The Boy Next Window

The Boy Next Window
Putus


__ADS_3

Kalimat Aksa yang mengungkit soal hubunganku dengan Abi dan membawa-bawa hal-hal masa lalu antara aku dan Abi benar-benar membuatku termenung seharian ini. Ini sudah seminggu sejak kejadian di IKEA. Tapi, peristiwa itu seakan tidak ingin terlepas didalam benakku. Hal ini sudah kukonsultasikan dengan ketiga sahabatku.


"Dia nggak bilang lebih spesifik gitu soal kenapa dia nggak jadi sama Arum?" Keyna masih terus penasaran dan menanyakan soal Aksa yang tidak kembali dengan Arum. Bukan hanya Keyna yang penasaran. Akupun juga. Tapi, apa yang bisa kulakukan jika Aksa seolah tidak ingin membahasnya secara detil?


Things didn't get better, katanya.


Apa Aksa bukan tipe orang yang bisa berdamai dengan masa lalu? Kalau dia tidak bisa. Seharusnya dari awal dia menjauh saja dari Arum. Malah bagus, aku tidak perlu ketar-ketir seperti kemarin dan mengambil langkah konyol dengan.. hah.. aku sampai bosan harus menjelaskan ini. Ya, melakukan perjanjian sampah bin konyol itu.


"Menurut lo semua, dengan Arum yang se-perfect itu. Kenapa Aksa nggak mau ya?"


"Emang Arum perfect?"


"Almost, monyet cantikku. Definisi cantik paket komplit lah. ***** kan gue berasa minder lagi."


Vio tertawa. "Bener juga deh kalo lo minder, Gem. Arum yang lo bilang almost perfect aja Aksa nggak bisa cinta. Apalah arti lo, Gem, remahan nastar."


"Mungkin Arum itu tokoh antagonis cantik kalo di film-film. Cantik diluar, busuk didalem."


"Apa sih? Kok kita jadi bahas Arum gini?" Gumamku. "Yaudahlah. Yang penting gue udah tau kalo Aksa udah nggak sama Arum. Gue punya kesempatan."


"Kesempatan gimana? Lo aja masih pacaran sama Abi."


Aku terdiam cukup lama. Inilah hal kedua yang juga membebani pikiranku beberapa hari terakhir ini.


"Makanya, gue berencana buat putus dari Abi." Jawabanku sontak membuat ketiganya tercengang.


Kanasya sampai menghentikan acara memakan potato yang ada digenggamannya. "Gimana caranya?"


"Emang lo nggak nyesel? Abi udah keren gitu. Pacar-able banget lah bahasa gaulnya."


"Lo aja kalo gitu yang pacaran sama Abi." Sahutku malas.


Kuhela napas pelan. Sudah dari kemarin-kemarin aku memikirkan untuk memutuskan Abi. Lagipula, aku sudah tahu soal Aksa dan Arum meskipun aku belum tahu sepenuhnya perasaan Aksa pada diriku.


"Lagian, gue pacaran sama Abi sekarang udah nggak penting. Arum udah musnah. Bye bye."


"Sian deh Abi dimanfaatin."


"Heh! Simbiosis mutualisme, gila! Enak aja lo nuduh gue manfaatin!" Tak terima dengan seruan Keyna yang terkekeh mendengar omelanku.


"Gimana tuh soal Abi yang masih penasaran sama perasaan dia ke lo waktu dulu?" Tanya Kanasya.


"Oh iya, yang lo bilang dia mau cari pembuktian."


Aku memutar kedua bola mataku acuh. "Ya, gue nggak peduli lah ya. Itu urusan dia sendiri."


"Terus, kapan lo berencana putusin si Abi?"


Aku juga masih mencari waktu yang tepat untuk mutusin Abi. Rasanya aneh sekali kalau aku memutuskannya lewat pesan singkat. Seperti seorang pengecut saja. Dan aku tidak mau disebut pengecut.


--


Bunyi telpon membangunkanku dari aktivitas tidur pagiku. Siapa sih pagi-pagi begini udah menelpon? Kenapa pula aku lupa mematikan ponsel? Kulirik jam di dinding, samar-samar kulihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


"Baru bangun ya?" Sapa Abi di sebrang sana.


Aku hanya bergumam tidak jelas. Masih sangat mengantuk.


"Bangun kek. Kebo banget jam segini belom bangun."


"Lo kaya nyokap gue aja sih. Bawel." Gerutuku. "Ngapain sih pagi-pagi nelpon?"


"Temenin gue yuk milih cat tembok."


"Ngapain sih? Lo mau ganti warna cat?"


"Nggak. Buat meja gue. Pengen gue cat."


"Dih?" aneh banget sih mau nge-cat meja. "Nggak ah. Gue ngantuk. Lo sama Aksa aja sana."


"Dia kuliah." Kenapa Sabtu pagi begini Aksa sempat-sempatnya kuliah?


"Kalo gitu, sendiri aja." Cetusku.

__ADS_1


"Nggak mau. Kan udah punya pacar. Ngapain gue sendiri?"


Aku mendengus kesal. Hampir keceplosan kalau aku sudah berniat memutuskannya. "Terserah. Lo mau sama satpam komplek atau sama Pak Mukin sekalian juga gue nggak peduli. Gue mau lanjut tidur. Bye!"


Kumatikan ponselku dan menaruhnya diatas nakas dan kembali melanjutkan tidur. Aku baru membuka mataku kembali saat azan zuhur berkumandang. Setelah mengumpulkan nyawaku dan menguap panjang. Aku turun dari kasur dan beranjak ke kamar mandi. Berniat mandi sekaligus gosok gigi.


Selesai mandi aku mengecek ponselku yang sedari tadi kumatikan. Tidak ada pesan yang masuk dari Abi. Bagus lah. Tapi, penasaran juga, dia jadi pergi apa nggak ya? Kalau jadi, sama siapa? Setelah berpikir panjang dan berjalan-jalan mondar mandir didalam kamar. Aku menganggukkan kepalaku pelan. Sepertinya ini waktu yang tepat buat mengatakan pada Abi untuk mengutarakan niat putusku.


Aku mengambil key card apartemen Abi. Beberapa hari lalu, Abi memberikan ini padaku yang alasannya benar-benar membuatku mengerutkan kening saat aku menanyakannya. Dia juga memberi tahu password untuk masuk kedalam apartemennya.


"Lo pacar gue. Jadi, bebas keluar masuk. Aksa juga gue kasih." Itu penjelasan Abi. Aneh-aneh aja sih. Kenapa dia harus repot-repot memberinya padaku? Toh, hubungan kami tidak akan bertahan lama.


Tanpa mengabarkan apa-apa pada Abi kalau aku akan pergi ke apartemen barunya, aku menuruni tangga dan melesat masuk kedalam mobil. Membawa kendaraan beroda empat itu membelah jalanan kota yang cukup padat siang ini. Hah.. Memangnya kapan jalanan akan sepi?


Meskipun seringkali kesal akibat kemacetan Jakarta. Tak memungkiri kalau aku merupakan salah satu orang yang menjadi penyebab kemacetan Jakarta. Aku malas kalau harus kemana-mana menggunakan kereta atau bus apalagi angkot. Karena menurutku akan sangat merepotkan jika harus berpindah-pindah tempat. Lagipula, kalau tujuannya ke mall, aku bingung harus meletakkan barang belanjaanku dimana? Masa iya aku harus menenteng belanjaan sebanyak itu ditengah orang-orang sampai tiba di kos? Yang ada aku malah kecopetan duluan karena mengira aku banyak uang melihat banyaknya barang yang kubawa.


Padahal sama sekali tidak. Apa sih yang diharapkan dari anak kos? Paling hanya mengandalkan uang bulanan. Kecuali mempunyai bisnis sampingan. Ngomong-ngomong soal kemacetan Jakarta. Makanya aku tidak ingin terlihat terlalu kesal dengan itu. Karena toh, aku juga penyebab semua ini. Menambah daftar panjang penduduk Jakarta yang memiliki mobil. Kadang, aku juga sebal kalau orang yang berkali-kali mengeluarkan emosinya gara-gara macet.


Dalam hati pasti akan nyinyir. Kalau mau nggak macet sana nyetir di hutan. Paling-paling macet gara-gara pohon yang lagi baris. Sumpah, itu nggak lucu. Tapi, memikirkan ini kenapa aku tertawa ya? Jelas lah pohon yang lagi baris. Namanya juga hutan!


Aku sampai di lobby apartemen tepat pukul 2 siang. Seorang satpam yang menjaga dengan ramah melemparkan senyum kearahku yang kubalas dengan anggukan kepala. Aku baru dua kali menginjakkan kaki di apartemen Abi. Pertama, waktu membantu Abi mendekor apartemennya. Kedua, ya, saat ini.


Aku menaruh key card itu didepan pintu kemudian menekan password yang Abi sebutkan waktu itu. hingga terdengar bunyi 'bip' yang cukup keras, aku baru membukanya. Sesaat, suasana lengang menyergapku. Pandanganku menatap sekeliling. Tidak ada Abi sepertinya. Atau dia sedang ada di kamar mandi? Aku melangkah pelan menyusuri tiap sudut apartemen Abi.


"Ab—" panggilanku terputus ketika hendak memanggil Abi.


Melihat pemandangan didepanku sekarang membuatku terkejut. Kulihat Abi tengah bersama seorang cewek yang sama sekali tidak kuketahui. Parahnya, mereka berdua sedang berciuman. Tepat didepan matanya! Seolah déjà vu dengan keadaan ini, aku mendesiskan satu kata yang merupakan gambaranku dan menjadi kata andalanku untuk Abi.


"Brengsek," gumamanku terdengar cukup keras hingga membuat aktivitas keduanya terhenti.


Abi terkejut melihat kehadiranku yang tidak ia perkirakan. Tapi, hanya sesaat. Raut wajahnya cepat sekali berubah. Dia terlihat tidak merasa bersalah sama sekali atas apa yang telah ia lakukan.


"Dasar playboy cap badak! Sekali brengsek, tetep aja brengsek." Abi membisikkan sesuatu pada cewek dihadapannya. Entah apa yang dibisikannya yang jelas cewek itu angkat kaki dari dalam apartemen.


Abi menghampiriku yang masih marah kejadian tadi. "Kenapa nggak bilang kalo mau kesini?" Tanyanya santai. Sama sekali tidak kutemukan nada bersalah.


"Brengsek!" Aku memukul dada Abi sekali demi melampiaskan amarahku. "Meskipun itu Cuma perjanjian sampah. Udah jelas, kan, kalo gue nulis hal yang nggak boleh dilakuin adalah ciuman sama cewek lain?! Lo amnesia apa ****?!"


Aku tersenyum sinis dan melipat kedua tanganku didepan dada. "Untungnya, gue kesini emang bermaksud mutusin lo."


"Iya, putus! Kurang jelas?!" Cercaku. Menarik napas panjang untuk meredakan emosi. "Aksa nggak balikan sama Arum. Jadi, gue rasa kita putus aja." Aku mengulang kalimatku agar terdengar lebih santai.


"By the way, lo juga udah ngelanggar perjanjian. Jadi, nggak ada alasan lagi kan buat kita tetep pacaran?"


Abi mengangkat kedua tangannya keatas. "Tunggu, tunggu, maksud lo—lo ngira gue ciuman sama Dina?"


"Persetan sama Dina."


"Gue nggak ciuman sama Dina, kalo itu yang bikin lo marah."


Aku menatap Abi sengit. "Masih ngelak? Udah jelas gue liat lo berdua ciuman tadi! Brengsek lo!"


Abi malah tertawa terbahak-bahak menanggapi tuduhanku yang semakin memanas. "Gue Cuma lagi niup mata Dina yang lagi kelilipan. Itu aja."


"Basi banget. Berasa sinetron aja hidup lo. Kalo dituduh ciuman pasti ngelaknya itu. Nggak mempan gue. Lagian, tadi lo bisikin apa lagi ke dia sampe dia mau keluar?"


Abi tersenyum. "Lo beneran mau tau?" aku tidak menjawab. "Gue bilang, ada anak ayam ngamuk disini. Jadi, sebelum dia dipatok sama anak ayam itu. Gue suruh dia keluar."


Apa?!?


Pantas saja saat Dina keluar dia menatapku dengan pandangan konyol.


Aku menahan emosiku dan bersikap tidak peduli. "Bodo amat. Gue nggak percaya."


"Kalo gue berani sumpah diatas al-quran, lo mau apa?"


Aku terdiam. Kalimat menghentak batinku. Menyadari nada serius dari kalimatnya membuatku merinding. Masalah seperti ini, tidak harus melibatkan kitab suci itu. "Apa-apaan sih, jangan pernah bawa-bawa al-quran soal kaya gini. Nggak baik."


"Ya, lo nggak percaya sama omongan gue. Buat ngeyakinin lo, Cuma itu satu-satunya cara."


"Nggak perlu." Ujarku singkat. "Yaudah. Gue percaya."


"Bagus kalo percaya."

__ADS_1


"Tapi, gue tetep mau putus." Kilahku.


"Emangnya lo udah tau perasaan Aksa ke lo?"


"Nggak. Tapi, yang penting dia udah nggak sama Arum. Lagian, perjanjian ini lama-lama nggak gitu berguna menurut gue. Kayaknya, pacaran atau nggak sama lo, sama aja buat Aksa."


"Gitu ya?"


"Iya, gitu."


"Terus, gimana soal perasaan gue ke lo?"


"Emang perasaan lo gimana ke gue?"


Abi mengedikkan bahunya keatas. "Nggak tau?"


Aku berdecak pelan. "Yaudahlah. Gak penting. Lo bisa cari cewek lain. Sama Dina contohnya."


"Dina Cuma temen."


"Ya siapa gitu?"


"Gue maunya lo." Abi nyengir.


"Gue nggak mau!"


"Yah.. Masa sih selama kita pacaran nggak ada gitu sedikitpun perasaan suka ke gue? Nggak bersisa banget apa benih-benih cinta lo ke gue kaya waktu dulu?"


"Cinta ke gue ke lo udah musnah waktu ngeliat lo ciuman sama cewek lain."


"Ya ampun, mulai lagi. di ungkit lagi. Cewek.. Cewek.." Abi bersidekap dan menatapku sambil menggelengkan kepalanya. Aku hanya mengulum senyum kecil. Memberikan tatapan pura-pura acuhku.


"Berarti kita fix putus ya. Kalo Aksa nanya. Bilang kita udah putus. Awas ngaku-ngaku masih cowok gue."


"Ye.. Suka-suka gue, kali!"


"Awas lo!" Abi menjulurkan lidahnya dan terkekeh pelan.


"Emangnya, setelah ini lo mau apa? Lo punya nyali segede apa buat bilang ke Aksa soal perasaan lo?"


"Ngejek aja bisanya. Awas ya nanti kalo gue tiba-tiba jadian sama Aksa. Jangan kaget."


Abi menyeringai. "Nggak kok. Nggak bakal kaget."


Aku mengangkat kedua alisku. "Masa sih?"


"Iyalah. Ngapain kaget?"


"Siapa tau. Bisa aja lo diem-diem masih mengharapkan gue dan nggak rela kalo gue sampe jadian sama Aksa." Abi hanya tertawa mendengar tanggapanku.


"Baik-baik ya sama Aksa. Keponakan gue tuh."


"Hmm." Aku hanya bergumam.


"Semoga lo bahagia ya sama Aksa. Ya, kalo jadi sih." Nada Abi setengah mengejek membuatku melirik kearahnya tajam. "Harus sopan lo sama gue kalo lo jadian sama Aksa. Walopun lo selalu bilang gue brengsek, playboy cap badak, apalah itu, gue bakal jadi calon om ipar lo."


Kali ini gantian aku yang tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Ingat aja sebutan playboy cap badak yang sering kujuluki untuknya.


"Iya, Om. Moga cepet tobat ya dari keplayboyan lo." timpalku. "Udah ah. Jadi lama gue disini. Gue lupa mau beli kornet di minimarket. Gue kesini kan mau mutusin lo doang." Tanpa memedulikan jawaban Abi, aku sudah melenggang kearah pintu.


"Oh iya, gue kayanya nggak butuh ini. Gue taroh di meja ini ya." Aku meletakkan key card yang Abi berikan padaku waktu itu.


"Lo pegang juga gak papa. Lo kan calon keponakan gue."


"Aksa kan juga punya." Sahutku. "Gue pulang dulu. Bye!"


"Iyaa.. Tiati ya!" aku membuka pintu itu dan melenggang keluar apartemen. Yang tidak kulihat, Abi masih dibelakang untuk menatap punggungku yang berjalan menjauhi pintu apartemennya seakan pandangan matanya akan protes jika kehilangan sosokku. Kebetulan apartemennya berada didepan lorong.


Sebuah senyum penuh teka-teki muncul diwajahnya.


"Take care, anak ayam."


 

__ADS_1


 


__ADS_2