The Boy Next Window

The Boy Next Window
Sungguh Pertanyaan Sulit


__ADS_3

Rencananya hari ini aku berniat membeli tinta untuk printerku karena sudah habis. Setelah itu baru mulai mengerjakan revisi. Tadinya aku ingin meminta temani Vio. Diantara kami berempat, memang hanya aku dan Vio yang paling gabut. Tapi, mengingat kesibukannya mengurusi online shop yang baru ia geluti. Aku membatalkan niat tersebut dan memutuskan pergi sendiri.


"Pagi, Pak Mukiiin!" Sapaku riang.


"Ee.. Tumben Mbak Gema pagi-pagi udah keluar kandang?"


"Hahaha.. Bosen kali di kandang mulu pagi-pagi."


"Naik mobil, Mbak?"


Aku menggeleng. "Nggak. Pake taksi online aja kayanya. Tapi, daritadi nyari driver susah banget." Hah! Memang sudah biasa kosku ini jarang di jamah oleh para driver-driver itu.


"Semangat nyari ya, Mbak! Saya mau bersih-bersih kos." Aku mengangguk sementara Pak Mukin pamit meninggalkanku.


Aku menjatuhkan tubuh diatas sofa ruang tamu. Masih memandangi ponsel. Menunggu ada driver yang mengambil orderanku.


"Akhirnyaa.. Ketemu juga!" aku menatap layar ponsel dengan antusias. "Gilss.. Masih 10 menit lagi baru nyampe. Belum kenyataannya. Yaudahlahya." Aku bergumam sendiri.


Saat sedang duduk-duduk santai. Aksa keluar dari kosnya. Sesaat aku tertegun. Kebiasaanku yang suka diam-diam mengintip dari jendela ke kamar Aksa menyebabkan aku tahu sedikit kebiasaan-kebiasaannya. Biasanya hari ini pagi-pagi dia sudah berangkat ke kampus. Tapi, ini kenapa pakaiannya masih santai begitu? Tidak membawa tas sama sekali pula.


Aku sontak berdiri hendak menghampiri Aksa. Tapi, tubuhku hanya mentok sampai berdiri saja. Langkahku tidak bergerak untuk mendekatinya. Dengan tangkas mataku memandang ke sekitar kosnya. Takut kalau tahu-tahu Abi berada di belakang Aksa. Kalau ketemu Abi bawaannya selalu emosi. Apalagi kejadian tadi malam yang dia mengajakku menikah dadakan. Rasanya malu harus mengeluarkan emosi didepan Aksa. Nanti dia pikir aku cewek yang hobi marah-marah lagi.


Setelah kupastikan tidak ada Abi dibelakangnya. Aku baru berani mendekatinya. "Nggak kampus, Sa?" Sapaku riang.


Aksa terperangah sesaat mendapati kehadiranku. Saat tahu kalau aku yang menyapanya, dia melemper senyum seperti biasa.


"Iya nih, Gema. Mendadak absen dosennya. Gema mau kemana pagi-pagi gini?"


"Mau beli tinta. Abis tint ague. Jadi gak bisa ngeprint deh."


"Aku baru beli tinta kemarin. Kalo butuh, Gema pake aja gak papa."


Aku mengibaskan tangan ke udara. "Gue makenya banyak loh. Lagian ini sekalian mau ngerjain revisi diluar."


Mendengar kata revisi keluar dari bibirku. Aksa teringat sesuatu. "Gema mau ngerjain revisi? Aku temenin mau? Tapi, aku ganti baju dulu sama ambil kunci mobil."


Seketika perasaan senang menyelimuti tubuhku. Bibirku terbuka lebar hampir keceplosan mengiyakan ajakannya saat baru ingat kalau aku sudah memesan taksi online. Perasaan senangku langsung lenyap begitu saja.


"Yah, gue udah pesen taksi online nih." Baru beberapa detik aku menjawab. Pikiran lain muncul dan membuatku kembali bersemangat. "Eh, gak papa deh! Naik taksi aja gak papa, kan? Lo ganti baju dulu aja. Nanti kalo taksinya udah keburu dateng suruh tungguin bentar."


"Oke, siap. Aku keatas dulu ya, Gema."


Aku mengangguk kemudian beranjak kembali ke kos. Kali ini menunggu tepat di bangku depan parkiran kos. Aku mengecek orderanku kembali setelah beberapa saat dan langsung mengumpat saat tahu sang driver telah men-cancel orderanku.


Saat itu Aksa sudah turun dan melangkahkan kakinya ke depan kos. Sambil memasang wajah tidak enak aku menghampirinya.


"Sa, orderan gue di cancel sama drivernya." Aku memasang wajah menyesal.


Aksa kelihatan biasa saja. "Yaudah. Pake mobil aku aja."


"Lo bawa kunci?" Aksa menggeleng. "Pake mobil gue aja deh."


"Gema bawa kunci?" Gantian aku yang menggeleng. "Nggak papa. Pake mobil aku aja kalo gitu. Aku ambil kuncinya dulu ya?"


"Tapi, Sa—"


"Daripada Gema harus naik keatas lagi."


"Ya, lo kan juga, Sa. Harus naik lagi."


Matanya menyipit karena sudut bibirnya terangkat keatas. "Gak papa." Hanya itu jawaban Aksa sebelum akhirnya dia meninggalkanku tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.


Hatiku berdesir melihat punggung Aksa yang berjalan masuk kedalam kosnya. Meski perlakuannya mungkin bagi dirinya bukan apa-apa. Tapi, bagiku jelas sangat apa-apa! Dia jadi harus dua kali kembali ke kos. Kenapa sih harus ada cowok kaya Aksa di dunia ini?


"Berangkat sekarang?" Karena lamunanku, aku tidak menyadari kalau Aksa sudah berada dihadapanku. Sebelah tangannya menggenggam kunci mobil.


Sesaat aku tergagap karena cukup terkejut dengan kehadirannya yang membuyarkan lamunanku. Tapi, aku membuang segalanya dan bereaksi sebiasa mungkin.


"Eh, oh.. iya.. yuk!" Ajakku.


"Hari ini lo matkul kosong semua, Sa?" Tanyaku saat mobil Aksa sudah berada di jalan raya.

__ADS_1


"Iya. Padahal lumayan hari ini ada 3 matkul. Kayanya dosennya pada janjian buat gak berangkat."


Aku terkekeh mendengar jawaban Aksa. "Gema mau beli tinta dulu? Udah sarapan belum?"


Aku menggeleng cepat. Padahal jelas-jelas aku sudah makan dua lembar roti tawar diisi nutella dan susu coklat kesukaanku. Bohong sekali-kali nggak apa-apa kali ya.


"Aku juga belum. Sarapan dulu yuk. Dimana ya enaknya?"


"Pengen ketoprak deh."


"Gema mau?" Aku mengangguk. "Biasanya Gema beli dimana?" Aksa bertanya sambil fokus menyetir. Matanya sama sekali tidak melepas pandangan. Sementara aku sedari tadi memandanginya.


"Deket kampus gue enak sih. Tapi, lumayan jauh ya kalo dari sini."


"Gema mau yang di deket kampus? Gak papa, kita kesana aja."


"Beneran nih?" Melihat Aksa yang masih menyetujui usulannya akhirnya aku ikut mengangguk. "Yaudah. Deket kampus gue aja."


"Kata Mas Abi, tadi malem Gema pulang jam setengah 12 ya?" Gerakanku terhenti untuk memakan satu suap ketoprak.


"Dia bilang apa aja?"


"Cuma itu aja sih. Emang bener ya?"


Aku membasahi bibir bawahku yang sudah basah karena sedang makan. Aku ingat kalimat Aksa yang mengatakan kalau cewek nggak baik pulang terlalu malam. Aksa bilang, tidak apa-apa pulang malam asal ada salah seorang dewasa yang menemani. Minimal tidak sendiri dan tidak bersama laki-laki asing. Sama laki-laki yang dikenal aja Aksa masih sungkan. Takut ada orang mengira yang tidak-tidak. Apalagi yang asing?


"Iya, bener." Jawabku pelan. "Abis bosen sih di kos. Pikirannya jadi skripsi mulu. Butek otak gue." Keluhku lagi. Intonasi suaraku sudah kembali normal.


Aksa tidak merespon lebih lanjut. Hanya mengangguk sekilas dan melanjutkan melahap ketopraknya.


"By the way, Om lo itu hari ini udah mulai kerja?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Ini hari pertama Mas Abi."


"Kenapa sih dia nggak pindah aja? Lo nggak risih sekamar berdua sama dia?"


Aksa tertawa pelan. "Nggak lah. Ngapain risih? Dia kan omku." Aku merengut mendengar jawaban Aksa. "Gema keliatannya sebel banget ya sama Mas Abi?"


"Mas Abi baik kok. Lagian, katanya dia udah minta maaf sama Gema? Tapi, Gema nggak mau maafin?"


"Tetep lebih baik lo kemana-mana, Sa." Andai dia tahu omnya itu gila! Tadi malam dia ngajak gue nikah, woi!!!


Aksa menghela napas. "Diantara semua anak Oma dan Opa. Mas Abi yang paling dewasa. Walaupun umur dia jauh dari kakak-kakaknya dan paling muda diantara mereka. Dia juga yang paling nurut sama Oma. Waktu Oma nyuruh buat lanjut S2, Mas Abi nurut aja. Dia juga gak minta biaya sama sekali ke Oma dan Opa. Semuanya full dari beasiswa. Mas Abi sama sekali gak mau ngerepotin semua orang"


"Oh iya, Mas Abi juga punya usaha kuliner di Surabaya loh. Gema tau pisang goreng Wulansari nggak? Itu punya Mas Abi loh. Rame banget pembelinya. Dia buka usaha itu emang seperempat modal dari hasil tabungan dia dan sisanya minjem ke kakak-kakaknya termasuk Mama. Dia jalanin itu dari waktu masih kuliah. Alhamdulillah semua pinjamannya udah di bayar walopun lagi-lagi tadinya Mama sama adik-adiknya nolak dibalikin. Tadinya Mas Abi rencana buka cabang di Surabaya. Tapi, gara-gara Oma meninggal tahun lalu, Opa minta Mas Abi buat kerja di perusahaannya yang ada di Jakarta. Sekalian buat belajar Mas Abi kalau-kalau nanti Opa kenapa-kenapa."


Aku tertegun mendengar cerita Aksa. Benarkah itu Abi yang sama seperti yang ia kenal waktu SMA? Kenapa dari cerita Aksa sifat Abi benar-benar berbanding terbalik dengan yang aku tahu ya?


"Emangnya.. Dikeluarga Abi sendiri yang cowok?"


"Nggak. Ada kok satu lagi omku yang pas banget di bawah Mama. Tapi, dia nggak bisa ngurusin perusahaan Opa karena tinggal di luar negeri. Kebetulan istrinya emang orang luar dan susah ngurus visa ijin tinggal di Indonesia. Jadi, ya gitu."


Aku manggut-manggut mengerti. "Terus pisang gorengnya gimana tuh?"


"Ada orang kepercayaan Mas Abi yang ngurusin."


"Gitu ya." Gumamku.


"Kadang, aku pengin banget bisa kaya Mas Abi. Sama sekali nggak bergantung sama orang lain. Mandiri." Please, Sa. Jangan berharap kaya Abi. Aku nggak mau kamu jadi playboy cap badak kaya Abi!


Entah kenapa meski Aksa sudah panjang lebar tentang betapa hebatnya omnya itu. Mindsetku tetap saja Abi itu playboy!


"Lo mandiri kok, Sa. Buktinya lo sendiri di kos." Gurauku. "Ya, walopun sekarang gak sendiri sih."


Tidak terasa aku pergi dengan Aksa hingga sore hari. Padahal aku keluar kos benar-benar yang masih pagi. Sekitar jam 8. Dan ini sudah hampir magrib. Entah aku lupa ngobrol apa saja dengan Aksa. Yang jelas, hari ini benar-benar menyenangkan! Rasanya hari kemarin yang berantakan karena kedatangan Abi bisa terobati dengan hari ini.


Aku turun dari mobil Aksa dengan perasaan berbunga-bunga. "Makasih ya, Sa, buat hari ini."


"Iya, Gema. Sama-sama."


"Gak kapok kan nemenin gue?"

__ADS_1


Aksa tersenyum. "Sama sekali nggak."


"Yaudah. Masuk gih, Sa. Istirahat."


"Gema juga ya. Istirahat." Aku mengamati Aksa yang memarkirkan mobilnya kedalam garasi kos. Ketika dia turun mobil, aku masih sempat melambaikan tangan ke dia baru setelah itu membalikkan badan hendak melangkahkan kaki ke kosku sendiri.


"Ciee.. Seneng banget keliatannya?" Hampir saja aku terjatuh dari posisiku karena terlonjak kaget. Tiba-tiba saja Abi sudah berada di hadapanku. Ini manusia satu kenapa sih munculnya selalu bikin jantungku hampir copot? Emangnya jam kantor itu pulangnya jam berapa sih?! Kok dia udah pulang?! Kenapa nggak pulang aja sekalian????


"Lo emang beneran kaya setan ya? Suka muncul tiba-tiba."


"Kenapa? Kaget ya?"


"Masih nanya lo?" Sindirku tajam.


"Sama gue jutek banget sih. Sama Aksa tadi seneng-seneng aja tuh." Abi menyindir balik walau setengah bergurau.


"Nggak lucu." Aku meninggalkan dia dan berjalan sampai ke dekat pagar sebelum tangan Abi menarik pergelangan tangan dan menghentikan langkahku.


"Mau kemana sih buru-buru banget?"


"Apaan sih lo pegang-pegang!" Abi nyengir dan melepaskan genggamannya. Aku pura-pura membersihkan bekas genggamannya dan mengusapkannya ke samping tubuh. "Buang sial!" Rutukku.


Bukannya merasa tersindir dia malah tertawa ngakak. "Sumpah, magrib begini setan-setan emang pada berkeliaran. Termasuk lo."


"Kok gue disamain kaya setan sih, Gem?"


"Bodo!"


"Kalo gue setan, lo adalah satu-satunya manusia yang bakal gue goda seumur hidup."


"Gak jelas lo!"


"Gue mau godain lo biar mau nikah sama gue."


"Masih aja dibahas! Dapetin dulu tuh permintaan gue! Baru balik lagi ngajak nikah!"


"Gue kan setan. Udah tugas kaum setan buat godain manusia. Kalo manusia itu belum juga tergoda, dia bakal ngehalalin segala cara biar manusia itu tergoda."


"Emang dasar bener-bener setan lo! Sana ah pergi! Gue gak mau nikah sama setan! Kasian anak gue nanti jadi kaya anak imortal! Mending karena hasil hubungan cinta manusia sama dewa atau ya vampire kaya Edward Cullen lah paling nggak. Lah ini? Sama setan! Mana setannya kaya elo lagi! Najong banget!"


"Yah.. Terus maunya nikah sama siapa dong?"


Aku memutar kedua bola mataku dan melipat kedua tangan didepan dada. "Kapan sih lo pindah dari sini?!" Aku geregetan sendiri jadinya.


"Jawab dulu pertanyaan gue baru nanti gue jawab pertanyaan lo."


"Dih?"


"Lo maunya nikah sama siapa? Emang gue kurang apa sih, Gem? Gue kan ganteng. Emang sih gue miskin buat menuhin permintaan lo soalnya gue gak sanggup. Tapi, cukuplah buat kita hidup."


"Najis, pede banget."


Abi meringis. "Kurang apalagi sih, Gem? Sebut coba sebut!"


"Lo ngerokok. Males banget gue sama cowok perokok. Bau! Sekarang aja lo bau! Abis ngerokok kan lo?"


Abi menarik kerah kemeja yang masih ia pakai. "Perasaan udah gue parfumin deh."


"Masih bau!"


"Udahlah. Kembali ke topik, lo maunya nikah sama siapa?"


"Siapa aja asal bukan lo."


Abi terdiam sejenak. Sudut bibirnya berkedut membentuk sebuah senyuman aneh. Ditambah sebuah seringaian kecil yang menjadi kebiasaannya dari dulu muncul.


"Lo maunya sama Aksa ya?"


 


 

__ADS_1


__ADS_2