
"Jadi, lo beneran suka sama Aksa?" Abi terus mencecarku dengan pertanyaan.
"Yaudah si. Suka atau nggak bukan urusan lo juga, kan?"
"Urusan gue dong. Kan, gue suka sama lo. Kalo misalnya lo suka Aksa, dia kan keponakan gue. Gue harus tau cewek yang deket sama dia modelnya tu kaya apa."
"Apa sih? Lo Cuma omnya. Bukan bapaknya!"
"Bokapnya Aksa di Surabaya. Karena sekarang gue di Jakarta. Aksa tanggung jawab gue. Gak salah kan gue?"
"Apa kata lo aja deh! Capek gue ngomong sama lo!"
"Masa ngomong sama gue capek sih? Terus kalo nanti lo jadinya nikah sama gue, malem pertama kita gimana?"
"ABI!!!!!"
Abi tertawa-tawa sementara aku hanya bisa mendengus kesal karena semua orang benar-benar memandang kami berdua. Beberapa malah ada yang mengambil ponselnya untuk merekam pembicaraan nggak jelas kami.
Aku menutup pintu mobilku dengan keras saat sampai di parkirn kos. Dari arah belakang, aku juga mendengar pintu mobil tertutup. Sebelum aku masuk, Abi buru-buru menghampiriku. Dia benar-benar mengikuti dari tempat pecel lele. Padahal pesanan dia sudah datang dari aku datang. Tapi, dia memutuskan tinggal dan baru pulang saat aku juga pulang. Bahkan mobilnya terus mengekor dibelakangku. Kelakuannya benar-benar membuatku kehabisan akal untuk menghadapi kelakuan tengil bin slengeannya.
"Kenapa sih harus Aksa?" Lagi, Abi mulai mencecarku.
"Apa sih!"
"Masa gue harus saingan sama keponakan gue sendiri? Tega banget sih ngebiarin gue kaya gitu."
"Makanya gak usah saingan. Mending lo mundur aja. Gak usah ganggu gue lagi!"
"Jahatnyaaa..." Sahut Abi. "Tapi, gak papa. Itu tantangannya dan letak keseruannya. Bukan Abi namanya kalo pantang menyerah. Kompetisi tetep kompetisi." Abi menepuk dadanya sebanyak dua kali. Bergaya seakan dirinya merupakan seorang pejuang. Membuatku mengernyit aneh dan pura-pura ingin muntah.
"Emang gue apaan segala ada kompetisi segala!"
"Ibaratnya, lo tuh kaya piala. Gue sama Aksa pembalapnya. Yang menang kan dapet piala. Gitu aja nggak ngerti sih, Gem?"
"Woi!! Kalo mau piala doang mah noh di tukang piala banyak. Sana, mesen! Bebas mau segede apa! Segede candi Borobudur juga sanggup kali tu!"
"Nggak perlu yang gede-gede. Lo aja udah cukup kok buat gue."
"BI!!! Berhenti ngomong bisa gak sih?! Pusing gue dengernya!!!"
"Kenapa sih lo bisa suka sama Aksa? Dia kan dua tahun di bawah lo! Emang lo mau punya cowok brondong?"
Mendengar kata keramat a.k.a brondong disebut-sebut. Aku tidak tahan untuk membalas kalimatnya.
"Walopun dia lebih muda dari gue, sikapnya dewasa! Nggak kaya lo! Dia juga nggak playboy kaya lo! Nggak ngerokok dan nggak macem-macem! Yang paling penting Aksa nggak bikin gue sakit kepala dan stress!"
"Yes! Gue bikin lo stress, Gem?"
Aku menatap Abi dengan pandangan bertanya-tanya. Ini anak sedang di jelek-jelekkin malah berkata yes? Sakit jiwa kali ya?
"Liat aja muka gue sekarang!" Tunjukku ke mukaku yang kuyakin memerah karena sedari tadi memakai intonasi suara tinggi.
"Nggak papa. Kalo gue bikin lo stress mulu. Pastinya gue selalu ada di otak lo, kan?" Abi tersenyum penuh kemenangan. "Seenggaknya, gue udah bikin otak lo terus mikirin gue. Seperti kata pepatah yang dibuat oleh Abimanyu Putra Mahendra, kepikiran terus dulu, suka-sukaan kemudian."
"PULANG SANA KE KANDANG LO!!!!"
--
"Fyuuhh... Akhirnya bab 2 kelarrr!"
Aku keluar dari ruang dosen pembimbingku dengan wajah berseri-seri. Untuk merayakannya dengan diri sendiri. Aku memutuskan melipirkan mobilku ke mall. Sudah lama aku tidak belanja dan menyenangkan diriku sendiri.
Baru kumasuki satu toko. Tapi, tiga kantong belanjaan sudah berada di pergelangan tanganku. Gayaku sekarang sudah seperti ibu-ibu sosialita berjalan. Bedanya, mereka menenteng sederet paper bag Louis Vuitton, Chanel, Hermes, dan sederet brand-brand ternama yang tidak perlu ditanya lagi harganya. Bikin pingsan! Sementara yang aku pegang sekarang hanyalah kantong ZARA yang sedang sale.
Kalau aku ditanya tertarik atau nggak sih ya tertarik. Siapa sih yang nggak mau barang terkenal dan kalau menggunakannya bakal membuat tingkat kepedean naik berkali-kali lipat? Tapi, kalau untuk satu tas harganya sampai puluhan, ratusan, bahkan sampai miliaran. Kayaknya untuk sekarang mimpi aja dulu deh. Butuh berapa kali duit bulananku ya buat sanggup beli satu? Hahaha.
"Ih, lucu deh sepatunya!" Aku memasuki gerai adidas. Mengambil satu yang menurutku lucu dan menaruhnya kembali. "Ntar aja deh belinya kalo lagi diskon. Tunggu dulu ya sepatu, nanti pasti gue beli. Tapi, tunggu harga lo murah dulu. Soalnya gue gak butuh-butuh banget sepatu."
Sepatuku sudah kelewat banyak. Sampai rak sepatuku tidak muat dan akhirnya sebagian sepatuku tergeletak begitu saja di lantai atau di kardusnya kalau memang masih ada. Sejujurnya, lemari bajuku pun sudah penuh karena saking banyaknya baju yang kupunya. Dirumahpun aku memaksa Mama untuk membuat walk in closet milikku sendiri didalam kamar karena kegemaranku membeli baju.
Karena prinsipku, baju harus banyak. Biar keliatan ganti. Sepatu atau sandal juga penting. Tapi, lebih penting baju. Kalau sepatu atau sandal paling-paling hanya untuk menginjak aspal jalanan dan kalau lagi sial ya.. menginjak ***.
__ADS_1
Pandanganku mengarah ke tiap-tiap toko yang berjejer didepanku. Bingung sendiri harus memasuki yang mana dulu. Karena entah sedang ada perayaan apa yang jelas toko-toko baju kayanya sedang berlomba-lomba mengadakan sale gede-gedean. Kuputuskan untuk masuk ke salah satu toko yang paling dekat dengan jarakku. Lima menit kemudian aku sudah tenggelam dalam memilih-milih.
"Iya, yang itu bagus." Seperti ada magnet dalam suara itu. Sontak aku mencari sumber suara. Benar dugaanku, itu suara Aksa.
Aku hampir terlonjak kegirangan. Tumben-tumben aku bertemu Aksa didalam mall. Tapi, rasa girang itu sirna saat kulihat seorang cewek didepannya. Kedua tangannya memegang dua jenis baju yang berbeda. Sepertinya sedang meminta pendapat Aksa.
Aku yang awalnya ingin menyapanya mengurungkan hal itu. Tiba-tiba keinginan untuk belanja musnah. Entah siapa cewek yang sedang bersama Aksa sekarang. Tapi, kalau dilihat dari gelagatnya, sepertinya mereka cukup dekat. Apalagi Aksa sampai mau menungguinya belanja.
Kulirik beberapa baju yang sudah siap kubawa ke kasir. Kutaruh lagi satu persatu ditempat semula aku mengambilnya. Aku melakukannya sambil sesekali melirik ke tempat Aksa. Takut dia melihatku. Saat ini tiba-tiba aku malas jika harus ngobrol dengan Aksa. Pasti dia akan mengenalkan cewek yang sedang bersamanya. Dan aku, saat ini belum siap untuk menerima kalau-kalau ternyata itu gebetan Aksa atau malah pacarnya. Aku belum siap sakit hati, gengs.
Aku pulang dengan barang belanjaan sebelum aku bertemu Aksa. Wajahku kusut dan langkahku terseok-seok sampai ke kamar. Siapa sih cewek yang bersama Aksa tadi? Aku sangat penasaran. Tapi, aku nggak mau nerima kenyataan.
Hembusan napas keras keluar dari tubuhku. Kenapa sih aku? Penasaran tapi takut buat nerima kenyataan. Harusnya tadi aku sapa Aksa saja. Biar langsung jelas tahu cewek itu siapa. Tapi, lagi-lagi rasa pesimisku mengalahkan segalanya. Nggak perlu tau sekarang deh. Bagus, Gem, mending lo pulang tadi!
Aku menatap langit-langit kamarku. "Kalo cewek tadi itu pacar Aksa.. Gimana ya?" Gumamku dalam keheningan didalam kamar. Demi menyingkirkan kegamangan hatiku saat ini, aku meraih ponsel dan mulai membuka obrolan dalam chat grup bersama ketiga sahabatku.
RR. Gema A. Putri: td gue liat Aksa sama cewek di mall
Tidak sampai satu menit, ketiga sahabatku nongol dan membalas.
Viola Siesyadipta: cewek? Siapa?
Keyna Wilona Geraldi: ha siapa?
Kanasya A. Nameera: retweet vi key
RR. Gema A. Putri: gatau. Gue lgsg cabut
RR. Gema A. Putri: gue ketemu di topshop
RR. Gema A. Putri: kayanya aksa lg nemenin cewek itu belanja
Keyna Wilona Geraldi: knp lgsg cabut sih? Tanya dulu dong kan gue jd penasaran
Viola Siesyadipta: tau lu gem!
Kanasya A. Nameera: retweet lg vi key
Kanasya A. Nameera: maap maap gi sibuk
Kanasya A. Nameera: halah plg pembantunya aksa
Viola Siesyadipta: wkwkwk bisa jd tu
Keyna Wilona Geraldi: amin!!!!
RR. Gema A. Putri: brengsek lo semua
RR. Gema A. Putri: thx dh bkn ktwa bye
Mengobrol dengan ketiga sahabatku meski hanya lewat chat lumayan sedikit mengobatai perasaanku sekarang.
--
Baru selesai mandi aku mengeringkan rambut dengan handuk tepat didepan jendela kamar. Tidak sengaja kegiatan itu bertepatan saat Aksa turun dari mobilnya. Kulirik jam dinding didalam kamar. Hampir magrib dan Aksa baru pulang. Aku mendesah pelan dan berpindah ke kasur.
Kejadian di mall kembali teringat. Hah! Penasaran ternyata membuat pusing juga.
"Oke, Gem, tarik napas.. buang! Lo harus tenang sebelum lo tau yang sebenernya!" Ingatku pada diri sendiri.
Sebelum mandi aku kembali delivery order ayam penyet diujung jalan. Saat kucek ponsel yang bordering, abang-abang yang biasa sudah berada di bawah. Aku melempar handuk ke sembarang arah dan mulai menyisir rambutku yang sudah mulai kering. Sengaja kulirik lagi kearah jendela. Kulihat Aksa sudah tidak ada di bawah. Benar saja, bersamaan dengan itu, kulihat bayangan Aksa di jendela. Aku menganggukkan kepala tanpa sadar dan segera melesat turun ke bawah.
"Baru mandi ya, Neng?" Seperti biasa anag-abang tukang delivery berbasa-basi.
"Kepo!" Aku menyerahkan beberapa lembar uang receh. "Kembaliannya ambil aja."
"Makasi ya, Neng! Emang Neng terbaik dah!" Aku hanya memainkan bibirku dan mendelik kearahnya. Menyuruhnya segera pulang.
Saat aku masuk, kulihat mobil Abi datang. Tidak butuh waktu lama hingga ia keluar dari mobil dan menyapaku seperti biasa dengan wajah ngeselinnya. Satu tangannya membawa kotak dari Jco yang isi selusin.
"Apa lo?" Melihat dia yang nyengir lebar aku sudah memasang tameng. Kututup pagar kosku dengan keras. Membuat jarak antara aku dan Abi.
__ADS_1
"Galak banget deh." Jawabnya. "Abis beli apa siii?"
"Mau tau aja lo!"
"Gue bawa Jco nih. Mau nggak?" Tawarnya.
"Gak mau. Bekas lo."
"Ya ampun... Ini belom gue apa-apain. Di pegang juga nggak. Paling kotaknya doang gue pegang-pegang. Masih pure perawan." Abi tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Gila lo ya?"
"Iya! Gara-gara lo!" Akunya dan tawanya kian kencang. "Serius. Gue beliin ini buat lo. Kata Aksa lo lagi berjuang nyelesaiin skripsi, kan? Lumayan ini Jco cemilan buat nanti malem."
Aku mulai mengamati bawaannya yang 'katanya' untukku. "Mana coba liat?!" Aku meminta Abi membuka kotak Jco dan menunjukkannya padaku.
"Nggak percayaan banget sih," Abi mengambil kotak itu dari plastiknya dan membuka kotak tersebut. "Nih! Masih nggak percaya?"
"Itu nggak lo racunin, kan?"
"Ya, nggaklah! Kalo lo gue racunin terus mati gue bakalan galau seumur hidup. Gue kan nggak bisa hidup tanpa lo."
"Nggak bisa hidup tanpa gue tapi lo bisa galau seumur hidup. Kalo lo gak bisa idup tanpa gue. Ya, tandanya lo harus mati juga dong!"
"Oh iya ya?" Abi menggaruk kepalanya sendiri. "Yang penting lo disini, didepan gue. Masih sehat dan nggak kurang apapun."
"Yaudah. Siniin." Kataku.
"Gimana mau ngasih? Kita dipisah pager begini!" Iya juga ya.
"Tunggu dulu!" Cegahku saat Abi hendak membuka pagar kos.
"Apa lagi?"
"Gue mau nanya sesuatu sama lo. Tapi, lo harus janji gak boleh bilang siapa-siapa kalo gue nanya ini. Lo juga gak boleh ketawa apalagi ngejek. Lo juga harus janji kalo jawaban lo atas pertanyaan gue itu jujur. Gak boleh boong pokoknya." Terpaksa aku melakukan hal ini. Bertanya pada Abi! Dari pengalaman, Aksa sepertinya selalu cerita ke Abi kalau ada apa-apa. Seharusnya sih Abi tahu soal ini.
"Haduuhh... Susahnya mau ngasih lo Jco doang! Banyak banget aturannya. Yaudah, nggak apa-apa deh. Ini namanya ujian cinta." Aku mencibir. "Lo mau nanya apa emangnya, Gemaa?"
"Janji dulu sama gue!"
"Iyaa janji, Gemaku yang galak."
"Hih, apasih! Janji dulu dan ulangin kata-kata gue yang tadi."
"Elah lupa! Kepanjangan!"
Aku berdecak kesal. "Janji kalo lo gak bakal boong, ketawa, ngejek, dan lo gak boleh ngasih tau siapa-siapa kalo gue nanya ini ke lo?"
"Iya, gue janji sama semua yang tadi lo bilang."
"Bilang ih, Bi!"
"Ya ampuunn... Iya iya, gue janji nggak bakal boong, ketawa, ngejek, dan gak ngasih tau siapa-siapa kalo gue nanya ini ke lo. Puas?"
Aku menggigit bibir bawahku. Menoleh keatas, kearah jendela kamar Aksa. Tidak ada dia disana. Entah ia sedang melakukan apa. Aku menarik napas pelan dan mulai menanyakan rasa penasaranku seharian ini.
"Aksa.. Lagi deket sama seseorang nggak sih?" Aku benar-benar menurunkan volume suaraku sekecil mungkin. Takut kalau ternyata Aksa mendengar.
Abi ngakak dan buru-buru kusurh ia diam. "Jadi, gue suruh janji panjang lebar gini dan lo Cuma mau nanya itu doang? Gema.. Gema..," Abi menggelengkan kepalanya tak habis pikir denganku.
Sewot aku dibuatnya. "Yaudah si! Jawab aja! Lo udah janji nggak bakal ngejek!"
"Kenapa? Lo takut punya saingan ya?" Seringainya muncul.
"Jawab aja dulu kenapa sih? Nanya-nanya mulu!"
Abi melipat kedua tangannya didepan dada. Membuat kotak Jco itu menempel pada pagar kosku.
"Hmm.. Setau gue, dia nggak punya gebetan." Aku baru akan menanyakan perihal cewek yang ada di mall. Tapi, kemudian Abi melanjutkan kalimatnya. "Tapi, kalo mantan yang tiba-tiba dateng. Dia punya."
__ADS_1