The Edelweis

The Edelweis
12 Kejahilan Sienna


__ADS_3

Pelayan!" panggil Sienna seketika,


"Iya nona,ada yang bisa saya bantu?"


Tanya Seorang pelayan


"Aku pesan,1 Lasagna jumbo size, 2 porsi Ravioli,2 porsi pasta carbonara, 4 porsi Fetucini. Dessert nya gelato,dan Panna cotta masing-Masing 4 porsi. terimakasih" Cerocosnya tanpa jeda.


"Baik, mohon menunggu sebentar!"


"Eh,tunggu sebentar-" Sienna berbisik sesuatu ada sang pelayan.


"Oke?! saya pesan setengah porsi untuk saya saja" Sienna tersenyum simpul.


Pelayan itu menatap ragu,namun kemudian mengangguk dan segera pergi.


Rara dan ibunya heran melihat tingkah Sienna.


"Wah... Kamu memesan makanan yang pas banget sayang" Sanjung Susan.


Rara mendengus kesal.


"Kamu pesan banyak banget,sayang"


Tanya pak Tirta


"Kita,kan berempat pah. Udah tenang aja! Biar Nanti Sienna yang bayar"


Tukasnya enteng


"Loh,makan malam ini kan undangan tante. Ya tante yang bayar dong sayang" Susan tersenyum tipis. Dalam hatinya keluar sedikit uang tak masalah demi mendapatkan restu dari Sienna.


"Gak apa-apa kok Tante. Sienna masih sanggup bayar" sanggahnya santai.


Mendengar jawaban Sienna secara terang-terangan, sedikit membuat Rara minder. Memang tak diragukan lagi Sienna adalah putri konglomerat kaya raya, Uang bukan perkara besar baginya.


"Gak usah. Biar tante aja yang bayar,Oke!" Susan sedikit memaksa


"Oh ya udah. kalo tante memaksa"


Sienna tersenyum penuh kelicikan.


Setengah jam menunggu dan cukup membosankan, akhirnya meja mereka dipenuhi dengan hidangan lezat dan tentunya juga mahal.


"Selamat makan semuanya" Sikap manis Sienna jelas palsu dan sepertinya pak Tirta sudah mulai menyadari hal itu.


Sienna Menjejalkan semua jenis pasta di atas piring ke dalam mulutnya.


Bahkan gadis itu terkesan 'urakan' saat menyantap hidangannya.


"Sayang, Pelan-pelan" Pak Tirta tampak khawatir.


"Maaf-Maaf! Dari tadi siang Sienna belum makan pah. jadi lapar banget, maaf ya tante" Tukasnya cuek.


Susan dan Rara menatapnya aneh.


Bagaimana bisa seorang Anak dari Tirta ibrahim begitu ceroboh dan tidak sopan saat makan malam.


Pak Tirta tersenyum tipis menahan malu atas kelakuan putrinya itu.


Sienna menarik nafas panjang. Gadis itu meringis kecil karena kenyang,Bahkan dia bersendawa kecil saat berusaha membersihkan mulutnya.


"Oops! Maaf" Desis Sienna

__ADS_1


Rara melotot tajam dan meletakan sendoknya di atas piring. selera makannya seakan-akan hilang karena tingkah jorok Sienna.


"Rara kenyang!" Dengusnya nampak sudah tak berselera.


"Kenapa? Takut gendut ya?!" Goda Sienna.


"Nona,ini pesanan spesialnya"


Tak berapa lama seorang pelayan datang. membawa hidangan istimewa.


"Ah! Terimakasih. Oh iya,maaf. Aku pesannya cuma satu,gak apa-apa kan tante?!" Sienna menatap Susan seolah penuh sesal.


"Oh gak apa-apa kok sayang, tante udah kenyang kok. memangnya kamu pesan apa? " Tanya Susan penasaran.


"Ini cuma jamur,kok tante. Soalnya Sienna udah lama gak makan jamur"


Jelasnya.


Namun pak Tirta menangkap gelagat aneh dari sang putri dan memperhatikan apa yang sedang di makan olehnya. Kedua alisnya berkerut. Sejak kapan putrinya suka dengan jamur?


Tanpa memperdulikan sekitarnya Sienna kembali melahap jamur itu hingga tak bersisa.


"Resto ini benar-benar menyajikan makanan yang enak!" Puji Sienna


"Mas kamu inget gak,ini kan restoran tempat kita pertama kali Kencan dulu "


Susan mencoba mengingatkan.


Sienna melirik dengan sudut matanya, namun dia masih berpura-pura menikmati hidangan penutupnya. Jelas hati Sienna sakit jika sudah mendengar mereka membahas kisah cinta masa lalu ayahnya dengan Susan.


"Benarkah? Artinya tempat ini mengalami perubahan besar ya?"


Tirta nampak kagum melihat tempatnya.


"Akhirnya! Nana udah kenyang. Pah, Sienna pulang duluan yah. soalnya Nana masih ada janji sama Yuli. Oh iya, tante terimakasih untuk makan malam. lain kali kita makan sama-sama lagi ya"


Rara hanya menatap ketus kepergian calon kakak Tirinya itu.


"Mas, semoga saja Sienna bisa menerima hubungan kita yah. Aku lihat dia semakin baik." Susan tersenyum penuh harap.


Tirta menatap kepergian putrinya tak yakin. Padahal Sienna tak suka dengan acara makan malam ini. Bahkan dia menolaknya berkali-kali. Tapi barusan,dia bersikap manis meski hanya sebentar.


"Pelayan,mana Bill-nya!"


Panggil Susan saat seorang pelayan kebetulan lewat.


Tak berapa lama pelayan itu datang dengan membawa selembar kertas.


"Totalnya 35 juta" pekik Susan


Rara dan pak Tirta menoleh kaget.


"25 juta? Kita makan pasta aja. Masa 25 juta? kamu mau menipu kami ya?!"


Susan menatap si pelayan tajam.


"Benar kok bu, totalnya 25 juta"


pelayan menjawab tegas.


Rara yang nampak tak percaya menarik kertasnya dan membacanya perlahan.


"Mas-nya salah deh, kita gak pesan makanan dengan harga 25 juta. Yang lainnya cuma 5 jutaan kok. itupun masih kurang" Protes Rara

__ADS_1


"Benar kok bu, yang 20 juta itu, makanan yang di pesan Nona cantik tadi, itu jamur truffles langka,dan di datangkan langsung dari itali, Satu porsinya sekitar 50 juta bu." Jelas sang pelayan.


Tirta melirik pada Susan yang nampak masih syok.


"Sayang,Biar aku yang bayar oke"


Tukas Tirta


"Gak apa-apa kok sayang."


Gumamnya seraya mengeluarkan Credit card dari dalam dompetnya.


"Maafkan Sienna. Anak itu benar-benar nakal" Desis Tirta kesal.


"20 juta? Masa iya sih?!" Gumam Rara masih tak percaya sembari menatap pirang yang sudah tak bersisa itu.


Makan malam pertama keluarga Susan dan Tirta berakhir dengan berantakan.


Tirta terus-terusan meminta maaf pada Sienna atas kelakuan putrinya.


Walaupun Susan sudah memaafkannya, Namun jauh di dalam Lubuk hatinya dia begitu kesal dengan sikap Sienna yang seolah-olah sedang menabuh genderang perang padanya.


****


Jam waker berdering untuk yang kesekian kalinya, Sienna berusaha menggapai benda bising itu. sedetik kemudian dia bangkit dari tidurnya.


Gadis itu mengelus malas perutnya. Rasanya seperti Orang mati, jika tidur dengan keadaan perut kenyang.


"Aaah. Aduh!" Sienna tiba-tiba meringis memegang perutnya.


"Aduduhh! Kok mules sih," Ringisnya sembari berlari ke kamar mandi.


Butuh waktu satu jam,hingga akhirnya Sienna selesai dengan urusan kamar mandinya. Dengan malas Sienna turun menuju dapur. keadaan rumah sedang sepi. Karena Bi Imah dan Yuli belum kembali. Sienna berjalan pelan menuju meja makan. matanya menatap waspada. Namun Tak terlihat sang papa di sana.


"Papa kemana ya? Kok tumben belum ada di meja makan jam segini"


Sienna menarik kursi lalu duduk dan menyabet selembar roti yang langsung di olesi selai kacang favoritnya.


"Masih bisa makan enak ya?"


Suara sang ayah menggema di belakang nya.


Sienna menoleh pelan.


"pagi pah,-" Sienna menyeringai ragu. kemudian kembali fokus pada makanan nya.


Pak Tirta duduk di hadapannya,


"kamu sengaja ya,semalam ngerjain Tante Susan? Bikin malu!" dengus pak Tirta kesal.


"Kok bikin malu sih pah? Aneh banget deh" Jawabnya santai.


"Papa mohon jangan bersikap ke kanak-kanakkan Sienna. kamu sudah berusia 23 tahun. Kamu sudah dewasa, cobalah jaga sikap kamu sedikit"


Pinta sang papa.


"Nana emang gini kok! mama juga dulu gak pernah protes sama sikap Nana. kenapa sekarang papa banyak ngelarang Nana sih? Papa Malu kalo punya anak gadis kaya aku? Papa malu kalo harus ngenalin Nana ke Tante Susan? Gak apa-apa kok pah, Nana gak minta di hargai sama siapapun. Dari dulu juga yang ngerti keadaan Nana cuma mama" Amuknya seraya meninggalkan sang papa.


"Nana! Mau kemana kamu? Sienna!!!"


Panggil pak Tirta. Namun Sienna sama sekali tak menggubrisnya.


Lagi dan lagi,perdebatan seperti ini yang selalu Terjadi. Berkali-kali Tirta mencoba membujuk Sienna agar bersikap lebih dewasa, berkali-kali pula Sienna Berontak dan marah.

__ADS_1


Pak Tirta terduduk lemas. Dia tak tahu lagi harus bersikap bagaimana pada putrinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2