The Edelweis

The Edelweis
25 Semangkuk mie


__ADS_3

"Heh! Kenapa lo gak bilang kemana perginya bos Lo itu?!"Dengus Yuli,yang kini nampak kesal karna terjebak berdua bersama Eno.


"Haduh.. Udah di bilangin gue gak tau! lagian mereka udah dewasa,mau kemana juga terserah mereka dong"Elak Eno yang tak mau di salahkan.


Yuli melirik sinis,


"Lo tau gak,kalo bawa anak orang seenaknya,Itu namanya penculikan! Lo mau,bos lo gue laporin ke polisi!"Yuli merogoh ponselnya.


Sedetik kemudian Eno menghadang tangan Yuli.


"Lo,makannya apa sih? Galak bener,jadi cewek!" Gerutunya.


"Ya udah bilang? Mereka kemana?!"Desak yuli.


"Gini deh,sekarang kan udah mulai ujan. Mending pulang aja, yakin deh majikan lo itu aman sama bos gue, Bos gue orang baik kok"Saran Eno.


Yuli berdecak kesal.


"Atau mau gue anterin? Sekalian ketemu mama mertua. Eh,ibu kamu"Goda Eno cengengesan.


Yuli bergidik ngeri.


"Ih.. Amit-amit. Jangan sampe ibu ketemu makhluk kaya jadi-jadian kaya lo. Udah ah, gue mo pulang" Yuli bergidik seraya meninggalkan Eno di klinik sendirian.


"Bidadari, kalo lagi marah jadi tambah cantik ya, ternyata."Gumamnya menatap kepergian Yuli.


Yuli tampak menyetop sebuah taksi, sembari mencoba menelpon Sienna dengan raut wajah cemas. Dia tahu Sienna sudah bukan anak kecil yang harus terus di ikuti kemana pun.


Tapi dia bingung jika kembali ke rumah tanpa majikannya itu. Alasan apa yang harus dia berikan pada Pak Tirta.


Yuli tampak mengotak-atik ponselnya.


"Aduh! Kok ponselnya gak aktif sih, kamu di mana Sienna!" Gumamnya panik


Sesekali Yuli menoleh keluar jendela,


Guyuran hujan terlihat semakin deras.


Di tengah jalan,dia meminta sang supir untuk berbelok arah menuju rumah temannya.


Kemudian kembali menelpon seseorang.


"Bu,Yuli sama Sienna terjebak hujan. Kayanya kita gak bisa pulang. Kita sekarang lagi di rumah Putri bu, kita nginep disini. Besok kita pulang. Jadi Ibu gak perlu khawatir." Jelasnya singkat kemudian menutup sambungan teleponnya dengan cepat.


Yuli menghela nafas berat,


Berbohong mungkin jadi satu-satunya cara untuk terhindar dari masalahnya saat ini. tapi tetap saja, meskipun begitu dia masih tak tenang selam belum menemukan keberadaan Sienna.


***


Tikk..... Tikk..... Tikk...


Tetesan air hujan itu tepat berada di tengah-tengah ruangan.


Dian segera menadah tetesan airnya dengan sebuah ember.


Sienna dan Sam saling melirik. tentu sejak tadi mereka pun tak bisa terlelap. kondisi rumah yang benar-benar jauh berbeda dengan tempat tinggal mereka.


"Apa jika setiap hujan, rumah kalian bocor?"tanya Sienna.


"Biasanya kalo hujannya kecil, gak boco kak. Mungkin karna anginnya bertiup kencang, jadi aja bocor"Jelas Rani yang sepertinya sangat paham dengan kondisi rumahnya itu.


"Besok pagi, bapak perbaiki atapnya"


Sela pak Usman yang nampak duduk bersila.


Keluarga mereka mungkin memang sangat miskin,tapi Pak Usman adalah sosok ayah yang bertanggung jawab untuk keluarganya. Dan Sienna iri melihat keluarga kecil itu.


"Kak, apa kak Sienna bisa nyanyi? Dulu kalo hujan,ibu selalu nyanyi buat kita "


Tanya Dian penuh harap


Sienna tertegun seraya menatap ragu pada Sam.


"Oh,Kak Sienna suaranya bagus. Ayo kakak cantik,coba nyanyi sedikit"


Goda Sam yang duduk tak jauh darinya.


"Nyanyi? Kakak gak bisa. Coba Rani aja sama dian yang nyanyi, kakak yang dengerin?" sahut Sienna malu-malu.


"Tik.. Tik.. Tik.. Bunyi hujan di atas genting.....??? " Suara Sam mendahului yang lain.


"Airnya turun tidak terkira," Sahut Sienna pelan. sembari menatap Dian dan Rani agar mau melanjutkan bait lagu terakhir.

__ADS_1


"Cobalah tengok, dahan dan ranting! Pohon dan kebun basah semua..."


Rani dan Dian melanjutkan lagu tersebut dan bertepuk tangan.


"Lagi kak, lagi!" pinta Rani.


Dan akhirnya Sepanjang malam mereka bernyanyi dan tertawa. Bahkan Dian dan Rani hampir tertidur karna kelelahan.


Sienna menatap sendu kedua anak itu.


Kebahagian yang mereka buat mungkin tak seberapa.Tapi setidaknya, mereka memiliki kenangan manis di kala hujan, meski itu hanya sebuah lagu.


"Mereka udah tidur,kamu juga tidur sana!" Titah Sam yang melihat pak Usman juga sudah terlelap.


"Di tempat begini mana bisa tidur"Gumamnya pelan.


"Kamu bener. Duduk di atas tikar rasanya sakit banget" Sam mengusap pahanya.


"kamu lapar gak?" Tanya Sienna Tiba-tiba.


Sam menatapnya tajam,lalu kemudian mengusap perutnya.


Sejak tadi sore memang tak ada sesuap nasi pun yang masuk ke dalam Perutnya.


Tapi kemudian Sam melihat anak-anak itu,mereka berdua bisa tertidur pulas tanpa makan malam.


Apakah mereka sudah terbiasa seperti itu?


"Tapi tak ada yang bisa di makan"


bisik Sam kemudian


"Siapa bilang?"


Sienna mengambil sesuatu dari dalam plastik belanjaannya. Gadis itu memang suka membeli camilan. Beruntunglah ada makanan yang bisa mereka makan.


"Satu mie instan,cukup 'kan?" Tanya Sienna. Sam menatap tak yakin pada Gadis itu,tapi apa boleh buat. Mereka tak ingin menyusahkan si pemilik rumah.


Dengan kondisi seadanya, Sienna merebus mie yang akan mereka makan. Hanya butuh beberapa menit mie itu pun sudah siap untuk di santap.


"Kok gak ada ya?" Sienna mencoba mencari sesuatu di atas meja.


"Udah, kita pakai garpunya gantian aja"


Saran Sam yang sepertinya tahu apa yang di cari Sienna.


"Wah.. Makan mie di tengah hujan begini emang paling pas" decak Sienna yang sepertinya sudah sangat kelaparan.


"Emangnya,kamu bisa makan makanan begini?" Tanya Sam tak yakin


"Yuli sering ngajarin aku makan begini, katanya paling nikmat dimakan kalo lagi hujan"Selorohnya.


Sam mengulum senyum mendengar jawaban polosnya.


"Hati-hati panas!" tukas Sam menahan tangan Sienna yang hendak melahap mie ke dalam mulutnya.


"Kalo makannya begitu, lidah kamu bisa melepuh. Sini,biar aku aja!" Sam menarik garpu dari tangannya.


Sienna hanya terdiam melihat bagaimana Sam bersikap terhadapnya.


"Mie-nya harus terus di aduk seperti ini, biar uap panasnya keluar. Lalu angkat dengan perlahan! satu.. dua.. tiga.. Aaaaaa......!" perintah Sam sembari mengangkat garpunya mendekati mulut Sienna untuk menyuapinya.


Sienna membuka mulutnya patuh.


Gadis itu mengunyah pelan mie hangat yang kini memenuhi rongga mulutnya.


"Kok enak ya?" gumam Sienna jujur.


"Itu karna aku yang suapin" sahut Sam percaya diri.


Sienna melirik sinis


Keduanya nampak asyik menikmati makanannya.


Mungkin karena lapar, Sienna begitu lahap menyantap mie di hadapannya. bahkan hingga terdengar bunyi aneh saat di menyeruput Kuahnya.


SLURRRP!


"AH!..kenyang," desahnya mengelus perut.


Sementara dia tak sadar,jika sejak tadi Sam memperhatikan tingkah lakunya.


"Kenapa?" Sienna mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


Sam tersenyum lalu mengambil selembar tisu dan membersihkan bekas mie yang menempel di ujung bibir gadis itu.


Sienna terkesiap namun tak bisa menghindar.


"Jangan modus deh,"Desisnya menutupi malu. Jelas Sienna salah tingkah karena ulahnya itu,hingga dia menanggapi apa yang dilakukan Sam dengan sinis


Sam mengulum senyum.


"Kok wajah kamu merah? Kepedesan?!" tanya Sam,


"Aku gak kenapa-napa kok" sanggahnya seraya berbalik badan,dan memegang pipinya yang memang jadi terasa hangat dan memerah itu.


"Yakin? Ini pasti gara-gara mie nya panas" goda Sam yang jelas sedang menyindirnya.


Mendengar itu Sienna hanya memejamkan matanya menahan malu.


Pemuda itu benar-benar bisa membuatnya salah tingkah dan tak berdaya.


Karena malam semakin larut,Sienna pamit untuk tidur lebih dulu. 15 menit kemudian Sam pun merapikan selembar tikar yang akan di tidurinya. Dia menoleh ke arah Sienna,Gadis itu tak bergerak sama sekali,Apa benar dia tertidur dengan hanya di balut sehelai kain tipis sebagai selimut seperti itu?


Karna tak tega, Sam melepas Sweater hangatnya kemudian menyelimuti Sienna secara diam-diam.


Kemudian Sam mulai berbaring mengatur posisi tubuh Di atas ubin yang keras itu.


"Sam," Gumam Sienna pelan.


Sam terhenyak, ternyata gadis itu belum tidur.


"Kamu belum tidur?" Tanya Sam setengah berbisik.


"Aku gak bisa tidur," keluhnya.


"Bertahanlah! besok pagi kita pulang"


Tukas Sam


"Bukan soal itu. Aku hanya berfikir, Apa suatu hari nanti, anak-anak ini akan mengingat kita?" Tanya Sienna hati-hati.


Sam terlihat menghela nafas.


"Seharusnya mereka ingat,karna kita menciptakan kenangan yang baik untuk mereka" Sam menatap kosong ke atas langit-langit ruangan itu. Sejujurnya diapun ragu dengan jawabnya sendiri.


"Bukankah mereka akan lupa setelah kita pergi besok?" suara Sienna terdengar khawatir.


"Biarkan saja mereka lupa, kita tak bisa memaksa. Karna sebuah ketulusan tidak membutuhkan pengakuan." Sam menoleh lagi pada Sienna yakin.


"Sienna,Boleh aku tanya sesuatu?"Kali ini Sam balik bertanya.


"Soal apa?" Jawab Sienna pelan.


"Kenapa,Ibu kamu bisa meninggal?"


Sam begitu hati-hati mengucapkan kalimat yang keluar dari mulutnya.


Hening.


Sienna bahkan tak terlihat hendak menjawab pertanyaannya.


"Tak apa, jika kamu tak mau cerita. Maaf jika aku terlalu berani untuk bertanya begitu" timpalnya lagi.


"Saat itu, ada sebuah perampokan, Mama dan aku terjebak di lift,-"


Sienna menggantung kalimatnya.


"Lalu apa yang terjadi?" selidik Sam begitu penasaran.


"Sam,Bisakah kita tak membahas ini lagi? Aku mengantuk" jawab Sienna kemudian.


Sienna menatap kosong pada anak-anak yang tengah terlelap. kemudian gadis itu memaksakan matanya untuk terpejam.


***


Memiliki Dunia tak normal untuk berkeluh kesah adalah hal Wajar.


Tak harus memaksakan diri untuk menarik orang lain ke dalamnya.


Dunia kelam mu, adalah tempat teraman untuk menangis dan berteriak.


Jangan Biarkan siapapun mencoba masuk dan singgah.


Karna percuma saja, Bahkan mereka tak bisa merasakan sakit yang kamu derita.


***

__ADS_1


Sam menatap Sienna lirih,banyak hal muncul dibenaknya sekarang. Dan itu membuatnya terjaga hingga dini hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2