The Boy Next Window

The Boy Next Window
Nggak Jadi Deh Sebelnya!


__ADS_3

Tidak berhenti sampai disitu saja. Abi benar-benar mendatangi rumahku setiap hari. Untung aku sudah membeli tiket kembali ke Jakarta hari Minggu pagi. Hal yang tidak akan pernah kusesali seumur hidup. Padahal Mama meminta penerbangan pulangku hari Minggu sore atau sekalian hari Senin. Tapi, aku bersikeras menolak.


Aku sudah memesan taksi dari semalam tanpa sepengetahuan Mama. Pak Supri belum kembali dari kampong halamannya. Dipastikan nanti tidak aka nada yang bisa mengantar ke bandara. Papa juga masih sibuk. Sengaja aku melakukan itu untuk mewanti-wanti kalau Mama meminta Abi untuk mengantarku sampai ke bandara.


Koperku sudah kudorong keluar kamar. Mama muncul dari arah dapur. "Nduk, nanti dianter Nak Abi ya? Dia lagi dalam perjalanan kesini."


"Suruh pulang aja, Ma. Gema udah mesen taksi semalem. Nih, barusan ditelpon."


"Lho? Kok gitu?" Suara salam Abi kembali terdengar memenuhi seisi rumah. Kulirik sosoknya yang pagi ini mengenakan celana jins biru dipadukan dengan kemeja putih. Didalamnya terselip kaos yang berwarna senada sebagai dalaman.


"Cancel aja taksinya, Nduk. Ke bandara sama Nak Abi ya?"


Aku menggeleng cepat. Saat itu sebuah taksi datang memenuhi halaman rumahku. Mataku berbinar melihatnya. Secepat kilat aku menarik koperku dan menyodorkan tangan untuk menyalami Mama.


"Udah dateng tu taksinya. Gema pake taksi aja."


"Kalo gitu saya nemenin Gema ke bandara pake taksi juga, Tante." Terlihat wajah Mama yang berseri-seri mendengar kalimat Abi.


"Apaan si. Nggak perlu. Mending lo pulang. Nggak punya kerjaan banget sih tiap hari ke rumah orang."


"Kerjaan gue kan nengokin lo."


Aku mengabaikan kalimat Abi. "Iya, Nak Abi, tolong anterin Gema ya? Maaf lho ngerepotin." Tukas Mama membuat kedua bola mataku berputar sebal.


Aku hanya bisa mendengus kesal. "Gema berangkat dulu, Ma. Mama sama Papa jaga diri. Bilangin Papa jangan kerja terus yang dipikirin. Sering-sering dirumah. Pokoknya jangan sampe sakit. Titip salam buat Eyang juga maaf Cuma bisa sekali ke rumah."


Mama membaals kalimatku dengan kalimat panjang lebar. Aku hanya mendengarkan dengan seksama dan sesekali menghela napas. Udah tau, Ma. Mama selalu nasehatin seputar hal yang sama terus. Bikin aku bosan saja.


"Iya, Ma. Yaudah, berangkat ya."


Melihat gelagatku yang hendak menarik koper. Dengan gerakan cepat Abi lebih dulu menyambarnya.


"Saya juga berangkat, Tante."


"Hati-hati ya, Nak Abi."


Aku menunggu Abi selesai memasukkan koper didalam bagasi dibantu oleh supir taksi. Tidak sampai lama, tubuhnya masuk kedalam mobil dan duduk bersebelahan denganku.


"Jangan jalan dulu, Pak. Saya mau pindah kedepan." Dalam hati menyesal. Kenapa tidak daritadi saja ya aku duduk didepan? Nggak sudi banget harus duduk sebelahan sama si tengik satu ini.


"Jalan aja, Pak. Dia nggak biasa pake seatbelt. Suka sakit pinggang. Denger-denger lagi ada razia. Nanti di tilang lho." Mendengar ada kata razia wajah supir taksi itu sedikit berubah dan mengangguk cepat. Lekas itu ia langsung menjalankan mobilnya.


Aku melenguh dan melirik tajam kearah Abi. Kugeser tempat dudukku hingga mepet sekali dengan pintu. Yang penting nggak deket Abi.


"Caper banget sih lo." Gumamku.


"Minggu depan gue ke Jakarta," aku mengangkat kedua alisku. Emang ada yang peduli? "Ngurus perusahaan almarhum bokap." Aku sudah tahu Ayah Abi telah meninggal semenjak dia SMP. Ada sedikit rasa simpati yang menelusup. Tandanya sekarang ia seorang yatim piatu. Membayangkan diriku jika menjadi dirinya membuatku bergidik ngeri.


"Dasar nggak mau usaha." Malah itu kalimat yang keluar dari bibirku.


Sudut bibir Abi terangkat keatas. "Gue mulai dari bawah kok. Gue juga sadar diri kalo gue masih belajar dan belom banyak pengalaman. Jangan bayangin gue langsung jadi CEO muda deh. Nanti lo makin naksir."


"Geli banget deh!"


Abi tertawa. "Nggak sabar gue tinggal di Jakarta. Setelah sekian lama di Jogja."


"Harusnya lo di Jogja aja selamanya. Kasian gue sama Jakarta udah panas ada lo makin panas. Makin banyak setan berkeliaran." Abi menanggapi kalimatku hanya dengan tertawa. Untungnya dia tidak bicara lagi hingga taksi sudah masuk ke area bandara.


"Safe flight ya, Gem. Kalo cowok samping lo macem-macem, tendang aja badannya."


"Saat ini, satu-satunya cowok yang pengin gue musnahin di dunia itu ya elo." Jawabku santai sambil mendorong koperku masuk kedalam bandara. Meninggalkan Abi di belakang dengan seringaian kecil diwajahnya.


--


Ketiga sahabatku sudah menunggu di pintu kedatangan. Ketiganya secara bergantian memelukku satu persatu. Kami berempat memang akhir-akhir ini jarang nongkrong bareng karena kesibukan masing-masing. Setelah memberikan ketiganya oleh-oleh, aku masuk kedalam mobil Vio.


"Eh, si Aksa emang pulang kapan, Gem?" Tanya Keyna.


Aku mengedikkan bahu. "Nggak nanya gue."

__ADS_1


"Kok nggak nanya sih lo? Harusnya lo nyamain pulang bareng doi. Biar bareng kan. Terus gak perlu minta jemput kita-kita." Balas Vio yang tengah menyetir.


"Oh, jadi, nggak ikhlas nih jemput gue?"


"Tuh kan, Vi, apa gue bilang. Dia lagi sensi banget gara-gara jatuh cinta." Sahut Kanasya yang berada di sebelah Vio.


"Tapi, bener sih Vio. Lumayan kan Gem buat PDKT lagi kalo lo pulang bareng dia?"


"Kayanya Aksa pulangnya yang sore deh. Seinget gue."


"Lah lo? Kenapa lo pulang pagi-pagi?"


"Gue bosen di Jogja. Ribet kalo kemana-mana. Lagian, ya—" aku menghentikan kalimatku. Menghela napas sejenak. "Gue ketemu Abi."


"Eh, demi apa lo???" Kanasya sampai harus memutar lehernya agar menghadap ke belakang.


"Abi, Abi mantan lo waktu SMA?! Yang lo ceritain itu?!"


"Ganteng tau dia." Keyna berujar polos. Membuatku mendelik kearahnya.


"Terus, terus, gimana?"


"Iya, Gem. Terus lo ngapain? Lo gak malu-maluin, kan? Lo gak melakukan hal-hal aneh depan dia?"


"Sialan lo! Ntar aja ceritanya abis lo pada traktir gue makan. Laper nih belom sarapan. Di pesawat makanannya lagi nggak enak."


"Tenang, Gem. Lo mau apa sekarang?"


"Cie tau deh abis gajian." Tukas Keyna pada Kanasya yang dibalas hanya cengiran.


"Gak usah mahal-mahal. McD aja sama Pizza Hut. Di take away makan di kos gue ya?"


"Iye, emang gak mahal. Tapi, lo mesennya banyak. Sama aja boong." Vio yang tahu kebiasaanku hanya bisa berdecak sambil menggelengkan kepala. Aku hanya tertawa menanggapi kalimatnya.


Padahal masih ada 4 slice pizza serta beberapa kentang goreng yang belum tersentuh. Tapi, kami berempat sudah kekenyangan mengingat burger beserta ayam dan nasinya sudah masuk ke perut.


"Jadi, sekarang Abi gimana?" Tanya Kanasya antusias.


"Gue tebak, makin ganteng." Ceplos Keyna lagi.


"Apaan sih, Key. Ganteng-ganteng mulu. Kalo lo tau kelakuannya juga goodbye."


"Udah punya pacar dia?"


"Nggak tauuu. Kalo lo tanya-tanya tentang Abi gue gak tau sama sekali. Ogah banget nanya-nanya ke dia. Yang gue tau, dia baru lulus S2 dan minggu depan mau ke Jakarta buat kerja di perusahaan almarhum bokapnya."


"Aseekk.. Kalo lo gak mau sama Abi. Sama gue aja deh dia, Gem." Sahut Keyna.


"Woi, inget pacar di rumah!!!" Sanggah Vio cepat membuat Keyna tertawa.


"Terus, terus, lo di Jogja sama dia gimana?"


"Tiap hari dia ke rumah gue mulu sampe enek gue." Kemudian aku menceritakan segala kekesalanku dengan Abi yang setiap hari selalu ke rumah.


"Oh.. Ya pantes nyokap lo seneng Abi. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ya, dia nganggep Abi sama baiknya sama dosen favoritnya."


"Andai aja nyokap gue tau kalo anak gadis satu-satunya pernah di sakitin sama dia."


"Anjay, disakitin. Bahasa lo ah, Gem."


"Adek nggak kuat, Kakak."


"Benci beda tipis sama cinta lho." Kanasya mengingatkan. Sontak membuat kedua bola mataku berputar.


"Udah tau." Aku menjawab ketus.


"Tiba-tiba lo cinta lagi sama Abi."


"Nggak, gue kan cintanya sama Aksa."

__ADS_1


"Oww... Adek nggak kuat, Bang!!"


"Makan, Bang."


"Minum, Bang."


"Goodbye, pecinta yanglek." Tidak tahan juga untuk tertawa. Sejenak aku lupa soal Abi. Nggak mau inget-inget juga. Cukup Aksa yang selalu nyangkut diotak. Jangan bikin otak butek hanya gara-gara Abi ikut nyangkut juga.


--


Ketiga sahabatku sudah pulang. Karena besok hari Senin sehingga tidak bisa sampai malam karena takut kesiangan besok. Kanasya yang harus kembali bekerja. Viola yang tinggal menunggu wisuda tapi sedang sibuk mengurusi online shop yang sedang ia geluti. Sementara Keyna, dia sudah ada janji dengan pacarnya malam nanti.


Sedari tadi aku hanya berguling-guling diatas kasur. Mencari posisi yang enak untuk merebahkan tubuh. Sejak tadi juga aku bolak-balik melongokkan kepala keluar jendela untuk mengintip jendela kamar Aksa. Tapi, kamar itu masih gelap. Tirainyapun masih tertutup. Jelas saja seperti itu, boro-boro mengharapkan kehadirannya di kamarnya. Mobilnya di garasi saja belum terlihat. Aku menghela napas. Jangan-jangan Aksa jadinya pulang besok?


Ini sudah lepas isya dan tiba-tiba perutku lapar. Kebetulan ada tukang bakso yang lewat dan langsung saja kupanggil dari atas. Hanya membawa beberapa lembar uang recehan serta kaleng soft drink untuk minum. Aku turun ke bawah. Sengaja kumakan baksoku di ruang tamu agar langsung tahu kalau-kalau Aksa sudah datang.


"Sendirian aja, Mbak Gema?" Tanya Pak Mukin yang kebetulan lewat.


"Ya sendiri, Pak. Orang pacar gak punya." Sahutku.


Pak Mukin hanya tertawa. "Pak Mukin udah makan? Kalo mau pesen bakso, pesen aja."


"Nggak, Mbak. Tadi saya sudah makan." Aku hanya ber-oh ria. "Saya ke belakang dulu ya, Mbak."


Aku mengangguk dan melanjutkan makan baksoku. Ditengah kegiatan makanku, suara mobil membuatku menoleh. Wajahku berseri-seri saat mengetahui mobil Aksa yang datang. Setelah di php in beberapa kali karena mengira beberapa mobil yang lewat adalah mobil Aksa. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Buru-buru kuselesaikan kegiatan makanku sebelum Aksa turun dari mobil.


Berhamburan aku keluar kos. Pura-pura mengembalikan mangkok sekaligus membayar baksoku.


"Gema? Udah pulang?" Yes, disapa!


Aku yang memasang wajah tidak tahu kehadirannya pura-pura terkejut melihat dirinya yang berada didepan kos.


Fake banget lo, Gem!


Bodo amat!


Suara hatiku saling sahut menyahut.


"Eh, Sa, lo baru pulang?"


"Sebenernya udah dari sore. Tapi, tadi ketemu temen dulu."


Aku mengangguk-angguk. "Makan bakso, Sa. Enak lho!" Tawarku.


"Tadi udah makan bareng temen yang tadi," jawab Aksa. "Aku masuk dulu ya, Gema."


"Buru-buru banget sih, sialan! Nggak tau apa gue nungguin daritadi?!" Rutukku pelan sekali.


"Neng, kembaliannya."


"Ambil aja deh, Bang." Aku tidak menanggapi kalimat Aksa. Hanya kulirik dirinya sekilas dan tersenyum tipis. Setelah itu aku kembali keatas dan masuk kedalam kamar. Kujatuhkan tubuhku dengan keras keatas kasur disertai hembusan napas kesal.


"Basa-basi apa kek! Main nyelonong masuk aja! Ngeselin banget sih lo, Sa! Dua hari, Sa, gue gak liat muka lo! Dua hari!!!" Aku mencak-mencak sendiri. "Tapi, lo malah gitu!!! Dasar cowok gak peka!!!"


Disaat sedang meledak-ledak karena kesal. Ponselku bergetar. "Siapa lagi nih yang nelpon ahelah!!!" Meski kesal, aku tetap mengambil ponsel tersebut. Mataku seketika membulat melihat nama Aksa didalam layar.


"Tarik napas buang, Gem. Jangan keliatan orang abis marah-marah. Iya—halo, Sa?" sapaku.


"Tadi aku buru-buru masuk ke kamar karena kebelet," tawanya berderai memenuhi gendang telingaku. "Jadi lupa ngasih oleh-oleh ke Gema." Seketika rasa kesalku pada Aksa sirna. Digantikan oleh perasaan senang. Nggak nyangka Aksa bakal ingat denganku. Sampai membelikan oleh-oleh segala.


Langsung aku bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke depan jendela. "Gue juga punya oleh-oleh, Sa. Ke jendela sekarang deh." Saking kesalnya aku jadi lupa oleh-oleh yang ingin kuberikan pada Aksa. Kusambar bungkusan yang ada diatas meja dan menunggu Aksa didepan jendela.


Tak lama tubuhnya terlihat. Satu tangannya juga memegang ponsel disamping celana. Satu tangannya lagi menunjukkan sebuah bungkusan juga. Hal yang sama kulakukan saat ini. Sebuah pikiran langsung terbesit didalam otak. Jodoh banget, woi!!! Bisa samaan gitu!!!


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2