
Tidak menampik rasa malu yang hadir dalam tubuhku. Tak mengapa, dari awal aku benar-benar ingin tahu reaksi Aksa dengan cara berusaha menahan rasa malu itu. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya kalau dia tahu kalau aku benar-benar menyukainya? Apalagi ia disukai oleh cewek yang lebih tua dari dirinya.
Tapi, pikiran itu hanya sekejap saat Aksa sudah mulai merespon. Tidak seperti bayanganku sebelumnya, bukannya kaget, Aksa justru malah tertawa seakan kalimatku itu hanya candaan belaka.
Aku menghembuskan napas tanpa sadar. Bibirku mengerucut dengan sendirinya setelah melihat reaksi Aksa.
"Mas Abi salah deh kayanya," Aku menatap Aksa bingung. Tidak mengerti maksudnya. "Kata Mas Abi kan, Gema gemesin banget kalo lagi ngamuk." What?????
"Tapi, menurutku Gema gemesin banget kalo lagi bercanda. Kaya anak kecil lagi ngambek gara-gara nggak dibeliin es krim." Lanjut Aksa.
Sontak aku memegang wajahku sendiri dan tersipu malu. "Muka gue baby face kan, Sa? Kaya seumuran gue? Nggak tua-tua gitu?"
"Nggak lah. Emang kenapa?"
"Om lo tuh. Bilang gue kaya tante-tante. Apalagi kalo lagi jalan sama lo, nanti katanya dikira tante sama keponakannya. Boong kan Sa itu? Gue nggak kaya tante-tante, kan?" Tawa Aksa makin berderai.
Kedua tangannya terentang keatas. Detik selanjutnya, tangan itu sudah mencubit gemas kedua pipiku yang menggembung dan merona karena tidak menyangka respon Aksa akan seperti ini. Dipegang pipinya sama Aksa membuat aliran darahku terpompa sangat cepat. Jantungku berdebar tak berirama. Akal sehatku tidak berpikir secara lurus. Berantakan semuanya!
"Gema kaya anak kecil." Sebelum Aksa melepas tangannya di pipiku. Ia menatapku sejenak dan tersenyum cerah.
"Menurut lo.. Gue gitu?" Aku bertanya memastikan dan dijawab anggukan oleh Aksa. "Lo nggak risih kan jalan sama yang lebih tua dari lo?"
"Kenapa harus risih?"
"Kali aja."
"Sama sekali nggak. Aku seneng jalan sama Gema."
Aku menghembuskan napas lega sekaligus senang. "Kalo misalnya lo punya pasangan yang lebih tua dari lo gimana?"
Kali ini Aksa tidak langsung menjawab. Senyumnya perlahan menghilang. Aku menggigit bibir bawahku. Sepertinya aku telah salah bicara. Ketika detik selanjutnya Aksa menarik sudut bibirnya keatas, aku kembali lega.
"Kalo emang aku suka dan ngerasa cocok. Nggak masalah sama sekali. Umur kan nggak menjamin kedewasaan seseorang. Contohnya Gema. Walopun Gema lebih tua dari aku. Kadang aku ngerasa Gema kaya adik aku. Tapi, kadang Gema juga bisa sangat dewasa. Bukan kaya kakak lagi. Kaya Mama malah," Aksa berhenti sejenak.
"Jauh dari Mama kadang suka bikin kangen. Nah, kehadiran Gema bisa sedikit ngobatin rasa kangen itu."
Jadi, gimana? Aku ini seperti Mamanya?
"Kok.. Gue ngerasa lo nganggep gue kadang jadi sangat tua ya.."
Aksa terkekeh. "Udah. Nggak usah dipikirin kalimat Mas Abi. Dia emang suka bercanda. Nggak ada yang salah sama Gema."
Termasuk kalau aku cinta sama kamu? Nggak salah, kan?
Pertanyaan itu hanya sampai ditenggorokan tanpa bisa kukeluarkan. Aku memilih tidak melanjutkan pembicaraan ini lagi.
Aku mendesah pelan. "Yaudah. Sana gih, Sa. Balik ke kamar."
Kening Aksa berkerut. "Kok Gema jadi lemes gitu. Kenapa?"
"Gak papa."
"Gema masih kepikiran sama kalimat Mas Abi?"
Kok jadi Abi sih, Sa? Gue kepikiran sama jawaban lo yang ngambang! Gue kayak di gantung tau nggak? Capek, Sa, kode terus. Tapi, lonya lempeng-lempeng aja! Harus pakai cara apalagi biar lo tuh sadar kalo gue bukan sekedar bercanda?
Aku menarik napas panjang dan menggeleng pelan."Nggak. Bukan itu. Udah sana masuk. Gue juga mau masuk ke kamar. Bye, Sa!"
Kalau aku benar-benar terang-terangan bilang tentang perasaanku. Apa dia masih menganggapku bercanda?
Aku sedang fokus mengerjakan revisiku ditemani secangkir coklat panas dan diiringi deretan tangga lagu yang sedang menjadi favoritku. Besok aku akan menghadap dosen pembimbingku. Kemarin sih janjian jam 8 pagi di kampus. Nggak tau nanti kenyataannya jam berapa.
Ketukan pintu menghentikan aktivitasku sebentar. Ternyata Pak Mukin yang mengetuk pintu kamar.
"Ini, Mbak, ada titipan." Pak Mukin memberikan bungkusan plastik padaku.
Aku mengernyit sambil menerimanya. "Dari siapa?"
"Itu loh dari Mas Aksa—yang suka bareng Mbak Gema."
"Hah? Ngasih apa dia, Pak?" Aku bertanya seperti orang *****. "Yaudah, makasih ya, Pak Mukin."
Aku membuka bungkusan plastik itu, yang ternyata berisi dua buah es krim. Mataku mengerjap beberapa saat. Tidak menyangka ini dari Aksa. Perasaan senang kembali menyelimuti tubuhku.
Ketika aku hendak mengirim pesan pada Aksa untuk mengucapkan terima kasih. Sebuah pesan dari Aksa lebih dulu masuk kedalam ponselku.
From: Aksa Mailop
Es krimnya dimakan ya.
Yang satu ditaruh dikulkas dulu biar gak mencair
Aku mengetik pesan balasan untuk Aksa.
To: Aksa Mailop
__ADS_1
Maaci es krimnya. He he jadi gue lg kaya anak kecil nih skrg?
From: Aksa Mailop
Iya. Abis Gema kaya lagi bad mood gitu.
Semoga es krimnya bikin Gema nggak bad mood lg ya
Aku melirik kearah laptopku beserta tumpukan kertas dan buku-buku yang berserakan diatas kasur. Rasa stressku berkurang dan aku tersenyum senang.
To: Aksa Mailop
Gak bad mood lagi kok! Doain ya bsk mau ngadep dosbing lagi
From: Aksa Mailop
Pokoknya semua yg terbaik buat Gema, aku doain.
Pesan terakhir dari Aksa membuat semangat juangku untuk mengerjakan revisi meningkat berkali-kali lipat. Seperti yang dikatakannya, satu es krim aku simpan didalam kulkas dan yang satunya aku makan sambil menemaniku mengerjakan revisi.
"Life is good banget kalo perasaan gue kaya gini setiap hari." Gumamku sambil senyum-senyum sendiri.
--
"Cukup baik." Setelah mengecek revisianku. Akhirnya dosen pembimbingku berkomentar.
"Jadi, bisa langsung bab 3, Pak?" Mataku kuyakin berbinar-binar.
"Bisa mulai dicicil. Bab 3 yang paling sulit. Karena disana letak yang sebenar-benarnya skripsi." Yeh, si Bapak.
"Tapi, ini masih ada yang harus di revisi. Lusa, kamu ketemu saya lagi."
Aku menghembuskan napas antara lega dan was-was. Hanya diberi waktu sampai lusa. Aku melihat kertas-kertas yang berada ditanganku. Memang sih, tidak sebanyak waktu pertama kali.
"Semangat, Gem!!!" Aku berusaha menyemangati diri sendiri.
Pulang dari bimbingan, aku sudah janji bertemu Vio dan Keyna di café biasa. Seharusnya aku sudah berada disana 15 menit lalu. Tapi, karena tadi aku harus menunggu dosen terlebih dahulu padahal bimbingannya nggak lama-lama amat, aku masih berada dijalan. Jalanan hari ini juga cukup padat. Sehingga aku harus puas berjalan dengan maksimal kecepatan 40 km/jam.
"Maap telat, jalanan macet dan dosen gue telat tadi datengnya." Sapaku saat menghampiri kedua sahabatku.
"Gimana skripsi lo?" Tanya Vio.
"Masuk bab 3. Tapi, masih ada yang harus di revisi bab 2. Lusa disuruh ngadep lagi."
"Ntap gengs." Seru Keyna.
"Mati gue!!!!" Aku berbalik menatap kedua sahabatku.
"Kenapa lo?" Vio menatapku bingung melihat perubahan wajahku.
"Itu—" tenggorokanku tercekat.
"Apaan sih?!"
Aku menggigir bibir bawahku. Jantungku entah kenapa berdebar sangat cepat. "A-Abi—ada Abi." Aku menurunkan volume suaraku drastis. Vio dan Keyna mungkin mendengarnya hanya seperti sebuah bisikan. Entahlah, otakku sedang tidak bekerja dengan bagus.
"Hah?! Mana???? Dimana???" Keyna yang paling bersemangat. Matanya berkeliaran ke seluruh sudut café demi mencari sosok Abi.
"Yang mana sih, Gem???" Vio mengekori pandangan Keyna yang mencari-cari sosok Abi. Diam-diam aku melirik ke tempat dimana pertama kali kumenemukan sosok Abi. Tahu kalau Abi sudah tidak berada di tempatnya, hampir saja aku melompat kegirangan sebelum semua itu dimusnahkan oleh sebuah suara yang menyapaku.
"Eh, Gema? Ketemu lagi disini?" Abi tidak dapat menahan senyumnya saat mengucapkan itu.
"Oww.. Ini yang namanya Abi." Vio melirikku dan menahan tawanya melihat wajah tegangku.
"Wah, Gema pernah cerita tentang gue sama kalian ya?" Tanyanya pede.
"Ye, apaan! Ge er lo!"
"Gue bener, kan?"
"Bener!!! Gema emang cerita tentang lo!!!" Sahut Keyna menggebu-gebu. "Aww.. Apaan sih, Gem?" Keyna meringis saat kucubit pelan pahanya.
"Lo nggak mau ngenalin gue sama temen-temen lo?" Sindir Abi.
"Gak ada keuntungannya ngenalin lo." Jawabku menahan kesal.
"Gue Vio." Sahut Vio.
"Keynaa.." Aku mendesis kesal mendengar nada suaranya yang sok imut. Kenapa sih teman-temanku ini???
"Gue Abi. Tapi, kalian udah tau ya kayanya?" Abi menyeringai kecil. "Boleh gabung?"
"Sumpah ya ni orang gak tau malu!" Seruku cukup keras.
"Gak papa. Biar rame. Sini, Bi, duduk sini."
__ADS_1
"Iya, Bi. Sini!" Kalau soal cowok ganteng. Aku memang selalu dilupakan oleh teman-temanku. Jadi sedih.
Aku diam saja ketika Vio dan Keyna sibuk bertanya-tanya pada Abi. Seperti dulu-dulu, Abi selalu berhasil menaklukan hati cewek. Seolah berbaur dengan cewek itu bukan masalah sulit yang dapat ia lakukan. Kelihatannya Keyna dan Vio juga mulai menyukai Abi. Selama hampir satu jam aku hanya menatap malas kearah mereka semua.
"Eh, sorry nih, gue harus balik ke kantor. Nanti dikira kenapa-napa abis ketemu klien malah gak balik." Abi mengakhiri pembicaraannya.
"Oh iya, ya, gak papa."
"Daritadi kek pergi." Gumamku pelan.
Abi mendengar gumamanku dan melirikku. "Kenapa sih, Gem? Gue salah lagi? Temen-temen lo aja biasa sama gue." Aku berdecak pelan dan mengalihkan pandangan ke lain arah. Mengabaikan seruan Abi.
"Kapan-kapan nongkrong bareng lagi, Bi!"
"Kalo gue main ke kos Gema. Lo nongol ya!" Aku memutar kedua bola mataku mendengar tanggapan Vio dan Keyna.
"Siap! Duluan ya gue. Gema, gue duluan ya. Sampe ketemu di kos!"
Sepeninggal Abi, Vio dan Keyna masih sibuk membicarakan Abi. "Gila sih. Dia nggak kaya yang sering lo ceritain ah, Gem."
"Ya, lo kan baru kenal."
"Asik.. Tau deh yang udah lama kenal."
"Abi baik kok."
"Ya, itu juga waktu pertama gue kenal dia. Taunya selingkuh juga."
"Udahlah, Gem. Lo jangan terlalu emosi bawaannya kalo ketemu dia. Nyantai aja. Siapa tau dia beneran udah berubah? Kalo belom, ya gampang. Jangan kasih ampun lagi."
"Hmm." Aku hanya bergumam tidak jelas sebelum pada akhirnya kami bertiga memutuskan menyudahi pertemuan kami.
--
"Kenapa sih Gem marah-marah mulu sama gue?" Untuk yang kesekian kalinya aku bertemu lagi dengan Abi. Kali ini di pecel lele langgananku. Kayanya dia kesini karena omonganku waktu di tempat laundry.
"Ya orang males sama lo. Sebel."
"Gimana caranya biar lo gak sebel sama gue lagi?"
"Gak ada cara. Gue pokoknya tetep sebel sama lo sampe kapanpun."
Abi menahan senyumnya. "Ada kok caranya. Ada satu."
"Dih?"
"Gue bikin lo cinta sama gue. Itu caranya."
"Ye, mimpi kali!"
"Kenapa mimpi? Gue pernah bikin lo cinta sama gue. Masa gak bisa sih bikin cinta sekali lagi?" Beberapa orang yang lewat melihat kami berdua dengan pandangan aneh. Beberapa malah ada yang cekikikan. Sialan, jadi bahan tontonan!
"Bi, malu-maluin banget sih! Diliatin orang!" Sungutku kesal.
"Ngomong-ngomong, lo gak punya pacar, kan? Gak punya lah ya. Soalnya gue liat lo kalo jalan sama cowok paling sama Aksa."
"Sotoy banget lo kuah basi."
"Tapi, gue jadi penasaran. Dari cerita Aksa sih, kayanya lo cukup deket sama dia. Lo suka nggak sih sama dia?"
"Terus gue harus jawab pertanyaan lo gitu? Males!"
Abi mengusap dagunya pelan. "Hmm... Bisa sih."
"Paan sih!"
"Yah.. Gak memungkiri sih. Keponakan gue itu cukup ganteng. Tapi, tetep gantengan gue lah ya. Baik? Ya, baik. Baikkan dia dikit daripada gue. Gue akuin itu. Tapi, dikit banget. Banget banget. Tapi, Aksa masih kuliah. Belom punya penghasilan. Gue udah punya. Harusnya dari sana lo bisa milihlah ya yang cocok dijadiin suami. Kan, enak nanti. Lo lulus langsung gue lamar."
"Siapa juga yang mau nikah sama lo?! Siapa juga yang mau nikah sama Aksa?!"
Abi menyeringai. "Jadi, nggak mau nikah sama gue? Sama Aksa juga?"
Aku memejamkan mata frustasi. Kalau sama Aksa mau! Tapi, nggak deket-deket ini juga! Lagian Aksa masih harus kuliah!
"Kata siapa?" Jawabku.
"Oh, jadi mau nikah sama gue?"
"Gak."
"Sama Aksa?"
"Iya! Mau! Puas lo?!"
Karena kesal, aku mengatakan yang sebenarnya. Iya! Memangnya kenapa kalau aku mau nikah sama Aksa? Bukan urusan dia, kan?
__ADS_1