
Suasana rumah yang sepi membuat Sam terlihat sangat bosan. Bahkan sejak tadi dia tak beranjak dari tepi kolam dan hanya menikmati sinar mentari yang lumayan terik.
"Aduh! Sayang. Kok kamu malah berjemur jam segini sih? Nanti kalo kulit kamu gosong gimana?" teriak sang mama panik.
"Apaan sih ma. berisik banget"
Dengus Sam cuek.
"Hari ini papa kamu pulang. Jadi tolong, kamu jaga sikap! Jangan sampe kalian ribut, mama udah capek dengernya"
Pinta sang mama.
Sam menatap sang mama sinis.
"Yang sering ngajak ribut itu papa, bukan Sam" elaknya.
"Kalian berdua sama aja! Siang ini kamu jemput papa di bandara ya. Jangan sampe bikin masalah! Jadi anak baik Sam!" Sang mama pergi meninggalkan putranya yang masih tertidur santai.
Namun sesaat kemudian Sam bangkit.
"Kayanya,Gue harus cari dia sekarang deh" gumamnya yakin.
"Sam? Kamu denger mama kan?!" sang mama menatapnya sinis.
"Iya ma," Sam bangkit dengan wajah malas. Lalu berlari kecil menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Sang mama hanya dapat menghela nafas panjang.
Sam menatap pantulan wajahnya di cermin. Tiba-tiba saja keinginannya untuk menemukan Sienna menjadi semakin kuat. Entah apa yang Sam rasakan saat ini. yang jelas Semalaman dia bahkan sulit tidur karena selalu teringat akan gadis itu.
30 menit kemudian Sam keluar dari kamar dan berjalan menuju garasi.
Seharusnya dia bisa menemukan gadis itu,Bukankah kemarin dia tak sengaja bertemu dengannya di tempat itu, mungkin dia akan bertemu lagi dengan Sienna di tempat yang sama.
Sam memacu mobilnya pelan. melewati jalan itu dan melihat dengan seksama ke sekeliling tempat dan orang-orang yang berlalu lalang di Sana. Namun ternyata hasilnya nihil, dia tak melihat Sienna.
Dengan putus asa. Sam memacu mobilnya menuju bandara, untuk menjemput Eno dan sang papa.
**
Pada akhirnya semua Ego dan keras kepalamu sia-sia.
Mempertahankan Cinta yang kau bilang abadi,kini akan pupus.
Bahkan,kini dirimu tak bisa menyalahkan siapapun.
Karena sesungguhnya, dirimu lah yang salah sejak awal.
**
Tak berapa lama,Sam pun tiba di bandara. Ternyata Sia-sia dirinya mencari kesana kemari, toh orang yang dia cari tak Muncul juga. Langkah kakinya gontai, berjalan tak tentu arah di antara lautan manusia yang berlalu lalang.
"Woi! Boss,disini" Teriak sebuah suara yang memanggilnya dari kejauhan.
Sam menoleh pelan, Tampak Eno dan sang ayah baru saja turun dari pesawat.
Sam tersenyum kecut menyambut keduanya.
"Hai pa,apa kabar?" Sam memeluk sang papa malas.
"Tumben kamu jemput papa?"
Tanya sang papa heran
"Kebetulan lewat" Selanya.
"Bos,apa kabar!" Seloroh Eno yang langsung mencium tangan Sam.
"Lo pikir gue Eyang lo! Pake cium tangan" Dengus Sam menepis tangannya.
"Ck! Si bos gitu amat,gak kangen apa"
Gerutu Eno
"Berisik lo ah" Sulut nya malas.
"Jadi, apa saja yang hilang selama di Barcelona?" Tanya sang ayah kemudian.
Surya Bagaskara,Pria setengah baya itu adalah seorang petinggi polisi yang masih aktif mengabdi pada negara. Baktinya yang luar biasa sering kali mendapat penghargaan dari berbagai pihak.
"Dompet, jam tangan dan ponsel"
gumamnya lesu.
__ADS_1
"Hah? Jam tangan hadiah dari nyonya? Waduh! Harganya kan hampir 200 jutaan?" Eno meringis ngeri membayangkannya.
"Syukurlah kalo hanya itu yang hilang,semua barang itu bisa dibeli. Yang paling penting kamu selamat," Pak Surya menepuk pundak sang anak lega.
Eno hanya geleng-geleng kepala melihat bagaimana keluarga ini sangat menyepelekan uang.
"Padahal, kalo waktu itu jam nya gue pinjem,lumayan tuh buat modal Kawin"
desisnya pelan.
"Kawin terus pikiran Lo!" celetuk Sam.
Pak Surya menatap keduanya Malas. Sam dan Eno memang sangat dekat sejak lama. Eno merupakan asisten Pak Surya sekaligus teman dekat Sam.
****
Pukul 7 malam Sienna baru kembali ke rumah. Beberapa orang nampak keluar dari dalam rumahnya dengan membawa dokumen-dokumen Penting.
Sienna memperhatikan mereka satu persatu, namun tak satupun yang di kenalnya.
"Sayang kamu baru pulang?"
Senyum Pak Tirta nampak sangat ramah.
Sienna masih menatap orang-orang itu penasaran.
"Mereka siapa? Abis ngapain?" selidik Sienna.
"Oh itu, mereka dari W.O. barusan habis Meeting. sayang terimakasih banyak. kamu sudah membuat papa bahagia"
Pak Tirta memeluknya erat.
Sienna tersenyum simpul.
Rasanya lelah harus terus 'berperang' dengan sang papa. Untuk mempertahankan Cinta abadi sang mama yang menurutnya tak tergantikan.
Rasa sakit terasa menghimpit jantungnya. sesak dan penuh kekecewaan,seakan meronta-ronta di dalam batinnya. Sesungguhnya jauh di lubuk hatinya, Sienna tak menginginkan hal ini terjadi. Tidak sama sekali.
"Papa harus berterimakasih sama mama juga. Bawakan bunga Edelweis ke makam mama besok pagi"
Tukasnya dingin.
Pak Tirta Menatap heran sang anak. Ada hal yang tak biasa.Bagaimana bisa selama bertahun-tahun Sienna tak bahkan tak mau mengakui jika ibunya sudah meninggal.
Tapi sekarang,tiba-tiba dirinya meminta sang papa untuk berziarah ke makam sang ibu.
"I'm okay pa. Sienna capek,Mau mandi dulu" Pamitnya berjalan ke dalam rumah.
Pak Tirta terdiam sesaat.
Tatapan Sienna kosong dan senyum dinginnya itu, sama persis seperti senyuman mendiang istrinya.
Namun dia menepis pikiran jeleknya barusan. Mungkin saja Sienna benar-benar cuma kelelahan.
**
Selesai mandi,Sienna mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian duduk di depan cermin. Air matanya tiba-tiba jatuh.
"Kamu harus kuat sayang,.."
Terdengar suara samar yang entah datang darimana,seketika mengagetkan Sienna. Dia menoleh ke segala arah, Namun hanya semilir angin yang bertiup terlihat menyibak tirai jendelanya.
"Mama..." Desisnya menatap ke arah jendela.
Sienna kemudian berdiri dan perlahan mendekati jendela lalu menutup tirainya. Matanya masih jelaga mencari sesuatu.
"Mama! Mama!" panggilnya seolah tengah mencari sang mama.
Sienna tersenyum tipis.
"Sienna tahu mama ada disini. Ma! Nana kangen. Mama gak kangen ya sama Nana" Bisiknya.
Lagi lagi semilir angin menyibak tirai jendelanya,membuat tirai itu kembali terbuka.
Sienna menengok keluar jendela,
"Apa Mama mau Nana keluar?!"
Tanyanya Entah pada siapa.
Sienna mendekat ke pinggir jendela seolah hendak menaikinya.
"Sienna...!" Teriak yuli yang kaget begitu melihat Sienna yang hendak melompat keluar jendela.
__ADS_1
Dengan sigap Yuli menariknya hingga terjengkang ke belakang.
BUGH!
Keduanya terjatuh Bersamaan. namun Sienna tampak tak sadarkan diri.
"Ya allah Sienna! Nyebut na! Kamu kenapa? Badan kamu juga panas. astagfirullah! Bu,ibuuuu!" Teriak yuli.
***
20 menit menunggu,akhirnya perlahan Sienna membuka matanya.
Pak Tirta dan dokter Fadli menatapnya cemas. Sementara Yuli dan bi Imah terlihat berdiri di belakang keduanya.
"Ada apaan sih?" gumam Sienna pada Yuli.
"Kamu pingsan tadi," Balasnya pelan.
"Kamu cuma kelelahan, lain kali banyak minum air putih dan istirahat yang cukup yah?!" tukas dokter Fadli
"Terima kasih banyak dokter" sahut Sienna lemas
"Kalau begitu mari saya antar ke depan!" Tukas pak Tirta.
Keduanya pun pergi meninggalkan kamar Sienna.
"Non, sebetulnya non tadi habis dari mana?" Tanya bi Imah segera mendekat begitu tuannya pergi.
"Dari perpustakaan kota. Emang kenapa?" Sienna balik bertanya.
"Terus setelah dari perpustakaan, Non Sienna kemana?" selidiknya lagi
"Ya pulang lah. Emang kenapa sih? Ada apa?" Desaknya seakan tak paham.
Sienna Menatap Bi Imah dan Yuli bergantian.
"Kalo kata orang kampung, non itu tadi ketumpangan. Ngerti gak?" Bisik bi Imah berlagak misterius
"Ibu apaan sih, gak lucu" Dengus Yuli yang memang sedikit penakut.
"Numpang apa? Siapa yang numpang?!"
Tanya Sienna semakin bingung.
"Aduh! Gini nih,kalo punya majikan mainnya di luar negeri terus. Gak tahu istilah-istilah orang tua jaman dulu"
Ledek bi Imah.
"Udah! Udah! gak usah di dengerin. Ibu emang hari ini agak aneh, tadi siang kepentok pintu soalnya" Sergah Yuli yang tak ingin Sienna terpengaruh hal-hal mistis.
"Lain kali kalo magrib itu, tutup pintu! terus jangan pulang malem-malem!"
Celoteh bi Imah
"Iya bu,iya. Mending ibu buatin Sienna bubur deh, dia kan harus minum obat"
Pinta Yuli.
"Eh anak muda, kalo di kasih tahu ngejawab terus" Gerutu bi Imah sambil pergi meninggalkan kamar Sienna.
Tak berapa lama Pak Tirta masuk dan melihat khawatir pada putrinya.
"Gimana sayang? Masih pusing?"
Tanya sang papa
"Enggak kok pah. Papa istirahat aja! Biar Yuli yang temenin Nana"
Tukas Sienna tak ingin membuat ayahnya cemas.
"Ya udah, jangan lupa minum obatnya ya sayang" Pamit sang papa.
Sienna menghela nafas lesu.
"Aku tahu apa yang bikin kamu kaya gini, setiap ada tekanan Kamu pasti selalu pingsan. Emangnya kamu udah yakin sama keputusan kamu menerima bu Susan sama anaknya?!" Tanya yuli.
Sienna terpaku cukup lama.
"Aku cuma gak mau jadi anak durhaka. aku juga gak mau bikin mama sedih terus. Eh,tahu gak! Tadi aku denger suara mama loh. Dia bilang aku harus kuat" Tukasnya antusias.
Yuli nampak terharu dan mengusap lembut tangan Sienna.
"Kamu pasti kangen sama mama mu, sampe berhalusinasi berlebihan begitu"
__ADS_1
batin Yuli lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...