
Catalan,
"Apa? Di kantor polisi? Kok bisa?! Kamu gak kenapa-napa kan sayang?" Cerocos sang ibu panik
"Sam gak kenapa-kenapa kok mah. cuma barang-barang Sam semua hilang, dompet,jam tangan dan ponsel semuanya habis" Sahut Sam datar.
"Kenapa kamu bisa di rampok sih? Emangnya kamu pergi kemana? Masalah barang-barang itu gak penting. yang penting kamu selamat sayang"
Sang mama begitu khawatir.
"Nanti aja Sam jelasinnya. Sekarang Sam harus kasih laporan sama polisi setempat" Jelasnya singkat
"Ya udah,Nanti mama kasih tau papa kamu yah. biar papa yang urus semuanya. Pokoknya kamu harus pulang setelah semuanya beres"
Perintah sang mama.
Sam menghela nafas bingung. Dia tak bisa menolak lagi,karna tak punya cukup uang untuk bertahan hidup di Barcelona. Semua uangnya telah Raib karena insiden tadi siang.
Namun bukan uang yang Sam sesali, Justru ponselnya yang ikut hilang yang dia sayangkan. Pasti saat ini telah banyak pesan dari Sienna atau bahkan panggilan masuk darinya. Dan sekarang satu-satunya jalan untuk berkomunikasi dengan gadis itu hilang sudah.
Sam terlihat mengacak rambutnya frustasi.
"Need a Water?" Seorang Polisi datang dan menyodorkan air mineral padanya.
Polisi itu menghela nafas panjang. Menatap Sam iba.
Pakaiannya tampak kotor serta ada sedikit luka gores di pelipisnya bekas terkena pukulan oleh si pencuri.
"Thank you" Sam meneguknya cepat.
"Can you tell us,about the accident?!"
Pinta sang polisi itu.
Sam pun mulai menceritakan bagaimana kronologis saat dia dan rombongannya di rampok beberapa orang tak di kenal.
Berita perampokan yang memakan
Korban turis asing termasuk Sam pun masuk ke dalam berita dan di siarkan secara langsung oleh para reporter di seluruh stasiun televisi lokal.
"Eh sayang,liat berita deh. Ada turis indonesia yang kerampokan juga? meresahkan sekali" Tukas Sarah.
Rico menatap layar televisi dengan seksama. Betapa kagetnya saat dia melihat sosok Sam ikut tersorot kamera.
"Pemuda itu,- Bukankah dia yang bersama Sienna di perkebunan? "
Gumamnya
"Hah! Kamu kenal dia?" Tanya sarah
"Pemuda yang aku ceritakan bersama Sienna Waktu itu, dia orangnya? " Jelas Rico
"Ya ampun. Apa Sienna tahu keadaannya sekarang ya? Apa kita perlu kasih tahu dia?" Sarah menatap suaminya.
"Tak perlu. Lagipula pemuda itu,terlihat baik-baik aja kok" tukas Rico
Rico hanya tak ingin Sienna terpengaruh oleh berita-berita yang akan membuat adiknya tak tenang.
****
"Jadi ceritanya dia itu pangeran yang datang dan menyelamatkan sang putri?"
Goda Yuli.
"Jangan mulai deh,-" Dengus Sienna kesal karna di olok-olok.
"Terus dia pernah bilang gak,misalnya kata-kata yang menunjukkan kalo dia suka samu kamu?" Tanya Yuli serius
Sienna menggelengkan kepalanya santai.
"Masa sih? kalo denger dari cerita kamu,aku rasa dia suka sama kamu. Tapi kok dia gak bilang yah?" Yuli nampak berfikir keras sembari menatap Sienna dengan seksama.
"Terus apanya yang salah?" Sienna melirik malas.
__ADS_1
"Mungkin Kamu terlalu cuek. Kamu kan Emang gitu kalo sama cowok-cowok gak di kenal. Kaku dan jutek" Jelas yuli.
"Ish! Bukannya ngasih solusi. Malah ngeledek" desisnya sinis
"Ya udah, mending kamu coba hubungi dia lagi aja! Siapa tahu sekarang di angkat. atau kirim pesan aja" Sarannya yakin.
"Enggak ah! Biarin aja" Cibirnya gengsi
"Ya,terus mau nya gimana Non?!" Yuli menghela nafas panjang.
"Tau ah! Bodo amat,mungkin Dia emang tipe cowok Playboy kali. Makanya setiap ketemu cewek langsung so manis dan perhatian" Gerutu Sienna.
Yuli hanya terkekeh.
"Ya udah,lupain aja deh tuh cowok aneh!Besok kan aku udah boleh pulang. Kita belanja yuk?!" Ajak yuli.
"SIAP!!!"Sahut Sienna cepat.
TOK!
TOK!
TOKK!
Sienna dan Yuli saling melempar pandangan.
"Masuk?!" sahut Yuli
Pak Tirta dan Bi Imah masuk ke dalam. Sienna terdiam. dia tahu pasti sang ayah datang untuk menagih janji padanya.
Yuli,gimana kabar kamu?" Tanya pak Tirta .
"Baik pak,terimakasih atas perhatiannya"
"Syukurlah. kalo gitu, saya boleh pinjam Sienna sebentar 'kan?" Pak Tirta menatap sang putri.
Yuli menoleh pada Sienna. Namun Sienna memberi isyarat padanya untuk menolak.
"Iya pak, lagipula saya udah baikan kok."
Sienna melotot tajam kearah sahabatnya itu.
"Yuli biar Bibi yang jagain,Non pergi aja! gak usah khawatir" Sambung Imah.
Sienna menghela nafas kesal. Dia tahu bahwa penolakannya tak akan berhasil lagi sekarang.
"Ya udah,aku pergi dulu ya. Bi,jagain yuli"
Gumamnya sambil berlalu.
Pak Tirta segera mengikuti sang putri menuju parkiran.
"Mobil kamu biar Mang ujang yang bawa, kita udah hampir telat"
Jelas pak Tirta seraya menilik jam tangannya.
Sienna tak begitu menanggapi,dan segera masuk ke dalam mobil. Pak Tirta hanya bisa menghela nafas berat melihat sikap putrinya itu.
Setengah jam berkutat dengan kemacetan,tak ada obrolan apapun dari keduanya. Sampai akhirnya mereka berdua tiba di sebuah restoran mewah.
Sienna turun dengan wajah ketus.
"Sayang Please ya,jaga sikap kamu! Jangan bikin papa malu" Pinta sang papa.
"Hm," Jawabnya ambigu.
Pak Tirta segera masuk ke dalam Resto,di ikuti oleh Sienna.Ternyata Bu Susan dan putrinya Rara sudah menunggu.
"Halo sayang," sapa Susan manis
"Halo sayang. Maaf ya, jalanan macet"
Sela Tirta beralasan.
__ADS_1
"It's okay sayang,kami juga baru datang. Ini pastinya Sienna 'kan? Kamu terlihat semakin cantik" Seru Susan semanis mungkin.
"Iya cantik. Mirip mama." Desis Sienna ketus
"Sayang,-' Tirta menatap putrinya tajam.
"Tante kan jarang ketemu sama kamu, Oh iya kenalin ini anak tante satu-satunya,namanya Rara" Susan mengenalkan putrinya
Sienna dan Rara saling pandang sesaat.
Kedua gadis ini memiliki karakter yang sama-sama kuat,manja,cuek dan keras kepala.
"Rara,Ayo di sapa kak Sienna nya?!"
Titah sang mama sembari menajamkan pandangannya.
"Hai,gue Rara" Rara mengulurkan tangannya malas.
"Sienna," gadis itu menjabat tangannya sebentar dan lebih memilih buru-buru untuk duduk.
Rara nampak berdecak kesal saat di sambut tak baik oleh Sienna.
"Kamu cantik banget sayang pake gaun itu?" Puji pak Tirta pada Rara.
"Gaunnya terlalu berlebihan untuk acara semi formal" Celetuk sienna setengah berbisik.
Rara melotot tajam. Kemudian menyunggingkan senyum sinisnya.
"Iya dong om. Kan aku mau jadi bagian dari keluarga Ibrahim. Jadi harus terlihat cantik dan mewah. Iya kan ma?!" Rara menyibak rambutnya.
"Ish. Ngarep banget" desis Sienna membelalakkan matanya sebal.
Sindiran-sindiran yang Sienna dan Rara lontarkan membuat suasana jadi panas.
"Eh,Sayang. Kita pesan makanan aja gimana? Aku udah laper banget!"
Susan mencoba mencairkan suasana.
"Oke! Aku juga belom makan"
Seru pak Tirta mengambil daftar menu.
"Sayang,kamu mau makan apa?"
Tanya sang papa
"Nana gak makan malem pah, takut gendut." Dengusnya menatap Rara.
Rara yang merasa itu adalah sindiran untuknya nampak sangat kesal.
"Aduh sayang,Kamu harus coba deh Lasagna disini sangat enak!" Susan memberi saran.
"Lagi sakit gigi kali ma,gak usah di paksa! " Ledek Rara
Sienna mendelik tajam,
"Rara, gak boleh gitu!" Sergah sang mama
"Aku pesan Roti panggang dan Mato"
Tukas Sienna datar
Pak Tirta dan Susan saling melirik. Sementara Rara menahan tawa gelinya.
"Kenapa? Ada yang salah?!"
Dengus Sienna pada sang papa
"Sayang,ini Restoran italy bukan spanyol" Bisik pak Tirta pelan.
Sienna melirik sekitarnya pelan. Yang memang memang bernuansa italia itu. Bahkan ada poster besar yang memajang Menara Pisa.
"Jangan-jangan gak tahu makanan itali lagi" desis Rara.
__ADS_1
Tentu saja sindiran-sindiran pelannya itu menyulut emosi Sienna. Tirta bahkan Susan sepertinya sudah menyerah dengan tingkah laku kedua putri mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...