
Bayi baru brojolpun sudah tahu kalau dunia itu sempit. Tapi, aku benar-benar tidak rela kalau dunia akan sesempit itu. Bagaimana bisa seorang Aksa yang notaben cute begini punya seorang Om macam si Abi? Playboy tengik macam dia? Jangan-jangan Abi ini bukan anak kandung lagi. eh, astaghfirullah, nggak boleh ngomong kaya gitu, Gem!
Hah! Dunia terkadang memang bisa semengejutkan dan selucu itu. Jadi sedih deh.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Kuyakin bibirku juga sudah terbuka lebar sejak tadi. Menatap bergantian Aksa dan Abi dengan pandangan masih tidak percaya. Ini semua benar-benar diluar dugaanku. Dalam imajinasi seliar apapun yang pernah terlintas tentang Aksa. Tidak pernah sekalipun terbesit kalau Aksa mengenal sosok Abi. Boro-boro mikir Abi Omnya Aksa? Mikir mereka saling kenal juga nggak! Gila apa!
"Gue nggak mimpi, kan?" Aku harus mencubit lenganku beberapa kali untuk memastikan.
"Kamera, mana kamera???" Mataku mencari-cari kamera tersembunyi yang biasa di tv-tv. "Helloo? Guys, udah dong ngerjain guenya?! Gue udah shock kok. Demi deh! Nggak kuat gue kalo harus dilanjut lagi!!" Aku menengadahkan tangan keatas sambil melambaikan tangan. Tidak sanggup menerima kenyataan kalau ini beneran nyata.
"Gema, Gema kenapa sih?" Aksa menatapku bingung.
"Lo lagi ngerjain gue kan, Sa? Lo lagi masuk di reality show gitu kan, Sa? Ngaku gak!"
"Aksa mana pernah boong sih, Gem? Ya, nggak, Sa?" Bela Abi.
Aku menatap sengit pada Abi. "Lo diem aja."
"Ups." Abi pura-pura membungkam mulutnya.
"Emangnya kalian berdua udah kenal?" Tanya Aksa lagi.
"Gimana nggak kenal? Cuma Gema satu-satunya mantan gue yang tega mutusin gue." Jawab Abi kalem.
"Diem sih, Bi! Bisa gak sih?!" Abi hanya terkekeh.
"Oh, mantannya Mas Abi." Aksa tersenyum tipis.
Aku mengibaskan tangan ke udara. "Bentar. Jadi, dia ini Om lo apa Mas lo, Sa?"
"Om. Mas Abi adik Mama yang paling terakhir. Kebetulan Mama anak pertama dari 5 bersaudara. Lagian, Mama nikah muda. Umur 19 udah nikah. Jadi, aku sama Mas Abi jaraknya nggak jauh-jauh banget." Jelas Aksa panjang lebar.
"Terus, daridulu aku manggilnya Mas soalnya jarak kami gak beda jauh. Mas Abi juga risih kalo harus dipanggil Om."
"Ya iyalah. Emang gue setua itu buat dipanggil Om?" Sahut Abi.
"Jadi, Gema mantannya Mas Abi ya? Waktu kapan?"
"Bukan mantan!" Jawabku cepat.
"Mantan jaman SMA." Timpal Abi tak kalah cepat.
"Gak, gue gak ngakuin lo sebagai mantan. Sorry sorry aja ya." Sanggahku. "Terus kapan lo pindah dari sini? Besok? Iya, besok aja sana lo pindah. Lebih cepet lebih bagus."
Mendengar itu sebuah seringaian muncul dari wajah Abi. Satu tangannya yang bebas merangkul belakang leher Aksa.
"Kok jadi lo yang ngatur?" Abi sok protes. "Terserah gue kan, Sa, mau cabut kapan?" Bukannya menanggapi kalimatku. Abi malah mengajak Aksa bicara.
"Iya, terserah Mas Abi aja. Lagian, nyari apartemen yang nyaman dan harganya gak selangit jaman sekarang agak susah."
"Kok gitu sih????"
"Emang kenapa? Bagus dong kalo gue disini. Lo bisa puas liat gue."
"Dih! Pede banget lo! Sepet mata gue liat lo lama-lama."
"Lama-lama juga lo seneng." Abi menahan senyumnya.
"Males banget." Cetusku. "Terus lo berdua tinggal sekamar? Lo mau gak malu apa numpang kelamaan?"
"Gak lah. Keponakan gue ini kan baik. Ibu kosnya juga baik. Udah ngizinin gue buat tinggal sementara. Ya gak, Sa?" Aksa hanya senyum-senyum saja mendengar Abi.
"Sementara, Bi. S-e-m-e-n-t-a-r-a. Harusnya lo juga bayar. Apalagi kalo lo bawa kendaraan juga. Nyempit-nyempitin parkiran aja sih lo! Dunia ada lo udah sempit. Jangan ditambahin kendaraan lo juga deh."
"Gema lucunya selalu gak nyantai kalo lagi ngamuk." Komentar Abi.
"Iya, Gema emang lucu, Mas Abi."
Pipiku sudah menggembung menahan rasa sebal. Ini dua cowok kenapa saut-sautan gini sih? "Terserah lo semua deh. Gue mau ke kamar. Pusing liat keajaiban dunia."
"Gema nggak mau makan sama kita?" Tawaran Aksa akan sangat menggiurkan kalau tidak ada Abi disisinya. Kulihat Abi memasang wajah innocent di sebelah Aksa sambil nyengir lebar. Membuatku semakin malas saja.
__ADS_1
"Gak, makasih."
Aku meninggalkan dua cowok itu dan beranjak menaiki tangga untuk sampai ke kamar. Masih sempat kudengar suara Aksa yang memanggil namaku. Tapi, aku pura-pura tidak mendengar. Pikiranku masih kacau. Dikacaukan oleh siapa lagi kalau bukan Abi? Satu pesan masuk ke ponselku saat kubaringkan tubuh diatas kasur.
From: Aksa Mailop
Gema jadi mau revisi di café yang aku bilang?
Tanganku bergerak ingin menelpon Aksa. Tapi, urung kulakukan. Aku mendesah pelan. Semangatku tiba-tiba hilang. Aku benar-benar tidak nafsu melakukan apapun. Termasuk mengerjakan revisi ditemani Aksa sekalipun.
To: Aksa Mailop
Gak jadi deh, Sa. Mager parah!
Tidak ada pesan balasan dari Aksa. Membuatku semakin tidak bernafsu melakukan apapun. Tiba-tiba satu nomer tidak dikenal masuk menelponku. Sejenak aku mengernyit. Aku memutuskan mengangkatnya siapa tahu penting.
"Halo?" Sapaku.
"Kenapa lo nggak jadi pergi bareng Aksa?" Darahku kembali naik mendnegar suara Abi di sebrang sana. Ngapain sih Aksa bilang-bilang segala? Ngapain juga Aksa segala ngasih nomerku ke Abi!!!
"Apa peduli lo?"
"Ya, barangkali lo nggak jadi pergi bareng Aksa karena maunya pergi bareng gue."
"Amit-amit jabang embrio gue pergi sama lo."
Tawa Abi berderai. "Kenapa sih? Tebakan gue bener apa salah?"
"Bodo!" Tanpa menunggu jawaban aku mematikan sambungan telpon.
Tak lama setelah aku menutup sambungan, sebuah pesan kembali masuk. Mataku langsung membulat menerima pesan dari nomer yang sama digunakan Abi untuk menelponku tadi.
From: 0812xxx
Jangan lupa save nomer gue ya. Siapa tau kangen.
Selesai membaca pesan itu kulemparkan ponselku ke sembarang arah.
--
Biasanya aku yang selalu ditunggu oleh ketiga sahabatku karena kebiasaanku yang suka telat datang janjian. Kali ini aku yang menunggu mereka. Setengah jam sebelum perjanjian yang baru disepakati sekitar tiga jam lalu, aku sudah duduk manis di café tempat biasa aku nongkrong dengan ketiga sahabatku. Jika sedang nongkrong, aku memang lebih menyukai café yang sedikit remain diisi dengan anak-anak muda. Jadi, kalau ingin tertawa lepas tidak masalah.
Lupakan saja soal mengerjakan revisi bareng Aksa. Padahal hal itu sudah kubayang-bayangkan sejak tadi pagi. Tapi, harus batal karena... ah sudahlah. Malas banget kalau diingat-ingat. Keyna yang pertama datang. Tapi, tak lama setelah ia datang, Vio dan Kanasya menyusul.
"Kusut banget sih muka lo? Kenapa?" Tanya Kanasya.
"Iya. Tumben juga lo nggak ngaret." Vio menyeruput fresh milk chocolate yang ia pesan.
Aku menarik napas. Tidak ada lagi perasaan menggebu waktu tahu kenyataan bahwa aku harus bertemu lagi dengan Abi. Kini perasaan itu digantikan perasaan lemas. Suaraku bercerita sungguh pelan. Tidak ada ekspresi yang jelas tergambar. Tapi, ketiga sahabatku tau derita apa yang sedang kucecap. Ah.. sik! Hahaha. Lebay banget deh bahasanya. Ya, pokoknya mereka taulah dari raut wajahku.
"Et, berarti pemandangan seger lo tiap pagi nambah satu dong?" Biasanya Keyna yang nyeplos seperti ini. Tapi, kali ini Vio juga jadi ikut-ikutan. Dasar virus Keyna cepat sekali menular!
"Bener, Vi!"
"Gue rasa ya, Gem. Abi ni udah berubah. Lagian udah bertahun-tahun yang lalu kali, Gem. Masa selamanya mau jadi playboy? Gak malu tu ama umur yang makin tua? Gue rasa Abi udah dewasa juga. Buktinya, dia milih buat lanjut S2, kan? Sekarang baru mau kerja?"
Aku menepis kalimat Kanasya dengan pendapatku. "Gak. Gue tau banget Abi. Seenggaknya waktu dulu. Gaya-gayanya tu masih sama. Cara ngomongnya masih sama." Aku membayangkan seringaian yang acap kali kudapati dibalik wajahnya. Benar-benar persis seperti dulu.
"Semuanya, woi!!! Sama!!!"
"Aduh, Gem. Itu gimmick wajah doang kali. Tipikal dia. Cara bawa diri dia. Nggak pasti dia masih playboy, kan? Dia baik loh, Gem. Dari cerita lo, kesannya dia sabar banget ngadepin lo yang selalu emosi kayanya liat dia."
"Ya, gimana gak emosi? Jujur, Abi tu cinta monyet pertama gue. Gue gak peduli omongan orang dan gak dengerin omongan soal sifat Abi yang playboy waktu itu. Karena dari cara dia memperlakukan gue tu... sesuatu. Gue pikir, orang bisa berubah. Siapa tau Abi berubah? Tapi, nyatanya apaan? Gue udah percaya sama dia taunya gue di selingkuhin juga! Emang dasar brengsek!"
"Nah, tuh lo yang bilang sendiri. Orang bisa berubah. Siapa tau sekarang Abi udah berubah?"
"Gak. Gue pernah ngasih percayaan ke dia sekali. Gue gak mau ada yang kedua kalinya."
"Uhh.. Ngerinya.. Terus dia jadi beneran tinggal sementara bareng Aksa?" Keyna mengalihkan pembicaraan yang mulai memanas.
"Jadi."
__ADS_1
"Asik. Gue nginep kos lo dong, Gem, malem ini?" Keyna berkata sumringah.
"Ngapain lo?"
"Mau liat Abi. Gue penasaran banget dia gimana sekarang."
"Gue dapet foto Abi dari lo juga udah seneng, Gem. Jangan lupa ya sent pic."
"Tanya, Gem. Dia udah punya cewek apa belom? Kalo belom, fix dia kayanya udah tobat jadi playboy."
"Berisik lo semua elaah. Gue lagi stress malah pada kaya gini!!!"
--
Sekembalinya aku ke kos dari nongkrong bersama ketiga sahabatku. Mobilku harus rela terparkir diluar sebentar karena lagi-lagi Nana—salah satu teman kosku memarkirkan mobilnya tidak benar. Sehingga seharusnya masih ada space untuk mobilku jadi tidak ada. Nana sedang keluar bersama pacarnya saat aku menelpon tadi. Untung dia sebentar lagi pulang. Sambil menunggu Nana, aku tetap berada di bawah sembari menemani Pak Mukin yang sedang menyiram bunga.
"Kok nyiram bunganya malem-malem sih, Pak?"
"Biar anti mainstream, Mbak Gema."
"Diihh.. Sa ae Pak Mukin!" Tawaku tergelak mendengar jawaban Pak Mukin. "Saya mau ke warung Bi Sumi dulu ya. Titip mobil!" Pak Mukin mengangguk sementara aku sudah berjalan menuju warung Bi Sumi yang terletak 100 meter dari kos.
Aku membeli satu roti Rp. 2000,- an dan aqua botol kecil. Sengaja tidak mengambil makanan dikamar karena selain malas naik keatas, aku ingin jalan-jalan sedikit karena capek duduk.
"Lo jam segini baru pulang?" Abi sudah berada dihadapanku.
Kulirik pandangan ke sekitar. "Ngomong sama gue?"
"Bukan. Sama Bi Sumi. Ya, elo lah."
"Oh."
"Abis darimana pulang jam segini?"
"Bukan urusan lo."
"Bentar lagi jadi urusan gue lah. Kan, lo nanti gue nikahin bair jadi istri gue."
"Ngimpi aja terus sampe gajah beneran bisa terbang!"
"Jadi, kalo gajah bisa terbang lo mau nikah sama gue?" Aku mendelik kearahnya. "Yaudah. Nanti gajahnya gue ajak naik pesawat. Terbang, kan?"
"Apaan sih! Gak lucu!"
"Nggak. Gue nggak ngelucu. Lo nikah ya pokoknya sama gue? Gue ngerasa bersalah udah pernah selingkuh sama lo. Gue janji deh kalo nikah nanti gue gak bakal macem-macem."
Aku menyipitkan mataku. "Lo kesambet jin apa sih? Ngelantur aja kalo ngomong. Dasar gak tau diri mau nikahin gue Cuma gara-gara ngerasa bersalah."
"Bukan Cuma itu aja kok. Gue emang masih suka sama lo. Lo selalu bikin penasaran sih. Gue cariin abis lulus taunya pindah ke Jakarta. Kan, gue jadi nyariin lo." Sahutnya. "Ya? Mau ya? Nikah sama gue."
"Apaan si! Gak jelas!"
"Lo minta apa aja gue kasih deh."
"Kalo mau nikah sama gue. Beliin dulu gue tanah sebumi."
"Yah, berat banget."
"Makanya gak usah!"
"Yang bisa gue gapai dikit dong!"
"Yaudah gak usah muluk-muluk. Beliin gue pulau aja. Pulau di seluruh Indonesia. Sama private jet mewah. Paling nggak ada 10 lah buat cadangan. Terus rumah juga. Yang Cuma dua tingkat gak papa. Tapi, luasnya harus sekebun raya Bogor. Terus, freeport harus udah jadi hak milik lo. Hmm.. apa lagi ya?"
"Itu gue kayanya sampe meninggal gak bakal bisa menuhin itu semua. Bill Gates aja kayanya gak sanggup deh buat beli kemauan lo."
"Makanya gak usah!!!! Ngeselin banget sih lo!!!!" Abi hanya tertawa pada akhirnya. Emang dasar playboy cap badak! Tidak pernah serius. Diotaknya isinya selalu mainin orang. Kurang kerjaan!
__ADS_1