The Edelweis

The Edelweis
18 Perjodohan


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain,Rara tengah asyik mengobrol dengan seseorang malam Ini.


"Kamu makin cantik aja sayang"


Puji seorang wanita Bernama Bu Dewi yang tak lain adalah Ibu Sam.


"Terima kasih tante,tante bisa aja. Oh iya, Sam kapan pulang ya tante?"


Rara melirik ke sekeliling tempat itu. Meski tak di kabari langsung oleh Sam tentang kepulangannya dari Barcelona. Tapi beruntung lah Bu Dewi selalu memberi kabar terbaru tentang Sam padanya.


"Tadi siang sih,bilang nya mau pergi sebentar. Mungkin lagi di jalan"


Jelas Bu Dewi nampak tak enak.


Sebenarnya Kedua orang tua Rara dan Sam berniat menjodohkan putra putri mereka. Namun seperti biasa,Sam selalu menolak. Bahkan alasan utamanya berada di Barcelona adalah karna perjodohan ini. Namun Rara adalah gadis yang bersikukuh. Apa yang menjadi keinginannya, semua harus dia dapatkan. Termasuk soal perjodohannya dengan Sam.


Tak berapa lama, terlihat seseorang datang mengantarkan buket bunga mawar putih dan sebuah kado.


"Permisi bu, ada pesanan"


Tukas seorang pelayan.


"Terimakasih" Bu Dewi menatap bunga tersebut heran.


"Dari Sam. Sam nya mana pak?" tanya Bu Dewi kemudian


"Saya kurang tahu Bu. Bunga ini di antar sama kurir bu,"


Bu dewi menatap Rara.


"Aduh maaf ya sayang. Biar tante hubungi dulu Sam nya" Pamit bu dewi menjauh dari ruangan tersebut.


"Halo.. Sam? Kamu dimana sih? Rara udah nungguin kamu dari tadi. jangan bikin mama malu deh!" Dengus sang mama kesal.


"Ma, Sam kan udah bilang jangan jodoh-jodohin Sam sama siapapun! Kenapa sih masih dipaksa!" Sulut Sam.


Bu dewi menarik nafas dalam.


"Mama gak mau tahu! Pokoknya kamu kesini sekarang!" Titahnya tegas.


Bu Dewi segera menutup teleponnya dan menemui Rara. Gadis itu nampak tak nyaman dengan situasi yang sudah bisa di tebaknya. Sejak awal Sam memang selalu menghindar darinya,dan ini sudah yang kesekian kali.


"Gimana tante?" Tanya Rara


"Sam lagi di jalan. Kamu tunggu aja. Atau kamu coba telepon dia aja!"


Saran bu Dewi


Rara tersenyum kecut.


"Sam ganti nomor ponsel tante, Rara gak di kasih tau" Jawabnya dingin.


Bu Dewi nampak terkejut dan kebingungan.


"Dasar anak bandel" gumamnya pelan.


"kamu tenang aja sayang, tante kirim kontaknya ke nomer kamu sekarang yah" Bujuk bu Dewi bergegas mengirim nomor ponsel putranya


"Gak perlu tante. Nanti aku minta sendiri aja sama Sam" tolak Rara.


Sejujurnya Rara tahu jika selama ini Sam memang tak menyukainya. bahkan saat di kampus pun pemuda itu begitu cuek padanya. Namun keluarga mereka bersikeras dan gak itulah yang membuat Rara tak ingin menyerah untuk mendapatkan cinta Sam.


****


"Bos ngapain sih ngajak saya?"


Tanya eno Yang kini sedang menjadi 'tawanan' nya.


"Udah ikut aja! tar gue bayar 2 kali lipat"

__ADS_1


Sahut Sam.


"Aduh kalo sampe nyonya tahu. Saya yang di pecat bos" Rengeknya bingung.


"Sekarang gue tanya, yang bos Lo itu siapa? Gue atau nyokap sama bokap gue?!" Desak Sam.


Eno menyeringai menatapnya


"Ya bos lah. Siapa lagi" Selorohnya kecut


"Ya udah, berarti yang harus Lo turutin siapa?"


"Bos Samuel. Tapi kan, yang bayar saya nyonya bos" Elaknya ragu.


Samuel menatapnya tajam.


"Mau gue lempar ke sungai sekarang?!"


Ancamnya serius.


"Waduh! Jangan dong bos, saya kan belum kawin" Tukasnya. sembari mengatupkan kedua tangan meminta ampun.


"No, Lo harus bantu gue cari seseorang"


Tukas Sam tiba-tiba


Eno menoleh kaget,


"Cari seseorang siapa bos? Dukun? Aduh jangan deh bos, jangan pergi-pergi ke dukun." Larangnya


"Dukun apaan sih! Gue minta lo, cari seorang cewek."Jelasnya.


"Hah! Cewek? Saya Gak salah denger nih bos? Bos Sam nyari cewek? Kan biasanya cewek-cewek yang nyari si bos" celetuk Eno setengah meledek majikannya.


"Gue serius no. Gue pernah ketemu dia beberapa waktu yang lalu. Tapi sekarang gue gak tau dia ada dimana" wajah Sam nampak putus asa


"Jaman sekarang kan gampang bos,kalo mau Nyari orang. Cari namanya di media sosial, atau bos telepon aja sih, pasti punya nomer ponselnya dong?"


"Kan ponsel gue ilang. Baboon!"


Dengusnya kesal.


"Ya elah, gak usah di perjelas juga kali kalo saya turunan Baboon"


Gerutu eno kesal.


"Gue serius! Lo bisa gak Bantuin gue!"


Desak Sam


"Oke deh. Tapi ciri-cirinya gimana?"


Eno mulai serius,sembari mengotak-atik ponselnya.


"Ciri-Cirinya,- Cantik sih," Tukasnya yakin.


Eno memicingkan matanya menatap sang bos.


"Cewek ganteng gak ada deh bos"


Sulut Eno, mulai kesal dengan sang bos.


"Dia Selalu pake Sweater Rajut dan di jari manisnya ada cincin berlian Blue flames" Terangnya sedikit ragu sembari mengemudi menatap hampa ke arah jalanan.


"Nih bos, ini juga cewek cantik,dia juga artis" Eno menunjukan foto artis dari sosial medianya.


"Lo jangan bercanda deh!" Dengus Sam kesal


"Eh,tapi bos. Kenapa sih tiba-tiba si Bos nyariin dia? Kan si bos udah di jodohkan sama Non Rara. Emang Non Rara kurang cantik ya?!" Sela Eno,yang sepertinya tak paham akan kemauan sang bos.

__ADS_1


"Gue gak ada Rasa sama cewek lain. Cuma sama dia,- Gue punya perasaan lembut yang sulit di jelaskan" Sam tersenyum manis kala mengingat masa-masa indahnya di Barcelona bersama Sienna.


"Ekhem! Jadi si bos jatuh cinta pada Pandangan pertama ceritanya? Emang susah sih kalo udah begitu. Saya aja dulu, susah Move on dari Selena Gomez" Eno nampak serius.


Sam menginjak pedal rem nya seketika.


BRUK!


Eno hampir saja terpentok Dashboard mobilnya.


"Si bos kalo ngerem kenapa mendadak sih!" Protesnya kaget.


"Gue sengaja,biar lo bangun. Jangan Mimpi terus! Buruan turun!" perintahnya.


"Ya elah,Gak bisa liat orang seneng dikit aja" gerutunya kesal.


Sam dan Eno tiba di depan sebuah Toko Cake and pastry milik sang mama.


Nampak Rara dan ibunya tengah ngobrol di sudut ruangan.


Eno menoleh pelan pada Sam. Di tahu jika tuannya itu terpaksa datang kemari.


"Eh Anak mama udah datang,sini sayang" Panggil sang mama dari kejauhan.


Namun sang mama agak sedikit kecewa dengan penampilannya. kaos putih dan jeans, serta sepatu sneakers membalut tubuh jangkungnya. Terlihat tidak sesuai untuk pertemuan mereka.


"Hai Sam,apa kabar?" Sapa Rara.


Sam hanya menyunggingkan senyuman tipis.


"Baik" tukasnya Kemudian duduk. Di temani Eno yang berdiri di sampingnya.


"Loh, kok kamu pake baju begini sih? Gak sopan banget, mama kan udah siapin baju buat kamu di kamar!"


Tanya sang mama


"Bajunya kekecilan ma,gak muat. Jadi Sam kasih ke Eno" Sahutnya beralasan.


Eno menatapnya kaget, sejak kapan Sam memberikan baju itu padanya.


Tentu saja itu adalah alasan bohong yang sudah bisa di baca oleh sang mama. Sam nyatanya tak pernah serius dengan pertemuannya.


"Kamu ini gimana sih! mama pesan baju itu mahal loh. Sembarangan aja di kasih ke orang" Desis sang mama melirik pada Eno yang tak tahu apa-apa.


"Sam gak minta mama buat beliin baju! lagian baju di rumah juga banyak kok"


Sergahnya.


"Gak apa-apa kok tante. Pake baju apapun dia tetep ganteng" Rara tersenyum menatapnya


"Maaf ya sayang, Sam emang gitu. Ya udah kalian ngobrol dulu, mama ambil kan makanan buat kalian" Bu Dewi beranjak sembari menarik tangan Eno, agar dia meninggalkan tempat itu. Namun, Sam dengan gesit menahan tangan kiri Eno.


Jadilah adegan tarik menarik tangan, membuat Eno kebingungan. Yang satu adalah Bos muda nya,tapi yang satu lagi adalah Ibu dari Bos nya.


"Eno tetap disini ma!" perintah Sam


"Kamu jangan keterlaluan Sam! ayo Eno!" Bu Dewi menariknya kuat-kuat.


Sementara Eno hanya meringis kesakitan.


"Aduh! Ini kalo tangan saya putus siapa yan tanggung jawab!" Rengek Eno.


"Lo duduk!!!" Perintah Sam.


"Maaf nyonya! kata tuan besar saya harus jagain tuan Sam biar gak kabur. Tenang aja nyonya,Saya gak akan ganggu kok" tukas Eno beralasan.


Karna merasa tak enak dengan Rara, Bu Dewi akhirnya mengalah dan memilih meninggalkan Sam bersama Eno Dan Rara bertiga.


"Kamu jangan coba-coba Mengganggu mereka!" desis Bu Dewi seraya berlalu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2