
"Kalo nggak lucu, namanya lagi rapat." Ujarku pura-pura cuek. Padahal hatiku sudah kejat-kejut tak karuan mendengar kalimat Aksa.
Dibilang lucu sama Aksa? Ya Gusti.. Apakah ini keajaiban shalat subuh tadi pagi? Setelah lama tidak pernah shalat subuh karena selalu kesiangan. Untuk pertama kalinya aku shalat! Inikah yang dinamakan balasan pada kepatuhan seorang hamba untuk menjalan perintah Tuhannya?
"Nanti kuliah jam berapa, Sa?" tanyaku disela memakan sepiring siomay yang saat ini hampir habis.
"Jam 10."
"Oh, masih lama ya?" Aku hanya menebak saja karena tidak memakai jam tangan dan malas mengeluarkan ponsel di saku celana. Tapi, mengingat kami keluar setengah 6 tadi. Pastinya sekarang masih sangat pagi.
Aksa mengangguk. "Gema nggak mau ke kampus?"
"Nggak ah."
"Nanti skripsinya nggak kelar-kelar lho."
Aku berdecak pelan. "Salah siapa dosen pembimbing gue gitu banget. Bikin males. Udah tau gue pemales." Mataku membulat terkejut. Tak menyangka kalimat itu keluar dari bibirku. Aduh, bilang malesnya nggak usah berkali-kali dong, Gem! Gimana kalo Aksa nggak suka cewek pemales?
"Gema harusnya lulus tahun ini, kan?"
Aku meringis. "Iya he he."
"Emangnya Gema nggak iri ngeliat temen-temen udah pada lulus?"
"Iri sih jelas. Tapi, mau gimana lagi? Nanti lo tau deh rasanya gimana kalo udah skripsian juga."
Aksa mengangguk-angguk. Matanya memandang ke sekitar. "Kapan-kapan kalo mau ngerjain skripsi aku temenin deh. Biasanya kalo sendiri kan suka ngantuk dan nggak semangat."
"Jangan kapan-kapan dong. Malem ini aja gimana?"
Aksa tertawa kecil. "Boleh."
Kuyakin mataku sudah berbinar. "Lo emang nggak ada tugas apa gitu?"
"Ada. Makanya sekalian."
"Oh, iya deh. Nanti malem ya. Di kos gue aja. Ruang tamunya wifinya lumayan kenceng."
"Iya, nanti aku ke kos Gema." Melihat piringku yang ludes tak tersisa. Aksa berujar lagi. "Udah selesai makannya? Jogging lagi yuk?"
"Yaaah.. Bentar dong. Kan, nurunin makanannya dulu." cegahku. Padahal hanya alasan saja karena malas.
"Makanya di bawa jalan. Nanti lama-lama kan turun. Malah cepet loh."
"Nanti sakit perut, Sa, kalo langsung jalan." Tahu kalau aku sengaja mencari alasan. Aksa hanya tertawa dan menarikku lembut untuk mengikutinya. Darahku berdesir saat sentuhan tangannya terasa di pergelangan tangan. Aku tidak menatap jalanan didepan, melainkan menatap pergelangan tanganku yang digenggam oleh Aksa.
"Gema? Kenapa?" Menyadari sejak tadi hanya diam. Akhirnya Aksa menghentikan langkahnya dan menoleh. Genggaman tangannya terlepas. Membuatku seketika protes.
"Kok di lepas sih?!" Decakku kesal.
"Apa?"
Tersentak aku dibuat olehnya. Gema.. Gema.. Mulut lo bentar aja di rem bisa nggak sih?
"Nggak. Nggak apa-apa. Yuk, jogging lagi! Kok malah berenti sih, Sa?" Sengaja aku mendahului Aksa dan berlari-lari kecil didepannya. Hal itu kulakukan demi menyembunyikan wajahku yang panas dingin akibat malu.
--
Aku sedang tidur-tiduran diatas kasur. Jam sudah menunjukkan pukul 10.05 AM. Aksa pasti sudah berada didalam kelasnya. Tadi waktu ia akan berangkat, masih sempat kutengok jendela kamar dan mendapati Aksa hendak menutup jendela kamarnya. Melihatku yang berada didepan jendela, senyumnya terukir.
Kuhela napas pelan. Teringat kembali mantan-mantanku selama kuliah. Sepanjang aku kuliah, aku hanya memiliki 2 mantan. Meski aku sering pergi ke club malam bersama teman-temanku. Bukan berarti aku cewek gampangan yang langsung iya-iya saja jika di rayu. Meski jauh dari orang tua, masih adalah sedikit-sedikit adat Jawa yang ditanam oleh orang tuaku.
Pacar pertamaku waktu kuliah merupakan teman satu kelas. Orangnya tidak banyak bicara dan bisa dibilang paling pintar di kelas. Kedekatanku dengan dia berawal karena aku yang sering meminta ajarkan mata kuliah yang menurutku susah padanya. Karena itu lama-lama kami jadi dekat. Tapi, hubungan kami harus kandas karena aku malas bersama cowok yang suka hilang kabar. Meski aku juga bukan tipe pacar yang harus selalu memberi kabar. Tapi, cewek mana yang betah kalau 3 hari berturut-turut tidak ada kabar dari pacarnya karena sedang melakukan aksi demo? Karena pacar pertamaku ini merupakan ketua divisi dalam suatu organisasi dan aktif didalamnya. Mau tidak mau memang harus sering turun ke jalanan. Dan aku memilih putus daripada harus lelah menunggu kabar yang tak kunjung datang.
__ADS_1
Pacar keduaku merupakan kakak tingkat setahun diatasku. Orangnya baik, friendly, dan tidak macam-macam. Kami putus karena aku baru tahu dia seorang pemakai. Tahu kalau pacarku seorang pemakai, aku langsung memutuskannya saat ia membenarkan hal tersebut. Percuma baik, percuma memiliki segalanya kalau dia seorang pemakai. Tidak ada dalam kamusku untuk memacari cowok pemakai. Bahaya.
Karena pacar kedua atau mantan terakhirku itulah yang membuatku jadi lebih berhati-hati dalam memilih cowok. Ada beberapa cowok yang mendekatiku setelah putus dengannya. Tapi, aku menolaknya secara halus. Untuk saat itu, kayanya aku lebih ingin sendiri. Lagipula, kadang, punya pacar bikin repot juga. Pemikiran itu bertahan sampai aku bertemu Aksa. Tepat pada pandangan pertama, entah kenapa dia memiliki daya tarik yang berbeda sehingga membuatku begitu menyukainya. Brondong satu itu membuat hari-hariku lebih berwarna akhir-akhir ini. Aku juga jadi seperti orang gila karena sering senyum-senyum sendiri.
Dering ponsel disampingku membuyarkan lamunanku. Keningku berkerut ketika mendapati nama yang tertera didalam layar ponsel 'Nyonya Besar' a.k.a Mamaku. Tumben sekali dia menelpon pagi-pagi begini. Biasanya dia menelponku pagi banget! Hahaha. Maksudnya buat bangunin shalat subuh. Tapi, aku yang batu memilih mendiamkannya karena terlalu ngantuk.
"Halo, Ma?" Jawabku mengangkat telpon.
"Nduk, nanti weekend pulang ya ke Jogja?" Suara lembutnya terdengar di telinga.
"Yah, Ma, Gema nggak bisa. Mau skripsian."
"Pulang dong, Nduk, kamu udah dua bulan nggak pulang. Eyang kangen lho. Sampai sakit tu."
"Hah? Eyang sakit apa, Ma?" Meski omongan Eyang yang kadang kelewat bawel dan sering melarang ini itu terhadapku. Kadang disini aku merindukan omongannya juga.
"Biasa.. Makanya kamu pulang ya? Biar Eyang seneng."
Aku menghela napas. "Yah, liat nanti deh, Ma."
"Jangan liat nanti to Nduk, diusahakan pokoknya, ya?"
"He em."
"Yaudah kalo gitu. Mama tutup dulu ya? Jangan lupa makan teratur—" dan jangan ketinggalan shalatnya. Aku sudah bisa menebak kalimat apa yang akan diucapkan Mama dan bibirku tanpa sadar sudah mengikuti kalimat yang sering dan selalu Mama ucapkan kalau telponnya hendak di tutup.
"Iya, Mama juga."
Aku menutup telpon dengan perasaan gelisah. Aduh, pulang nggak ya enaknya?
--
Aksa sudah menantiku di ruang tamu. Sebelum ke kos. Ia sudah memberiku pesan singkat. Dihadapannya, sudah ada laptop beserta beberapa lembar kertas yang di coret-coret. Aku menatap lembaran kertas itu dan menatap Aksa. Kuambil posisi di sebelah Aksa. Satu tanganku membawa laptop. Satu tangan lagi membawa kaleng soft drink untuk Aksa.
Aksa menengadahkan wajahnya untuk menatapku. Melihat hanya satu soft drink yang kubawa, keningnya berkerut.
"Gema nggak minum?"
"Tangan gue Cuma dua. Nggak muat buat bawa satu lagi. Nanti kalo aus gampang gue tinggal ambis keatas."
Aksa manggut-manggut mendengar penjelasanku. "Makasih ya, Gema."
"Ini revisian apa, Sa? Banyak juga."
Aksa tersenyum kecil. "Oh, ini, kemarin iseng bikin PKM. Kebetulan udah ditentuin dosbingnya juga. Jadi, udah mulai revisi."
"Oh, PKM. Rajin banget ikut gituan."
"Yah, lumayan. Buat ngisi waktu luang juga."
"Kok lo ngerjain revisi sendirian? Harusnya sama kelompok lo juga dong."
"Udah dibagi tugas masing-masing kok." Gantian aku yang manggut-manggut.
"Gue disuruh pulang nih, Sa." Aku mulai bercerita.
"Kan, dibilangin juga apa. Mending pulang, lumayan kan weekend dirumah. Nanti ke bandaranya bareng aja kalo Gema jadi pulang."
"Lo baliknya kapan?"
"Kamis sore."
"Yaudah. Liat nanti deh."
__ADS_1
"Kabarin aja kalo jadi."
Apa yang dikatakan Aksa 100% salah. Memang aku tidak bosan dan mengantuk jika mengerjakan skripsi tidak sendiri. Kali ini masalahnya beda lagi. Aku kehilangan fokusku untuk mengerjakan skripsi. Berulang kali aku mencuri pandang kearah Aksa.
"Gema, kenapa?"
Aku kelabakan untuk menjawab pertanyaan Aksa. "Nggak. Nggak apa-apa."
Sial. Gema, fokus!!! Oke. Tarik napas buang.. Tarik napas buang.
"Apa yang susah? Mungkin aku bisa bantu." Ujar Aksa lagi.
"Susah buat ngalihin pandangan mata gue dari lo."
Rasanya ingin menguburkan diri kedalam tanah saat ini juga. Hah! Mulutku kalau sedang grogi memang tidak bisa diandalkan. Otak, hati, sama mulut, semuanya berkejaran saling berkhianat. Dasar!
--
Meski kejadiannya sudah dua hari lalu. Tetap saja malunya terasa sampai sekarang. Aksa sih santai aja. Pasti dia menganggapku hanya bercanda dan bisa tertawa lepas. Sementara aku sudah panas dingin karena kecerobohan yang kubuat sendiri. Walaupun harus menahan malu, aku tetap ke bandara bersama Aksa. Kami berdua ke bandara menggunakan mobilnya yang akan ia tinggal di bandara.
Selesai check in, aku menunggu Aksa yang juga check in karena tadi sewaktu aku mengantri, dia dengan santainya membawakan koperku untuk dimasukkan kedalam bagasi.
"Nggak apa-apa. Kan, tinggal di dorong." Jawabnya waktu aku menolak ia bawa.
Tak berapa lama Aksa selesai melakukan check in. "Masih ada sekitar 40 menit sebelum Gema boarding. Gema mau makan dulu?" Pesawatku akan berangkat lebih dulu daripada Aksa. Aku mengangguk sekilas dan memutuskan makan di restoran cepat saji. Padahal nanti di pesawat juga akan di beri makan. Tapi, karena perut tidak bisa berkompromi. Apa salahnya makan sekarang?
Setelah lagi-lagi berdebat untuk menentukan siapa yang membayar. Akhirnya aku mengalah dan membiarkan Aksa membayar. Sambil menunggu Aksa. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka chat grup bersama ketiga sahabatku. Meski mereka meminta ikut mengantar. Tak ada satupun yang kuperbolehkan karena ada Aksa. Takut kalau mereka malah akan membuatku malu.
RR. Gema A. Putri: gengs, gue baru selesai makan. Bentar lagi boarding. Jgn kgn w
"Yuk, masuk kedalem." Aku mengangguk dan berdiri dari tempatku duduk.
Ketika pengumuman jika seluruh penumpang yang akan ke Jogja terdengar, aku langsung bangkit berdiri diikuti Aksa.
"Duluan ya, Sa." Tukasku.
"Iya, Gema. Hati-hati ya."
"Iya, lo juga."
"Sampe ketemu minggu depan ya."
"Iya. Bye, Sa!"
Masih sempat aku menoleh pada Aksa ketika pengecekan tiket dan kartu identitas terakhir. Senyumku merekah dan satu tanganku tak bisa untuk tidak melambai kearahnya.
Ah, beberapa hari nggak bakal ngeliat Aksa nih.
--
Aku bersikeras pada Mama untuk pulang naik taksi saja karena katanya tidak ada yang bisa menjemputku. Pak Supri, supir yang dulu selalu mengantar jemputku ke sekolah sedang pulang kampong ke rumahnya karena anaknya ada yang nikah. Meski begitu, Mama tetap ngotot dan tidak membiarkan aku pulang naik taksi. Katanya, sudah ada yang mau menjemputku. Mama tidak bilang siapa. Pokoknya kata Mama laki-laki nanti pakai baju hijau dan dia mengenaliku.
Kedua bola mataku memutar saat mendengarnya. Laki-laki yang pakai baju hijau tidak akan Cuma satu, kan? Apalagi ini bandara. Tapi, aku iya-iya saja karena malas beradu argumen dengan Mama. Pokoknya kalau 10 menit lagi laki-laki pakai baju hijau tidak ada yang muncul sekaligus menghampiriku. Aku akan pulang naik taksi. Titik.
Lagi, kulihat jam di pergelengan tanganku. Sudah lebih dari 15 menit aku menunggu di pintu kedatangan. Kalau 10 menit lagi, berarti jarum jam di angka 11. Oke, tenang, Gem. 10 menit lagi setelah itu lo bisa pulang!
"Oke. Udah 10 menit. Waktu buat kesabaran gue udah abis." Ujarku ketus. Langkah kakiku bergerak menuju tempat taksi-taksi berkumpul.
"Gema!" Sebuah suara memanggil namaku. Membuat langkahku terhenti. Aku menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Begitu kepalaku sudah menoleh, betapa terkejutnya melihat laki-laki berbaju warna hijau yang disebut Mama itu ternyata dia.
"Elo????"
__ADS_1