
RR. Gema A. Putri: gue udh naik haji 2x nih nungguin lo brdua :)
Kanasya A. Nameera: heh sabar macet
Keyna Wilona Geraldi: pgn ikut!
RR. Gema A. Putri: jamuran lo di medan
Viola Siesyadipta: EH NAJIS GUE NYESEL AH NAIK UBER
Kanasya A. Nameera: knp
RR. Gema A. Putri: npa
Viola Siesyadipta: abang gojek disamping mobil uber gue ganteng yassalam
Viola Siesyadipta: tau gt gue naik gojek aja elah ksl
RR. Gema A. Putri: y emg kl lo pk gojek abang2nya bakal ganteng ape
Viola Siesyadipta: eh lo ngetik pake esia hidayah ya singkat2 amat
Kanasya A. Nameera: ngakak
Kanasya A. Nameera: dah ah mau nyetir tungguin w ya monyet cantikku
Kanasya A. Nameera: jgn lupa oleh2 key awas!
RR. Gema A. Putri: CEPETAN
Viola Siesyadipta: didepan monyet cantikku
Keyna Wilona Geraldi: VIDEO CALL JGN LUPA
Keyna Wilona Geraldi: mau liat aksa
RR. Gema A. Putri: dasar tante-tante girang, vi masuk aje elah malah selfie lu diluar
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Viola langsung menyerobot masuk kedalam kamar. Berasa kos milik dia sendiri. Napasnya terlihat naik turun sehabis naik tangga. Dia tidak langsung menyapaku melainkan berlari kearah jendela kamar.
"Heh lo ngapain sih?"
Viola tidak langsung menjawab. Matanya menilik keluar jendela. Mencari sesuatu. Melihat gerak-gerik anehnya, akupun penasaran dan mendekat kearah Viola.
"Nyari apaan sih lo?"
"Ada cowok ganteng sumpah tadi gue liat!"
"Dimana?"
"Didepan."
"Mana? Gak ada."
"Ada, tadi! Aduh, gila ganteng banget parah. Meleleh gue. Mana ya? Kok ilang sih tiba-tiba. Padahal tadi waktu selfie nggak sengaja ketangkep kamera hp gue. Tapi, saking terpesonanya gue sampe gak sanggup buat klik foto gue."
"Eh, gila lu lebay banget. Jangan-jangan yang lo liat setan lagi. Mau godain lo, kirain cewek cakep. Taunya begini." Aku tertawa.
Viola mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal. Kemudian ia beralih duduk diatas kasur. Lelah mencari cowok ganteng yang dia maksud. Selagi aku membicarakan hal lain dan sejenak melupakan cowok ganteng yang dilihat Viola, tiba-tiba ponselku bergetar. Telpon dari Kanasya.
"Eh, gue didepan. Parkiran kos lo penuh. Gue parkir mana nih?"
Buru-buru aku mengintip dari jendela. Benar saja, parkiran kosku memang penuh. "Tadi gak penuh sumpah."
"Ya, kan tadi! Terus gue parkir luar nih? Kalo ilang gimana? Tanggung jawab ya!"
"Ada CCTV elah tenang aja. Eh, bentar, gue turun deh."
"Daritadi kali harusnya turun!"
Aku nyengir. "Sebentar ya monyet cantikku." Viola juga ikut turun ke bawah untuk menghampiri Kanasya.
__ADS_1
"Gue gak tau nih mobil siapa. Lo parkir diluar dulu deh. Nanti gue bilang ke Pak Mukin kalo kosong udah di tep sama gue." Kanasya mengangguk setuju. Detik selanjutnya, Kanasya memarkirkan mobilnya diluar tepat didepan pagar.
"Eh, ya gak di depan pager juga kali, Sya!"
"Sengaja buat ngehalangin mobil yang keluar. Biar nanti gue langsung tau siapa yang mau keluar terus gue tempatin tuh parkiran."
"Ee... Pinter! Diajarin siapa sih? Mamanya ya? Atau Papanya?" sahut Viola diiringi dengan cekikikan khasnya. Aku melihat kearah kos sebrang, kosnya Aksa. Mataku berbinar ketika kulihat ada mobilnya. Jangan-jangan dia di dalam! Mataku masih memandang kearah kos Aksa sementara Kanasya sudah turun dari mobil dan menghampiri aku dan Viola.
"ITU COWOK YANG TADI!" Mendengar teriakan Viola serta tangannya yang mengacung untuk menunjuk-nunjuk, sontak aku terkejut dan menoleh kearahnya. "Itu cowok ganteng yang tadi!" sadar jika suaranya diatas batas normal, Viola menurunkan volumenya sedikit.
"Cowok apaan?" tanya Kanasya. Matanya mengikuti arah pandangan Viola.
Dan dengan polosnya akupun mengikuti arah pandangan kedua sahabatku. Begitu sadar situasinya, mataku membulat, mulutku terbuka lebar. "******.... Itu Aksa!"
"DEMI APA????" Viola dan Kanasya refleks memandang kearahku. Membuat tatapanku semakin tajam kearah mereka. Mengisyaratkan untuk menurunkan volume suaranya.
"Kecilin, woi! Malu kalo didenger orangnya!" buru-buru aku memalingkan wajahku untuk menatap Aksa yang tiba-tiba keluar dari dalam kosnya. Memastikan ia tidak mendengar percakapan kami semua.
Ketika itu mataku bertemu dengannya. Karena terlalu grogi, aku nyengir kearahnya yang begitu kusadari langsung kutempeleng kepalaku sendiri. Aksa tersenyum dengan manisnya kearahku. Tuhan, aku tidak mau meleleh kaya Squidward Tentacles!
"Haiiiii, Aksaaaa!" jantungku berdegup kencang. Rasanya seperti terkena serangan jantung mendengar kedua sahabatku menyapa Aksa. Dasar gak tau malu! Kenapa mereka bisa-bisanya nyapa Aksa, sih? Pakai manggil namanya segala pula! Astaga, mau ditaruh dimana ini muka kalau ketahuan telah bergosip tentang dirinya.
Kuremas pergelangan tangan Kanasya yang memang berada disebelahku. "Lu ngomong apa ya Allah barusan. Jangan bikin malu gue kenapa!" Aku membuka bibirku kecil-kecil demi mengucapkan kalimat itu. Agar suaraku tidak terdengar keras.
"Halo temen-temennya Mbak Gema." Sapanya balik ramah.
WHAT?!?!????!! MBAK GEMA?????!!??
Yassalam, terserah Aksa aja deh manggil aku apa. Aku hanya bisa tabah dan tersenyum melewati cobaan berat ini. Yang penting Aksa seneng. Dan yang terpenting dari yang terpenting, Aksa tetap ganteng.
"Jangan dengerin mereka. Emang suka pada gila." Sahutku buru-buru. Kebetulan saat itu Pak Mukin lewat, karena sedang menahan malu, aku beralih pada Pak Mukin. "Pak Mukin, ini mobil temenku diluar. Ini nggak tau mobil siapa. Kalo nggak nginep dan dia mau keluar, panggil aku di kamar ya."
"Siap, Neng Gema!"
Aku kembali memandang Aksa dengan cengiran lagi. Kudorong-dorong lengan Kanasya sambil bisik-bisik. "Buruan balik ke kamar!"
"Kenapa sih buru-buru amat???" ini lagi anak gadis satu. Matados abis! Aku menatap tajam Viola.
"Mbak Gema, ini mobil temennya ya?" suara Aksa serasa mengalihkan duniaku. Dengan gerakan slow motion seperti di tv-tv, aku menolehkan kepalaku, menatapnya. Satu senyuman manis tersungging dibibirku.
"Parkir disini aja. Lagi pada pulang kayanya. Sepi. Kalo ditaruh luar takut ada apa-apa."
"BENERAN???" kulirik tajam Viola dan Kanasya yang macam kucing kegirangan dikasih tulang ikan. Dua anak itu memang asli tidak ada malu-malunya. Padahal aku belum mengatakan apa-apa, tapi Kanasya sudah lebih dulu masuk mobil dan menyalakan mesinnya. Viola sudah siap menjadi tukang parkir dadakan tepat didepan pagar kos Aksa.
Aku hanya bisa menghela napas melihat kelakuan mereka. Udah deh, nggak penting mukaku mau ditaruh mana lagi. Yang penting masih ada juga sudah bersyukur. Viola menjadi tukang parkir yang terabaikan. Nyatanya, seruan Aksa yang didengar oleh Kanasya.
"Udah lurus belom???" tanya Kanasya.
Aksa mengacungkan ibu jarinya keatas. "Beneran gak papa nih numpang?" aku saja yang tinggal di kos ini belum pernah numpang parkir di kos sebrang. Lah ini si tante girang dengan pedenya numpang!
"Udah gak papa. Takut amat lo. Ya gak, Sa?"
"Apa sih sok kenal banget lo, Vi."
"Ya emang gak kenal. Makanya kenalin! Jangan bisanya cerita di grup aja lo, Gem!" ingin kusumpal mulut Viola saat ini juga rasanya. Dasar ember bocor!
"Lupain aja, Sa. By the way, ini Viola sama Kanasya. Tante—sahabat-sahabat gue." Hampir aku keceplosan!
"Saya Aksa. Salam kenal ya, Mbak."
"Yaelah! Emang tampang gue udah tua banget apa dipanggil Mbak segala? Panggil Viola aja kali."
"Tau nih! Tapi, kalo buat Gema, panggil aja Mbak gak papa. Nenek sekalian. Udah bangkotan tuh nggak kelar-kelar kuliah rambutnya ubanan." Mendengar percakapan memojokkan antara Kanasya dan Viola aku hanya bisa tersenyum. Tenang, orang sabar kuburannya lapang!
Mata Aksa menyipit jika sedang tertawa. Sejenak aku melupakan rasa tertindasku dan berimajinasi ada di sebuah kebun bunga yang banyak kupu-kupunya.
"Titip mobil ya, Sa. Kalo ada maling, ikhlasin aja gak papa. Kanasya duitnya banyak bisa beli lagi katanya." Kataku.
"Mobil boleh dari bokap gilaaa! Belom mampu gue beli sendiri. Mampu sih, tapi kredit 5 taon." Kanasya ngakak.
"Sa, udah punya cew—"
__ADS_1
"Bodo amat, Vi. Gue kasih racun tuh si Empi. Biarin aja mati. Lo juga, Sya, gue nggak mau lagi ngasih kulit ayam KFC ke lo. Balik ke kamar SEKARANG!" Tidak menganggap serius omonganku. Kanasya dan Viola malah tertawa-tawa. Tapi, mereka menuruti perintahku untuk kembali ke kamar. Sepeninggal mereka aku berbalik menatap Aksa.
"Eh, Sa, serius deh, mereka emang suka kepo. Nggak jelas. Tukang gossip. Maklumin aja ya. Rada somplak emang."
Kembali senyuman manis Aksa muncul. "Gak papa, asik kok, Mbak."
"Sumpah! Jangan panggil Mbak! Risih tau! Gema aja."
"Iya, Mb—Gema."
"Gue balik kamar ya, titip mobil Kanasya. Bye!"
Didalam kamar, Kanasya dan Viola sudah berganti pakaian menggunakan baju tidur masing-masing. Sambil makan cemilan yang dibawa Kanasya dari kantor, kita bertiga ber-skyping ria dengan Keyna yang masih berada di Medan.
"Beneran gak tuh Justin Bieber, Jamie Dornan sama Luke Evans kalah sama doi?" tanya Keyna.
"KALAH!" Sahutku langsung.
"Eh, apaan lu, Gem?! Kagak, Key! Masih seksian Jamie Dornan sih dikit."
"Yaelah, dikit doang."
"Vio kan setia sama calon suami. Ya gak, Vi?" satu alis Kanasya sengaja ia naik turunkan sembari menatap Viola.
"Yoi dong! Setia gue mah."
"Mana sih gue kepo mukanya! Lo semua tadi gak ada yang sempet foto apa?!"
"Boro-boro. Temen lo satu ini sibuk pencitraan. Biasanya juga blak-blakan tiba-tiba anteng aja depan si dedek brondong."
"Heh! Bukan pencitraan! Namanya jaga image." Aku membela diri.
"Yee... Sejak kapan lo hobi jaim?"
"Sejak ketemu Aksa."
"Aiihh... Mateee! Kepincut beneran nih anak!" Kanasya melemper keripik kentang yang sedang ia makan kearahku.
"Tapi, emang cute sih. Ganteng cute gitu, bener kata lo, Gem."
"Nikung Aksa gue tabrak lo, Vi!"
"Sereemm... Ih, Gema!" Viola tertawa diikuti Kanasya.
"Nggak ada nih pemandangan malem? Pagi doang aja, Gem?" tanya Keyna. Mendengar pertanyaan Keyna. Aku bersama Kanasya dan Viola saling memandang. Detik selanjutnya bokong kita bertiga sudah terangkat dari lantai. Tapi, Kanasya berjongkok kembali untuk mengambil laptop milikku yang sedang dipakai untuk skyping bareng Keyna.
"Thanks banget, Sya. Lo emang sahabat sejati gue." Seru Keyna pura-pura terharu.
"Cih!" secara bersamaanaku dan Viola saling membuang muka.
Kalau dilihat saat ini, kita bertiga juga Keyna walau berada jauh di Medan sudah seperti penguntit. Lebih tepatnya kita mirip seperti tante-tante girang yang sedang mengintip mangsanya yang ada di kamar.
Beberapa menit menunggu tidak ada kehadiran Aksa. Meski kamarnya masih terang, tidak ada Aksa disana. Walau ini memalukan. Tapi, aku juga sedikit kecewa karena nyatanya tidak ada Aksa disana.
"Eh, eh, eh, itu Aksa!" seru Kanasya. "Key, lo liat gak?!?"
"Duh, burem!!! Mana sih?!! Keliatan item-item rambutnya doang!!"
Viola mengambil alih laptop milikku dan menghadapkan laptop tersebut tepat didepan jendela. "Liat gak???"
"Oh iya, iya, liat! Lumayan jelas nih!"
Didalam kamarnya, Aksa terlihat sedang menelpon seseorang. Kulihat ia berjalan kearah lemari, membukanya kemudian mengambil satu kaos putih polos. Seperti sudah terkomando, aku dan ketiga sahabatku tidak ada yang bicara sama sekali. Sebentar lagi... sebentar lagi... aku bahkan sampai menahan napas. Menunggu detik-detik selanjutnya. Lebih tepatnya menunggu kegiatan Aksa selanjutnya. Masih dengan ponsel yang menempel pada telinganya, ia berjalan ke nakas samping tempat tidurnya. Menekan saklar sehingga lampu disamping tempat tidurnya menyala. Aku belum menyadari apa yang selanjutnya akan terjadi ketika kulihat kamarnya menjadi gelap. Menyisakan lampu tidur yang tadi ia nyalakan. Sosok Aksa hilang bersama dengan lampu utama yang padam.
"SIALAAAANNN!"
"UDAH GUE TUNGGU-TUNGGU JUGA!!!"
__ADS_1