
Wajahku kusut keluar dari ruang dosen pembimbingku. Setelah siang malam sampai begadang segala aku mengerjakan BAB 2, hasilnya revisi total! Ingin kubakar rasanya kertas-kertas ditanganku saat ini. Aku menatap tanpa harapan kertas-kertas tersebut dan meremasnya pelan. Kalau aku membakar kertas ini, yang ada aku seperti orang linglung karena lupa dimana letak bagian revisi. Alhasil, salah-salah revisi, yang sudah benar malah kurevisi dan yang salah makin salah. Tapi, hampir tiap halaman ada saja yang di revisi entah karena tidak ada benang merah antara paragraf satu dengan paragraf lainnya atau hanya masalah penggunaan kata yang kurang tepat membuat nafsu membakarku semakin membara saja!
Sampai di mobil, semua keinginanku itu hilang. Digantikan oleh rasa lelah. Aku hanya melempar revisian tersebut ke jok belakang. Kedua tanganku beralih memegang stir mobil. Detik selanjutnya, aku sudah menempelkan keningku pada stir. Mengatupkan keningku beberapa kali pada benda itu.
"Kapan gue lulus ya Gusti???" Rutukku putus asa.
Biasanya kalau stress begini, aku sangat bernafsu sekali untuk belanja. Tapi, untuk kali ini entah kenapa aku malas sekali menginjakkan kaki ke mall. Akhir-akhir ini aku memang lebih sering berada di kamar kos. Selain karena ada Aksa yang kadang menemani mengobrol kalau kebetulan sedang papasan diluar. Aku juga merasa lebih nyaman di kamar. Tahu gitu setiap stress aku langsung pulang saja ya. Siapa tau waktu itu aku juga sudah merasa nyaman meski belum ada Aksa. Kan, lumayan, bisa ngirit uang bulanan.
Sebelum sampai kos, aku memutuskan berhenti di depan soto langgananku karena perutku terasa lapar. Entah sebuah keberuntungan atauhanya kebetulan belaka, aku melihat Aksa yang juga tengah membeli soto. Setelah menyapa sebentar aku mulai membuka obrolan.
"Gue gak liat mobil lo didepan, Sa. Naik apa kesini?"
"Jalan kaki."
"Demi apa? Jaoh kali, Sa."
Aksa hanya tersenyum simpul. Matanya menyipit karena itu membuat darahku berdesir. "Sekalian olahraga. Lumayan buang kalori kan kalo jalan kaki gini?"
"Enak kan soto rekomendasi gue?"
Senyumnya makin melebar. "Iya nih, Gema. Aku jadi ketagihan kesini gara-gara Gema." Merasa bangga karena secara tidak langsung Aksa juga menyukai apa makanan yang kusuka juga. Hmm.. Tahu gitu, akan kuajak dia keliling makanan favoritku. Hitung-hitung kencan dadakan.
"Widiih.. bisa nih gue ajak kulineran. Rekomendasi makanan gue masih banyak loh. Lo belom nyobain pecel lele yang ada di pertigaan itu, kan? Tempatnya rame banget padahal bukan di pinggir jalan raya. Terus ada lagi nasi goreng kambing favorit gue. Dan semuanya deket kos kita kok. Gak jaoh-jaoh amat. Yang di kebon sirih kalah deh sama ni nasi goreng."
"Wah, kalo diajak, boleh banget. Lumayan biar gak bingung lagi mau makan apa?"
"Nanti malem yuk?" Ajakku langsung.
"Kemana?"
"Nasi goreng kambing."
Aksa berpikir sejenak. "Tapi, sore nanti aku ada tugas kelompok buat project akhir mata kuliah."
"Ya, abis itu."
"Nanti aku kabarin Gema deh. Kalo kemaleman gimana?"
Jangankan kemaleman. Subuh gue jabanin! Jogging berangkat jam setengah 6 aja disikat abis, Sa!
"Gak papa."
"Nggak bagus ah cewek kalo keluar kemaleman. Nanti takut dikira apa-apa." Jawaban Aksa entah kenapa membuat suasana hatiku lega.
"Yaudah. Makan nasi goreng tek tek aja yang biasa lewat." Tawaku berderai. "Sekalian temenin gue revisi lagi, Sa. Banyak banget nih revisian gue. Mau mati rasanya."
"Yah, jangan mati dong, Gema. Nanti nggak ada yang rekomendasiin makanan lagi." Meski aku tahu itu hanya gurauan Aksa. Gurauan itu berhasil membuat jantungku terasa ingin copot. Ya ampun, Sa! Bisa banget sih ngelucunya!
"Sa, pulang bareng gue aja." Soto Aksa lebih dulu datang karena ia lebih dulu memesan.
"Oke." Aksa mengangguk setuju.
"Eh, Sa." Kataku lagi.
"Iya, Gema?"
"Lo lucu juga ya bercandanya." Komentarku. Akhir-akhir ini aku merasa Aksa lebih santai. Tidak sekaku waktu dulu pertama kali bertemu. Mungkin karena dulu dia belum terbiasa denganku. Dan karena cukup sering mengobrol dan sesekali keluar kos mencari makan. Lama-lama kekakuan itu hilang.
"Iya, kan sering bareng Gema. Jadinya, lucunya Gema nular."
Boleh pingsan sekarang nggak?
--
Aku sudah mandi sejak tadi sore. Kulihat Aksa baru keluar dari kos sebelum aku masuk kamar mandi. Dalam hati aku mendengus. Kenapa baru jam segini dia keluar kos? Yang ada nanti kemaleman dan nggak jadi ke nasi goreng kambing. Tapi, nggak apa-apa lah. Di kos makan nasi goreng tek tek bareng Aksa juga udah bahagia.
Sambil menunggu malam, aku membuka laptop. Niatnya ingin sedikit mulai merevisi lagi. Tapi, aku tergoda untuk streaming film. Yaudahlah, nanti aja revisinya pas bareng Aksa. Aku menguap ditengah menonton film. Mataku juga sedikit berair karena menahan kantuk. Ini sudah memasuki film kedua yang kutonton. Dan ini sudah jam 8 lewat sementara Aksa belum juga pulang. Perutku sudah keroncongan minta diisi.
"Sabar, Gem!" Berkali-kali aku mengingatkan diriku. Tapi, perutku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Aku menyerah dan delivery order pada ayam penyet di ujung jalan dekat kos.
Aku menghentikan aktivitas menontonku dan menelantangkan tubuh diatas kasur. Kutatap langit-langit kamar. Keheningan langsung memenuhi isi kamarku. Hanya sesekali bunyi perutku terdengar. Saat aku mulai menikmati keheningan yang tercipta. Ponselku bordering membuatku terlonjak dari atas kasur. Buru-buru kucek, semoga Aksa yang menghubungi kalau sebentar lagi dia akan sampai. Semoga Aksa ya Tuhan. Semoga!
Harapanku terhempas begitu saja bagai butiran debu di jalanan kala mendapati pesan dari abang-abang ayam penyet yang mengabarkan kalau dia sudah di bawah. Aku mendengus kesal dan mengambil dompet kebawah.
__ADS_1
"Udah lama, Neng, gak delivery order?" Keningku berkerut. Tak menyangka abang-abang satu ini ingat saja kalau aku sering delivery order ayam penyet kalau sedang malas keluar kos.
"Udah punya abang-abang sendiri yang siap nganterin saya makan dimana aja dab kapan aja." Ujarku berbohong setengah bercanda. Ya, sebenarnya tidak sepenuhnya bohong. Nyatanya aku lebih sering makan bareng Aksa akhir-akhir ini.
"Ciee, udah nggak jomblo lagi dong? Harapan saya sia-sia dong nungguin Neng."
"Paan dah! Gak gue kasih tip lo!" Ancamku.
"Iya, Neng. Maap, Neng. Just kidding."
"Gaya bener dah just kidding segala. Nih uangnya, kembaliannya ambil aja. Makasi ye, Bang!" Tidak menunggu respon dari abang-abang delivery order. Aku beranjak kembali ke kamar. Membuka kotak yang berisi ayam penyet dan menghabiskannya hanya dalam hitungan menit.
Kulirik jam dinding di kamar. Ini sudah hampir jam 9. Sepertinya makan malam bersama Aksa untuk malam ini harus pupus. Aku mendesah pelan. Mencuci kedua tanganku di wastafel kamar mandi sekaligus mencuci muka dan menggosok gigi. Rasa kantuk kembali menyerang sekembalinya diriku dari kamar mandi.
"Kalo gue tidur terus gak lama Aksa dateng gimana?" Kali ini aku harus menghadapi dilemma antara rasa kantuk dan keinginan kuat untuk bersama Aksa. Cukup lama aku tenggelam dalam dilemma tersebut hingga aku tidak sadar telah jatuh tertidur.
Tidak sadar beberapa menit saat aku jatuh tertidur, ponselku bordering. Didalam layar ponsel, nama Aksa terlihat sangat jelas.
--
Ini pagi terindah menurut versiku. Saat mengecek ponsel, ada dua panggilan tak terjawab serta satu pesan yang semuanya dari Aksa.
From: Aksa Mailop
Gema, udah tidur ya?
Maaf pulangnya kemaleman jadi nggak bisa nemenin Gema.
Gema nggak marah kan?
Sebenarnya aku biasa saja. Tapi, satu ide nakal muncul seketika dalam otakku saat hendak membalas.
To: Aksa Mailop
Marah. Gue nungguin lo sambil nahan laper dan akhirnya ketiduran.
Tak lama setelah aku membalas pesannya. Telpon masuk dari Aksa. Senyumku kian lebar saat mengetahuinya. Sebelum menjawab telponnya, aku harus berdehem beberapa kali demi menetralkan perasaan bahagiaku. Aku kan pura-puranya lagi marah. Masa nanti di telpon kaya orang lagi kesenenengan? Walaupun nyatanya emang seneng sih.
"Gema marah?" Nada suara Aksa terdengar cemas.
"Maafin ya?"
"Gampang banget minta maaf? Kalo semua masalah selesai dengan minta maaf. Itu orang-orang nggak usah di penjara. Minta maaf aja urusan kelar deh." Susah payah aku mengontrol intonasi suaraku agar tidak tertawa.
"Terus, gimana caranya biar Gema mau maafin?" Nadanya benar-benar menyiratkan penyesalan.
Aku berpikir sejenak. "Hmm.. Ya, apa gitu. Terserah lo lah gimana caranya biar gue mau maafin."
"Gema lagi mau makan apa? Ayo, aku temenin. Apa Gema lagi pengin nonton film? Aku juga mau kok nemenin."
"Gue maunya diajak lo kencan, Sa."
"Apa?"
Aku benar-benar tidak kuasa lagi menahan tawaku. "Nggak kok, Sa. Gue Cuma bercanda. Semalem gue emang nungguin lo tapi akhirnya gue makan sendiri kok. Terus, ketiduran deh."
"Tapi, tetep aja. Aku udah janji mau nemenin Gema revisi." Masih ada sisa-sisa nada penyesalan dari bicaranya.
"Nggak apa-apa. Gue juga lagi males tadi malem. Kalo lo mau, hari ini temenin gue revisi gimana? Tapi, gue males di kos. Penginnya diluar."
"Gema maunya dimana?"
"Di coffee shop gitu yang wifinya kenceng."
"Starbucks aja kalo gitu. Mau?"
"Rame ah. Gak konsen ntar."
"Apa mau café tempat biasa aku ngerjain tugas bareng temen-temen? Tempatnya lumayan enak. Wifinya kenceng juga. Nggak rame soalnya tempatnya cukup gede dan space antar meja agak jauh."
"Oke, boleh juga."
Aksa mendesah pelan. "Tapi, Gema, aku nemenin Gema abis jemput Om ku di bandara ya?"
__ADS_1
"Jam berapa?"
"Nanti siang kok. Jadi, sore sampe malem free."
"Oh, yaudah, jemput Om aja dulu yang penting. Gak papa kok. Gue revisi besok juga bisa. Hari ini lagi mager parah."
"Jangan, Gema harus selesaiin revisi skripsi Gema. Biar cepet-cepet lanjut ke bab selanjutnya. Nanti sore aku bakal temenin Gema."
"Iyaa, Aksa."
"Oke deh. Aku siap-siap kuliah dulu ya?"
"Oke, Aksa."
Usai memutuskan sambungan telpon Aksa. Aku beranjak ke kamar mandi untuk mandi. Rencananya hari ini aku mau ke supermarket untuk beli keperluan kamar. Lagipula, stok makanan di kulkasku sudah mulai menepis. Aku harus kembali nyetok. Demi perut yang selalu kelaperan ditengah malam dan meminta asupan gizi kala otak sudah mulai lelah mengerjakan skripsi.
Aku berputar-putar sambil menggeret troli yang di dominasi oleh cemilan. "Sunlight mana ya?" Mataku tajam menatap rak-rak didepan. Mencari seonggok barang yang kucari. Setelah ketemu, kumasukkan kedalam troli dan berjalan lagi mencari barang lain yang kuperlukan.
Ketika sedang membayar di kasir, Vio menelpon. Karena kebetulan aku sedang berada diluar dan cukup dekat dengan kosnya. Vio meminta tolong untuk menemaninya ke ekspedisi pengiriman untuk mengirim barang dagangannya di online shop. Katanya kurir yang biasa pick up barangnya tidak datang. Entahlah, aku tidak mengerti. Aku mau-mau saja. Toh, ini masih siang. Aksa janji menemaniku nanti sore atau malam. Jadi, aku tidak perlu buru-buru.
"Yaelah, Vi, ngapain di cek lagi si? Kan, udah lo tulis jelas alamatnya."
"Jaga-jaga. Kali aja ada yang keliru."
"Gampang. Kalo alamatnya keliru, paling dibalikkin lagi ke lo."
"Bukan itu masalahnya. Kalo dibalikin ke gue lagi sih ya emang. Tapi, nyampe ke customer kan pasti lebih lama dari estimasi. Gue gak mau customer gue lama nunggu. Bagi gue, kepuasan customer tuh nomer satu. Siapa tau yang gue bela-belain gini jadi langganan tetap? Ye, gak?"
"Asik dah nci nci online shop sekarang."
"Ye, berisik lo. Bantuin gue cepet." Aku mengangguk dan ikut membantu Vio mengecek ulang barang kirimannya.
Aku baru sampai di kos sekitar pukul 3. Kulihat mobil Aksa sudah berada di parkiran kosnya. Melihat itu senyumku merekah. Mobilku sudah terparkir dan aku turun dari mobil. Langkahku berjalan ke pagar hendak menutup pagar saat sebuah suara mengalihkan pandanganku.
"Gema?"
Senyum merekahku seketika lenyap. Kulihat Abi dengan satu plastik yang aku yakin berisi makanan tergenggam ditangan kanannya.
"Ngapain lo disini?!" Tanyaku ketus. Memang tidak bisa kalau berbicara halus dengan Abi. "Lo mata-matain gue ya?!" Tuduhku.
Abi mengangkat satu alisnya. Kedua tangannya terangkat keatas, menggapai udara. "Wow, emangnya gue senggak punya kerjaan itu sampe mata-matain lo segala?"
"Terus ngapain lo disini?!"
"Gue udah bilang kan minggu kemarin kalo mau ke Jakarta."
Aku geregetan mendengar jawabannya yang muter-muter. "Nggak peduli soal itu. Yang gue tanyain, kenapa lo bisa disini? Like, disini. Didepan kos gue."
Abi mengedarkan pandangannya ke sekitar. Senyum kecil muncul di balik wajah slengeannya.
"Oh, itu." Ujarnya santai. "Tenang aja. Gue sama sekali gak mata-matain kalo itu yang lo takutin. Lagian, gue juga baru tau kalo lo tingal di kos ini."
Abi menghela napas, melanjutkan kalimatnya. "Buat sementara waktu, gue bakal tinggal disini."
"Dimana?" Tanyaku menyelidik.
"Disini." Abi menunjuk kos Aksa yang tepat berada di seberang kosku.
Mataku membulat. "Boong kan lo? Gue gak percaya."
"Eh, Gema? Baru pulang ya?" Aku menoleh dan mendapati Aksa yang tau-tau sudah muncul di belakang Abi. Satu tangannya juga membawa bungkusan plastik. Tapi, isinya berbeda dengan Abi. Plastik itu berisi cemilan kecil dan dua teh kotak.
Nada suaraku jauh berbeda saat berbicara dengan Aksa. "Iya. Lo dari warung Bu Sumi?" Aksa mengangguk.
"Oh, kalian berdua udah saling kenal?" Seakan lupa dengan kehadiran Abi. Suaranya membuat intonasi suaraku kembali naik. Mataku menatap tajam kearah Abi.
"Oh iya, Gema. Ini Omku yang tadi aku bilang. Dia baru dateng dari Jogja—" duniaku seketika terasa berhenti. Aku tidak peduli kalimat Aksa selanjutnya. Yang kupedulikan saat ini hanya satu. Bagaimana bisa si playboy tengik ini merupakan Omnya Aksa? Aksanya yang lucu?!
__ADS_1