
"Brengsek. Terus apa gunanya gue minta tolong sama lo kalo ujung-ujungnya lo yang jadi pacar gue?" Tukasku. "Nggak. Gue nggak mau." Kilahku cepat.
"Oke. Nggak usah muluk-muluk. Nggak usah pacaran yang serius. Main-main juga nggak apa-apa. Dan nggak perlu lama-lama."
"Keuntungannya buat lo itu apa sih, Bi? Kenapa lo kaya ngebet banget? Kemarin, lomaksa buat ngajak gue nikah. Sekarang, lo pengin gue jadi pacar lo. Kalimat lo kontradiktif. Nggak ada yang bisa gue pegang. Selalu beda."
"Kata siapa? Tujuan gue tetep sama dari awal. Naklukin lo. Nggak pernah ada yang beda kalo soal itu."
"Gue udah bilang dari awal. Gue nggak suka sama lo. Dan jangan berharap kalo gue bakalan suka lagi sama lo. Masih nggak ngerti juga?"
Abi menggelengkan kepalanya sambil berdecak pelan. "Okelah. Lo nggak bakal suka sama gue lagi. Itu tentang lo. Sekarang tentang gue. Ck, dasar cewek. Nggak ngerti banget ya sama keinginan para cowok."
"Gue emang nggak ngerti. Maksudnya sekarang tentang gue itu apa? Lo ngelakuin ini tuh tujuannya buat apa sih, Bi? Tiba-tiba lo dateng lagi. Dan udah sangat jelas dan terang-terangan pula gue bilang kalo gue nggak suka sama lo. Lagian, gue juga udah mau jujur soal perasaan gue ke Aksa. Apalagi yang mau lo cari? Sama sekali nggak ada untungnya, kan?"
"Nope. Setiap keinginan gue pasti ada maksud tertentu. Nggak mungkin gue ngelakuin karena nggak ada maksud. Keuntungannya terletak buat kepuasan gue lah. Ada rasa tersendiri ketika kita—kaum cowok—ngedapetin apa yang kita mau." Ucapanya sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Abi sama sekali tidak merespon raut wajah tersinggungku. Dasar brengsek!
"Dulu lo dateng tiba-tiba di sekolah yang sama kaya gue. Dengan polosnya, lo berhasil narik perhatian gue. Gue akuin, lo emang cukup susah buat ditaklukin dari cewek-cewek yang pernah gue pacarin sebelumnya. Sampai akhirnya lo nerima gue jadi pacar lo. Emang sih gue ******, nggak ngerti situasi. Gue terlalu terlarut eforia sama kesenangan gue karena berhasil naklukin lo. Tapi, gue malah sibuk cium cewek lain padahal status kita udah pacaran. Dan yang gue nggak nyangka. Lo bener-bener mutusin gue tanpa bisa gue kasih alasan apapun lagi."
"Brengsek." Desisku.
"Jangan marah dulu sama gue," Abi berusaha menenangkan dengan kekalemannya yang menurutku sekarang benar-benar memuakkan. "Jujur, awalnya gue emang mau main-main sama lo. Tapi, kenyataannya, setelah kenal lebih deket sama lo. Main-main aja nggak cukup sama lo. Gue mau lebih dari sekedar main-main. Dengan lo mutusin gue. Itu makin bikin gue sadar, kalo gue mau lo. Waktu lo ngejauh dari gue, kaya ada yang hilang dari hari-hari gue. Apalagi dengan gue tau setelah lulus SMA lo pindah ke Jakarta. Gue udah berusaha nyari lo. Tapi, lo kayak menghilang gitu aja."
Memang. Kepindahanku ke Jakarta tidak banyak yang tahu karena aku memutuskan kuliah di Jakarta itu spontan karena saat itu aku sudah merasa muak di kekang oleh Mama dan Eyang Uti. Paling-paling yang tahu hanya keluargaku saja soal kepindahanku itu. Teman-temanku waktu SMA juga baru tahu setelah beberapa bulan masuk kuliah. Mungkin, saat itu Abi sudah berhenti mencariku. Dasar ******, kenapa nggak nanya ke teman-temanku? Cowok memang selalu sama. Walaupun Abi pintar sekalipun kata Aksa. Kalau urusan cewek, otaknya akan selalu berada di ************.
Abi menarik napasnya pelan. Menjatuhkan topangan tangannya di bawah dagu. Menyilangkan keduanya diatas meja.
"Sampe sekarang, gue masih penasaran dan gue pengin buktiin. Apa bener perasaan gue yang dulu itu nyata?"
"Jadi, maksud lo, gue ini Cuma keinginan lo belaka? Gue Cuma dijadiin sebagai alasan lo buat ajang pembuktian atas perasaan lo ke gue waktu dulu? Waktu SMA? Please lah, itu udah lama. Udah basi kaya nasi aking yang didiemin sebulan."
Abi terdiam ditempatnya. Satu tangannya menopang dagunya. Sementara matanya memandang jauh kedepan. Terdengar hembusan napas dari Abi.
"Gue juga nggak ngerti kenapa gue harus repot-repot cari pembuktian. Gue udah nggak terlalu mikirin lo karena sibuk juga urusan kuliah sama bisnis. Mungkin, rasa itu terpancing lagi saat tiba-tiba nyokap lo masuk dalam kehidupan gue. Beliau udah cerita, kan, kalo nyokap gue itu adalah dosen favoritnya waktu kuliah?"
"Awalnya gue nggak tau lo anaknya. Sampe dia minta tolong gue buat jemput lo di bandara. Dia ngasih tau nama lo dan nunjukkin foto. Dari situ, rasa penasaran gue kembali muncul."
"Emang dari dulu nggak berubah. Brengsek tetep aja brengsek." Umpatan itu malah seperti menjadi penghargaan untuk Abi. Karena setelah aku mengatakan itu, dia malah tertawa nyaring.
"Jadi, gimana? Lo terima tawaran gue atau nggak?"
"Nggak. Gue nggak terima." Aku sudah bersiap berdiri meninggalkan kursi.
"Kalo kita pacaran, kita bisa tau reaksi Aksa gimana, kan? Kalo ada kecemburuan didalam dirinya. Berarti dia suka sama lo. Kalo nggak, say good bye deh sama Aksa. Gue siap gantiin posisi Aksa di hati lo."
"Duh, jangan kebanyakan mimpi deh lo."
"Mimpi nggak bayar, kan? Terserah gue dong mau mimpi setinggi apapun juga. Nggak ngerugiin lo ini. Karena ini mimpi gue. Suka-suka gue." Kalimatnya diiringi dengan kedua sudut bibirnya yang menukik keatas.
Melihat aku yang terdiam semakin membuka lebar rasa kepercayaan diri Abi. Abi berpikir pasti aku sedang dilanda kegelisahan. Sialnya, kenyataan memang benar. Ucapan Abi meresap dengan baik kedalam otakku. Mungkin, ucapannya ada benarnya juga. Kalau aku menerima tawaran Abi. Aku bisa melihat reaksi Aksa dan tahu perasaannya tanpa perlu repot aku bertanya.
"Simbiosis mutualisme. Win win solution. Lo tahu perasaan Aksa nantinya. Gue bakal dapet jawaban dari rasa penasaran gue. Gimana? Adil, kan?"
"Berapa lama?" Menyerah. Kalimat terakhir Abi benar-benar menghancurkan egoku. Dari awal seharusnya aku tidak usah mencari tahu soal Aksa dengan Abi. Akibatnya pasti akan seperti ini. Seperti sedang melakukan sebuah perjanjian dengan iblis.
"Yang gue mau, selamanya. Tapi, pasti lo nolak."
"Emang."
"Yaudah. Terserah lo. Lo sebutin berapa lama. Nanti gue bakal jawab setuju atau nggak."
"Seminggu."
"Nggak akan. Lo pikir jalan SMA dulu? Sama aja kaya nyebur ke kubangan masa lalu. Nggak. Nggak setuju."
"Ck, sebulan."
"Kecepetan. Aksa juga nggak bakal ngira kalo kita pacaran."
"Sialan, yaudah, sana lo yang tentuin. Bawel banget nggak setuju mulu."
"Gini aja. Kita akhirin kalo emang harus dipikirin."
Aku berpikir sejenak. "Oke. Kalo gue udah tau perasaan Aksa. Kita putus."
"Tunggu dulu. simbiosis mutualisme, inget? Terus tentang pembuktian soal perasaan gue ke lo gimana?"
__ADS_1
"Ya, resiko lo. Lagian, ribet banget buat nyari pembuktian."
Kini Abi yang berdecak. "Lo minta putus. Tapi, kalo kenyataan perasaan gue ke lo itu nyata?"
Bibirku kelu. Kehabisan kata-kata. Itu masalahnya sedari awal. Tapi, aku tidak pantang mundur.
"Udah jelas. Gue bakal nolak lo. Ujungnya sama aja, kita putus."
"Kan itu sekarang. Lo nggak tau nantinya gimana. Kalo perasaan lo berubah ke gue, gimana?"
Aku menggeleng cepat. "Bi, gue mungkin tipe yang nggak susah buat maafin seseorang."
"Nggak. Lo belom maafin gue." Sela Abi.
Ngeselin.
Aku memejamkan mata menahan gigiku yang bergelutuk menahan kesal. "Gue udah maafin lo. Kalo belom, mana mau gue terlibat percakapan ginian sama lo."
"Oh iya juga. Abisnya, lo masih jutek mulu sama gue."
"Makanya, jangan ngeselin."
"Oke, lanjut."
"Iya. Gue emang cukup gampang buat maafin seseorang. Tapi, gue bukan tipe orang yang mudah melupakan. Sampe sekarang gue masih inget gimana waktu itu lo kepergok ciuman sama Mita!"
"Udah, cukup. Jangan di lanjut. Jadi, gimana? Deal?"
"Tunggu."
Abi menggeram pelan. "Apalagi sih, Gem?"
Karena aku ingin menghindari sesuatu buruk yang akan terjadi selama aku pacaran dengan Abi. Sebuah ide terlintas dalam benakku. Meski aku tahu ini akan konyol. Tapi, kuanggap ini untuk jaga-jaga.
Kukeluarkan ponsel yang sedari tadi berada di saku celana. Jari-jariku sudah bergerilya diatas layar. Membuka aplikasi note. Sedetik kemudian aku sudah mengetikkan sebuah judul didalam note itu.
"Nih," aku memberikannya ponselku.
Abi mengerutkan keningnya. "Apaan nih?" Matanya membaca cepat tulisan didalam note tersebut. "Perjanjian buat hal-hal yang boleh dan nggak boleh dilakuin selama Gema dan Abi pacaran?"
Aku mengangkat kedua alisku. Senyum simpul diam-diam kutunjukkan. "Ya kayak lo baca aja judulnya aja gimana? Kita tulis 4 hal dari masing-masing yang boleh dan nggak boleh dilakuin selama kita pacaran. Jadi, jatah masing-masing dari kita Cuma 2 dari setiap hal. Lo tulis, lo tunjukkin gue. Kalo gue setuju, oke. Kalo gue nggak, ganti. Begitu sebaliknya."
"Buat apa sih emang?"
"Buat jaga-jaga siapa tau hal tidak diinginkan terjadi."
"Yah.. Ampuunn.. Kaya mau apa aja? Jadi, gue tulis nih?"
"Iya. Tulis sekarang, buruan. Aksa udah pulang nih ah nanti. Kalo dia tanya, bilang aja kita abis darimana gitu. Jangan bilang kita abis sarapan."
"Bawel." Aku mencibir. Mata Abi fokus menatap layar ponselnya. Sedetik kemudian jari-jarinya sudah mengetikkan sesuatu. Tidak sampai satu menit, ia sudah memberikan ponselku lagi kepadaku.
Cepet juga ngetik sama mikirnya.
Aku membaca poin-poin yang ditulis Abi didalam note.
YANG BOLEH:
1. Ciuman
2. Pegangan tangan dimanapun kapanpun kita jalan
3.
4.
YANG NGGAK BOLEH:
1. Lo nggak boleh nolak sama tulisan gue diatas
2. Lo nggak boleh marah setelah baca ini
3.
4.
__ADS_1
Kasar. Aku meletakkan ponsel itu diatas meja dan menatap sengit pada Abi yang sudah terkekeh menyebalkan.
"Apa-apaan sih?! Nggak setuju! Ganti sekarang juga!"
"Yah, masa diganti sih? Gue penginnya Cuma itu gimana dong?"
"Nggak mau tau. Ganti!" Meski tidak mau sebenarnya. Abi tetap nurut dan mengetikkan kembali perjanjiannya. Beberapa saat setelahnya dia kembali mengembalikan ponselku.
YANG BOLEH:
1. Pegangan tangan
2. Meluk
3.
4.
YANG NGGAK BOLEH:
1. Jutek, marah-marah, emosi, dkk kalo ketemu
2. Nggak boleh nolak lagi
3.
4.
Aku berdecak kesal. Pegangan tangan? Masih oke. Bisa kuatasi. Meluk? Males banget! Tanpa merespon apapun yang ditulisnya lagi. aku mengetikkan jari-jariku keatas layar. Ambil bagian dalam menulis perjanjian yang kuusulkan. Kalau dia bisa seenaknya, aku juga bisa!
Aku menyerahkan ponselku pada Abi. Awalnya, Abi mengerutkan keningku ketika membacanya. Bibirnya juga hendak terbuka hendak memprotes tapi kemudian terkatup lagi.
Matanya melirik menatapku. Kedua sudut bibirnya menukik keatas membentuk sebuah senyuman yang tidak dapat kupahami. "Posesif, hah?" Aku hanya memutar kedua bola mataku menanggapi kalimatnya. "Oke, nggak masalah." Kilahnya cepat sebelum memberikan ponselku lagi.
Aku membulatkan mataku sedikit terkejut dengan responnya yang tak kukira. Kukira aka nada pertikaian lagi karena masalah ini seperti tadi. Sepertinya, lancar-lancar saja. Oke, kalau itu maunya.
"Minjem hp lo."
"Mau ngapain?" Meski begitu, Abi tetap mengeluarkan ponselnya dan memberikannya padaku. Tidak mengatakan apapun lebih lanjut, aku membuka aplikasi camera pada ponselnya.
"Kita foto, buat bukti soal perjanjian ini. Anggep aja penggantinya materai sama tanda tangan." Imbuhku. "Ngadep kamera, Bi!" Klik. Abi baru menghadap kamera tapi aku sudah keburu menekan tombol.
Aku mengirim hasil jepretan tadi ke ponselku menggunakan airdrop. "Nah, selesai."
"Jadi, kita mulai pacaran sekarang?" Tanya Abi antusias.
"Ya, menurut lo aja." Aku menatap malas layar ponselku dan membaca ulang perjanjian yang kami buat.
Perjanjian buat hal-hal yang boleh dan nggak boleh dilakuin selama Gema dan Abi pacaran.
YANG BOLEH:
1. Pegangan tangan
2. Meluk
3. Nolak kapan aja kalo gue nggak mau ngelakuin hal diatas
4. Marah kalo emang gue harus marah
YANG NGGAK BOLEH:
1. Jutek, marah-marah, emosi, dkk kalo ketemu gue
2. Nggak boleh nolak lagi
3. Melakukan hal tidak senonoh
4. CIUMAN SAMA CEWEK LAIN
__ADS_1