleh.


Abi yang melihat itu menatapku dengan Aksa bergantian. Matanya menyipit, bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu. Tapi, ia urungkan. Abi hanya menghela napas dan mengedikkan bahunya keatas.


"Oke, hitam kalo gitu."


Dalam sesi membantu Abi memilih barang-barang yang dibutuhkan, aku dan Aksa tidak banyak bicara. Pembicaraanku dengan Abi juga hanya seputar melempar pendapat dengan apa yang ia tunjukkan.


Sambil menunggu Abi yang masih mengantri untuk membayar. Dia menoleh pada kami berdua.


"Lo berdua laper nggak?" Tanya Abi.


Aku dan Aksa saling melempar pandangan. "Jawab aja kali. Gak usah liat-liat gitu." Sergah Abi. "Serius. Kalo lo berdua mau makan atau apa gak papa. Gue nyusul aja. Kayanya ini masih agak lama." Menilik dari belanjaan Abi, memang terlihat cukup banyak. Pasti membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi dalam keadaan dia masih mengantri. Orang didepannya juga terlihat membeli cukup banyak dan barangnya kelihatan besar-besar.


Aksa mengangguk. "Gema laper?"


"Dikit." Jawabku jujur.


"Yaudah kalo gitu aku sama Gema makan deh. Mas Abi mau apa? Nanti dipesenin dulu."


Abi menggeleng. "Nanti gue telpon kalo hampir selesai."


"Mas Abi mau makan juga, kan?" Aksa memastikan.


"Iya, nanti gue makan."


"Oke aku sama Gema makan ya?"

__ADS_1


"Iya, sana."


"Gue makan dulu sama Aksa." Aku memberikan tatapan penuh arti yang kuberikan pada Abi.


--


"Gema nggak suka makanannya?" Aku memerhatikan sendiri piring dihadapanku. Memang baru sedikit kusentuh. Itu juga karena banyak hal yang kupikirkan jika sedang bersama Aksa.


Aku menarik napas panjang. "Suka kok. Cuma lagi mikir aja."


"Mikir apa?"


"Bukan apa-apa. Gak penting sih."


"Hmm.. Soal skripsi?"


"Salah satunya," memang benar sih.


"Gimana soal skripsinya? Lancar?"


Aku mengangguk. "Sejauh ini lancar. Doain bulan depan udah bisa nentuin jadwal sidang ya. Udah gatel pengen pake toga." Aksa terkekeh pelan.


"Sejauh ini, lo gimana sama PKM lo yang udah tembus dibiayain DIKTI? Lancar tuh kewirausahaannya?"


"Lancar kok. Lumayan, belajar dari sekarang buat bangun bisnis. Kalo beruntung juga, siapa tau dari PKM bisa dijadiin bisnis masa depan beneran."


"Aamiin." Aku mengamini dan tersenyum.


Aksa berdehem selama beberapa detik. "Kita kayanya jadi jarang ngobrol ya akhir-akhir ini?"


"Iya. Gue kan sibuk nyekripsi. Lo, nggak tau deh. Emang ngapain, Sa?" aku pura-pura tertawa. Ternyata Aksa merasa juga kalau akhir-akhir ini kami tidak banyak bicara. Sejak kedatangan Arum dan Abi mengumumkan kalau aku adalah pacarnya. Hubunganku dengan Aksa entah kenapa tidak sebaik dulu. Aku jadi jarang ngobrol dengan Aksa. Apalagi makan soto ayam atau ketoprak seperti dulu-dulu. Yah, untungnya aku punya senjata alasan dan menjadikan skripsiku sebagai alasan utama.


Aksa mengekor dan tertawa juga. "Nggak ngapa-ngapain juga sih. Paling ya itu, sibuk PKM kewirausahaan itu."


Aku mengangguk-angguk mengerti. Ada jeda lama yang kami ciptakan—tepatnya, aku yang menciptakan jeda itu. Sementara Aksa kembali sibuk memakan makanannya. Aku kembali tenggelam dalam isi kepalaku.


Kutatap Aksa lamat-lamat. "Arum.. Gimana, Sa?" Fyuh... Akhirnya kalimat itu berhasil juga kukeluarkan.


Aksa tersenyum yang cukup dipaksakan. "Things didn't get better."


Aku tercengang selama beberapa saat. "What's that thing?" Meskipun aku paham apa maksud dari kalimat Aksa. Tapi, aku tetap menanyakan. Memastikan pemahamanku yang kutangkap dari kalimatnya.


"The thing between us. Aku sama Arum."


"Kenapa?"


"Kalo kata Steve Moakler, I think we're both better off, with a little mystery." Kasa mengulum senyum. Membuatku ikut melakukannya. Bisa-bisanya dia ingat sebuah lagu dari jawaban soal dirinya dengan Arum.


"Semacam—lo nggak mau ngasih tau gue kenapa?" Persetan dengan alasan Aksa kenapa dirinya dan Arum tidak melakukan CLBK. Aku juga nggak peduli. Yang terpenting, Aksa tidak terikat dengan siapapun saat ini. Tidak ada lagi yang membuatku pusing.


"Pokoknya, masa lalu ya masa lalu. Ada hal-hal yang nggak bisa sama seperti dulu. Meskipun, orang-orang udah coba melakukan semaksimal mungkin buat beradaptasi soal itu. Hal-hal itu nggak akan pernah persis sama."


"Kenapa lo nggak mencoba dulu?" Kenapa aku malah memancing dan mendorong Aksa untuk balikan dengan Arum sih? Hah! Biar deh. Aku ingin tahu seberapa kuat alasan Aksa mengambil keputusannya itu.


"Kemarin-kemarin, emangnya aku nggak mencoba?" Aksa mencoba untuk tidak tersenyum dengan pertanyaanku.


Oh, shit. Seharusnya memang begitu.


"Mungkin, aku bukan Gema dan Mas Abi yang bisa nerima hal-hal yang ada di masa lalu?"


Double shit. Kenapa juga dia harus membahas hubunganku dengan Abi saat ini?


 

__ADS_1


 


__ADS_2