The Boy Next Window

The Boy Next Window
Jogging Bareng


__ADS_3

"Makasi ya, Sa, traktiran nontonnya sama makannya." Ucapku sebelum turun dari mobil Aksa.


"Iya, Gema, sama-sama."


"Oke. Gue masuk dulu ya."


Gerakanku terhenti saat Aksa memanggil namaku. "Gema?"


"Kenapa, Sa?"


"Kamar Gema diatas, kan?" aku mengangguk. "Dimana?"


"Besok pagi jam 6 liat aja jendela kamar lo. Nanti bakal tau kamar gue dimana." Seruku sok penuh misteri.


"Loh? Emangnya kenapa?"


"Udah, ikutin aja kata gue. Nanti lo tau."


"Yaudah deh."


"Mau nanya apa lagi? Kalo nggak ada, gue keluar nih ya."


Aksa tertawa. "Nggak ada kok." Kok nggak ada sih?!


"Yakin nggak ada?" sekarang malah aku yang merasa kesal. Intonasi suaraku secara tidak langsung menyiratkan desakan. Ayo dong tanya apa kek gitu, Sa. Tanya dong aku udah punya pacar apa belom?


"Iya, nggak ada, Gema. Udah malem, Gema masuk kamar ya. Biar besok bangunnya nggak kesiangan. Gema aja nyuruh aku jam 6 liat ke jendela."


Aku nyengir. "Oh iya, ya, jam 6." Sahutku. "Gue bangunnya nggak pernah kesiangan kali. Jamnya aja tuh yang rusak tiba-tiba udah siang aja."


Aksa hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Yaudah, gue turun ya. Ngantuk juga sih. Bye, Sa!" aku membuka pintu mobil Aksa dan masuk kedalam area kosku. Sebelum menaiki tangga, masih sempat aku menoleh kearah Aksa yang tengah memarkirkan mobilnya. Tanpa sadar aku tersenyum. Nggak tau juga karena apa. Pokoknya tiap liat Aksa, bawaannya pengin senyum melulu deh.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Rekor pulang tercepat yang pernah kulakukan. Biasanya sih kalau nongkrong sama ketiga sahabatku jam segini baru cabut dari kosan. Bisa-bisa di ketawain mereka nih kalau tau aku pulang jam segini bareng Aksa. Mereka pasti nggak langsung percaya. Ah elah, Aksa. Kenapa sih dari pertama liat dia hati ini kaya udah nyangkut banget sama dia? Kaya udah berasa klop banget. Ngeliat cara dia ngomong dan memperlakukan cewek. Pasti Aksa nggak pernah bawa cewek sampai larut malam. Ih, gemes banget sih. Jadi makin cinta ya Gusti. Biasanya cowok-cowok yang suka mengajakku keluar malah sengaja menahanku dengan segala cara biar pulangnya makin larut. Entah mengajak makan lagi lah. Sok-sokan minta temenin cari kado buat Papanya atau Mamanya atau Kakaknya. Kenapa nggak satu keluarga aja dia beliin kado biar impas? Karena gabut di kos, aku sih iya-iya aja waktu itu. Padahal dalam hati sudah suntuk banget. Tapi, ya itu lagi. Di kos lebih suntuk. Aku tahu banget tuh cowok-cowok kaya gitu mah hobinya modus aja.


Untung sekarang ada Aksa. Bodo amat deh sama cowok-cowok tadi. Yang penting ada Aksa. Sambil membuka pintu kamar wajahku berseri-seri sambil tersenyum tidak jelas. Tanpa mengganti baju yang tengah kupakai aku langsung menjatuhkan tubuhku diatas kasur sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Sudah banyak chat grup dari ketiga sahabatku. Tapi, rasanya malas sekali saat ini untuk menceritakan hari ini bareng Aksa. Besok aja lah.


Tiba-tiba otakku teringat ucapan asalku yang menyuruh Aksa untuk melihat jendela besok jam 6 pagi. Aduh, nggak bakal sanggup deh kayaknya bangun jam segitu. Tanpa bisa kucegah, jari-jariku sudah mencari kontak Aksa dan beberapa saat kemudian aku sudah melakukan sambungan telpon dengannya. Semua itu baru kusadari saat suara Aksa terdengar disebrang sana. Membuatku seketika terlonjak dari tempat tidur.


"Gema? Ada apa?"


Sejenak aku terdiam. Merutuki diri sendiri kenapa begitu bodoh memencet nomer Aksa. "Sa, liat jendela sekarang." Entah sejak kapan tubuhku sudah berdiri tepat didepan jendela. Tirai di kamar Aksa tertutup sehingga aku tidak tahu apakah Aksa sudah berada di kamar atau belum.


"Nggak jadi jam 6 pagi?" Sahutnya membuatku menahan senyum. Inget aja sih, Sa.


"Nggak jadi. Terlalu ngantuk kayanya. Buruan, Sa."


Terdengar suara grasak-grusuk dari tempat Aksa berada. Tepat suara grasak-grusuk itu terdengar saat itu juga tirai kamar Aksa terbuka. Menampakkan tubuh Aksa yang masih terbalut baju yang ia kenakan tadi saat nonton bersamaku.


"Udah di—Gema?" Mata Aksa menatapku yang memang sudah stay didepan jendela. Bingung harus bereaksi apa, aku membuka bibirku dan menampilkan deretan gigi-gigiku. Berasa lagi senyum pepsodent. Tak lupa sebelah tanganku berdadah-dadah ria pada Aksa.


"Hehehe..." Kalimat pertama yang keluar dari mulutku.


"Gema kok nggak bilang dari awal kalo kamar kita bersebrangan?"


"Lo nggak nanya sih, Sa."


Masing-masing ponsel kami masih menempel pada telinga demi mendengar suara masing-masing dari kami berdua. Kalau harus manual tanpa adanya ponsel. Bisa-bisa seluruh isi kosku bakal marah-marah karena mendengar suara orang teriak-teriak malam-malam begini. Dikira nanti ada maling dan bakal menghebohkan satu kos.


"Gema nggak tidur?"


Aku menggeleng. Aksa pasti melihat gelenganku meski samar. "Belom ngantuk, Sa. Lo?"


"Ini baru masuk kamar pas Gema telpon. Nggak tau deh udah ngantuk apa belom."


"Dari suara lo sih nggak ngantuk. Dari muka lo.. Nggak terlalu jelas." Aku tertawa kecil.

__ADS_1


"Nanti kalo nggak tidur-tidur Gema bakal kesiangan besok."


"Santai. Gue tiap hari libur. Cuma ada bimbingan doang kalo gue pengen." Sahutku. "Seru kali ya kalo kita ngobrol kaya gini pake yang aqua gelas dipakein benang itu loh."


"Oh iya, ya, seru itu. Sayangnya jarak kamar kita nggak sedeket itu."


"Iya, coba ya, Sa, kalo deket. Sayang banget deh!"


Bisa kudengar hembusan napas Aksa yang menahan senyum. "Besok aku nggak ada kuliah pagi. Mau jogging bareng?"


"Hah? Jogging?"


"Iya, jogging. Aku lumayan biasa kalo nggak ada kelas pagi jogging." Aduh, mana pernah sih gue jogging? Jangankan joggingnya, buat bangunnya aja susahnya kaya lagi nunggu lahiran anak. Belum lagi napasku yang lemah banget kalau urusan seperti itu. Bisa-bisa malu nih depan Aksa, belum satu puteran napasku sudah seperti habis lari marathon.


Ah, bodo amat deh. Kapan lagi sih diajakin Aksa jogging?


"Jam berapa, Sa?"


"Jam setengah 6 yuk."


"Buset..." Ups, keceplosan. Tanganku refleks menutup mulutku sendiri. "Bangunin, Sa. Takut nggak bangun nih."


"Iya, nanti aku telpon. Gema juga pasang alarm ya."


"Sip deh."


"Oke, kalo gitu. Gema siap-siap tidur gih."


"Yaudah, lo juga ya, Sa."


"Oke, Gema."


"Oke, Aksa."


RR. Gema A. Putri: misi hari ini selesai. Aksa jomblo. Dan besok gue ada misi lagi


RR. Gema A. Putri: (baca: jogging bareng Aksa) uhuy


Tak menunggu balasan dari ketiga sahabatku aku langsung men-setting ponselku ke airplane mode. Kebiasaanku sebelum tidur. Tapi, seketika aku ingat, besok kan Aksa mau menelpon buat membangunkanku. Jadi, kusetting ulang tanpa airplane mode. Hanya saja paket data kumatikan agar baterainya tidak habis esok hari. Tak lupa juga memasang alarm seperti yang diminta Aksa.


Harus tidur sekarang kayanya walaupun belum ngantuk. Biar cepet besok. Terus ketemu Aksa lagi. Terus jogging bareng Aksa. Nggak sabar!


--


Setelah memasang banyak alarm. Akhirnya alarm kelima aku baru bisa bangun meski kesadaranku masih setengah-setengah. Kesadaranku pulih sepenuhnya ketika Aksa menelpon. Dia menelpon tepat jam 5 pagi. Dengan usaha keras, aku pura-pura membentuk suaraku agar tidak terlihat seperti orang yang baru bangun tidur banget. Tapi, nyatanya, belum berhasil.


"Gema baru bangun ya?" Suara Aksa terdengar telinga.


Aku jelas mengelak. "Nggak. Ini udah bangun sebelum lo nelpon. Tapi, ya, gitu. Kesadaran gue masih nyangkut di awang-awang."


"Yaudah, siap-siap ya. Nanti jam setengah 6 pas aku ke depan kos Gema."


"Siap, bos!"


Mendengar suara Aksa. Kantukku mendadak sirna. Emang ya, efek Aksa pada tubuhku tuh begitu besar kayanya. Aku bangun dari tempat tidur dan membasuh muka di kamar mandi. Kemudian gosok gigi walaupun tadi malam sudah. Sebenarnya ingin mandi biar wangi dan ketemu Aksa nanti benar-benar fresh. Tapi, males banget rasanya. Alhasil setelah membasuh muka, aku hanya menyemprotkan parfum ke baju yang kukenakan untuk jogging.


Aku menyemprotkan parfum ke seluruh spot tubuhku. Sampai aku terbatuk-batuk sendiri. Gila sih, ini mau jogging aja bisa abis satu parfum kayanya. Tapi, peduli amat. Yang penting Aksa nggak nyium bau iler gue. Hahaha.


Seperti biasa, tidak mau Aksa menunggu. Aku sudah turun ke bawah sebelum jam setengah 6. Ketika turun, aku melihat Aksa yang sedang membuka pagar. Melihat itu senyum cerahku muncul. Dalam hati bergumam, hari yang cerah harus dimulai dengan yang segar-segar, Aksa maksudnya.


"Gema kebiasaan. Belum jam setengah 6 udah dibawah." Ujar Aksa.


"Lo juga, Sa. Belom jam setengah 6 udah mau ke depan kos gue aja."


Aksa menggaruk kepalanya sambil terkekeh pelan. "Iya juga ya?"

__ADS_1


"Muter kemana nih joggingnya?"


"Keliling aja. Gema udah sering jogging?"


Mau jawab nggak pernah kok kesannya nggak enak banget. Mau jawab pernah tapi jarang juga. Jarang banget malah. Terakhir waktu masih sekolah kali ya. Itu juga karena pelajaran olahraga tiap mulai harus jogging muterin satu sekolah. Dan aku juga sering absen buat ikut jogging. Jadi, aku sengaja menunggu di mobil dan dari rumah sudah lengkap mengenakan seragam olahraga. Ketika anak-anak sudah selesai jogging, aku ikut membaur sampai ke lapangan. Trik agar terlihat ikut jogging padahal tidak sama sekali. Untungnya guru olahragaku waktu itu tidak terlalu memerhatikan.


"Jarang. Banget." Aku menjawab jujur.


"Yaudah. Kalo gitu mulai pelan-pelan aja ya."


"Ya, kalo kenceng mah lari namanya, Sa."


Meskipun sambil tertawa, Aksa mengangguk setuju. "Iya, iya, yaudah yuk mulai."


"Abis jogging sarapan bubur ya, Sa."


"Belom mulai udah mikirin sarapan aja."


"Kepikiran tiba-tiba nih."


"Nanti malah laper kalo terus kepikiran. Udah, jogging dulu ya? Nanti abis itu baru kita makan."


"Tapi, kalo ditengah-tengah ada tukang bubur. Berenti makan dulu ya? Takut gak kuat nih. Kan, jogging juga butuh energi. Kalo nggak energi tetep jogging nanti yang ada lemes dong?"


Aksa tak kuasa lagi menahan senyum di wajahnya. Kepalanya menggeleng-geleng geli mendengar kalimatku.


"Iya, Gema. Nanti kalo ada tukang bubur, kita mampir."


"Bener ya?"


"Iya."


"Oke."


"Bisa dimulai?" aku mengangguk. "Yuk."


Sialnya, tidak ada tukang bubur yang terlihat. Yang ada hanya bakso, siomay, apa sajalah yang jelas bukan bubur. Rasanya ingin marah-marah. Napasku sudah naik turun. Beberapa kali aku harus menghentikan langkah dan membuat Aksa mengikuti gerakanku untuk berhenti dan harus menoleh ke belakang untuk memeriksa keadaanku. Dari wajahnya sih, sepertinya Aksa santai aja. Dia malah kelihatan tidak capek sama sekali. Wajahnya seger-seger aja tuh. Napasnya juga normal-normal aja. Pasti dia beneran sering olahraga nih. Yahelah, kayanya aku harus membiasakan diri untuk olahraga juga. Kalau keadaanku tidak seperti ini, pasti seru banget jogging sambil ngobrol-ngobrol bareng Aksa. Tapi, keadaan sekarang membuatku terlihat... ah sudahlah.


"Gema capek? Kalo capek, istirahat dulu aja." Aku masih mengatur napas dan tidak menjawab ucapan Aksa. "Tapi, nggak ada tukang bubur kayanya."


Kalau ini cowok bukan Aksa. Pasti sudah kusuruh dia jogging sendirian dan aku akan meminta untuk menunggu di gerobak-gerobak makanan saja. Tapi, masalahnya ini Aksa! Secapek apapun, selemah apapun, selaper apapun, segala haling rintang harus kujalani. Apapun alasannya, pokoknya Aksa harus tetap berada di samping. Terdengar egois. Tapi, bodo amat.


"Sa, makan siomay dulu deh. Abis itu lanjut lagi." akhirnya aku mengalah pada keadaan.


"Nggak jadi bubur?"


Aku menggeleng. "Keburu sekarat nungguin tukang bubur dateng. Naik hajinya lama banget sih lagian."


"Ha ha, sinetron kali, Gema. Ada-ada aja."


"Siomay ya, Sa?"


"Iya. Gema mau siomay yang mana?"


"Yang abangnya mirip lo, Sa, kalo ada. Biar betah makannya." Ceplosku. "Nggak, bercanda. Maksud gue—yang mana aja deh terserah. Yuk, laper banget nih." Aku hendak berjalan kearah salah satu gerobak yang berjajar ketika suara Aksa menghentikan langkahku.


"Gema."


Aku menoleh. "Napa, Sa?"


"Gema suka lucu kalo bercanda."


 


 

__ADS_1


__ADS_2