The Boy Next Window

The Boy Next Window
Thank God, Dia Jomblo!


__ADS_3

Padahal masih terbilang pagi. Tapi, aku sudah sibuk memilih-milih baju apa yang akan kupakai nanti saat nonton bareng Aksa. Aku tidak tahu selera pakaian seorang perempuan menurut definisi perfect versi Aksa. Rasanya lebih pusing memikirkan ini daripada mikirin skripsi. Hal itu berimbas pada kasurku yang sudah seperti kapal pecah. Dimana-mana ada baju yang berserakan.


Aku mematut diriku didepan kaca. "Ini terlalu terbuka nggak ya menurut Aksa?" Baru beberapa saat kupegang salah satu baju untuk kupandang sudah kulempar lagi keatas kasur dan mengambil baju yang lainnya.


"Ah elah! Ini dikata gue mau kondangan apa pake baju gini?!" Saking sibuknya memilih baju, aku sampai tidak sadar kalau ponselku sudah bergetar sejak tadi. Sambil berdecak cukup keras aku berjalan ke nakas samping tempat tidur. Sebelah tanganku langsung menyambar ponsel yang tergeletak tak berdaya diatas sana. Sebelah lagi masih sibuk memegang baju.


Ternyata Kanasya yang menelpon.


"Ape?" Sapaku ketus.


"Eh, bakwan basi. Lagi menstruasi lo? Ketus amat? Itu apaan maksudnya di grup?!"


"Gak ada maksud. Hanya ingin membagi kebahagiaan."


"Lo diajak nonton Aksa, brengskiii! Itu gimana cerita?"


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil meringis. "Sebenernya..., gue duluan sih yang ngajak."


"*****! Akhirnya ya sifat nggak tau malu lo muncul juga. Emang bener ya kata pepatah, bangkai mau diumpetin segimana juga baunya bakal kecium sama orang-orang!"


"Berisik lo ah. Gue lagi stress nih."


"Baru tau gue orang bahagia malah jadi stress."


"Ada, gue."


"Stress napa?"


Kemudian aku menceritakan soal kebingunganku untuk dipakai nonton bareng Aksa. "Gitu aja stress segala. Lebay lo." Tanggap Kanasya.


Tanggapan Kanasya menuai rasa sebal pada diriku. "Ah males cerita sama lo, goodbye."


"Heh!! Tunggu dulu!!! Ibu Peri belom selesai ngomong," aku hanya bergumam tidak jelas. "Nih ya, biar dikata gue baru sekali ketemu si Aksa. Gue tau banget tuh tipe-tipe cowok kaya dia."


"Gimana?"


"Ibarat kata sekarang nih ya posisinya. Si Aksa tuh kaya cowok-cowok tanpa dosa yang lugu-lugu gemes gimana gitu. Nah, lo tuh kaya tante-tante girang yang suka jeblosin anak orang ke lumpur penuh dosa."


"Kalo lo mau ngehina lagi, gue nggak mau denger."


"Baper amat nih anak kalo lagi jatuh cinta. Gue belom selesai. Jadi, intinya lo harus nyesuaiin baju lo sama Aksa lah. Lo jangan bergaya kaya tante-tante rempong apalagi girang. Pake baju yang biasa aja. Santai kaya di pantai."


"Ya, masalahnya baju santai kaya di pantai tuh kaya gimana?!"


"Pantes lo belom lulus-lulus. Susah banget otak lo nangkep nasehat orang."


"Emang lo lagi nasehatin gue?"


"Iya! Udah ya gue mau kerja lagi. Panas banget suasaa kantor hari ini. Bos gue moodnya lagi jelek banget. Bikin mood gue jelek juga. Jadi ikut-ikutan males gue. Yaudah ya. Inget, baju santai kaya di pantai. Bye!"


Sebelum aku berbicara apa-apa. Kanasya lebih dulu mematikan sambungan telpon. Membuatku tak kuasa menahan bola mata yang ingin segera keluar dari tempatnya. Aku menatap layar ponsel dengan mulut terbuka.


"Ngerjain gue lo ya, Sya??!!"


"Baju santai kaya di pantai????"


Aku mendengus kesal dan malah menjatuhkan tubuh keatas kasur. Sampai aku tidak sadar telah tertidur. Bangun-bangun aku langsung panik dan melihat kearah jam. Sudah jam 3. Gila kali ya? Ini tidur apa koma? Kok lama banget? Buru-buru kucek ponsel yang berada disampingku.


Napasku lega. Aksa belum menghubungi. Tandanya ia belum pulang kampus. Baru aku akan menaruh ponsel dan berjalan ke kamar mandi. Ponsel itu berbunyi. Mataku berbinar melihat nama yang tercantum didalam layar. Aksa mailop.


"Gema, saya udah selesai. Ini lagi jalan pulang." Uhhh suara Aksa di telpon. Nggak nyangka dia calon brondong gue.


Tanpa sadar aku mengangguk cepat. "Oh, iya, Sa. Oke."


"Nanti saya langsung aja ya buat jemput Gema. Udah siap?"


"Tinggal ganti baju kok." Yeee ngibul.


"Oke, Gema."


"Oke, Aksa."


Secepat kilat aku melesat menuju kamar mandi dan langsung membersihkan diri. Entah berapa lama hingga akhirnya aku sudah rapih. Sepertinya ini rekor tercepat untukku siap-siap jika mau pergi. Akhirnya aku memutuskan menggunakan outfit sehari-hari untuk ke kampus. Tidak ada yang aneh-aneh. Santai kaya di pantai. Yaudahlah ya. Ini juga asal milih. Takut kalau kelamaan nanti Aksa keburu dateng. Nanti dia nunggu lama lagi. Eh, taunya Aksa nggak suka cewek ngaret. Kan, bahaya. Harapanku untuk bisa jadian sama Aksa bisa-bisa pupus hanya gara-gara kengaretanku.

__ADS_1


Aku melongokkan kepalaku ke jendela kamar. Belum ada mobil Aksa. Aku mematut diri sekali lagi ke depan cermin.


"Kece badai gini mana mungkin sih Aksa nggak kepincut sama gue?" Ujarku pada diri sendiri dengan tingkat kepedean akut.


Karena jendela kamarku terbuka. Deru suara mobil dari jalanan depan terdengar sampai ke telingaku. Kepalaku menoleh dan kakiku bergerak mendekati jendela. Hampir saja kepalaku terpentok sanggahan jendela ketika mataku melihat mobil Aksa sudah berada di bawah. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku menyambar tas selempang kecil dan langsung bergerak kebawah dengan menuruni anak tangga sekaligus dua.


"Aksa!" Tepat sekali aku berada di halaman kos saat Aksa keluar dari mobil.


Mata Aksa memandangku sekilas dan bibirnya terkulum membentuk senyuman cute seperti biasa.


"Padahal saya belom ngasih tau kalo udah di bawah."


"Kan kedengeran dari kamar gue suara mobil lo."


"Oh gitu. Udah siap berangkat?"


"Ya, kalo nggak siap gue nggak bakal ada disini, kan?"


Tawanya membuat hatiku seketika meleleh. "Yaudah, yuk."


"Yuk."


--


Seumur-umur kalau sedang nonton di bioskop mataku selalu fokus menatap layar. Bahkan aku selalu malas menjawab pertanyaan teman sebelahku seputar filmnya. Kayak, yaudah tonton dulu nanyanya entar aja. Pokoknya aku termasuk dalam daftar orang-orang paling nyinyir kalau ada yang berisik didalam bioskop. Apalagi yang suka main ponsel. Please deh, cahaya hp lo tu ganggu banget tau gak.


Tapi, kali ini, aku merasa kehilangan fokus. Mendadak aku tidak bisa konsentrasi dan bolak-balik menggerakkan tubuh untuk mencari posisi nyaman. Bagaimana bisa fokus kalau disebelahku itu Aksa! Dalam ketidaknyamanan itu, aku melirik Aksa. Matanya benar-benar memandang lurus kedepan. Seolah tidak terganggu dengan tiga orang cewek-cewek di sebelahnya yang sibuk ketawa-ketawa kecil dan sesekali bisik-bisik sambil merekam part-part seru dari ponselnya.


Biasanya aku akan sebal melihat pemandangan itu. Tapi, saat ini, peduli pun tidak. Fokusku saat ini hanya pada Aksa. Melihat peluang yang ada, aku tetap memerhatikan Aksa. Sampai beberapa menit kedepan, ia tidak menyadari kalau aku tengah memerhatikannya.


Lempeng amat ni orang, batinku.


"Kenapa, Gem?" Tiba-tiba Aksa menoleh untuk melihatku.


Matiiii!


Rasanya seperti ketahuan sedang mencontek saat ujian. Salah tingkah aku dibuatnya. Mulutku sudah terbuka ingin menjawab.


"Itu.. Hp gue mana ya?" Aku pura-pura melongokkan kepala kebawah.


"Masa sih?"


Aksa mengangguk. "Coba cek tas kamu."


Aku membuka tasku dan mendapati ponselku didalam. Ya, jelas ada. Wong aku Cuma asal ceplos waktu bilang tadi.


"Iya deng ditas."


"Lain kali hati-hati ya."


Astaga. Padahal Cuma sebatas kalimat itu tapi rasanya hati ini deg deg serr... gimana... gitu. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta banget?


"Seru ya tadi filmnya." Komentar Aksa.


"Iya, seru." Jawabku bohong. Padahal inti ceritanya saja aku tidak tahu sama sekali. Nanti deh liat di review atau nonton lagi. Siapa tau tiba-tiba Aksa mau bahas lagi ini film.


"Laper nggak? Makan yuk."


"Makan apa?" Tanyaku.


"Gema maunya apa?"


"Pizza aja yuk, mau nggak? Lagi pengin dari kemarin."


"Pizza kalo gitu."


Aku dan Aksa memasuki restoran pizza. Meski sudah memesan pizza berukuran besar. Aku masih memesan lasagna dan salad.


"Gema makannya banyak juga ya." Aksa tak kuasa menahan senyumnya ketika aku mengembalikan buku menu pada pelayan.


Aku menaruh kedua tanganku diatas meja. "Soalnya nggak enak makan ati mulu. Jadi, butuh asupan makan yang layak dan banyak."


Aksa tertawa. "Makan ati kenapa?"

__ADS_1


"Biasa. Dosen pembimbing skripsi gue. Susah banget buat acc. Mana susah ditemuin. Bikin makin males aja buat nyekripsi."


"Jangan males dong. Nanti lama lulusnya."


"Gue lulusnya nanti deh, nungguin lo lulus." Candaku asal.


"Kok nungguin saya?"


"Ya, nggak papa. Emang kenapa?"


"Di target makanya, Gema."


"Target sih udah. Cuma sering lupa. Yah.. harap maklum aja deh. Soalnya nggak ada yang ngingetin sih." Ada makna terselubung dalam kalimatku.


Kembali Aksa tertawa. Matanya menyipit karena hal itu. Hal yang paling kusuka. Udah sering bilang ya kayanya? Ya, nggak apa-apa. Buat ngingetin aja.


"Yaudah, nanti saya ingetin tiap ketemu."


"Yah, ketemu doang nih?"


"Maunya gimana? Saya teror Gema gitu buat ngingetin?"


"Boleh dicoba," jawabku. "Eh, Sa." Panggilku.


"Iya?"


"Lo jangan formal-formal banget kenapa?"


"Formal gimana?"


"Jangan ngomong saya-saya an. Gue jadi berasa ngobrol sama dosen gue."


"Udah kebiasaan gini kalo ngomong sama yang lebih tua."


WTF.


"Sa! Gue nggak tua-tua amat kali!"


"Maaf, nggak maksud. Tapi, beneran. Saya udah kebiasa gini."


"Ganti kebiasaannya." Timpalku. "Kita kan tetangga. Gue bukan kakak tingkat lo di kampus juga walopun pada hakikatnya gue emang lebih tua. Tapi, ya gitu, beda deh. Anggep aja gue temen lo." Menuju pacar, amin.


"Dicoba deh."


"Orang tua lo dimana, Sa?"


"Di Surabaya."


"Tanggal merah tuh hari Jumat. Nggak mau pulang?"


Aksa menggeleng. "Nggak deh. Banyak tugas. Gema mau pulang?"


"Nggak."


"Kenapa?"


"Males."


"Kok males? Saya—maksudnya—aku, kalo nggak banyak tugas pulang. Mama udah nyuruh soalnya."


"Ya.. males. Mending di kamar kos. Tidur." Sebelum Aksa menjawab. Satu pertanyaan muncul dibenakku yang langsung kueksekusi saat itu juga. "Sa, ini gue nonton sama lo ada yang marah gak? Gue lagi males cari musuh nih."


Ini nggak malu-maluin kaya kemarin-kemarin. Padahal maksud sebenarnya adalah aku ingin tahu dia udah punya pacar atau belom tapi kutanyakan dengan sangat halus dan cool. Menurutu sih, nggak tau kalo Mas Anang.


Please, jawab nggak, Sa. Kalau sampai iya. Ya, nggak apa-apa. Sebelum janur kuning melambai. Aku masih punya kesempatan. Kalau kata Vio malah sebelum bendera kuning berkibar, semua cowok bisa dipepet. Emang temanku yang satu itu sangat unik karena memiliki otak yang agak gesrek.


"Wah iya ya? Aku lupa ngabarin ke—" mataku sudah membelalak lebar mendengar jawaban Aksa. Sebelum Aksa tersenyum riang dan menambahkan kalimatnya. "Nggak kok. Nggak ada yang marah."


Aku bisa bernapas lega.


Alhamdulillah, Aksa jomblo. Nggak usah mikirin janur kuning apalagi bendera kuning deh sekarang. Bisa pepet kapan aja. Yes!


 

__ADS_1


 


__ADS_2