
Aku bukanlah Hera. dalam mitologi Yunani,yang bijak dan penuh kasih.
Bukan pula Srikandi yang kuat dan tangguh dalam peperangan.
Aku hanyalah gadis kecil yang selalu Rindu.
Rindu akan kasih yang pernah hilang.
Semuanya terenggut begitu mudah dan sangat tragis.
Membuatku Benci...
Benci pada Keadaan,
Benci pada diri Sendiri,
Dan Benci pada Takdir.
***
"Gimana cocok gak bajunya?"
Tanya Sienna yang kini sedang berdiri di depan cermin.
"Pas. Ini udah cantik banget" Melly memberi saran.
"Lagian ngapain sih becek-becekan kaya anak kecil. Aneh banget" Celetuk Yuli tak habis pikir.
"Eh bentar deh, kalian belom jawab. Cowok tadi itu siapa sih?"Desak Melly
Melly tentu Penasaran dengan sosok pemuda tadi. mengingat selama ini tak pernah ada seorang pemuda pun yang dekat dengan Sienna. Apalagi jika melihat sikap Sienna yang kurang terbuka terhadap orang asing.
Bahkan,Melly ingat betul bagaimana sikap Sienna ketika pertama kali bertemu dengannya dulu. Sienna lebih sering diam dan memasang wajah cemas.
Butuh waktu lebih dari satu tahun,untuk bisa terbuka dan dekat dengannya. Kini mereka bisa bercanda dan berbagi rahasia bersama. Dan itu semua melalu proses pendekatan yang cukup panjang.
"Sienna bertemu dengannya di Barcelona,dan ternyata dia adalah anak dari rekan kerja papanya. Lucu banget kan?" Jelas Yuli yang sepertinya sudah menyelidiki siapa Sam.
"Ih... Manis banget deh. Jangan-jangan kalian jodoh"Tebak Melly.
"Jodoh apaan sih? Ngaco deh," Elak Sienna.
"Eh,di kampusku juga ada banyak cowok ganteng yang populer banget. Harusnya kamu pindah kampus deh! Biar bisa kenal banyak orang." Saran Melly.
"Dia mana mau Mel. kayanya dia takut jatuh cinta sama cowok-cowok ganteng di luar sana." Yuli terkekeh.
Sienna hanya melempar tatapan sinis pada Yuli tanpa membalasnya. Candaan Yuli memang sering kali di lontarkan,namun Sienna tak begitu menanggapinya.
"Oh iya,bukannya sekarang si Rara jadi saudara tiri kamu ya? Terus gimana sikap dia ke kamu?"Tanya Melly penasaran.
"Gak tau. Belum pernah ngobrol juga. Kayanya sih dia lebih nyebelin dari keliatannya." Sahut Sienna yakin.
"Ya ampun, kasian banget ya kamu non.. Harus ada saingan" Ledek Melly.
"Saingan? Maaf ya,dalam hal Apapun Gue gak bakalan ngalah sama dia?"
Sergahnya yakin.
"Bagus...! Kita berdua pasti bakalan bantu kamu kok,tenang aja" Melly mengangkat kedua alisnya menatap Yuli. Dan Yuli hanya membalasnya dengan anggukan setuju.
"Selesai juga," Sienna merapikan rambutnya seraya berdiri.
"Ya udah, kita pulang sekarang. Bahaya kalo bapak tau kita gak ada di rumah"
ajak Yuli.
"Mel, thanks ya buat bajunya. Besok aku balikin" tukas Sienna
"It's okay,.. Pake aja kalo Kamu suka. Di butik mama masih banyak kok baju model begitu," Sela nya.
"Enak bener ya,Punya temen orang kaya. Semua ada,baju,makanan,hiburan. Hm'' desah Yuli.
Sienna dan Melly saling lirik.
"Besok aku bawain baju baru spesial for You!" tukas Melly enteng
"Ahhhh! Serius,makasih banyak!" Yuli Bertepuk tangan antusias.
Sienna mendesah panjang. Melihat tingkah laku Temannya itu.
***
Sienna dan Yuli meninggalkan rumah Melly dan segera kembali ke rumah dengan mengendarai taksi.
__ADS_1
Setibanya di rumah,Sienna sudah di sambut oleh sang papa yang terlihat tengah duduk menantinya.
"Papa,"Gumamnya kaget.
"Dari mana kamu?!" selidik Pak Tirta
"Kita dari rumah temen pah. kebetulan temen Sienna ada yang sakit" Sienna coba berbohong.
Pak Tirta menatapnya lekat.
"Teman kamu yang mana?"
Sienna memutar bola matanya malas.
"Temen kuliah lah pah. kebetulan rumahnya memang agak jauh" sahutnya tenang.
"Yuli, apa benar yang di katakan Sienna?" Pak Tirta menatap yuli yang sejak tadi hanya tertunduk.
Sienna melirik dengan ujung matanya.
"Ii-iiya pak. Kami pergi menjenguk teman Non Sienna yang sakit"Timpalnya gugup dan tak berani menengadah.
"Ya sudah. kamu boleh ke belakang. Sienna sini kamu!" pak Tirta menepuk sisi sofa yang di dudukinya.
Sienna mendekat dengan tatapan ragu. Dia kemudian duduk di samping sang papa. Di hadapannya sudah ada beberapa dokumen yang entah apa isinya.
"Ini adalah surat pemindahan kuliah kamu. Mulai nanti, kamu akan berkuliah di tempat yang sama dengan Rara. Papa harap kamu bisa lebih dekat dengannya"
Sang papa mengusap pundak Sienna penuh harap.
Sienna terdiam.
Sienna tak menerima ataupun menolaknya. Dia hanya menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya.
Haruskah dia berontak lagi? Apakah semua ini akan selesai dengan cara dirinya melarikan diri seperti kemarin?
Sienna menghela nafas dalam,
dia menatap sang ayah lama.
"Baiklah. Kalo itu permintaan papa. Sienna setuju untuk pindah kuliah"
Jawabnya dingin.
"Serius sayang? Kamu gak marah?"
Tanya pak Tirta memastikan.
"Hm.. Nana gak marah ko,pah"
Jawabnya sembari beranjak meninggalkan sang papa dengan wajah dingin. bahkan tanpa berpamitan.
"Sienna? Kamu serius kan sayang?" tanya sang papa lagi.
Namun Sienna tak menggubris dan hanya berjalan gontai menuju kamarnya,
gadis itu Merebahkan tubuh di atas ranjang.
Matanya menerawang jauh ke sisi jendela. Percuma menangis untuk hal barusan. Yang harus dia lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan kampusnya yang baru. Sienna harus bisa beradaptasi dengan dunia luar. Dia tak bisa terus menutup diri.
Tak berapa lama yuli mengetuk pintu dan masuk. Dia sudah mendengar soal pemindahan kuliah Sienna dari sang ibu.
"Kamu baik-baik aja 'kan,?" Yuli mendekat dan mengusap lembut pundaknya.
"Aku nyerah Yul. Mungkin sekarang saatnya aku harus nurut sama kemauan papa." Tukasnya putus asa.
"Kamu yang sabar ya. Aku yakin, bapak ngelakuin itu buat kebaikan kamu kok. di kampus baru, kamu akan liat kehidupan orang-orang yang setara dengan kalian. Bagaimana cara mereka bergaul dan berteman" Jelas yuli.
"Kamu tahu 'kan. Kalo Aku gak butuh teman! Aku gak butuh mereka!" sanggah Sienna
Yuli menghela nafas dalam. Dia tahu hal ini sangat berat untuk dijalani oleh Sienna. Pribadinya yang tertutup tentu akan sangat kesulitan jika harus memulai semuanya dari awal lagi.
"Aku juga udah mulai ngambil kerjaan, jadi gak bisa nemenin kamu terus?"
Tukas yuli.
Sienna menoleh kaget.
"Kamu kerja? Dimana? Kenapa gak bilang?" tanya Sienna
"Aku harus belajar mandiri. Dan Aku juga harus mulai menabung" Jelasnya beralasan.
"Emangnya kamu lagi kekurangan uang? Apa Gaji kalian gak cukup? Nanti aku minta papa buat naikin gajinya. Kamu gak usah kerja!" Pinta Sienna tak rela.
__ADS_1
Yuli tersenyum geli.
"Jangan kaya anak kecil ah! Aku kerja juga gak jauh kok, masih di deket-deket sini. Nanti kamu mampir yah kalo lagi gak sibuk." Pintanya.
Sienna menatap Yuli penuh lirih. Apakah dia bisa berjauhan dengan Yuli?
''Hey! Gak usah lebay deh, kita masih bisa sering ketemu. Oh iya, lagian di kampus kan, ada Melly. Jadi gak usah khawatir"
Yuli berupaya menenangkannya.
"Tapi janji. Mulai malam ini kamu harus tidur sama aku?" Rengeknya manja.
Yuli tersenyum dan memeluk Sienna
"Manja banget sih, nona cerewet ini!"
Godanya.
***
Sementara itu keadaan Rara tak berbeda jauh dengan Sienna.Dia sangat kesal dengan sang mama yang meminta pak Tirta agar Sienna berkuliah di tempat yang sama Dengannya .
Rara nampak sibuk membolak balik sebuah majalah fashion tanpa berniat membacanya.
"Udah, gak usah di liat lagi"
Hariss menarik majalah dari tangannya
Rara mendengus kesal.
"Kenapa sih? Dari tadi pagi mukanya kusut banget?" tanya Hariss
"Bete banget tau! Semuanya gara-gara mama" Gerutunya
"Emangnya mama kamu ngapain lagi? Daftarin kamu ke sekolah modeling? Atau nyuruh kamu ambil kelas acting lagi?" Terka Hariss
"Papa Tirta udah Mindahin kuliah anaknya ke kampus kita. Dan semuanya karna permintaan mama"Jelasnya
"Anaknya? Maksud kakak tiri kamu? Sienna?" tukas Harris antusias.
Rara menatapnya sinis
"Apaan sih kak hariss? Kok keliatan seneng banget?"Dengus Rara.
"Enggak. Biasa aja kok" elaknya.
Hariss mengulum senyum,akhirnya dia bisa sering bertemu dengan Sienna nanti.
Ya, gadis yang di temuinya di perpustakaan kota Waktu itu selalu mengusik pikirannya. Dan saat dia tahu jika Sienna adalah saudara tiri Rara,hal itu membuat Hariss bersemangat. Apalagi soal kepindahannya ke kampus mereka. Setidaknya,Nanti dia akan lebih sering bertemu dengannya. Mungkin jug membuka peluang agar bisa semakin mengenalnya.
"Heh! Malah bengong." gertak Rara.
"Harusnya kamu seneng dong. Dengan begitu kamu bisa lebih dekat dengan saudara kamu,"Sahut hariss
"NO! Aku gak mau harus berbagi segalanya sama Dia.Lagian yang nikah mama, kenapa aku harus repot-repot deket sama anaknya papah Tirta. Nyebelin deh!" protes Rara
Tentu Sulit baginya untuk menerima keberadaan Sienna sebagai saudara tirinya. dalam waktu yang sangat singkat.
"Dasar egois!" cibir Hariss mengacak pelan rambut gadis itu.
Hariss sangat tahu sifat gadis manja ini. tak mudah baginya untuk menerima kenyataan bahwa posisi sang ayah telah terganti dengan orang lain. Apalagi harus berbagi dengan saudara tiri.
"Kamu pikir hal ini mudah buat Sienna? kalian sebenarnya ada di posisi yang sama. Harus sama-sama menerima orang baru sebagai pengganti orang tua kalian, dan juga berbagi rumah dengan saudara tiri. Tapi kalian tak boleh egois. jika kalian masih ingin melihat kedua orang tua kalian bahagia. Kalian harus bisa sedikit mengalah"
Hariss menatap Rara dengan penuh keyakinan.
Dia tahu gadis ini sebenarnya memiliki hati yang baik, hanya saja sifat manjanya lebih mendominasi dan sedikit egois.
"Jangan so ngajarin deh,"
Rara tersipu saat Hariss menatapnya dengan serius. Hingga gadis itu membuang muka.
Siapapun takkan bisa tahan dengan ketampanan Hariss. Rara juga gadis normal yang bisa berdebar jika berdekatan dengan lawan jenis. apalagi dia sudah Bersama Hariss cukup lama. Tentu sangat sulit untuk menghindar.
"Kenapa wajah kamu jadi merah? Kamu demam?" Hariss memegang keningnya.
Rara mengelak dengan cepat.
"Enggak. Aku mau ke toilet,"Pamit Rara gugup.
Hariss menatapnya bingung.
"Dasar Aneh" Desis Hariss tersenyum kecil.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...