The Boy Next Window

The Boy Next Window
Ide Gila


__ADS_3

"Bukan urusan lo." Jawabku ketus.


"Iya, lo jangan sama Aksa deh ya." Aku mendelik dan membuang mukaku. Mengabaikan kalimat Abi. "Dia lebih muda dari lo. Nanti pas jalan dikira tante sama keponakannya lagi." Abi ngakak sementara aku benar-benar memutar tubuhku dan berjalan masuk kedalam kos. Meninggalkan dirinya dengan suara tawanya yang menurutku super duper menyebalkan.


"Gema!" Panggil Abi.


Aku tidak menghentikan langkahku dan tetap melangkah kedepan. "Sekarang gue udah jarang ngerokok kok! Suer deh!" Seru Abi.


Kedua bola mataku berputar tanpa sadar. Aku mendengus cukup keras. Bohong banget kalau dia jarang ngerokok. Jelas-jelas tadi pagi waktu aku hendak ke kamar mandi dan melihat jendela, wajah Abi sedang dikepung oleh asap rokok. Biasanya cowok-cowok yang kalau pagi langsung ngerokok bukannya minum air mineral, tandanya sudah kecanduan.


Aku tidak tahu sih Abi sudah minur air mineral apa belum. Lagian nggak peduli juga. Aku tetap berjalan hingga masuk kedalam ruang tamu. Masih sempat aku mendengar tawa Abi menggema di telingaku.


"Dasar playboy tengik cap badak!!!" Umpatku saat sampai kedalam kamar.


Satu pesan masuk kedalam ponselku. Meski aku tidak save nomernya. Aku tahu itu nomer Abi. Ngapain sih dia ngirim-ngirim pesan segala?! Nggak puas ya tadi ngetawain aku? Sempat terlintas pikiran untuk langsung menghapus saja pesannya tanpa perlu kubaca. Kalau perlu sekalian kublock nomernya. Tapi, sebagai seorang cewek dengan radar ke-kepoan yang melebihi para cowok-cowok diluar sana. Aku tergerak untuk membuka pesannya.


From: 0812xx


Gem, lain kali jalannya sama gue dong!


"Dih apa sih ni anak?! Males banget gue jalan sama dia!


Tidak ada niat untuk membalas. Ponsel sudah ingin kutaruh diatas nakas. Tapi, getarannya mengurungkan niatku. Ada pesan lagi yang masuk.


From: 0812xx


Jgn Cuma diliat aja. Bales gitu kek biar gue seneng.


"Yee.. Tetelan bakso! Ngarep banget gue bikin lo seneng!"


Lagi, satu pesan masuk.


From: 0812xx


Tapi, gpp. Walopun gak di bls pake pesan.


Gue tau lo bales pake mulut lo langsung ;)


Sontak aku membungkam mulutku sendiri dengan sebelah tanganku yang bebas. Melirik kearah jendela yang tirainya setengah terbuka. Menyadari telah melakukan hal bodoh, aku menjitak sendiri kepalaku.


"**** banget sih, Gem! Dia Cuma sok tau aja kali gak bakal liat lo!" Meski begitu, aku tetap bangkit dari kasur dan melangkah pelan-pelan ke depan jendela. Dengan gerakan cepat, aku menutup tirai jendelaku hingga menutup keseluruhan jendela kemudian kembali menjatuhkan tubuh diatas kasur.


Siapa tau Abi memang benar jelmaan setan dan bisa melihat dengan mata batinnya. Jadi, dia tahu apa yang sedang kulakukan sekarang! Memikirkan itu membuatku sangsi. Kutarik selimut yang ada di ujung kasur untuk menutupi seluruh tubuh.


"Gara-gara Abi gue jadi makin stress!!!!"


--


Seminggu terakhir benar-benar seperti neraka untukku. Sudah dikejar deadline. Ditambah kehadiran Abi yang suka muncul tiba-tiba. Bahkan saat aku malam-malam sedang membuang sampah, wajahnya muncul dengan tengilnya. Ketika aku ke warung Bi Sumi pun ada dia juga! Saat aku menatap ke jendela pun masih ada lagi dia dengan satu puntung rokok ditangannya.


Aku hanya bisa mendesah pasrah. Kebiasaanku menatap jendela setiap pagi musnah begitu saja. Biasanya aku selalu melihat aktivitas Aksa. Kali ini tidak. Malas melihat penampakan didalam kamar Aksa sekarang. Intensitas makan bersama Aksapun benar-benar terasa berkurang. Setiap aku bertemu Aksa, seolah Abi selalu mengekor di belakangnya. Saking seringnya tiap kali ada Aksa da nada Abi juga. Perlahan aku jadi sedikit enggan kalau bertemu Aksa.


Bukan gara-gara enggan bertemu Aksa! Kalau Aksa mah aku mau lah! Tapi, ya itu, gara-gara Abi deh pokoknya semuanya.


"Lo gak kerja apa?!" Tanyaku yang mulai sebal saat melihat wajahnya dimana-mana. Saat itu aku baru berbincang sebentar dengan Aksa yang hendak berangkat kuliah. Melihat lagi-lagi Abi berada di belakangnya darahku naik ke ubun-ubun. Untung Aksa sudah pamit beberapa saat lalu. Aku tidak malu mengeluarkan emosiku didepan Abi.


"Kerja kok."


"Yaudah sana berangkat!!! Jangan berkeliaran kaya kucing kelaperan aja bisanya!!!"


"Kan, mau pamitan dulu sama lo."


"Ngapain banget! Ogah!"


"Yee.. Kan latian buat nanti kalo kita udah nikah," Sahutnya yang aku tahu asal ceplos. "Sini, salim dulu sama suami."


"Apaan sih geli banget! Salim aja sama tikus di comberan!"

__ADS_1


Abi ngakak. "Emang tikus punya tangan buat salim ya?"


"Nggak peduli!"


"Nanti gue googling deh," gumamnya. "Lo kalo gak mau salim sini cium aja deh."


"Goodbye!" Aku mengibaskan tangan ke udara dan beranjak meninggalkan Abi yang entah sudah berapa kalinya. Setiap perbincanganku dengan Abi, pasti berakhir aku yang pertama meninggalkannya.


Diam-diam aku mengintip Abi yang masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan kos. Aku menghembuskan napas lega tanpa sadar. Suasana langsung lengang seketika. Aku memutuskan akan berada didalam kamar saja hari ini.


--


Seharian berada di kos benar-benar membuatku suntuk. Sejak pagi aku hanya bolak-balik streaming film dan sesekali mengerjakan revisi. Hingga tanpa terasa sudah sore. Perutku terasa lapar. Dari pagi aku memang hanya memakan roti. Kuputuskan untuk keluar mencari makan. Ditengah-tengah sedang bersiap mencari makan, mataku menatap tumpukan baju kotor di keranjang kotor.


"Yaelah.. Gue lupa laundry!" Aku menggaruk kepalaku.


Sore-sore begini laundry didekat kosku pasti sudah tutup. Sebenarnya aku malas membawa-bawa tumpukan baju. Tapi, meihat baju yang sudah menggunung dan aku paling tidak tahan dengan tumpukan baju kotor. Aku memasukkannya kedalam tas laundry dan membawanya serta merta kedalam mobil. Yaudahlah, sekalian cari makan juga.


Sebelum mengantar laundry, aku berhenti tepat didepan pecel lele langgananku untuk memesan terlebih dahulu kemudian setelah membayar aku meninggalkan pecel lele dan mencari tempat laundry yang masih buka.


Kujalankan mobilku secara perlahan dan mataku menelusuri sisi jalanan. Mencari tempat laundry. Setelah menemukan yang masih buka, aku menghentikan mobil dan turun. Betapa bahagianya saat mengetahui ternyata ada Aksa disini juga. Jodoh memang tidak akan kemana! Kulihat dia juga sedang mengantar laundry. Dan yang paling penting sendirian!


"Gue baru sadar ada mobil lo, Sa." Kepalaku mengarahkan ke mobil Aksa yang terparkir tepat didepan laundry an.


"Aku udah sadar waktu Gema lagi parkir. Soalnya aku hapal plat mobil Gema."


Aku tertawa canggung. "Masa sih lo apal?"


Aksa mengangguk. "Iya, apal. Udah kebiasaan selalu inget plat nomer orang."


"Yaelah, kirain." Gumamku.


"Kenapa, Gema?"


Buru-buru aku menggeleng. "Nggak, nggak apa-apa."


"Mbak, mau pake parfum apa?" Tanya Mbak-mbak laundry.


"Gema suka lily ya?" Tanya Aksa.


"Biasa aja sih. Cuma kalo laundry biasanya pake itu. Yang lumayan paling gak nyengat baunya diantara yang laen."


"Ada, Mbak." Jawabnya.


"Yaudah itu aja." Sahutku lagi. "Lo kenapa diem aja, Sa? Nggak pulang?" Aku sudah bersiap berdiri sementara Aksa masih tetap duduk ditempatnya.


"Nggak, aku nunggu—"


"Sa, lo suka nasi uduk, kan? Udahlah, suka aja ya. Gue udah terlanjur beli nasinya yang uduk nih." Abi muncul membawa satu plastik berukuran sedang.


Beberapa detik aku tertegun dan bergeming ditempatku.


"Eh, ada Gema! Jodoh banget ya selalu ketemu kita?"


Gubrak!!!


Baru saja merasakan angin segar karena terhindar dari Abi. Ternyata ketemu lagi disini! Di tempat laundry yang jaraknya tidak dekat-dekat amat dengan kos!


"Sa, gue duluan ya." Mengabaikan Abi, aku pamit pada Aksa.


"Gema udah makan belom?" Tanyanya. "Kalo belom, sekalian pesen di sebrang aja. Lumayan enak penyetnya."


Aku menggeleng cepat. "Nggak. Udah mesen di pecel lele langganan gue."


"Oh iya, aku belum sempet ke pecel lele yang Gema bilang." Jawab Aksa.


"Pecel lele dimana yang enak?"

__ADS_1


"Di jonggol!" Sahutku ketus saat Abi nimbrung.


Aksa terkekeh pelan. "Itu, Mas. Diperempatan deket kos. Kata Gema enak pecel lele disana." Gak usah dikasih tau, Sa!


Aku melirik ke Abi. "Kapan Gema mau kesana lagi? Waktu itu kan pas mau ke nasi goreng kambing juga batal." Lanjut Aksa.


"Tuh, kan. Kok gue nggak pernah diajak sih, Gem? Aksa doang yang suka lo ajak." Abi menyuarakan protesnya.


"Suka-suka gue lah mau ngajak siapa." Jawabku. "Kapan-kapan deh, Sa. Tunggu ini makhluk musnah dulu." bodo amat deh kalau harus marah-marah depan Aksa.


"Nanti kalo gue musnah lo kangen." Sahut Abi.


"Duluan ya, Sa." Aksa hanya meringis mendengar aksi sindir menyindir antara aku dan Abi.


"Hati-hati, Gema." Tukas Aksa.


"Seatbeltnya pake ya, Gem!" Abi ikut menyahut.


Seatbelt mulu yang dibicarakan! Dia masih ingat aja kalau aku suka malas memakai seatbelt.


Kulihat mobil Aksa sudah berada di parkiran kosnya. Aku menutup pintu mobil sambil menghembuskan napas lega. Setidaknya Abi tidak ada dimana-mana. Di warung Bu Sumi juga tidak ada. Pastinya dia sedang makan di kamar. Baguslah!


Aku menutup pagar kosku. "Gema!" Suara Aksa terdengar ditelingaku. Aku mencari arah suaranya. Sampai akhirnya kulihat kepalanya yang menyembul di jendela kamarnya.


"Ngapain lo disitu, Sa?"


"Tunggu disitu bentar. Aku ke bawah." Aku masih menatap bingung meski Aksa sudah tidak ada lagi di jendela. Beberapa saat tubuhnya muncul dan menghampiriku.


"Ini, nota laundry Gema tadi ketinggalan." Dia menyerahkan selembaran kertas kecil padaku.


"Eh, iya. Perasaan tadi udah gue ambil. Thanks ya." Ucapku. "Om lo mana? Sibuk makan ya?" Aku bertanya skeptis.


Aksa tertawa. "Masih sebel aja sama Mas Abi. Dia udah insyaf kok katanya." Terdengar lagi tawa Aksa. Membuat matanya semakin menyipit. Membuatku gemas!


"Boong tu."


"Oh iya, Mas Abi tadi langsung pergi. Gak tau mau ngapain. Makanannya belom di makan."


"Ceweknya nelpon kali."


"Dia jomblo kok."


Aku melenguh pelan. "Ya, maksudnya bukan gitu. Cewek yang bukan pacar tapi deket. Gimana ya jelasinnya?"


"He he.. Ngerti kok maksudnya. Aku Cuma ngasih info aja tadi."


"Nggak butuh info itu, Sa."


"Iya, Gema."


"Sampe sekarang gue gak nyangka lo keponakannya Abi. Kayak, gak mungkin gitu."


"Kenapa emangnya?"


"Lo sama dia bagaikan langit dan bumi. Bertolak belakang banget. Bener-bener 180 derajat beda banget sifat lo berdua."


"Kalo sama semua, nanti dikira kembarannya Mas Abi."


"Mau-mauan banget sih kaya Abi! Jangan kaya Abi, Sa! Ganti panutan lo deh yang lebih bagusan dikit."


Lagi, Aksa tertawa. "Kenapa sih?"


"Gue nggak rela lo sama kaya Abi."


"Iyaa, Gema. Aku tau. Tapi, kenapa?"


Aku menarik napas panjang. Entah ide gila yang terlintas atau aku saja yang nekat. "Nanti gue nggak suka sama lo lagi."

__ADS_1


 


 


__ADS_2