
"Masih ada yang harus di revisi. Tapi, tidak papa. Kamu bisa mulai mendaftarkan diri untuk sidang," untuk pertama kalinya aku melihat dosen pembimbingku tersenyum. Entahlah, dia bukan termasuk kedalam daftar dosen killer. Tapi, jika menghadapiku. Dia tak sekalipun tersenyum. Mungkin dari awal dia tahu kalau aku merupakan anak bimbingannya yang paling malas.
Jelas saja. Dari beberapa anak bimbingannya, aku yang terakhir lulus sepertinya. Kebanyakan mereka sudah menunggu wisuda. Sementara aku masih harus sidang akhir sekaligus ujian kompre.
"Siapkan dengan baik untuk sidang dan juga ujian kompre. Pahami materi dari awal kamu kuliah. Pelajari hal-hal umum meskipun tidak berkaitan dengan salah satu mata kuliah sekalipun. Matangkan materi yang paling kamu pahami dan bisa. Biasanya, penguji akan bertanya kamu expert di materi yang mana." sambungnya. "Sampai bertemu nanti dalam sidang. Good luck and do the best."
Aku tidak peduli kalau dosen pembimbingku baru kali ini tersenyum padaku. Perasaanku sekarang benar-benar tidak tergambarkan. Sekarang, aku mengerti bagaimana rasanya skripsi telah selesai kukerjakan. Ada rasa puas tersendiri. Meskipun, masih ada sidang akhir dan ujian kompre yang menanti. Itu masih nanti. Aku akan belajar giat agar lulus dan wisuda.
Setelah jungkir balik siang malam mengerjakan skripsi. Akhirnya aku bisa menyelesaikan juga. Memang, eforia kesenangan yang terjadi padaku mungkin tidak akan seluar biasa ketika aku keluar dari ruang sidang. Tapi, biarlah. Aku hanya ingin menikmati moment.
Keluar dari ruang pembimbingku, aku tidak tahan untuk tidak memberi tahu kabar ini pada ketiga sahabatku.
RR. Gema A. Putri: GUE SIDANG
RR. Gema A. Putri: SIDANG!!!!! OH MY GOD!!!!
RR. Gema A. Putri: LO SEMUA TAU DEFINISI SIDANG KAN
Keyna Wilona Geraldi: asiikkk
Keyna Wilona Geraldi: selamat ya monyet cantikku
Keyna Wilona Geraldi: kubangga sekali sama kamu, proud bitches!
Viola Siesyadipta: akhirnya lo lepas dari masa jamuran lo ya di kampus
Viola Siesyadipta: akhirnya juga gue didenger tuhan biar lo cpt lulus
Viola Siesyadipta: hhhh tapi gue seneng bgt bacanya!!!1111!!!11
Viola Siesyadipta: harus dirayain dong
Kanasya A. Nameera: HAHHH SERIUSSSSSS
Kanasya A. Nameera: AAAKKK SENENGGGG
RR. Gema A. Putri: harus dong!!!! Harus dirayain!!!
Aku memutuskan mengundang teman-temanku di kos Sabtu malam. Memesan beberapa macam delivery order dari mulai junkfood sampai penyet kebangsaan kuorder. Pokoknya kamarku penuh dengan makanan sekarang.
"Hih! Gue duluan ya yang ngetep itu sayap punya gue!" Vio menepis tangan Keyna yang hendak mengambil bagian sayap dari ayam penyet yang kupesan.
"Apa sih, Vi! Kapan lo bilangnya?! Nggak mau ah! Gue suka sayap!"
"Gue juga suka!"
Kanasya yang merasa terganggu dengan keributan itu menengahi. "Jangan kaya bocah-bocah deh lo pada. Suit sana!"
Keyna dan Vio berdecak kesal. Tapi mengikuti saran Keyna untuk melakukan suit. "Suit Jepang apa biasa?" Tanya Keyna.
"Biasa aja. Gaya banget Jepang segala."
"Yaelah, gunting batu kertas juga kali maksudnya." Keyna merengut kesal. "Berapa kali?"
"Sekali aja. Ngapain banyak-banyak?" sahut "Udah ah. Suit biasa. Buruan. Satu, dua, ti—" keduanya melayangkan tangannya diudara. "..ga!"
Keyna harus pasrah karena dia kalah suit dari Vio. Membuat aku yang sedari tadi menikmati pizza akhirnya tertawa melihat kelakuan mereka.
"Nggak usah ngambek! Nih, gue bagi! Baik, kan, gue?" Keyna nyengir mendapati Vio mau membagi ayam padanya.
"Maaci, monyetku."
Kanasya menyenggol bahuku pelan, membuatku menoleh. "Lo udah ngasi tau Aksa sama Abi?"
Aku menatap Kanasya bingung. "Hah? Emang buat apaan gue kasih tau?"
Kanasya memutar kedua bola matanya mendengar jawabanku. "Ya, lo sering bilang. Aksa tuh jadi penyemangat lo. Beberapa kali dia yang nemenin lo revisi, kan? Terus, Abi, kalo nggak ada Abi, skripsi lo tu nggak bakal kelar."
Benar juga. Kenapa aku tidak memikirkan itu? Ah, mungkin karena terlalu senangnya.
__ADS_1
"Tapi, gimana gue bilangnya? Masa tiba-tiba gue ngirim pesan gitu ke mereka berdua?" Kanasya mengangguk cepat. "Kalo gitu, sekalian aja gue bikin grup chat sama mereka berdua kali ya?" Gurauku.
Kanasya mendengus pelan sementara aku terkekeh. "Lo harus bilang makasih sama mereka berdua." Vio menimpali.
"Kalo Abi jelas bantuannya soalnya kan kentara banget dari dia bantuin lo ngisi kuesioner. Nah, Aksa nih yang macem eksplisit tersirat gitu, nggak ada Aksa kayanya lo udah mutusin buat putus kuliah ditengah jalan." Aku melempar Kanasya dengan tisu. Meskipun aku dalam hati membenarkan kalimat Kanasya.
"Sana bilang ke Aksa sama Abi." Sahut Keyna.
"Yee.. Yakali sekarang! Gue mau abisin makanan dulu kali!" Sontak seruanku mendapat dampratan dari ketiga sahabatku. Aku hanya terkekeh dan kembali menikmati makanan. Cukup dulu soal Abi dan Aksa. Aku mau menikmati perasaan bahagiaku yang akhirnya bisa juga sidang.
--
Memikirkan soal harus memberi tahu kabar ini pada Abi dan Aksa membuatku tidak tidur-tidur. Sudah hampir jam 11 malam tapi aku masih membuka mata sambil menggenggam ponselku erat. Sudah beberapa kali aku men-dial nomer Aksa. Tapi, sedetik kemudian kumatikan lagi.
Aku bangkit dari posisi telentangku dan berjalan ke depan jendela. Menatap jendela kamar Aksa yang tertutup tirai. Kebiasaannya yang selalu menutup tirai itu kadang membuatku kesal juga. Aku kan jadi tidak bisa melihat dia sedang apa?
"Halo?"
Mataku terbelalak mendapati suara pelan. Kepalaku menoleh ke seluruh kamarku. Sepertinya aku mendengar suara Aksa. Tapi, dimana?
"Gema?"
Saat kusadari genggaman tanganku pada ponsel sedikit berdenyut saat suara itu kembali terdengar membuatu refleks mengangkat ponsel ke hadapan wajahku. Shit, kapan aku men-dial nomer Aksa lagi? Selama beberapa saat aku hanya melihat layar ponsel yang menampakkan detik-detik jam makin berjalan. Tenggorokanku masih tercekat karena kebodohanku sendiri.
"Gema? Kenapa?" Lagi, suaranya terdengar. "Halo?"
Saat itu aku melihat tirai jendela kamar Aksa terbuka. Menampakkan sosok Aksa yang mengenakan kaos santai berwarna hitam. Jantungku kian terpacu cepat mendapati reaksi Aksa yang langsung membuka tirai jendelanya saat tidak ada jawaban dari bibirku.
Mata kami saling memandang. Sesaat, Aksa ikut terdiam. Hanya menyaksikan ketermanguanku di sebrang jendela kamarnya. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum. Secara tidak sadar, ada rasa khawatir dalam diri Aksa yang kutangkap. Kalau dia tidak khawatir, pastinya ia tidak akan susah payah membuka tirai jendela. Yah, tidak tau sih. Mungkin itu hanya kegeeranku saja. Mungkin juga firasatku benar.
"Sa," panggilan itu berhasil keluar dari bibirku. Meski aku harus menahan napas saat mengatakannya.
Putus dari Abi tidak menjadikan hubunganku sama seperti dulu dengan Aksa. Hampir tidak pernah lagi aku makan dengan Aksa. Bicara pun seperlunya jika kebetulan bertemu di bawah. Sebenarnya aku sudah ingin mengajak Aksa kalau ingin makan diluar. Tapi, deadline skripsi menantiku sehingga aku harus puas dengan delivery order.
Aku takut jika terus-terusan bertemu Aksa, fokusku akan buyar. Meskipun dia merupakan penyemangat aku mengerjakan skripsi ini. Tetap saja, wajahnya lebih menarik kupandang daripada layar laptop bukan?
"Kenapa lo belom tidur?" Bodohnya, Gema. Nggak papa, sudah biasa sepertinya aku melakukan kebodohan dan juga kecerobahan didepan Aksa.
"Belom ngantuk aja. Gema sendiri, kenapa belom tidur?"
"Belom ngantuk aja." Aku tersenyum sendiri saat baru kusadar aku mengikuti jawaban Aksa.
"Tapi, ini udah malem." Ada helaan napas dari sebrang sana. "Gema masih ngerjain skripsi apa gimana emangnya?"
"Ngg.. Gue udah mau sidang, Sa."
"Serius? Wah, selamat ya kalo gitu. Seneng banget dengernya. Akhirnya perjuangan Gema buat nyelesaiin skripsi nggak sia-sia," ucapnya tulus. "Telat banget ya kayanya aku tau?"
Aku menghela napas juga. "Lo nggak telat kok. Abi aja belom tau."
Ada jeda yang dia ambil setelah ucapanku. "Kok bisa? Kenapa Gema belom ngasih tau Mas Abi?"
"Gue," aku menggigit bibir bawahku, gelisah. "Gue putus sama Abi."
Cukup lama aku mendengar reaksi Aksa. Kami hanya saling memandang di balik jendela kamar masing-masing. Raut wajah Aksapun tidak bisa kulihat jelas. Aksa lagi mikirin apa sih? Kenapa lama banget jawabnya?
"Gema mau nggak matiin telponnya?" Apa sih, Sa?! "Terus, turun ke bawah. Kita ngobrol langsung kayanya lebih enak." Lega. Kukira dia mau apa menyuruhku mematikan telpon.
Aku mengangguk. "Oke. Kita ke bawah." Aku dan Aksa sama-sama menurunkan ponsel dari sebelah telinga kami dan beranjak turun kebawah.
"Kalo ngobrol malem-malem disini. Nggak enak diliat orang. Kita sambil jalan aja gimana? Pake mobilku." Ajaknya.
"Boleh." Aku menjawab pelan.
Mobil Aksa behenti disebuah parkiran minimarket yang buka 24 jam. Mungkin kalian akan bertanya-tanya. Kenapa juga Aksa harus menghentikan mobilnya didepan minimarket seperti ini? Percayalah, aku pun juga bertanya-tanya.
"Disini nggak sepi," ucapnya pelan. "Kalo sepi, takut dikira ngapa-ngapain."
Mau tidak mau aku tertawa mendengar alasan Aksa yang memarkirkan mobilnya didepan minimarket. Kecanggungan yang kurasakan diawal perlahan mengikis.
__ADS_1
"Kapan Gema sidang?" Selesai ikut tertawa karena melihatku, Aksa bertanya.
"Hmm.. Belum tau. Bulan depan mungkin. Harus ujian kompre dulu sebelumnya pokoknya."
Aksa mengangguk mengerti. "Soal Gema dan Mas Abi—"
Aku tak kuasa menahan senyumku. Kulirik Aksa disebelah. Sepertinya dia cukup ragu menanyakan hal itu.
"Gue putus sama Abi?" Aksa mengangkat kedua alisnya dan mengulum senyum. "Hmm.. Gimana ya jelasinnya? Gue tu sama Abi—sebenernya bisa di bilang nggak pacaran juga," aku tidak mau mengatakan tentang perjanjian itu pada Aksa. Kupikirkan jawaban yang tidak terlalu bohong-bohong banget tapi terdengar masuk akal.
Aksa mengerutkan keningnya. "Lo sama Arum nggak bisa balik karena kata lo 'things didn't get better', sekuat apapun kita mau ngubah masa lalu, hasilnya pasti nggak akan sama. Dan lo nggak bisa menyikapi itu. Anggep aja, gue sama Abi kaya gitu."
Aku menghela napas. "Lagipula, kita pacaran karena simbiosis mutualisme aja." Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa untuk tidak mengatakan tentang ini?
"Maksudnya simbiosis mutualisme?" Aksa tentu saja bingung.
"Gue," aku terdiam sejenak. "Kita sama-sama mau buktiin aja kalo udah nggak ada lagi rasa diantara kita. Ibaratnya, kita lagi coba berdamai sama keadaan. Dulu kan kita putusnya nggak baik-baik." Ah.. Ini alasan paling tepat sepertinya.
"Dan?"
"Dan gue udah berdamai sama Abi." Lanjutku.
Aksa tersenyum puas. "Seneng kalo Gema akhirnya mau maafin Mas Abi."
"Ya masa marah terus-terusan? Nanti gue cepet tua dong?" Aksa terkekeh.
"Kangen deh sama bercandaan Gema."
Aku mengulum senyum. "Masa?" Aksa mengangguk cepat. "Menurut lo gue selalu bercanda ya, Sa?" Tanyaku.
"Iya. Dan bercandanya selalu lucu. Itu yang bikin aku betah ngobrol lama-lama bareng Gema."
"Jadi, kalo gue lagi nggak bercanda lo nggak betah lama-lama ngobrol sama gue?" Cetusku pelan.
"Bukan gitu maksudnya," merasa bersalah Aksa menambahi. "Bercanda atau nggak bercanda aku tetep seneng ngobrol sama Gema."
"Tapi, kalo bercanda lo seneng banget ya ceritanya?" Gurauku yang mendapat ******* senyum paling manis dari Aksa.
"Seneng banget."
Aku membasahi bibirku yang mengering. Mengatur alur napasku. Kali ini aku menatap Aksa dengan wajah sedikit lebih serius.
"Kalo gue bilang sekarang gue lagi nggak bercanda," aku menelan ludah. "Dan bilang gue suka sama lo, gimana?"
Terkejut dengan pertanyaanku barusan. Wajah Aksa menegang saat selesai mendengarnya. Dan untuk yang kesekian kalinya, reaksi itu hanya kutemukan beberapa saat.pada diri Aksa. Setelah itu, reaksi yang kutemukan sama seperti sebelum-sebelumnya. Menganggap lagi-lagi kalau aku hanya melontarkan candaan yang kesekian kalinya.
"Ekspresi itu," gumamku dan mendesah pelan. "Lo selalu nampilin reaksi itu tiap gue bilang kaya gini sama lo."
Tidak kuat untuk selalu menahan perasaanku. Dengan segala sisa keberanian yang kupunya, aku mengeluarkan segalanya. Tentang perasaanku. Semuanya.
"Buat lo tau aja ya, Sa," tuturku. "Gue nggak pernah bercanda sebenernya tiap kali ngomong sama lo. Gue serius. Nggak main-main. Gue beneran suka sama lo dari pertama liat lo. Dan sekarang gue bingung harus naroh muka gue dimana karena malu banget abis bilang ini ke lo." aku mengalihkan wajahku dari pandangannya. Menatap lurus kedepan, melihat beberapa orang masuk kearah minimarket.
"Gema," panggil Aksa.
Aku menggeleng cepat. "Bentar dulu sih, Sa. Gue masih malu!"
"Bentar aja." Jawabnya.
"Kenapa?" Aku menolehkan kepalaku lagi. Tapi, tidak melihat matanya.
"Buat Gema tau aja," dia memulai pembicaraan sama seperti aku mulai menyatakan perasaanku padanya. "Aku bukan bermaksud nanggepin setiap kalimat Gema sekedar bercandaan. Ini emang reaksi refleks aku,"
Kali ini aku memberanikan diri untuk menatap kedalam matanya. "Reaksi refleks aku kalo aku lagi gugup."
*** The End ***
__ADS_1