The Edelweis

The Edelweis
24 Menginap!


__ADS_3

"Kalian berjalan sejauh ini,setiap hari? Dimana orang tua kalian?" Sienna menatap kedua anak itu sendu


"Bapak kerja mulung,kalo ibu baru meninggal 3 bulan yang lalu." Jelas si anak yang terlihat lebih tua


Sienna tertegun.


Lagi-lagi sesuatu yang menyesakan dadanya terasa begitu kuat menghimpit. Seakan ikut merasakan penderitaan mereka,dan dua anak kecil ini adalah gambaran dirinya ketika masih kecil.


Namun sepertinya Sienna lebih beruntung dari mereka. Karna dirinya tak harus mencari makan dengan cara mengemis atau menjadi pengamen.


Tiba-tiba saja,tangan hangat Samuel mengelus lembut lengannya,membuat Sienna terkesiap.


"Bukankah,kamu jauh lebih beruntung"gumam Sam.


Sienna menatap Sam dalam. Apa yang di katakan Sam benar. Dia seharusnya bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini. Tapi kenapa, Sienna masih saja selalu merasa Tuhan tak adil padanya.


"Sam,Bisa berhenti sebentar?" Pinta Sienna saat mobil mereka melintasi sebuah toko makanan di pinggir jalan.


"Kalian semua, tunggu disini ya!"


Sienna keluar dari mobil dengan segera Sam pun keluar mengikutinya.


"kamu mau ngapain?" tanya Sam.


"Aku mau beli beberapa makanan untuk mereka, pasti mereka kelaparan"


Suaranya sedikit parau menahan tangis.


Sienna berdiri didepan toko. Ada banyak bahan makanan yang sejujurnya dia tak paham harus memesan apa terlebih dahulu.


"Permisi Bu,tolong pesan beras dan telor 1 kas yah" Pinta Sam pada sang pemilik toko.


Sienna menoleh padanya haru.


"Kamu yakin? Mau pesan sebanyak itu?"


Tanya Sienna.


"Aku cuma gak mau liat kamu nangis, Soalnya jelek banget" seloroh Sam mencoba menggodanya.


Dan Sienna hanya mampu berdecak kesal,walaupun dia tahu jika Sam hanya bercanda saja padanya.


Hampir 20 menit, Sam dan Sienna berbelanja. Mereka membawa begitu banyak makanan dan memasukannya ke dalam Mobil. Kedua anak itu hanya menatap Kaget pada dua orang kakak yang baru saja di kenalnya itu.


"Ini minum! kalian pasti haus," Sienna memberi dua kotak susu pada mereka.


Mungkin karena lapar,Kedua anak itu dengan sigap mengambilnya.


"Terima kasih kak" Tukas keduanya malu-malu.


"Kakak,-" Goda Sam pelan.


"Kamu mau juga?!" Tanya Sienna memberinya sebotol air.


"Aku minta hatimu saja?!" Bisik Sam.


"Sam," desis Sienna.


Sam terkekeh geli kala melihat gadis itu tersipu-sipu karena ulahnya.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, mobil mereka berjalan menyusuri jalanan sempit. Setelah 15 menit akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan kumuh.


Ada beberapa rumah kecil yang terletak agak berjauhan. Sisanya adalah kebun-kebun milik warga sekitar.


"Jadi yang mana rumah kalian?"Tanya Sienna sembari membuka pintu mobilnya.


"Sini kak ikut?"Kedua anak kecil itu menarik tangan Sienna.


Sam tersenyum dan mengikuti ketiganya dari belakang.


Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah yang terbuat dari papan dengan ukuran yang mungkin hanya muat untuk beberapa orang saja.


"Ayo masuk kak?!"Ajaknya.


Meski ragu, Sienna tak bisa menolak dan masuk ke dalam rumah. Namun yang membuat mereka kaget adalah seorang bapak-bapak yang nampak kurus tengah duduk beristirahat di dalam rumah itu.


"Bapak.. Kita pulang"Seru kedua anak itu.


"Dian, Rani kalian dari mana saja?"


Sang bapak nampak sangat cemas. Dengan suara yang terdengar lemah.


"Saya menemukan mereka di pinggir jalan di pusat kota pak, saya khawatir dan membawa mereka pulang. Mohon maaf"Jelas Sienna ragu. Takut jika pria paruh baya itu marah atas tindakannya.


"Gak apa-apa nak,justru bapak berterima kasih sama kalian berdua sudah mau mengantar mereka bapak pulang. Mereka ini selalu saja pergi ke kota buat ngamen, padahal bapak sudah melarang,"Jelasnya dengan wajah pucat dan kelelahan. Sepertinya pria itu tengah sakit.


"Saya Sienna, dan ini Sam. kami dari jakarta" Sienna memperkenalkan diri.


"Saya Usman. Silahkan duduk!"


Sambutnya dengan tubuh ringkih.


"Oh iya pak, kami membawa beberapa makanan untuk kalian" Tukas Samuel seraya meletakkan satu dus penuh berisi makanan.


Kalian berdua benar-benar suami istri yang baik, bapak doakan biar kalian cepet dapet momongan" Tukasnya.


Sienna dan Sam saling lirik bingung.


"Bapak salah pak. dia cuma,--"


"Kami pacaran pak, belum jadi suami-istri," Celetuk Sam dengan percaya dirinya


"Ish....!" Sienna berdesis kecil menandakan tak suka dengan jawaban Sam.


"Oh begitu. Sekali lagi bapak berterima kasih atas bantuannya. bapak memang sering sakit-sakitan,apalagi sekarang pendapatan bapak pun tak seberapa."


Jelasnya sembari menatap Dian dan Rani putrinya.


Sienna duduk dan mendekati Pak Usman.


"Kalau boleh tahu, istri bapak meninggal karna apa ya pak?" Tanya Sienna penasaran.


"Istri saya meninggal karna sakit neng, Dan terlalu kecapean juga." Tukasnya menahan tangis.


"Kalian pasti rindu sama ibu kalian? Kita senasib. kakak juga rindu sama mama kakak" Sienna memeluk kedua anak itu.


Tak ada gunanya menahan tangis, Sienna tak peduli seperti apa orang lain melihatnya. Kehilangan sosok pelindung yang sangat di cintai. Adalah kepedihan terdalam yang dirasakannya.


Sam menatap lekat ada Sienna,jelas gadis itu sangat terluka. Bahkan mereka bertiga menangis sendu cukup lama.

__ADS_1


Waktu tak terasa menunjukan pukul 5 sore. Awan mendung bergelayutan di langit. Tiupan angin begitu kencang, menandakan sebentar lagi akan turun hujan.


"Pak, kami harus pulang dulu. Sebentar lagi pasti turun hujan" Sam menoleh ke arah luar pintu.


"Kenapa kalian tidak menginap saja? kalian pasti capek"Pinta pak Usman.


"Gak usah pah,kami pulang saja."


Timpal Sienna.


Mereka berdua berdiri dan hendak keluar dari dalam rumah,


Tapi tiba-tiba saja,sebuah kilat terlihat menyambar pepohonan di dekat rumah itu. dan seketika Menciptakan suara dentuman yang cukup keras.


"Aahhh" Sienna menjerit kaget dan bersembunyi dalam pelukan Sam yang berdiri di belakangnya.


Sam yang sedikit terkejut,langsung mendekapnya erat. Dia menatap langit yang begitu gelap. Pasti akan ada hujan besar jika mereka melanjutkan perjalanan.


"Lihatlah,Hujan sudah mulai turun. Kalian menginap saja,sangat berbahaya jika berkendara di tengah hujan"


Jelas pak usman cemas.


Sienna masih sangat ketakutan dan membenamkan wajahnya dalam pelukan Sam.


Hujan adalah satu keindahan,


Banyak orang yang memiliki kenangan Manis tentang adanya hujan.


Gemericik air yg jatuh ke tanah,


bahkan mampu Menciptakan Ritme yg sangat rumit.


Namun juga Terdengar indah.


Tapi kadang Hujan adalah misteri,


Banyak kisah kelam yang tercipta, Karenanya.


Namun bagiku,Hujan adalah Anugerah.


Karna berkat hujan, kisah Manis kita ada dan tercipta.


Sienna menengadah menatap Sam,gamang. Secara tak sadar dia sudah cukup lama memeluknya.


"Maaf," Tukasnya gugup.


"Kayanya,pak Usman bener juga. Kita gak bisa pulang dengan cuaca begini. Hujannya pasti akan lebat banget."


Saran Sam.


Sienna menatap jauh ke arah awan yang bergumpal itu, terlihat begitu gelap dan mengerikan.


"Sudah,sudah. Lebih baik kalian masuk! Anginnya makin kencang"Ajak pak Usman.


Dengan berat hati Sienna pun akhirnya menerima tawarannya untuk menginap di rumah pak Usman. Sejujurnya Sienna tidak terbiasa tinggal di tempat yang baru. Tapi kali ini,apa boleh buat. Lagi pula ada Sam bersamanya.


Tiba-tiba saja,hati Sienna terasa hangat berkat kehadiran Sam.


Entah kenapa,dia merasa aman jika berada didekat Sam. Hal yang sama sekali tak pernah dia rasakan sejak kepergian sang mama.

__ADS_1


Tapi, Sienna juga takut. Rasa nyamannya akan berubah menjadi sebuah malapetaka suatu saat nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2