The Edelweis

The Edelweis
09 Papa!


__ADS_3

Semenjak sang ibu meninggal,Sienna tak lagi seceria dulu. Dia lebih memilih menyendiri. Dan terkadang pergi ke tempat ramai yang asing baginya. Dia hampir sering bepergian sendiri.


Sienna ingat betul saat dia dan sang ayah Terlibat percekcokan Karna Sienna tak terima sang ayah menikah lagi.


Dia juga ingat betul jika calon ibu tirinya itu memiliki seorang Anak gadis yang setahun lebih muda darinya.


"Ah! Bakalan jadi Upik abu deh kalo papa nikah sama Tante Susan" Dengusnya lesu.


Sienna memejamkan matanya lelah. Entah apalagi yang akan dia hadapi nanti setelah bertemu sang ayah.


****


Siang ini Sam bersama Rombongannya akan berkunjung Ke wilayah timur.


Wilayah perbatasan antara Barcelona dan Prancis yang dipenuhi perkebunan anggur.


Sepanjang perjalanan Sam hanya menatap dingin keluar jendela mobil.


Bayangan bersama Sienna satu persatu muncul di benaknya.


Memetik anggur, menikmati bubur buatannya yang sangat asin,bercerita tentang kehidupannya. Serta,-


Memberinya pelukan hangat yang membuat pemuda itu sulit untuk melupakan Sienna.


Di kampus Samuel terkenal sebagai pemuda yang tak pernah serius terhadap suatu hubungan. Dia bisa bergonta ganti teman wanita,Dan tak ada satupun yang diingatnya,wanginya, namanya, bahkan rupanya,-


Tapi Lain dengan Sienna, hanya dua kali bertemu,sudah memberinya kesan mendalam terhadap gadis itu.


Apakah ini hanya rasa penasaran seorang laki-laki?


Atau mungkin karna baru mengenalnya, makanya dia sangat tertarik?


Pertanyaan-pertanyaan aneh itu terus saja mengganggu pikirannya.


"Hi! Men. Come on?!' Ajak seorang teman pada Sam.


Sam turun dan ikut berkeliling,namun meskipun begitu,tetap saja Sam merasa jika jiwanya seperti tengah pergi jauh dan entah dimana.


Sam menilik jam tangannya, mungkin Saat ini Sienna baru saja melakukan penerbangan ke indonesia.


Tenang saja,dia pasti akan memberi tahu dirinya jika telah tiba disana. Bukankah mereka sudah sepakat?


Sam menggenggam ponselnya erat. Meyakinkan hatinya,bahwa kegelisahan yang dia khawatirkan tak akan terjadi


****


Perjalanan menggunakan pesawat terbang dari Barcelona menuju Jakarta cukup lama. Yaitu sekitar 16 jam 50 menit dengan 1 kali transit.


Pada pukul 12 Malam Sienna baru tiba di bandara Internasional Soekarno-Hatta.Tampak sang supir dan sang Ayah telah menunggu dirinya.


"Sayang" Seru Pak Tirta melambaikan tangannya sembari memegang buket bunga Lily yang besar.


Seberapa Kesal pun Pak Tirta pada putrinya,dia akan tetap kalah dan luluh. Apalagi setelah beberapa hari tidak bertemu.


"Papa?" Pekiknya kaget.


Bagaimana sang ayah bisa tahu jika dirinya pulang hari ini? Sienna baru menyadari sesuatu. pastilah kak Sarah yang memberi tahukan kepulangannya.

__ADS_1


"Kenapa papa bisa disini?" Tanya Sienna sinis


"Udah dong sayang,Gak usah marah lagi! Papa minta maaf,soal sikap papa sama kamu" Jelas Pak Tirta penuh sesal.


Sienna merengut kelu. tak tega juga rasanya melihat sang ayah bersedih. Sienna menarik buket bunga itu secara paksa dari tangan sang ayah.


"Oke! Nana terima bunganya,Lain kali papa jangan macem-macem sama Nana! kalo gak,- Nana bakalan kabur ke Rusia" Dengusnya sembari berjalan mendahului sang ayah.


"Papa tahu kamu anak yang baik hati, ayo kita pulang!" Ajak sang papa nampak bahagia.


"Tapi Nana mau liat yuli pah!" Pintanya


"Ini udah malem,besok papa antar


Kamu ke rumah sakit. Oke?!" tukas sang Papa khawatir.


Karna Sienna juga begitu lelah,akhirnya dia menurut saja untuk pulang ke rumah.


20 menit kemudian mereka tiba di Rumah. Sienna menatap seisi rumah agak lama. Sebetulnya dia sangat rindu pada rumah masa kecilnya ini.


"Bi...Bibi!" panggil Sienna dengan suaranya yang menggelegar.


"Eh, Sstt! Sayang ini udah malem,Lagian Bi imah kan di rumah sakit nungguin Yuli


Jelas sang papa coba mengingatkan.


"Oh iya juga yah. Ya udah deh pah, Sienna ngantuk,capek juga. Sienna mau tidur aja" Pamitnya segera berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.


Sienna segera melompat ke atas tempat tidur kesayangannya. Tempat tidur yang di dominasi warna putih dan pink itu Penuh dengan boneka kesayangan.


"Aah.. Apa kabar emon? Apa kabar kitty? Kalian pasti kangen ya sama aku? Tenang aja,malam ini aku peluk kalian semua!" Sienna memeluk semua boneka kesayangannya itu. Selama ini hanya boneka-boneka itulah yang menjadi temannya.


"Apa aku kabari dia sekarang ya? Tapi, kira-kira ganggu ga'? Atau aku biarin aja dulu? Aaah! Nyebelin!" dengusnya bingung.


Baru kali ini Sienna mau berteman dengan seorang pemuda. bahkan hingga bertukar nomor ponsel. Namun sepertinya Sienna tak menyadari perubahan sikapnya itu.


****


Pukul 8 pagi Sienna sudah terlihat Rapi, dia membawa beberapa bingkisan untuk Yuli dan Bi Imah


"Pagi..." Sienna berjalan menuju meja makan.


"Wah! Anak papa udah Cantik aja. sini sarapan dulu, kamu pasti laper banget kan? Papa buatin nasi goreng spesial'


Jelas pak Tirta


"Kok papa masak? Emang gak ke kantor? Ini kan udah siang pah?"


Tanya Sienna heran.


"Ah,urusan kantor gampang. Yang penting papa Harus menyambut putri kesayangan papa dulu. Ayo sini!"


Ajak sang papa


Sienna menatap sang papa heran, sungguh sikap yang berbeda dari biasanya. Apa mungkin papanya sedang merencanakan sesuatu? Pikirnya.


Namun Sienna mencoba mengabaikan pikiran buruknya. Dan memilih untuk Menikmati sarapan paginya dengan lahap.

__ADS_1


Namun sepertinya tebakan Sienna Benar. Tak berapa lama,-


"Nanti malam kita makan malam,di Luar ya?" Ajak sang papa nampak ragu.


Sienna mendelik tajam,tanpa menyahut.


Namun Dia tahu arah pembicaraan sang papa.


"Ayolah sayang,sekali aja! Kamu jangan bikin papa kecewa. Papa mohon!"


Pinta sang papa tulus.


"Oke," Jawab Sienna cuek. Lalu kemudian menyudahi sarapannya.


"Sayang,kamu mau kemana? Papa belum selesai bicara? Nana?!"


Panggilnya


"Nana mau ke rumah sakit sendiri,"


Sahut gadis itu seraya berjalan menuju garasi.


Kenapa sang papa masih saja memaksanya untuk bertemu calon 'Ibu Tiri'nya itu. Sudah jelas Sienna malas untuk menemuinya.


Sienna tahu,Mereka menikah hanya untuk bisnis,bukan untuk kebahagiaan keluarganya. Kalau saja sang mama masih hidup, Tentu semuanya tak akan seperti ini.


Sienna menyeka air matanya saat tiba di depan gerbang rumah sakit.


Dia tak boleh terlihat sedih,saat menemui yuli sahabatnya.


TOKK!


TOKK!


Sienna mengetuk pintu pelan.


Tak berapa lama seseorang membuka pintunya.


"Bi imaaahh.. Nana kangen!" Sienna memeluk sang pengasuh dengan sangat erat. Sementara terlihat jelas Bi imah cukup kaget dengan kedatangan nona mudanya yang sangat tiba-tiba itu.


Bi Imah adalah ibu dari Yuli juga sekaligus pengasuh keluarga Ibrahim, saat Ibu Hesty dan pak Tirta menikah dia sudah bekerja dengan keluarga ini.


Sehingga Sienna selalu menganggap bahwa Bi Imah adalah bagian dari keluarganya.


"Ya allah,gusti. Non,kapan pulang? Kok gak ngasih kabar?" Tanya Bi Imah


"Kan ceritanya kejutan Bi,. Bibi sehat kan?" Sienna memeluknya erat


"Sehat kok Non. Non,kenapa sih pergi gak bilang-bilang? Bibi sampe gak bisa tidur mikirin si Non.' Tukasnya lirih.


"Maafin Nana bi, waktu itu Nana lagi kesel aja sama papa. Dan gak tahu harus pergi kemana" Elaknya meminta maaf


"Yuli sampe sakit gara-gara mikirin Non. dia takut Non gak betah disana dan gak ada temen." Jelasnya.


Sienna melepas pelukannya dan menatap Yuli yang masih terbaring di tempat tidur.


"Gimana keadaan yuli? Apa kata dokter?" Sienna mendekati ranjangnya dan duduk disamping Yuli yang tampak terlelap.

__ADS_1


Gadis itu tak bisa jika melihat salah satu anggota keluarganya terkena sakit. Apalagi hingga terbaring di rumah sakit seperti sekarang ini. Hal itu jelas membuat Sienna kembali mengingat masa lalunya. Masa lalu yang membuatnya mengalami Trauma mendalam tentang sebuah kehilangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2