The Boy Next Window

The Boy Next Window
Hari Yang Melelahkan... Untung Ada Kamu


__ADS_3

Hari ini rasanya kesal sekesalnya orang kesal. Aku sudah menunggu dosen pembimbing skripsiku dari jam 8 pagi. Saat ini sudah hampir zuhur dan dosen itu hilang tanpa kabar seakan ditelan bumi. Kalau bukan dosen sudah kuteror dengan ribuan telpon dan bom stiker di Line. Bila perlu kudatangi rumahnya, kutendang mobilnya di garasi, dan kutendang pintu rumahnya. Padahal hari ini aku sudah memaksa diriku untuk bangun pagi setelah baru bisa memejamkan mata usai subuh tadi. Semuanya terjadi karena tujuh huruf keramat a.k.a SKRIPSI. Sudah semester karatan seperti ini aku baru menyadari satu hal, 'Masuk kuliah itu susah. Tapi, lebih susah lagi buat keluarnya!'.


Walaupun sudah berjam-jam aku menunggu dosen pembimbingku. Menyumpah serapahi beliau. Aku masih setia menunggu di kantin jurusan. Menunggu hingga suara azan asar berkumandang di masjid kampus. Kulihat meja didepanku saat ini. Sudah ada dua gelas minuman berbeda serta dua piring serta satu mangkok berisi mie ayam, siomay, dan ketoprak yang semuanya belum habis karena aku sudah kekenyangan. Aku menghembuskan napas kesal. Tidak ada tanda-tanda dari dosen pembimbingku. Aku bangkit dari kursi kantin dan bergegas meninggalkan kantin menuju parkiran.


Tau kalau dunia perkuliahan tidak seindah di sinetron, aku tidak perlu repot-repot kuliah deh. Mending langsung nikah atau kerja saja. Hmm... Tapi, kalau tidak kuliah Ibu pasti bakal ceramah panjang. Apalagi Eyang Uti. Membayangkan Eyang Uti saja rasanya bergidik ngeri. Segala tingkah lakuku selalu di komentari olehnya. Kutarik deh ucapanku. Lebih baik aku kuliah, untuk menghindari komentar Eyang Uti serta ceramah Ibu. Bisa-bisa kalau tidak kuliah aku akan di masukkan ke sekolah kepribadian. Untuk mengajariku tata karma seperti sepupu-sepupuku yang lain. Nggak banget deh!


Rasa kesalku menjadi berkali-kali lipat melihat macetnya Jakarta. Bisa-bisa aku baru sampai kos besok! Tanpa babibu, aku langsung memutar arah dan membelokkan mobilku ke jalanan menuju mall terdekat. Kalau sudah stress begini obatnya Cuma satu, BELANJA. Barangkali ada midnight sale nih di H&M atau ZARA. Tanpa sadar aku sudah menyeringai sendiri membayangkan pulang ke kosan dengan setumpuk barang belanjaan. Ini juga nih yang menjadi salah satu aku betah merantau di kota orang. Bebas merdeka untuk belanja! Menggunakan pakaian sesuka hatiku tanpa ada yang nyeletuk aneh-aneh soal pakaianku yang kurang bahan atau terlalu kekecilan. Yah, hidup memang harus seimbang sih. Ada plus minusnya. Kalau plus terus atau sebaliknya lama-lama bosan juga. Kalau bosan nanti bisa mati. Kikikik. Sumpah deh, ini akibat skripsi aku jadi gila lama-lama.


Padahal jarak mall tadi hanya beberapa kilo saja dari jalanan macet tadi. Tapi, aku sampai disana saat azan magrib sudah berkumandang. Kuyakinkan pada diriku untuk sabar. Kuingat kembali tujuanku kesini adalah untuk belanja dan mengejar sale yang semoga saja ada agar rasa kesalku hari ini terobati. Rasa kesal itu seiring kakiku melangkah perlahan mengikis. Dengan langkah ringan aku langsung menyerbu toko yang sering kudatangi. Berkutat cukup lama disana dan keluar dengan setumpuk belanjaan.


Aku baru sampai di kos pukul 11 malam. Sumpah ya, padahal ini hari biasa. Bukan malam minggu atau hari libur. Aku turun dari mobil berniat membuka pagar kos yang menggunakan gembok kombinasi password. Tumben sekali Pak Mukin sudah mengunci pagar padahal belum lewat jam tengah malam. Keningku berkerut, sudah tiga kali aku memasukkan password yang kutahu dan tiga kali itu pula gembok tersebut tidak mau terbuka. Aku masuk kedalam mobil kembali untuk mengambil ponselku. Kutekan nomer Pak Mukin.


"Ck, kemana sih, Pak Mukin?!" rasanya frustasi sekali. Benar-benar deh hari ini! Aku sudah terjebak berjam-jam di kemacetan. Kakiku pegal karena terlalu lama berdiri saat belanja, Kucoba menghubungi Nana ata Dita, barangkali mereka belum tidur dan mengangkat telponku agar aku bisa tahu password baru dari gembok ini.


"PR banget demi Tuhan hari ini gila!" kesal karena Nana atau Ditapun tidak ada yang mengangkat telponku.


RR. Gema A. Putri: TOLONGIN GUE


RR. Gema A. Putri: GUE DIKUNCIIN DILUAR


RR. Gema A. Putri: gembok gue gamau kebuka


RR. Gema A. Putri: kayanya pass gnti


RR. Gema A. Putri: PE ER BANGET NI ELAH PAK MUKIN GANTI2 SGALA


Kanasya A. Nameera: hah


Kanasya A. Nameera: apa?


Kanasya A. Nameera: yaudah tinggal masuk


Aku mengerucutkan bibirku. Sial, pasti Kanasya sedang ngelindur makanya tidak jelas begini.


Keyna Wilona Geraldi: kacian


Keyna Wilona Geraldi: sini rumah gue


RR. Gema A. Putri: jaoh ah rumah lo


RR. Gema A. Putri: VIO MANA NEH


RR. Gema A. Putri: LO EMG SELALU GAADA DISAAT GUE BUTUH LO


RR. Gema A. Putri: SENGAJA Y LO


RR. Gema A. Putri: MENTANG2 GUE SELALU NGEBERANTAKIN KMR LO


Keyna Wilona Geraldi: drpd tidur di masjid mending tidur rmh gue sini Gem


Aku tidak merespon ajakan Keyna. Berusaha memikirkan ide untuk bisa masuk kedalam kos. Kulihat pagar kosku yang tinggi. Sebenarnya manjat pagar bisa nih. Tapi, aku belum pernah mencobanya. Ah, bodo deh. Sekarang waktunya buat nyoba. Aku mematikan mesin mobil. Mengunci stir dengan kunci stir dan meninggalkan belanjaanku yang segunung di belakang. Rempong cyin kalau dibawa segala.


"Duh, gila, tinggi juga. Kenapa gue baru sadar ya?" aku bergumam sendiri sambil menatap pagar kosku. Makin didekati makin berasa tingginya nih pager. Seperti orang gila, aku bersiap-siap untuk manjat pagar dan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Entah ini pemanasan apa bukan karena bukan pecinta olahraga. Yang penting pemanasan deh. Setelah selesai, lagi, aku menatap pagar itu dan menarik napas panjang. Dengan perasaan campur aduk, aku mulai memanjat pagar dengan pelan-pelan.


"Astagaa..., super sekali hari ini Raden Rara Gema Ardini Putri! Kalo Eyang Uti sama Ibu liat kelakuan lo kaya gini, bisa jantungan kali ya?" kakiku hampir tergelincir ketika tidak cukup cepat meraih sesuatu yang dapat bisa kupijak untuk memanjat. Untungnya aku cepat mencari tumpuan yang lain sehingga bisa bernapas lega karena tidak jadi terjatuh.

__ADS_1


"Loh? Mbak Gema? Kamu ngapain diatas situ?" seperti melihat hantu. Aku terkejut bukan main ketika mendapati Aksa berada didepan kosnya sambil membawa bungkusan plastik. Wajahnya menyiratkan kebingungan melihat posisiku. Saking terkejutnya, tak seperti tadi yang sigap mencari tumpuan. Kali ini otakku terasa macet dan tidak bisa berfungsi dengan baik.


Oh, God.


Sepertinya aku akan jatuh.


Kuulangi sekali lagi.


Aku akan jatuh. Ja-tuh. J-a-t-u-h.


Astaga! Apakah ini akan terjadi seperti yang ada di film-film yang kutonton? Dimana ada seorang cewek yang hampir jatuh dan tiba-tiba ada cowok ganteng yang sigap menangkap tubuhnya agar tidak jadi jatuh? Tubuhku benar-benar oleng kebawah. Tidak ada lagi tumpuan yang bisa kuraih. Mataku sudah terpejam, bersiap menerima tangkapan dari Aksa. Tapi, bukan sebuah tangkapan dan pelukan hangat dari Aksa yang kudapat. Melainkan seluruh tubuh bagian kananku sakit. Sadar kalau tubuhku sukses mencium aspal jalanan! Sambil mengaduh, aku mencari keberadaan Aksa.


Dimana cowok itu? Kenapa dia tidak menangkapku seperti di film-film? Sebelum menangkap sosok Aksa. Derap langkah mendekat kearahku terdengar.


"Mbak Gema, Mbak nggak apa-apa?" suara Aksa terdengar cukup panik ditelingaku. Kalau bukan saat seperti ini. Aku pasti akan terbang ke angkasa mendengar paniknya dia. Tapi, sekarang, gue nggak butuh kepanikan lo dan pertanyaan lo, Sa! Gue butuh lo nangkep gue kaya di film-film tadi harusnya! Aku bersungut-sungut dalam hati.


Satu hal lain yang bisa kuambil dari hari ini 'Realita tidak sama seperti ekspetasi'. Jadi, untuk para wanita diluar sana yang suka berekspetasi tinggi. Mending turunin deh ekspetasinya! Daripada nanti tidak sesuai. Sakit nanti jatuhnya! Sakit banget sama sepertiku sekarang!


Aksa menurunkan tubuhnya, menyejajari denganku yang masih terduduk sambil memasang wajah kesakitan. Memang sakit banget! Bukan mengada-ada!


"Aduh, aduh, jangan di pegang-pegang! Sakit!" seruku ketika Aksa menyentuh pergelangan kakiku. Sepertinya kakiku terkilir.


"Kaki Mbak keseleo," Udah tau! "Kos Mbak udah di gembok ya?"


Aku mengangguk lemah. "Iya, passwordnya ganti kayanya. Daritadi gue buka nggak bisa-bisa."


"Apa passwordnya?" aku menyebut sederet angka pada Aksa. "Tunggu sebentar, Mbak." Aksa berdiri dan berjalan ke dekat pagar. Hendak membuka pagar. Dalam hati aku mendengus kesal. Kenapa nggak nolongin gue langsung sih? Malah jalan ke pagar! Tapi, aku tidak lagi terlalu peduli dengan tindakan Aksa. Fokusku pada kakiku yang terasa ngilu dan sakit. Selang beberapa saat, Aksa kembali.


"Saya anter Mbak kedalam." Baru aku akan protes ketika kulihat gembok pagar yang sudah terbuka. Aku ternganga selama beberapa saat.


"Kok...?"


Aku menggaruk kepalaku. Malu dengan tingkahku sendiri. Ya salah siapa pula gembok itu tidak mau terbuka? Dasar pilih-pilih itu gembok! Giliran di buka sama cowok ganteng aja langsung mau!


"Mbak sanggup jalan?" aku menerima uluran tangan Aksa untuk berdiri. Tapi, baru sedetik berdiri, tubuhku terjatuh duduk kembali. Kakiku benar-benar tidak mampu untuk menopang tubuhku saat ini. "Kayanya nggak bisa."


Aksa terdiam sejenak. "Maaf, Mbak, mau saya papah sampai kedalem?" MUKE GILE! Gila apa ya kalau aku nolak?


Aku mengangguk cepat. Kelewat cepat sampai Aksa terkekeh pelan melihat reaksiku. Sadar dengan kebodohanku, kurasakan kedua pipiku merona.


"Maaf ya, Mbak." Dengan sangat hati-hati, Aksa mengangkat tubuhku kedalam papahannya. Ya Tuhan, semoga aku tidak berat-berat banget untuknya. Kalau sampai iya, duh, malu banget deh! Dia pikir nanti sedang memapah ikan puas lagi! Kikikik. Yaudahlah ya, yang penting sekarang sudah kaya di film-film. Cowok yang menggendong cewek yang sedang sakit. Tanpa rasa malu, aku mengalungkan kedua tanganku ke pundak Aksa.


"Lho..., Mbak Gema??!!? Kenapa itu??!!" aku dan Aksa baru sampai tangga ketika suara Pak Mukin terdengar. "Kok di gendong-gendong segala?!"


Hih, menganggu saja sih Pak Mukin! Merusak suasana!


"Aduh, Pak Mukin berisik. Saya abis jatoh dari pager. Pak Mukin sih gak angkat telpon saya buat bukain pager! Jangan protes cowok gak boleh masuk. Pak Mukin juga cowok tapi suka masuk kedalem. Wuuu." Aku berceloteh panjang lebar.


"Lho..., Kok bisa jatoh dari pager?!"


"Hihhh..., Udah ah, Pak Mukin. Nanyanya nanti aja. Kasian Aksa capek gendong saya. Buruan, Sa, naik!" Aksa tersenyum geli mendengar percakapanku dengan Pak Mukin.


"Misi ya, Pak Mukin." Ujar Aksa sopan. Aksa memapahku sampai benar-benar masuk kedalam kamar. Yassalam, mimpi apa ya semalam sampai berhasil membawa Aksa ke kamar segala?


"Mbak, saya punya nomer tukang urut. Tapi, kayanya nggak bisa dateng sekarang. Kemaleman. Kalo besok pagi gimana? Mbak bisa tahan?"

__ADS_1


"Kalo didiemin mah nggak sakit. Justru diurut itu gue takutnya. Sakit nggak? Kalo sakit, nggak mau ah!"


Aksa hanya tersenyum misterius. Menatap jenaka kearahku. "Sedikit. Sebentar aja kok. Abis itu pasti bakal enakan dan udah bisa jalan."


"Kalo sampe nggak? Berani kasih apa?"


Aksa terdiam. Tak menyangka jawaban itu keluar dari bibirku. Dia kembali menatapku selama beberapa saat. "Yaudah, terserah Mbak Gema aja deh." Emang dasar nggak tau diri. Udah ditolong, masih nagih-nagih permintaan pula!


"Oke, kalo terserah gue. Pertama—"


"Berarti ada yang kedua dan yang lainnya?" sela Aksa.


"Katanya terserah gue?"


Aksa tertawa. Aduh, mata sipitnya itu loh kalau tertawa. "Iya, iya, oke. Maaf, Mbak."


"Pertama, jangan pernah manggil gue dengan sebutan 'Mbak'. Kan kemarin-kemarin udah gue bilang ke lo? Gue nggak tua-tua amat, kan, buat lo panggil 'Mbak'?" Aksa terkekeh pelan diiringin dengan anggukan kepalanya.


"Diterima. Kedua?"


Aku terdiam, menimbang-nimbang. "Hmmm..., Nanti deh dipikirin lagi. Kan belum tau juga besok bakal sakit apa nggak."


"Oke, kalo gitu saya pamit ya, Mb—Gem. Nanti saya hubungi tukang urutnya dan semoga besok pagi bisa dateng kesini." Usai kepergian Aksa. Aku menunggu selama beberapa menit.


"..2..3..," aku membuka lebar gorden jendelaku yang berada disebelah kasur. Benar saja, sosok Aksa sudah berada didalam kamarnya. Tanpa sadar aku tersenyum melihat pemandangan didepanku. Sedikit terganggu dengan getar ponsel sedari tadi. Aku mengeceknya. Sudah ada chat masuk dari grup bersama ketiga sahabatku.


Viola Siesyadipta: baru sampe kos


Viola Siesyadipta: kos gue Gem sini


Viola Siesyadipta: GEM, R U OK?


Viola Siesyadipta: GEM LO DMN


Keyna Wilona Geraldi: lo lama bgt baru nongol


Keyna Wilona Geraldi: jgn2 gema udah...


Viola Siesyadipta: heh! Jgn ngmg macem2 key!


Keyna Wilona Geraldi: antisipasi


Viola Siesyadipta: GEM


Viola Siesyadipta: GEMA!!!!!


Aku mengetikkan chat balasan untuk mereka.


RR. Gema A. Putri: he he he he gue udh selamet


RR. Gema A. Putri: ditolongin aksa


RR. Gema A. Putri: gausah tanya skrg gue mls bahas


RR. Gema A. Putri: pgn bobo mimpiin aksa dulu bye bye

__ADS_1


 


 


__ADS_2