The Boy Next Window

The Boy Next Window
Double Date


__ADS_3

Tidak sungkan Abi mengalungkan sebelah tangannya ke belakang leherku mendengar pertanyaan Aksa. Senyum sumringah ia perlihatkan. Sejujurnya aku risih. Tapi, aku berusaha tetap tenang. Hanya tanganku bergerak ke belakang dan menarik bajunya ke bawah. Tanda kalau rangkulannya itu sangat mengganggu keberlangsungan hidupku.


"Kita berdua pacaran." Ujar Abi santai.


No way! Kenapa dia terang-terangan banget sih ngomongnya! Aku memejamkan mataku sesaat. Masih tidak rela dengan sebutan 'pacar' untuk Abi.


"Kita. Gue sama Gema." Abi memperjelas kalimatnya.


Mata Aksa membesar sedikit. Ia menganggukkan kepalanya pelan dan memasukkan kedua tangannya disaku celana. Bahunya sedikit naik keatas.


"O..kay. Jadi, kalian pacaran?" Aksa menunjuk kami berdua dengan pandangan matanya yang menatap kami bergantian.


"Iya. Pacaran."


"Sejak kapan?" Tanyanya. "Kenapa aku baru tau?"


"Yah, lo juga nggak pernah nanya sih kemarin-kemarin," Semua pertanyaan Aksa, Abi yang menjawab. Aku hanya diam dan berkonsentrasi dengan jalan pikirku sendiri. Ya Lord, didalam otak Aksa, apa yang sedang dia pikirkan ya?


"Gue pacaran sama Gema belum lama kok. Mau jalan 2 minggu lah. Bener nggak, Gema sayang?" Aku tahu pasti. Abi menekankan intonasi suaranya pada kata 'sayang' didalam kalimatnya tadi.


Tidak tahan mataku untuk memutar kedua bola matanya dan mendengus pelan agar Aksa tidak mengetahuinya.


"Iya," jawabku singkat. "Kayaknya." Aku menambahkan. Jujur, aku sendiri lupa kapan perjanjian itu dimulai. Nanti, mungkin aku bisa check noteku dan melihat tanggal kapan itu dibuat. Kalau sudah kelamaan dan perasaan Aksa masih belum kuketahui juga. Aku akan dengan senang hati memutuskan Abi.


Obrolan berlanjut kami yang baru beberapa saat harus terhenti karena sebuah mobil yang berhenti tepat didepan kos aku dan Aksa. Tepatnya, dibelakang mobil Aksa. Kami bertiga saling memandang saat mendapati Arum turun dari mobilnya. Seperti biasa, dia tampil dengan berpakaian yang membuat kepercayaan diriku menurun. Bagaimana bisa Arum hanya menggunakan kemeja yang sedikit longgar untuk tubuhnya dan ia masukkan asal pada celana cullote yang ia pakai bisa terlihat begitu.. sempurna.


Sial.


"Hai, lagi pada ngomongin apa? Aku ganggu ya?" Sapanya ramah. Tapi, keramahan itu membuatku sedikit kesal. Kenapa dia harus bersikap ramah? Kenapa tidak sekalian kejam saja? Aku akan lebih mudah untuk membencinya.


"Biasa aja sih." Jawab Abi singkat.


"Kamu kenapa kesini? Bukannya tadi bilang mau jalan sama temen kamu?" Aksa bertanya pada Arum.


"Iya. Tapi, tiba-tiba aku males jalan sama mereka. Jadi, aku mutusin buat kesini aja deh."


"Kesini mau ketemu Aksa?" Ingin aku menepuk jidatku kuat-kuat mendengar pertanyaan bodohku. Ya, jelas aja Arum kesini mau ketemu Aksa.


Arum tersenyum kecil. "Siapa lagi kalo bukan dia?" Yailuy. Bisa aja si mbak gombalnya. Nggak mempan ah!


Abi bersidekap dan menatap Arum dan Aksa bergantian. Satu jari telunjuknya ia letakkan di pangkal hidungnya.


"Lo berdua itu balikan ya?"


Antara harus berterima kasih pada Abi atau tidak. Karena itu yang ingin kutanyakan pada Aksa! Hah! Niat itu sudah bulat saat nanti aku sudah kembali kos. Mungkin aku akan mengiriminya dia pesan untuk mengatakan itu.


Arum menatap Aksa dengan pandangan yang tak kumengerti. Semacam... pengharapan? Entahlah.


"Belum,"


"Belum," Secara tidak sengaja, keduanya menjawab bersamaan. Keduanya saling berpandangan dan melempar senyum kecil mengetahui jalan pikirannya sama. Oke, cukup sudah. Aku sedikit muak dengan pemandangan didepanku saat ini.


Belum berarti akan?


Jadi, ada kemungkinan Aksa kembali bersama Arum? Shit happens everyday to everyone, kurasa pepatah itu benar adanya.


Aku semakin muat saat semua itu dihancurkan begitu saja saat Abi menambahkan kalimat lagi yang ia ajukan pada mereka.


"Gimana kalo kita double date? Walopun lo berdua belom secara resmi balikan. Nggak masalah, kan?" Tatapan Aksa langsung tertuju padaku, membuatku tertegun sesaat.


Tidak akan. Aku tidak akan mengucapkan terima kasih pada Abi. Niat itu sudah hilang saat kata pertama yang ia keluarkan dari kalimat terakhir yang ia ucapkan.


Kini gantian Arum yang memandang kami berdua dengan wajah sedikit tak percaya. "Oh, jadi kalian berdua pacaran?"

__ADS_1


Dan aku memilih bungkam untuk pertanyaan itu.


--


"So, gimana reaksi Aksa sejauh ini?" Demi mendengar cerita lengkapku. Ketiga sahabatku meluangkan waktu di Jumat malam seperti ini. Masalahnya, Sabtu Minggu Vio ingin pulang ke rumahnya yang berada di Bandung. Jadi, nanti tidak akan komplit ngumpul dan Vio tidak ingin ketinggalan cerita paling penting yang kupunya.


Selama hampir setengah jam ini, ketiganya seakan menginterogasiku dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Membuatku pusing tujuh keliling.


Aku mengedikkan bahu, sok acuh. "Gak tau."


"Kok bisa gak tau sih?!"


"Emang lo nggak liat dari mukanya apa??"


"Apa perlu gue yang liat?!?"


"Nah, masalahnya ya itu. Si Aksa tuh lempeng banget mukanya. Gue jadi nggak bisa nebak dia gimana. Lo juga tau sendiri segimana banyak kode yang gue kasih ke dia. Tapi, dia anteng-anteng aja dan Cuma nganggep gue seakan-akan lagi bercanda."


"Masa sih dia nggak sadar-sadar? Nggak mungkin banget masa ngiranya lo bercanda terus."


"Iya kali. Nggak mungkin."


Vio menengahi. "Tapi, bisa jadi sih. Lo tau sendiri kalo cowok itu kebanyakan nggak pekanya."


"Tapi, gue udah jelas banget kodenya, woi!!!" Seruku tidak terima. Mana bisa Aksa tidak peka dengan kode sejelas itu?


Kanasya menghela napas. "Mungkin, dia terlalu malu buat jujur. Atau belom yakin sama perasaannya ke lo. Apalagi sekarang ditambah ada siapa tuh mantannya yang balik lagi? Ya, itulah pokoknya. Jadi, dia kayak bingung gitu buat nentuin perasaannya sendiri."


"Bisa juga dia terlanjur mundur sekarang," Keyna bergumam.


"Hah? Maksudnya?" Aku meminta penjelasan Keyna.


Ditatap oleh tiga orang membuat Keyna kikuk. Ia nyengir dan menggaruk kepalanya pelan. "Biasa aja dong lo semua natep guenya!"


Keyna membuka suara lagi. "Ya.. Terlanjur mundur. Ditengah krisis keyakinan soal perasaannya sama lo Gem dan dia sendiri masih bingung terus dia tau kalo lo sekarang pacaran sama Abi—ya walopun itu Cuma perjanjian sampah yang lo bilang. Dia mundur karena itu. Karena udah jelas, walopun dia udah yakin sama perasaannya ke lo. Tapi, lo pacaran sama Abi. Ya, nggak ada harapan buat dia. Dia mundur deh. Gitu, cyin, ngerti nggak?"


Mendengar penjelasan Keyna yang cukup panjang kali lebar. Aku bersama dua sahabatku yang lain termenung sesaat. Meresapi ucapan Keyna dan menelaah lebih dalam.


"Kok pada diem sih abis gue jelasin?!?" Cetus Keyna yang merasa bingung dengan aksi diam kami bertiga. Menimbulkan keheningan yang membuat Keyna sedikit jengah. "Lo pada ngerti nggak sih sama omongan gue? Kalo nggak, yaudah ber—"


"Key, berisik!" Kanasya meletakkan telunjuknya didepan bibir.


"Tumben lo Key bener. Asli sih. Saat ini, penjelasa Key paling kuat buat jelasin perasaan Aksa sekarang." Tukas Vio.


Keyna menatap Vio dengan pandangan bangga. Sementara Kanasya hanya mendengus kesal melihat reaksi Keyna yang berlebihan walau tak memungkiri, dia sependapat dengan Vio.


"Menurut lo, Gem?" Kanasya lebih memilih bertanya padaku yang masih diam.


Aku menatap ketiga sahabatku secara bergantian. Kutarik napas cukup panjang. "Gue belom cerita ya? Kalo.. Kita berempat bakal double date?" Ketiganya menatapku dengan pandangan terkejut.


"HAH KAPAN?!?"


"Brengsek! Kenapa baru bilang????"


"Lo double date sama Aksa dan Arum?! Udah gila kali ya? Bukannya itu memperjelas hubungan Aksa dan Arum nantinya?"


"Oh iya, Arum namanya, lupa gue." Kanasya mengangguk-angguk.


"Lah? Kenapa double date bisa memperjelas hubungan orang?"


"Jelas bisa lah, monyet cantikku." Sergah Vio sok manis. "Namanya aja nge-date. Kencan. Itu buat orang yang lagi PDKT sama orang-orang pacaran nggak sih? Nggak tau juga sih. Tapi, itu pendapat gue soal double date. Gimana Mas Dani pendapatnya?" Pandangannya ia lemparkan pada Keyna dan Kanasya.


"Tul!" Serempak mereka menjawab.

__ADS_1


"Terus gue harus gimana *****?! Gue jadi deg degan nih." Perasaanku tidak enak mendengar pendapat-pendapat ketiga sahabatku. "Anyway, minggu depan double datenya. Gue harus apa nih?"


"Lo harus liat muka Aksa. Sejelas-jelasnya."


Keyna mengangguk. "Lo harus liat cara dia ngeliat Arum."


"Cara dia jawab soal hubungannya sama Arum. Lo perhatiin intonasi suara sama kerut-kerut diwajahnya. Siapa tau berguna."


Opini-opini ketiga sahabatku benar-benar memenuhi isi kepalaku. Apa yang harus kulakukan? Kalau memang nyatanya Aksa melangkah mundur karena aku pacaran dengan Abi. Apa iya ini saatnya aku memutuskan hubungan dengan Abi dan melupakan perjanjian itu?


--


Aku melangkah tegang memasuki sebuah restoran. Berkali-kali aku berusaha menetralkan jantungku yang berdetak tak karuan. Malam ini aku akan double date bareng Aksa dan Arum. Saat aku masih bersiap, kulihat mobil Aksa keluar dari parkiran. Melihat itu, aku hanya bisa menghela napas. Pasti Aksa mau jemput Arum. Seandainya posisinya bisa dibalik.


Kenyataan aku harus puas berangkat bersama Abi. Dengan status baruku sebagai pacar Abi. Dalam benakku, sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk kembali dengan Abi. Langkahku sontak terhenti melihat dua sosok itu sudah duduk di meja yang telah di reservasi. Sadar kalau aku menghilang dari sisinya, Abi ikut berhenti dan menoleh padaku yang berjarak tiga langkah di belakangnya.


"Kok berhenti?"


Aku menelan ludahku sendiri. Abi bergegas menghampiriku. "Kenapa?"


Kugelengkan kepalaku pelan dan menggigir bibir bawah. "Gue takut sama jawaban-jawaban Aksa."


Satu alis Abi terangkat keatas. "Maksudnya?"


"Gue takut kalo Aksa bener-bener udah jadi sama Arum."


Senyum Abi terkulum. "Oh, soal itu. Makanya, sekarang gue ajak lo biar lo tau perasaan Aksa."


"Kenapa sih harus pake double date segala?"


"Nggak papa. Biar greget aja."


"Jawaban absurd, as always." Aku ngeloyor meninggalkan Abi di belakang yang segera menyusul dan mensejajari langkahnya.


"Tungguin dong. Masa kita dateng nggak barengan gitu. Inget, kita tu lagi pacaran." Abi merampas tanganku dan menggenggamnya pelan. Aku yang ingin protes menyudahi keinginanku melihat wajah Abi yang sepertinya kekeuh pada pendiriannya. Percuma saja kalau protes, dia pasti tidak mau.


"Pura-pura." Gumamku.


--


"Kalian udah berapa lama nih emangnya pacaran?" Usai basa-basi, akhirnya Arum yang lebih dulu memulai pembicaraan yang sebenarnya ingin sekali kuhindari.


"Berapa lama ya?" Abi pura-pura amnesia. "Berapa ya, Gem?" Wajahnya mendekat kearahku sambil menyunggingkan senyum. Aku yang akan memasukkan potongan buah ke mulut langsung meletakkan kembali keatas piring.


"Berapa ya?" Jawabku malas.


"Jalan 3 minggu. Right? Aku bener nggak?" Wajah Abi menjauh dan menatap Aksa tidak percaya. Seakan baru melihat sesuatu yang menakjubkan, Abi bertepuk tangan pelan.


"Hebat juga lo Sa inget berapa lama kita pacaran." Aksa tidak terlalu menanggapi seruan Abi. Ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan makan malamnya.


"Terus kapan lo jadi sama Arum?" Pertanyaan Abi sontak membuat kami bertiga menghentikan aktivitas kami semua.


Seperti saran dari ketiga sahabatku. Amati wajah Aksa. Lihat detil bagaimana perubahan wajahnya. Menyampingkan rasa kakuku untuk menatap Aksa. Aku benar-benar mengamati wajah Aksa setelah Abi menanyakan itu. tidak peduli wajah Arum menunjukkan ekspresi apa. Kalau perempuan, aku yakin aku akan mudah menebak. Sekilas saja tadi aku melihat ekspresi Arum. Lagi-lagi tatapan penuh harap dan seakan berterima kasih sekali pada Abi dengan melontarkan pertanyaan seperti tadi.


"Kasian loh, anak orang nungguin." Sambung Abi.


Ekspresi itu. Aku tidak mengerti kenapa Aksa pintar sekali untuk menyembunyikan perasaannya? Atau jangan-jangan, dia memang benar-benar merasa seperti itu? "Ha ha, Mas Abi dulu. Nanti baru aku. Ada waktunya."


"Kan gue udah sama Gema sekarang. Lo dong sekarang." Benar-benar si Abi. Pinter banget sih buat mojokkin orang. Sayangnya, Abi mojokkin orang yang salah. Aksa benar-benar tidak terpengaruh dengan pancingan Abi. Lagi-lagi, reaksi hanya tertawa. Seakan menganggap semua pertanyaan yang dilontarkan pada dia seputar cinta adalah hal yang tidak serius.


Lo kenapa sih, Sa?!


 

__ADS_1


 


__ADS_2