
Rasanya ingin berkata kasar sekarang juga. Ingin memaki-maki Aksa juga karena ini bukan sakit lagi. Tapi, sakit banged, pake D! Udah kaya mau mati rasanya padahal Cuma di urut doang. Hiks. Kalau tidak ingat wajah imutnya benar-benar akan kuseret dia dari kamarnya terus kutelanjangi diluar.
Eh, kalo itu sih emang mauku sedari awal hehe. Pokoknya sehabis ini akan kutagih janji Aksa untuk menuruti semua permintaanku. Bila perlu akan kuminta dia melamarku sekarang juga! Yah, mulai ngaco lagi deh!
"ADOOHH!!! SAKITTTT!!!!" Aku mengaduh dengan suara keras untuk yang kesekian kalinya. Entah wajahku sudah berbentuk seperti apa. Pastinya jelek banget. Untung Aksa nggak liat. Kalau dia sampai liat, mau ditaruh mana ini muka? Kalau di hati Aksa si nggak apa-apa. Kalau yang lain bagaimana hayoo?
"Tahan, Mbak. Ini bentar lagi bener kok."
Daritadi ngomongnya gitu terus? Bentar lagi bener? Emang dipikir aku rantai sepeda ya yang kalau dibawa ke bengkel terus bener?
"Bentar lagi itu berapa tahun lagi ya, Bu? Aduh, cepetan dong, Bu. Sakit banget nih. Ini beneran saya sembuh, kan? Kalo tambah sakit gimana? AWWW---" Satu sentakan dari kedua tangan gesit Ibu tukang urut yang sedang mengurutku membuatku terdiam dan hanya bisa meringis menahan sakit.
"Coba, Mbak, kakinya dibuat berdiri. Masih sakit apa nggak?" Dengan wajah lesu dan malas aku menuruti juga kata Ibu tukang urut.
Mataku melotot saat kakiku berpijak ke lantai kamar. Udah nggak sakit! Dengan wajah sumringah aku menoleh pada Ibu tukang urut tadi dan memasang tampang berseri-seri seakan lupa kejadian penyiksaan yang baru ia lakukan beberapa menit lalu.
"Ih! Udah nggak sakit, Bu!!!" Cetusku senang.
"Alhamdulillah kalo udah nggak, Mbak." Katanya.
"Tapi, kenapa pas di urut rasanya sakit banget sih, Bu??? Berasa lagi di cabut nyawa."
"Si Mbak bisa aja pengambarannya. Namanya juga, kan, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian."
"Bisa aja sih Ibu. Makasih ya, Bu. Kaki saya jadi gak sakit lagi."
"Memang udah tugas saya, Mbak. Sama-sama."
"Eh, iya." Aku berjalan kearah laci meja dan mengambil dompet. Kukeluarkan beberapa pecahan uang yang tersisa di dompet.
"Nggak usah, Mbak. Udah di bayar sama Mas Aksa."
Kedua alisku terangkat. "Ha? Masa, Bu?!"
Sang Ibu mengangguk kalem. "Kok mau terima sih, Bu?!!? Harusnya jangan mau!!!"
"Masa rejeki saya tolak, Mbak?"
"Kan saya yang diurut, kenapa dia yang bayar?"
Ia hanya mengangkat kedua bahunya. "Tanya sama Mas Aksa aja, Mbak. Saya pamit dulu ya, Mbak. Masih ada pasien yang ngantri nih."
A en je a ye. ANJAY!
Pasien, cuy, katanya!
Mendengar itu mau tidak mau aku terkekeh pelan. Kemudian mengantar Ibu tukang urut tadi sampai halaman kos. Ia menaiki sepeda motornya dan sesaat masih sempat melambaikan tangannya kearahku, ia baru memacu motornya ke jalanan meninggalkan kosku.
Aku bernapas lega. Tanpa sadar kumain-mainkan kakiku yang tadi malam sakit. Benar-benar sakitnya hilang. Raib di telan bumi. Aku sampai menghentak-hentakkannya dan perlahan sudah loncat-loncat sendiri. Antara untuk memastikan kalau kakiku sudah tidak sakit lagi dan rasa senang yang menyelimutiku karena kakiku sembuh.
"Udah sembuh ya?" Suara yang akhir-akhir ini sangat kukenal terdengar sampai ke telinga dan membuat aktivitas loncat-loncatku berhenti seketika.
Aksa sudah berada didepan pagar kosnya. Terlihat santai mengenakan kaos putih polos dan celana santai selutut. Pipiku merona merah mendapati Aksa yang melihatku loncat-loncat. Pasti dia sudah mengira aku tidak waras.
"Eh, iya, Sa. Makasih ya! Gara-gara lo nih gue sembuh!"
"Kok saya? Kan Bu Marta yang udah ngurut, Mb—Gema." Gemas rasanya ketika Aksa selalu hampir keceplosan memanggilku dengan sebutan 'Mbak'.
"Ah, tapi kan lo yang nyaranin. Lo yang hubungin beliau juga," sahutku. "Oh iya, Sa, lo bayarin Bu Marta ya? Berapa, Sa? Mau gue ganti nih! Mumpung gue inget."
"Gak usah, Gema."
"Apa sih??? Kok gak mau???"
"Anggep aja kaya bingkisan buat Gema. Kan, saya baru disini." Yaelah, berasa ibu-ibu aja deh yang suka ngasih-ngasih bingkisan ke tetangga baru. Tapi, gak papa deh.
"Bener nih gak mau diganti? Lumayan, kan, bisa buat tiga kali makan siang di McD?" Entah kenapa, Aksa tertawa mendengar kalimatku. Membuat matanya menyipit dan membuat tampangnya semakin cute. Aduh, butuh oksigen yang banyak nih kayaknya.
"Gimana diurutnya? Sakit nggak?"
"BANGET!!!!" Semprotku. "Gila kali ya?! Gue udah lagi kaya sakaratul maut pas ditarik-tarik kaki gue sama dia. Di geser ke kanan ke kiri. Gak tau deh bentuk kaki gue kaya apa tadi. Untung jadinya sembuh. Kalo nggak???"
"Tapi, sembuh, kan?"
Aku nyengir.
__ADS_1
"Jadi, Gema mau minta apa sama saya?"
Eh? Apa?
Seakan aku hilang ingatan sesaat. Padahal waktu diurut aku selalu memikirkan janji Aksa yang akan segera kutagih. Aku menggaruk belakang kepalaku sambil menatap Aksa.
"Hehe minta apa ya???" Maunya sih minta kamu jadi pacar aku. Tapi, kan, nggak mungkin? Walaupun sekarang udah jamannya emansipasi wanita. Tapi, nggak deh! Kalau ditolak malunya bisa seumur hidup!
"Lo mau kemana, Sa? Pagi-pagi gini udah keluar." Alih-alih menjawab pertanyaan Aksa mau minta apa. Aku malah lebih tertarik kegiatan dia hari ini.
"Mau cuci mobil. Sekalian nyari sarapan." Ikut dong!!!
"Oh gitu." Sekali lagi, aku menggaruk belakang kepalaku. Bingung.
"Gema mau ikut?"
"Mau!!!" Dasar ******. Murahan banget sih lo, Gem, langsung jawab gitu. Semangat 45 banget pula! Malu-maluin dunia!
Aksa terkekeh pelan melihat reaksiku dan mempersilakanku untuk masuk kedalam mobilnya.
"Bentar, Sa, mau ambil dompet sama hp." Tukasku.
Secepat kilat aku langsung menaiki tangga sekaligus dua agar bisa sampai ke kamar dengan cepat. Sebelum mengambil ponsel dan dompet kusempatkan untuk melihat bayanganku di kaca kosku.
Gila, berantakan abis! Kusisir rambutku terlebih dahulu. Kudekatkan wajahku ke kaca untuk melihat kalau-kalau masih ada belek atau bekas iler yang menempel. Duh, jangan salah sangka dulu deh, aku nggak seileran dan sebelakan itu kok! Tapi, kan, jaga-jaga saja.
Takut Aksa kelamaan menunggu, aku meraih dompet dan ponsel kemudian langsung turun lagi ke bawah. Beberapa menit kemudian aku sudah berada didalam mobil yang sama bersama Aksa. Rasanya nano-nano deh kaya permen.
"Mau nyuci dimana, Sa?"
"Di car wash mulia."
"Mahal!!!" Seruku refleks membuat Aksa menoleh sebentar. Sepertinya ia sedikit terkejut melihat reaksi berlebihanku. Buru-buru aku memperbaiki suasana yang sudah terlanjur memalukan. "Eh, maksud gue, gue biasa nyuci mobil di car wash setia. Lebih murah. Kinclong lagi mobil. Kadang, kalo lagi baik sama mas-masnya suka di kasih gorengan sama aqua buat nunggu."
Otak perempuan dasar! Maunya serba murah dan gratisan! Untungnya, Aksa menanggapi kalimatku dengan seulas senyum. Aksa mengangguk pelan.
"Boleh di coba."
Gantian aku yang tersenyum. "Dideket sana ada soto ayam enak juga. Kita bisa sarapan disana."
"Siap deh."
"Enak, Sa?" tanyaku melihat Aksa yang masih meniup sotonya yang panas. Membuatku gemas dibuatnya. Bagaimana tidak? Kepulan panas soto membuat wajahnya sedikit memerah. Ditambah, beberapa kali terdengar desisan di mulutnya.
"Gak suka pedes ya?" tanyaku langsung mengabaikan pertanyaanku sebelumnya.
"Saya suka pedes kok. Tapi, yang nggak berlebihan aja. Dan iya, ini enak." Puas memandangi Aksa. Aku baru tergerak untuk menyentuh sotoku. Aku mengambil tempat sambal dan menaruh di mangkokku beberapa sendok.
"Nggak takut sakit perut naruh sambel sebanyak itu?" komentar Aksa. Hal lumrah yang biasa orang-orang katakana jika sedang makan bersamaku.
"Pantes lo kalo ngomong pedes banget, hobi lo makan cabe sih!"
"Dasar cabe-cabean!"
"Lagi, Gem, setempatnya aja lu taro di mangkok lu! Biar kenyang sama cabe!"
"Biarin aja si Gema usus buntu baru tau rasa!"
Kalau diingat-ingat, rasanya memang benar ucapan mereka. Lidahku seolah sudah mati rasa dengan rasa pedas. Mau sebanyak apapun cabe atau sambel yang kumakan. Tidak terasa sama sekali.
"Udah biasa."
"Jangan sering-sering, nggak baik buat perut." Ucap Aksa.
Cie, nasehatin nih, Sa?
"Perut gue fine-fine aja sih."
Aksa menahan senyuman diwajahnya. "Efeknya mungkin nggak sekarang. Bisa beberapa tahun lagi."
"Yah, jangan nakut-nakutin dong, Sa!" protesku.
Aksa tertawa. "Nggak nakut-nakutin Cuma ngingetin."
"Nggak ada bedanya."
__ADS_1
Perdebatanku dengan Aksa tidak hanya sampai disana saja. Waktu membayar soto aku bersikeras mau membayar soto aku dan dia. Aksa menolak secara halus.
"Sa, lo kan udah bayarin urut gue! Gantian sekarang gue bayarin soto lo!"
"Kan tadi saya udah bilang kalo anggep aja itu kaya bingkisan buat Gema."
"Gak!!!"
"Saya—"
"Itu permintaan kedua gue."
"Apa?"
"Gue mau bayar soto ayam gue sama lo. Udah, jangan protes lagi. Berisik ah." Mengingat janji yang dilontarkannya, Aksapun mengalah dan membiarkan aku membayar soto kami berdua. Bapak penjual soto sampai senyum-senyum sendiri melihat perdebatanku dengan Aksa.
Tapi, semakin dipikir lagi, aku semakin menyesal. Kenapa permintaan keduaku harus itu sih??? Kenapa aku tidak meminta yang lain saja seperti apa kek yang lebih berguna!!! Duh, Gema! Otak lo kemana sih tiap sama Aksa? Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Upin dan Ipin pun terlanjur lahir kembar. Mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa menghela napas berkali-kali mengingat-ingat kembali penyesalanku.
"Gema, kenapa?" tanya Aksa didalam mobil. Kami berdua memang sudah menuju perjalanan pulang ke kos.
"Lagi nyesel." Buru-buru aku membekap mulutku sendiri.
Aksa mengernyit. "Nyesel kenapa?"
"Gak deng. Gak papa."
"Saya jadi nggak enak udah biarin Gema bayar soto ayam tadi. Kalo nggak inget sama janji saya, saya nggak mau."
"Masih dibahas aja, Sa." Sahutku.
Tapi, kok bisa pas sih? Dia masih sama juga ya sepertiku masih memikirkan soal tadi? Kikikik. Kok aku senang ya?
"Nonton yuk, Sa."
BUSET!!! Siapa tuh yang barusan ngomong?????
"Boleh. Tapi, saya yang bayar ya kali ini."
"Hah? Beneran?" Tidak menyangka Aksa mengindahkan kalimat asalnya.
Aksa mengangguk. "Mau kapan?"
"Terserah. Nanti siang?"
"Nggak bisa nanti siang harus ke kampus."
"Yee dasar mahasiswa baru masih sibuk aja."
"Saya udah semester 5." Aksa terkekeh. "Gimana kalo sore? Selesai kampus saya kasih tau deh."
"Kasih tau lewat apa?" aku menahan senyum ketika menanyakan kalimat itu.
Aksa juga jadi salah tingkah meski tidak kentara. "Eh, iya, yaudah saya minta nomer Gema, boleh?"
"Ya masa nggak boleh sih?" sampai didepan kos. Aksa mencatat nomerku di ponselnya. Baru setelah itu masuk kedalam kos. Memastikan Aksa sudah benar-benar masuk. Aku loncat-loncat kegirangan. Yes! Nanti bakal dihubungin Aksa! Nanti nonton sama Aksa! Nonton apa ya enaknya? Horor aja kali ya? Biar bisa meluk-meluk gemes Aksa pura-pura ketakutan. Aku menyeringai setan.
Aku membuka chat group line dengan ketiga sahabatku untuk memberi tahu kabar bahagia ini.
RR. Gema A. Putri: ADA KABAR BAIK UNTUK KALIAN SEMUA GENGS
RR. Gema A. Putri: bukan, bukan kulit manggis itu, basi banget lu pada
RR. Gema A. Putri: kabar baiknya adalah...
Viola Siesyadipta: lo udh basi jgn kebanyakan basa-basi, buruan apaan
RR. Gema A. Putri: ....
RR. Gema A. Putri: jeng.. jeng..
RR. Gema A. Putri: GuE mAU N0NToN b2 SM AKSA GOODBYE MAu MaTI DEH RASANYA GILA SENENgGggggggGGg
__ADS_1