The Boy Next Window

The Boy Next Window
Gara-Gara Kuesioner, Nih!


__ADS_3

Perjanjian dengan Abi kemarin-kemarin itu entah merupakan keputusan sesat atau malah menguntungkan. Aku tidak ingin terlalu memikirkan satu masalah. Sudah cukup masalah-masalah bergantian. Aku tidak ingin stuck pada satu masalah. Masih ada masalah lain yang sudah menanti. Contohnya saat ini, aku menatap tumpukan kertas kuesioner yang sudah kubuat seminggu lalu. Seharusnya ini sudah diisi oleh orang-orang pada suatu perusahaan. Selama seminggu ini aku sudah berkeliling mencari perusahaan yang mau menerima kuesioner ku. Tapi, belum ada satupun yang dapat menerima.


Aku memijit pelipisku pelan seraya bergumam tidak jelas. Kubenamkan wajahku dibawah bantal. Meremas-remas bagian atasnya. Frustasi dengan keadaan yang harus menimpaku.


"Skripsi aja urusannya ribet begini. Apalagi ngurusin anak nanti ya Tuhan!!" Jeritku dalam bawah bantal sehingga suaraku seperti orang megap-megap.


Ponselku berbunyi menambah moodku yang jelek tambah anjlok. "Siapa sih yang nelpon disaat gue lagi males ngomong sama semua orang! Hah!!!" Tanpa melihat nama si penelpon, aku langsung me-reject telponnya biar benda itu diam.


"Elah, berisik!!" Aku melemparkannya lagi ke sembarang arah. Lagi, bunyi benda kecil tak berdosa itu terdengar. Cukup sudah, kesabaranku habis! Aku mengangkat tubuhku dan terduduk diatas kasur. Mengambil ponselku dengan gerakan kasar.


Makin kesal ketika nama Abi tertera didalam layar. "Ngapain sih ni anak nelpon segala!!! Padahal tinggal juga di sebrang!!!" Terpaksa aku mengangkat telponnya agar bunyi itu diam. Sudah mengambil ancang-ancang bersiap memaki-maki Abi. Tapi, suara disana lebih dulu terdengar.


"Cintaku, sayangku, kenapa sih tadi di reject segala?"


"Brengsek! Harus berapa kali gue bilang jangan panggil gue dengan panggilan menggelikan kaya gitu?! Lo budek apa emang nggak ngerti-ngerti sih! Kesel gue!!!"


"Et.. Sesuai perjanjian loh. Nggak boleh jutek, marah—"


"Berisik. Disana juga tertulis gue boleh marah kalo emang harus marah. Sekarang, gue berhak marah sama lo. Karena lo udah ganggu gue! Lo tau nggak sih kalo gue lagi stress? Dan bunyi telpon lo itu ganggu tau nggak!!!"


"Iya.. Iya.. Kenapa sih? Lagi PMS ya? Cerita sini sama gue. Apa gunanya punya pacar kalo nggak saling cerita?"


"Males banget cerita sama lo."


"Yaudah kalo nggak mau cerita. Mau dibawain apa? Gue lagi dijalan nih pulang ngantor." Oh iya. Aku lupa jam segini Abi baru pulang dan belum ada di kamar.


"Nggak perlu! Udah ya. Gue tutup. Bye!" Aku mengganti bajuku dan mengambil dompet didalam laci lantas turun kebawah. Mencari sosok keberadaan Pak Mukin. Niatnya ingin meminjam motor Pak Mukin untuk membeli mie ayam didepan. Saat turun, yang kulihat malah Aksa yang turun dari taksi.


Hampir saja aku terlonjak kegirangan mengingat dua hari ini Aksa memang tidak berada di kos. Dia pergi mengikuti sebuah seminar diluar kota untuk pemaparan final hasil PKMnya yang baru saja ia selesaikan dan tinggal menunggu hasil apakah nantinya akan dibiayai oleh DIKTI atau tidak. Aku lupa kalau hari ini dia sudah pulang. Mata kami bertemu. Aksa tersenyum sumringah mendapati kehadiranku.


"Eh, Gema, mau kemana?" Tanyanya.


"Beli makan," jawabku. "Gimana pemaparannya?"


"Lancar. Doain ya semoga lolos." Jawab Aksa. "Eh, iya, Gema nggak usah beli makan. Ini, aku udah beli nasi kotak. Tadinya buat Mas Abi, tapi katanya dia nggak jadi pulang sekarang. Diajakin temen kantornya nongkrong bentar."


Dalam hati aku bertanya. Pembohong nih si Abi. Katanya tadi udah dijalan? Taunya malah nongkrong dulu. Gayanya tadi nanya mau dibawain apa. Kalaupun aku nitip makanan ke dia. Kayaknya keburu aku tidur baru nyampe itu makanan. Keburu mati gara-gara kelaperan.


"Oh. Dia makannya diluar jadinya?"


Aksa mengangguk. "Ini makanannya. Aku keatas dulu ya naroh tas."


"Oke. Makan di ruang tamu kos gue aja. Nggak usah bawa minum, Sa. Gue ada banyak. Lo mau apa? Air mineral dingin? Soft drink? Sirup?"


"Terserah Gema. Yang penting nggak bikin Gema repot."


Kuletakkan kotak makanan itu diatas meja ruang tamu dan bergegas naik keatas. Mengambil dua gelas dan satu botol air mineral dingin yang memang sudah selalu kustock kalau diluar sedang panas.


"Seru nggak pas disana?" tanyaku sambil memasukkan satu sendok makanan kedalam mulut.


"Hmm.. Lumayan. Asik-asik kok." Tukasnya. "Oh iya. Maaf ya, aku nggak bawa oleh apa-apa. Soalnya emang nggak ada jadwal buat keluar-keluar gitu."


"Nggak papa. Ngeliat lo pulang selamat juga gue seneng." Ucapku tanpa sadar. Kali ini tidak bermaksud ingin kode. Jadi, aku tidak merasa malu. "Eh, kenapa lo pulangnya naik taksi sih? Kenapa nggak minta jemput Abi?"


"Nggak lah. Kan, Mas Abi masih ngantor waktu aku pulang. Nggak enak kalo minta jemput."


"Kenapa nggak minta jemput gue? Gue bersedia loh kalo lo minta."


Bibir Aksa berkedut menahan senyum. "Nanti ngerepotin Gema."

__ADS_1


"Nggak tuh. Gue nggak repot sama sekali," kilahku. Mataku melirik kearahnya. "Atau, kenapa nggak minta jemput Arum?"


Mendengar nama Arum disebut, Aksa tidak langsung menjawab. Melainkan mengambil gelas yang telah diisi air dan meneguknya sampai habis.


"Nggak mau ngerepotin juga." Seketika kadar kesenanganku berkurang drastis. Kupikir soal dia tidak mau merepotkanku hanya tertuju untukku saja. Ternyata sama Arum dia mengatakan hal yang sama.


"Oh." Kumasukkan dua sendok sekaligus kedalam mulut. Menyebabkan pipiku menggelembung karena kelewat banyak makanan yang masuk.


Melihat wajahku saat ini, Aksa tertawa. "Gema lucu banget pipinya gembung gitu!"


Aku bergumam tidak jelas karena masih mengunyah. Takut nanti kalau aku bicara malah keluar ini makanan. Aku menelan sisa-sisa terakhir makananku dan menenggak habis minuman.


"Laper banget ya? Masih mau makan lagi nggak? Kalo iya, keluar yuk." Ajak Aksa. Pasti raut senang dan binar dimataku terlihat jelas sekali dalam pandangannya. Aku menggeleng cepat dan menyingkirkan reaksi yang terlalu blak-blakan itu. Jangan kelihatan terlalu senang, Gem! Inget, saat ini ada Arum yang datang lagi dalam kehidupan Aksa.


Aku belum tahu perasaan sebenarnya yang dimiliki Aksa. Aku tidak ingin ambil spekulasi dan langsung terbang ke awing-awang mendengar setiap kata yang keluar dari bibir yang dari awal pertemuan ingin kulahap saja bawaannya.


"Hmm.." Aku pura-pura berpikir dengan ajakan Aksa. Sebelum aku memutuskan, kulihat mobil Abi tengah berhenti tepat didepan kos Aksa. Sontak aku dan Aksa menatap secara bersamaan ketika sosok Abi keluar untuk membuka pagar. Abi tidak menyadari keberadaanku dan Aksa yang tengah duduk di ruang tamu.


"Udah pulang tuh om lo." Aku bergumam.


"Iya." Aksa malah diam.


"Gih, samperin. Biar gue aja yang beresin ini." Tunjukku pada kotak makanan kami yang habis.


"Kan kita berdua yang makan. Masa Gema yang beresin sendiri? Biar aku yang buang. Gema bawa gelasnya." Aku mengangguk patuh dan langsung membawa gelas-gelas serta botol air mineral yang kubawa turun kedalam dekapan.


"Gue naroh gelas ya. Makasih buat makanannya. Makasih juga udah mau buangin kotak bekasnya he he." Aku tertawa hambar. "Gue keatas dulu."


Aksa mengangguk pelan. Saat satu anak baru kunaiki suara Aksa yang memanggilku menghentikan langkah.


"Kenapa, Sa?"


--


"Kenapa sih bête terus dari kemarin?"


Abi yang baru pulang ngantor sore-sore begini menghampiriku yang tertunduk lemas di sebelah mobilku. Lagi-lagi aku mendapat penolakan dari sebuah perusahaan untuk mengisi kuisioner yang kuajakan. Melihatku diluar, Abi tak membuang waktu untuk segera menghampiri.


Aku mengangkat tangan yang memegang tumpukan kuesioner pada Abi. Abi mengambil kuesioner dari tanganku.


"Kenapa sama kuesionernya? Belom di acc sama dosbing?"


Aku mendesah pelan. "Bukan belom di acc sama dosbing. Nggak di acc aja sama tiap perusahaan yang gue datengin. Emang segitu nggak bermutunya apa isi kuesioner gue sampe mereka nggak mau nerima?" Keluhku.


Mendengar keluhanku, Abi malah tertawa. "Ya, jaman sekarang ngisi ginian kalo nggak ada duitnya mana mau."


Aku menatap tidak percaya pada Abi. "Masa? Boong ya lo?"


"Nggak semua sih. Beberapa. Mungkin yang lo datengin dari beberapa perusahaan itu."


"10 banget nih berarti?"


"Emang lo udah datengin ke 10 perusahaan?" Aku mengangguk pelan. abi menggelengkan kepalanya. "Makanya, cerita sama gue. Jadi, kan gue tau. Kalo kaya gini lo nggak perlu stress dan marah-marah segala."


"Emang napa sih?"


"Helloo?" Abi mengibaskan tangannya didepan wajahku. "Lo nggak inget pacar lo ini udah kerja? Kenapa lo nggak minta bantuan gue aja?"


"Emang lo mau?"

__ADS_1


Abi terkekeh dan mengacak rambutku pelan. membuatku menggeretu sesaat. "Ya, mau dong. Masa pacar minta tolong gue nolak?"


"Nggak perlu kan gue ngasih duit?"


"Tenang aja. Kalo ada yang berani minta uang buat bantu tugas akhir anak kuliahan. Gue bilang ke bokap gue suruh ngundurin diri saat itu juga."


"Lebay lo."


"Gue serius," tukas Abi. "Gue bawa ya kuesionernya?"


Kali ini tidak ada tatapan kesam, marah, atau apapun yang biasa kulakukan pada Abi. Tatapanku untuk saat ini merupakan tatapan memohon. Abi satu-satunya harapanku saat ini. Kalau kuesioner itu tidak diisi. Aku tidak akan bisa melanjutkan ke bab selanjutnya. Hancur sudah perjuanganku untuk lulus dan mendapat gelar sarjana.


"Kapan bisa gue ambil kuesionernya?"


"Gampang. Kaya gini doang paling nggak sampe seminggu. Gue usahain, lusa udah bisa gue kasih ke lo."


"Serius?" Takjub dengan jawaban Abi. Mulutku terbuka lebar dan refleks menggumamkan kata yes berkali-kali. Perlahan-lahan beban yang sedari kemarin mengganjal tubuhku sedikit demi sedikit terangkat.


Abi mengangguk penuh keyakinan. "Dua rius."


"Makasih ya!"


"Sini, cium dulu."


"Dih, ogah! Isiin dulu itu kuesioner gue."


Raut wajah Abi cerah. "Baru lo mau cium gue?"


"Apaan sih pede banget. Gue traktir. Yee..."


"Yah, pipi doang juga nggak?" Aku menggeleng. "Jidat?" Kugelengkan kepalaku lagi sambil menahan senyum.


"Nggak ada, Bi. Nggak ada cium-ciuman. Nggak ada di perjanjian, kan?"


Abi menggaruk kepalanya. "Peluk deh. Kan ada di perjanjian."


"Kan kalo gue mau."


"Yah, masa nggak mau terus? Kapan maunya dong?"


Aku terdiam dan berpikir. "Yaudah."


"Yaudah apa nih?"


"Peluk." Aku mencebik.


"Beneran?" Aku hanya ber-hmm ria. "Yaudah. Mana peluknya?"


"Yeee.. Dibilang isiin dulu kuesioner gue."


"Oh iya, lupa. Kalo tau mau dipeluk. Gue usahain besok deh jadi!"


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2