The Boy Next Window

The Boy Next Window
Hutang Janji dan Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

From: 0812xx


Kuesioner done. Gue tunggu janji lo ;)


Hampir saja aku tersedak minumanku sendiri saat membaca pesan dari Abi. Shit, kenapa aku bisa sampai lupa kalau punya hutang janji sama dia? Shit, shit, shit!


"Kenape lo, Ndro?" Aku melirik Kanasya dengan malas. Menghembuskan napas kencang dan menyandarkan punggungku di sofa depan tv kos Vio. Sementara si pemilik kos baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit kepalanya. Kami berempat memang sedang berkumpul di kos Vio. Lumayan, jarang-jarang kami bisa ngumpul komplit seperti ini. Itu juga karena hari ini kantor Kanasya libur. Dan Keyna, seperti biasa, ia rela membatalkan jalan dengan pacarnya.


"Gue lupa punya janji." Jawabku malas.


"Janji apa?" Keyna yang baru kembali dari dapur kos Vio ikut nimbrung. Ia meletakkan gelas berisi susu vanillanya diatas meja dan satu bungkus keripik kentang.


Kuusap seluruh wajahku dan mendesah pelan. "Janji buat meluk Abi."


"Hah?! Meluk Abi? Maksudnya apaan?" Kegiatan memakai lotion Vio terhenti begitu mendengar pernyataanku.


"Apa sih? Kok gue nggak ngerti?" Keyna mengerutkan keningnya.


"Kok tiba-tiba Abi sih! Naksir kan lo sama dia? Gue bilang juga apa. Jangan terlalu ben—"


"Gue pacaran sama Abi." Kupotong kalimat Kanasya langsung. Reaksi ketiga sahabatku persis seperti dugaanku. Tidak ada yang menyangka. Memang soal perjanjian dengan Abi, aku tidak memberi tahu mereka. Tepatnya, belum. Jadi, kupikir, mungkin ini waktu yang tepat—atau tidak.


"For God's sake! Demi apa lo??!!"


"Bercanda aja sih lu, Ndro! Seriusan???"


Kanasya meraup wajahku dengan kedua tangannya. Membawa pandangan mataku untuk menatapnya. Gerakan Kanasya yang tiba-tiba membuatku mengerjapkan mata beberapa saat.


"Bilang sama gue kalo lo lagi bercanda!!"


Keyna menempelkan belakang telapak tangannya ke dahiku. "Nggak. Dia nggak panas. Sehat berarti."


Aku melepas kedua tangan Kanasya dari wajahku dan mencebik kesal. Sepertinya tidak. Aku salah memilih waktu untuk memberi tahu ketiga sahabatku.


"Kenapa sih pada heboh banget?" Aku bergumam kesal sambil mengusap pipi kananku pelan.


"Ya, jelas hebohlah!!! Mana ada lo tiba-tiba bilang ke kita kalo lo pacaran sama Abi. Setau kita, lo sebel banget sama Abi. Tapi, kenapa tiba-tiba lo berdua end up together?"


"Setuju! Gue yang kayak, *****?! Seriusan banget?!"


"Lo punya utang cerita ke kita," sela Vio, melirik kearah jam dindingnya. "Kita masih punya banyak waktu kok buat dengerin cerita lo. Ya kan, Key? Sya?" Keduanya mengangguk bersamaan.


"Yup, lo harus cerita. Sekarang."


Ponselku bergetar. Satu pesan dari Abi kembali masuk.


From: 0812xx


Gue otw plg. Gue tunggu dikos.


Selesai membacanya aku meringis pelan. Aku menatap satu persatu pada ketiga sahabatku dan tersenyum hambar.


"Kayanya.. Nggak bisa sekarang." Imbuhku.


"Nggak ada alesan nggak bisa."


"Cerita sekarang!"


"Cerita, cerita, cerita!" Kanasya sudah mengompori dengan menyuarakan kata yang sama tiap detiknya. Membuatku mengangkat tangan tanda menyerah.


"Oke, oke. Gue cerita sekarang. Tapi, singkat aja. Soalnya gue udah ditunggu Abi."


"Ciee... Mau ngapain lo, Ndro?"


"Asik banget yang baru jadian. Udah ditunggu Abi. Ciee.."


"Gue cerita apa nggak? Buruan!" Ancamku. Ketiganya terdiam dan memasang posisi didekatku. Semua mata tertuju padaku dengan pandangan berharap.


"Oke. Jadi, intinya, gue sama Abi pacaran karena terlibat sebuah perjanjian sampah yang gue yakin menurut lo semua emang sampah juga sih. Oke, jadi, gue sama Abi nggak bener-bener pacaran. Kita berdua saling memanfaatkan. Dan gue lakuin ini semua buat Aksa. Paham? Dah ya. Gue mau balik. Bye!"


Tak bisa kusingkirkan tatapan kecewa ketiga sahabatku. Vio bahkan menarik tanganku agar kembali duduk. Tapi, dengan cepat segera kulepaskan.


"Nanti. Gue bakal cerita detailnya. Sekarang, gue bener-bener harus pergi. Ini demi keberlangsungan skripshit gue. Oke? Bye!" Dijanjikan cerita dilain waktu olehku akhirnya mereka mau melepasku pergi.


Dari luar kamar Vio, masih sempat kudengar teriakan-teriakan mereka.


"Gue tunggu lo ya!!!"


"Awas kalo boong!!!"

__ADS_1


"Duh, masih nggak nyangka gue!!!!"


Seruan mereka hanya kutanggapi dengan menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. Selesai memakai flatshoesku, aku bergegas turun dan naik ke mobil. Menuju kos, menemui Abi. Pikiranku saat ini terfokus pada kata satu kata. Peluk.


Apa rasanya kalau aku memeluk Abi? Oke, tenang! Ini Cuma pelukan. Nggak lebih. Tiga detik juga selesai. Tenang, Gem, tenang!


Meskipun aku kesal setengah mati dengan Abi dan jelas-jelas tidak menyukainya. Memikirkan fakta bahwa sebentar lagi aku harus membayar hutang dengan memeluknya membuat perasaanku campur aduk.


Ponselku kembali bordering. Kali ini bukan pesan dari Abi. Melainkan telpon! Aku berdehem selama beberapa detik. Mengatur intonasi suaraku agar terlihat biasa saja.


"Gue bilang tunggu dikos. Kenapa lo nggak ada? Mobil lo juga nggak ada?" Belum sempat aku mengatakan apa-apa. Abi sudah mencerocos, membuat darah tinggiku seketika naik.


"Elah, bawel lo. Gue abis dari kos Vio. Ini dijalan pulang."


Terdengar Abi menahan senyumnya. "Oh, gue kira lo mau kabur gara-gara takut meluk gue."


"Emang gue sepengecut itu buat kabur-kabur segala?"


"Siapa tau. Bagus deh kalo lo nggak berniat kabur. Awas aja kalo kabur. Ini kuesioner yang udah ada isinya gue buang."


"Iya, bawel!"


"Oke, sayangku, gue tunggu didepan kos."


"Bodo." Aku memutus sambungan telpon.


--


Abi benar-benar menungguku didepan kos. Kedua tangannya sudah terentang keatas seakan bersiap menerima pelukanku. Melihat itu, aku hanya memutar kedua bola mataku dan berjalan kearahnya. Tanpa menghiraukan kedua tangannya yang sudah siap terentang. Aku malah menyodorkan tangan kananku.


"Mana peluknya?"


"Kuesioner gue mana?"


"Peluk dulu. baru kuesioner."


Aku mencebik. "Nggak mau. Kali aja lo boong. Taunya kuesioner gue masih kosong melompong."


"Udah diisi. Suer."


"Mana buktinya?"


"Bi!!!" Seruku mulai geram dengan tingkahnya.


"Iya, iya, gue ambil." Abi berjalan ke mobilnya dan mengambil lembaran kuesioner milikku. "Nih, bisa diliat kan kalo udah diisi?"


Aku meliriknya cepat dan melipatkan kedua tanganku didepan dada. "Itu lembar pertama. Mana yang lain?"


"Yakali gue tunjukkin satu-satu kertas sebanyak ini?"


"Ya, scanning. Cepet aja. Buruan, tunjukkin."


Abi mendengus kesal dan menggerutu pelan. "Minta peluk aja susahnya begini apa lagi yang lain."


"Apa kata lo tadi?!"


"Abi menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pura-pura tidak mengerti. "Nggak. Tadi itu ada pesawat lewat."


"Mana ada pesawat lewat. Pilotnya aja nggak keliatan."


"Ya mana pilotnya keliatan? Duh, pinter banget sih pacar gue. Sini cium dulu. Gemes gue sama lo."


"Lo mau terus-terusan ngoceh apa nunjukkin ke gue itu kuesioner? Semakin lama lo ngoceh, pelukan gue semakin lama lo dapet."


Telak, Abi membentuk wajah menyerah. "Iya. Oke, oke. Nih." Dengan cepat Abi menunjukkan sekilas-sekilas tumpukan kertas tersebut. Meski cepat, aku bisa melihat kalau kuesioner itu benar-benar telah terisi.


"Sekali lagi, Bi. Tadi agak-agak gak liat." Tahu kalau persoalan ini hampir selesai dan aku harus menepati janjiku. Aku mengulur waktu.


"Iya, oke." Untungnya Abi menurut dan menunjukkannya lagi padaku. "Selesai. Apa? Mau minta lagi?"


Dahiku berkerut dan memandang Abi dengan pandangan nano-nano. "Jangan minta tunjukkin lagi kalo tujuan lo Cuma buat ngulur waktu."


Sialan. Tau aja kalau aku memang sedang begitu!


"Siapa juga yang mau minta lagi!" Dengusku pura-pura tidak terima.


"Yaudah sini." Aku maju selangkah dengan ragu. Melihat tangan Abi yang bebas bergerak-gerak menyuruhku mendekat. "Utuk, utuk, susah banget sih disuruh ngedeket."


"Apa sih? Emang gue anak ayam yang lagi pengen lo kasih makan?"

__ADS_1


"Oh, iya, anak ayamku, sini ngedeket. Kalo nggak mau ngedeket, nggak gue kasih makan loh." Jarak diantara kami hanya tinggal beberapa senti. Meski ragu dan perasaanku campur aduk, aku merentangkan kedua tanganku dan melilitkan bagian tubuh itu pada pinggang Abi.


"Lo. Bawel." Kepalaku hanya menyentuh dada milik Abi. Untuk mencapai bahunya, aku harus berjinjit sedikit dan setelah itu baru bisa berbicara tepat di sebelah telinganya.


"Bawel gini pacar lo juga, kan?"


"Satu.. Dua.."


"Lo ngapain?"


"Maksimal 7 detik kita pelukan," jawabku cepat. "Tiga.. Empat.."


"Ye, nggak ada di perjanjian kita pelukan 7 detik. Ogah!"


"Lima," aku memejamkan mataku. "Disana Cuma tertulis meluk. Jadi, terserah mau berapa lama. Masih untung gue kasih 7 detik. Enam!"


"Nggak—"


"Tujuh. Selesai," kedua tanganku yang melilit pinggang Abi hendak kulepaskan. Tapi Abi lebih dulu menahan pergelangan tanganku di belakangnya.


"Bentar lagi."


Setelah menahan pergelangan tanganku selama beberapa saat. Ia kembali membawa tubuhku dalam dekapannya. Tangannya mengelus punggungku pelan.


"Udah kali. Keenakan di lo nggak enak di gue."


"Sekarang," Abi menundukkan kepalanya dan berbicara tepat ditelingaku. "Lo yang bawel. Gue bilang, bentar lagi."


"Gue nggak mau. Lepasin gak!" Aku memberontak dan mencoba melepaskan kedua tanganku. Lagi-lagi dengan aku melakukan hal itu, Abi mempererat dekapannya.


"Bau lo harum deh. Gue jadi betah." Abi menahan tawanya saat mendengar dengusan pada diriku.


"Lepas, woi!!!"


"Janji. Lima detik lagi. Lo bisa itung dari—" Abi melihat arloji dipergelangan tangannya. "Sekarang."


"Oke. Fine. Lima detik!!! Kalo sampe nggak lepas. Gue teriak!" Abi terkekeh pelan mendengar seruanku. "Satu.." Aku mulai menghitung.


"Rambut lo alus banget sih."


"Dua.."


"Parfum lo apa?"


"Tiga.."


"Gue mau beli. Biar berasa sama lo terus."


"Empat.."


"Jantung lo kenceng banget deh detaknya. Deg-degan ya?" Aku tidak ambil pusing soal pertanyaannya yang tidak bermutu dan tetap melanjutkan hitungan.


"Lima. Selesai!" Kali ini, Abi mengizinkan aku melepas lilitan tanganku. "Lo tuh ya!!!" Selesai memeluk Abi, aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum lebar.


"Eh, sorry," seperti ada sengatan listrik mendengar suara Aksa. Aku membalikkan tubuh dan mendapati Aksa sudah berada di hadapanku. Dahiku berkerut, sejak kapan dia ada disana? Kenapa aku tidak mendengar suara mobilnya yang datang?


"Udah pulang, Sa?" Seolah tidak terjadi apa-apa, Abi bertanya santai. Sementara aku harus puas menahan rasa Maluku yang tiba-tiba menjalar. Tadi Aksa melihat kami berdua pelukan nggak ya? Ah, *****. Jelas lihatlah. Dia udah keluar dari mobilnya dan berdiri di depannya. Menurut lo aja dia udah berapa lama disana?


Oke, Gem. Santai.


"D-dari kampus, Sa?" Aku mengekori pertanyaan Abi.


Aksa mengangguk canggung. Tatapan matanya lekat bergantian menatap kami berdua. "Iya, dari kampus." Jawabnya.


"Sorry ya, gara-gara kita, lo nggak bisa masukin mobil." Memang kami menghalangi mobil yang mau parkir di kosku atau Aksa. Jalanan disekitar memang tidak terlalu lebar.


"Iya, nggak apa-apa kok." Raut wajah Aksa tak terbaca sama sekali. Aku jadi bingung menentukan pilihan. Dia cemburu atau nggak ya? Oke, mungkin itu kepedean. Mungkin lebih bagus, apa Aksa sudah cukup menyadari perasaannya padaku melihat aku berpelukan seperti tadi dengan Abi?


"Ngomong-ngomong," Aksa menarik napas pelan. "Kalian ada hubungan apa sebenernya?"


Dang.


Mulus sekali, Sa.


Dia bertanya seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Hanya.. seperti pertanyaan biasa. Kulirik Abi disebelahku yang diam-diam mengeluarkan seringaian kecil.


 


 

__ADS_1


__ADS_2