
Libur kuliah sebentar lagi akan segera berakhir. Beberapa mahasiswa dan calon mahasiswa baru tentu tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menuntut ilmu di kampus favorit mereka.
Beberapa forum obrolan mahasiswa bahkan penuh dengan berita hangat seputar perkuliahan.
Kampus mana yang akan mereka pilih, seberapa bagus dan terkenalnya kampus yang akan mereka datangi untuk menimba ilmu.
Begitupun dengan Sam. Dia tampak asik membalas pesan di forum obrolan dengan teman-temannya. Sementara Sang mama nampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk anak semata wayangnya tersebut.
"Sayang,Sepatu yang mama beli buat kamu di simpan dimana ya? Kok gak ada?!" Sang mama memeriksa setiap rak di kamar putranya.
Namun Samuel tak menggubris dan asyik menatap layar ponselnya.
"Samuel..?!!"
Panggil sang mama dengan nada tinggi. Barulah setelah itu Sam menoleh cepat.
"Ada apa sih ma? Yang mau kuliah kan Sam. kok mama yang heboh" gumamnya
"Mama nyari sepatu yang waktu itu, mama beli buat kamu. kok gak ada?"
Tanyanya lagi.
"Oh,Sepatu yang warna hitam itu? Jelek ah! Sam 'gak suka warnanya," jawabnya enteng
"Ya terus,kamu kemanain? Itu sepatu mahal sayang." sang mama menahan kesal.
"Sam kasih ke Eno, soalnya sepatu Eno udah rusak."Sahutnya polos.
"Ya ampun! Samueeeel..." Teriak sang mama kesal.
"Udah lah mah. cuma sepatu doang. Gak perlu histeris gitu" tandasnya.
"Masa kamu kasih ke Eno sih! Kan gak cocok sama mukanya. Aduh,mama sengaja pesan jauh-jauh dari luar negeri. Malah kamu kasih ke Eno. Gimana sih?" Gerutu sang mama tak ikhlas.
"Ma, itu artinya mama harus lebih banyak sedekah sama Eno"
Bu Dewi terdengar menghela nafas menyerah. Dan kemudian meninggalkan kamar Sam dengan rasa kesal.
Sam sama sekali tak peduli,dia tak pernah merasa jika ibunya benar-benar sayang padanya. Yang kedua orang tuanya berikan hanya tumpukan barang sampah yang mereka bilang sangat mahal dan berharga. padahal Sam tak pernah menginginkan semua itu.
"Si bebek kemana sih? Kok ponselnya gak aktif, apa dia sakit yah?"Gumam Sam seraya menatap layar ponselnya kesal.
Sejak dia memberi nomor ponsel itu pada Sienna kemarin,Gadis ini belum sekalipun meneleponnya atau sekedar mengirim pesan singkat.
"Atau aku ke rumahnya aja ya? Eh tapi, gimana kalo dia gak ada di rumah?"
Sam mengernyitkan dahi bingung.
"Ah!... Gue gak bisa diem aja. Gue harus ke rumahnya sekarang!" Sam bangkit dan bergegas menyabet jaketnya.
"No! Anter gue dong!" Teriak Sam pada Eno yang sedang asyik mencuci motor.
"Anter kemana bos?" Eno menoleh heran
"Nyari bebek gue!" Tukasnya sambil masuk ke dalam Mobil
Eno terdiam Cukup lama.
"Nyari bebek? Pagi-pagi begini Si bos mau makan bebek panggang apa gimana sih?" tanyanya bingung.
"Buruan No!"
Teriak Sam tak sabar.
Tanpa banyak membantah, Eno pun bergegas dan meninggalkan pekerjaannya.
"Iya oke! Sabar dikit Napa" sahut Eno.
"Lo, gue gaji bukan untuk protes No." desis Sam ketus
"Bisanya cuma ngancam" gerutu Eno pelan.
"Ekhem," Sam berdehem keras.
Dan Eno hanya menyeringai takut,
"Siap laksanakan!" sahutnya segera
Eno memacu kendaraan yang mereka tumpangi melewati jalanan macet. Hingga akhirnya Sam tiba di komplek perumahan elit.
"Ini kan jalan ke rumahnya pak Tirta bos. Bos mau ketemu siapa sih?" Tanya Eno seraya melirik sekitar perumahan tersebut.
"Gue nyari bebek gue yang lepas disini No,"' Tukasnya masih dengan nada serius.
"Bebek?" Eno bergumam bingung
"Stop! Udah disini aja,jangan deket-deket, Nanti ketauan."
Perintahnya.
Sam menatap pantulan wajahnya di kaca spion, kemudian merapikan sedikit rambutnya yang berantakan karna tersapu angin.
"Mudah-mudahan dia ada di rumah,"
gumamnya penuh harap.
Sam ragu-ragu menatap ke arah jendela kamar yang paling atas. Yang dia yakini adalah kamar Sienna.
Tapi tiba-tiba sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah Pak Tirta.
"Wah,Bos. Ada si non princess tuh"
Eno menunjuk kearah taksi tersebut.
Sam terperanjat dan buru-buru menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sembunyi No! Jangan sampe ketahuan"
Sam menarik kepala Eno untuk sembunyi.
**
"Itu kok,kaya mobil Sam ya?" gumam Rara menelisik
Rara turun dari dalam Taksi terdiam sesaat untuk memperhatikan mobil yang terparkir cukup jauh dari halaman rumah Pak Tirta tersebut.
Karena penasaran,Rara pun mendekat kemudian mengintip Ke dalam Mobil.
"Samuel,kamu lagi ngapain?"tanya Rara.
Dengan berat hati Sam keluar dari persembunyiannya dan membuka kaca mobilnya pelan.
"Hai Ra,gue lagi nunggu temen. Kebetulan banget ya" Jawabnya berbohong.
"Kok kalian kaya ngumpet-ngumpet gitu sih? Temen siapa? Emang temen kamu ada yang tinggal di deket sini juga?"
Tanya Rara Penasaran.
"Itu,- si Bobby. Anak jurusan teknik, kebetulan nanti malam mau ngajak makan-makan, iya 'kan No?" Sam menatap Eno tajam.
"Iiiya." jawab Eno terbata-bata.
"Oh gitu. Eh, daripada nunggu di luar mending masuk yuk! Sekalian ketemu mama?" Saran Rara.
"Aduh,enggak usah sekarang deh! Aku beneran lagi ada urusan" tolak Sam.
"Kamu gak usah malu-malu deh! Mama pasti seneng ketemu kamu" Rara mencoba menarik pintu mobil agar Sam keluar.
"Iya bos, masuk aja. tadi katanya sengaja mau ke rumah Pak Tirta mau nyari bebek" Celetuk Eno dengan polosnya.
Jelas saja Ucapannya langsung mendapat serangan tajam dari Sam.
"Gue beneran bakal bunuh lo,abis ini!"
Desis Sam kesal karena Eno sama sekali tak bisa menyelamatkannya.
"Nyari bebek? Kamu ada bisnis bebek sama Papa Tirta?" Tanya Rara bingung.
"Enggak kok. si Eno salah denger"
Sanggahnya.
"Ya udah kalo gitu, ayo masuk. Ayo!"
Rara memaksa Sam sekuat tenaga.
Pada akhirnya Sam pun kalah,dan terpaksa ikut Masuk ke dalam rumah Pak Tirta. Sejujurnya Sam hanya ingin melihat Sienna dari kejauhan saja. Memastikan jika gadis itu baik-baik saja. bukan masuk ke rumahnya secara terang-terangan begini.
Sam mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan dengan sangat hati-hati.
"Kamu gak usah teriak-teriak deh, aku kan malu sama mama kamu" desis Sam
"Maaf! Abis aku seneng banget. Ya udah kamu duduk dulu aja, aku buatin minum ya" Rara segera pergi menuju dapur.
Sam dan Eno saling lirik bingung.
Tak berapa lama Bu Susan keluar dengan pakaian yang tampak sudah Rapi.
"Ya ampun, Sam? Lama gak ketemu, kamu makin ganteng aja" Sambut bu Susan.
"Halo tante apa kabar?"Sapanya canggung.
"Ayo,silahkan duduk!"
Bu Susan mempersilahkan Sam untuk duduk di salah satu sofa besar.
Wanita yang sudah hampir berusia 40 tahun itu memang sejak dulu sangat menginginkan Samuel menjadi menantunya. Selain tampan, Samuel juga berasal dari keluarga terpandang. Hal itu lah yang membuat Bu Susan meminta Rara untuk terus berusaha mendekatinya.
Tak berapa lama,Rara datang dengan membawa dua cangkir teh hangat untuk tamunya itu.
"Ini minumnya, silahkan!"
Rara memilih duduk di samping Sam, Tentu saja hal itu membuat Sam sangat tak nyaman karena di apit oleh dua wanita yang sangat menyebalkan baginya. Dan untuk sekarang, Eno pun tak dapat berbuat apa-apa.
Mendengar suara bising di bawah, Sienna penasaran dan mencoba mengintip dari balik tangga.
Dan betapa terkejutnya Sienna saat tahu jika sumber keributan berasal dari Rara dan ibunya dan juga Sam.
SAM?
Sam ada di rumahnya?
"Ngapain sih dia kesini?" Gumamnya heran. Namun Sienna tak berniat untuk keluar dari persembunyiannya.
"Oh iya, Bentar lagi kan kuliah. Tante titip Rara ya" pinta Bu Susan penuh harap.
"Kok,Nitip ke saya tante?" Sam menyeringai tak ikhlas.
"Di kampus cuma kamu dan hariss yang tante percaya. tapi kan sekarang Hariss sedang sibuk sama skripsinya. Jadi, otomatis cuma kamu yang bisa jagain Rara. Lagipula,kalian kan udah deket cukup lama."Jelasnya.
Sam menyeringai ragu.
Sienna tertegun. Ternyata keluarga mereka sudah sedekat itu.
Lalu bagaimana dengan dirinya?
Bagaimana jika Tante Susan dan Rara tahu,jika selama ini dia sering bertemu dengan Sam?
Sienna berjalan mundur dan kembali ke kamarnya.
***
__ADS_1
"Saya gak janji tante. Soalnya saya juga sibuk sama kuliah saya," Tolak Sam
"Iya tante tau. Maksudnya tante, kamu jangan terlalu cuek sama Rara. apa salahnya jika kalian saling mengenal lebih jauh" pinta Bu Susan.
Rara hanya tersenyum melihat bagaimana sang mama mencoba membuat dirinya dekat lagi dengan Sam. Setelah beberapa usahanya kemarin tak membuahkan hasil.
"Mama jangan bikin Sam tertekan dong!" Tukas rara seolah keberatan dengan sikap sang mama. Padahal jelas-jelas dia pun sangat setuju dengan permintaan ibunya itu.
Samuel tersenyum simpul. Dia tahu Rara dan Bu Susan tengah memasang perangkap untuk membujuknya.
Namun tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar begitu keras menghentak anak tangga.
Dan terlihat Sienna pun turun dengan wajah cueknya,sembari menenteng sebuah gelas.
"Sienna? Kamu udah bangun. Kenalin ini Sam,teman dekatnya Rara"
Tukas Bu Susan mendahului.
Sam terkesiap kaget karna tiba-tiba Sienna ada di hadapannya.
"Oh,.. Hai" Sapa Sienna cuek seolah tak mengenalnya.
Rara menatap sinis sikap Sienna yang menurutnya tak sopan itu.
Sienna berlalu begitu saja menuju dapur. Tanpa menghiraukan Sam sedikitpun.
"Bi Imah! Minta air putiiih....!"
Teriak Sienna dengan suara keras.
Bu Susan tersenyum kecut.
"Aduh maaf ya Sam. Anak tiri tante emang agak begitu. Agak kurang sopan. Beda banget sama Rara,iya kan sayang"
"Iya dong mah. Rara sama dia jelas jauh berbeda" Sahut Rara dengan senyum Percaya dirinya
Namun Sam sama sekali tak peduli dengan ocehan Rara maupun ibunya. yang dia perhatian justru sikap cuek Sienna. kenapa dia bersikap dingin dan seolah tak mengenalnya.
Apa ada yang salah dengan dirinya?
"Tante,maaf yah. Sam pamit pulang"
tukas Sam tiba-tiba.
"Loh, mau kemana? Ini kan masih pagi? Teh nya juga belum di minum Sam?""
tanya Bu Susan
"Saya lupa kalo mama nyuruh saya beli sesuatu. Maaf ya tante! Maaf banget, kami pamit." Sam segera menarik Eno untuk meninggalkan rumah itu.
Dan Rara hanya dapat mendengus kesal melihat kepergian pemuda pujaannya.
"Tuh kan ma, dia pergi lagi. Nyebelin banget" Rengek rara kesal.
"Sabar dong sayang. cowok Kaya Sam gak bisa di paksa. Kita harus pelan pelan. Kamu tenang aja,dia pasti bakal jatuh cinta sama kamu" Bujuk sang mama.
***
Sam keluar dari rumah itu dengan segera,namun bukan Sam namanya jika tak memiliki ide gila untuk melancarkan aksinya agar bisa melihat Sienna.
Sam berdiri di teras, alih-alih mendekati mobilnya. Sam malah berlari ke halaman belakang rumah secara diam-diam.
"Pinjem topi Lo!" Sam menarik paksa topi yang di pakai Eno.
"Heh! Bos! Mau kemana?" tanya Eno kaget.
"Udah,Lo tunggu di mobil aja. Kabarin gue kalo ada apa-apa" perintahnya.
Dengan bermodalkan topi dan jaket, Sam nekat mengendap-endap menuju area belakang rumah Sienna.
Dengan hati-hati pemuda itu mengintip disisi tembok, namun sayang dia tak melihat Keberadaan Sienna.
Sam mengamati sekitarnya,sekedar untuk memastikan jika dia aman.
lalu perlahan melangkahkan kakinya menuju sisi dapur yang agak sepi.
"Akhirnya ketemu,"
Gumam Sam saat melihat Sienna sedang duduk manis menikmati secangkir teh dan membaca sebuah buku.
Dengan langkah kaki yang sangat pelan, Sam mendekat.
"Hey... Sienna!"
Desisnya pelan.
Namun sepertinya Sienna tak mendengar suara panggilan itu.
Karna kesal Sam pun memberanikan diri untuk mendekat dan berlari kecil ke arah Sienna
Namun tiba-tiba dari arah belakang, sebuah pukulan dari benda tumpul menghantam tubuhnya.
BUGH!
Seketika Sam jatuh tersungkur dan tak berdaya karna kesakitan.
Suara keras itu sontak membuat Sienna bangkit dan melihat ke arah belakang.
"Aaaaa....!"
Teriak Sienna kaget. Saat melihat ada seseorang yang tersungkur di hadapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1