The Edelweis

The Edelweis
21 pertemuan dan Rahasia


__ADS_3

Wajah pemuda itu hampir saja menyentuh paras cantik Sienna.


Sienna terhenyak,Desiran panas tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya. Dan tentu saja, membuat Sienna seakan tersihir. Bahkan wangi dari Jas merah muda yang membalut tubuhnya terasa begitu akrab di hidungnya.


Pemuda yang kini hanya mampu menyunggingkan senyum bahagia dan tak mampu berkata-kata itu terlihat memegang tangan Sienna erat.


"Ka... Kamu?!" Pekiknya tak percaya.


"Iya ini Aku. Akhirnya kita bertemu lagi"


Tukas Sam lega.


Karena Sienna bergerak tak nyaman, seketika Sam melepaskan cengkraman tangannya.


"Maaf,aku gak sengaja. Aku takut kamu kabur lagi" Desis Sam setengah menggodanya


Sienna menengadah tajam,matanya menyimpan tanya.


"Kabur..?" Sienna mempertanyakan kata-kata yang tak di pahami nya.


"Soal itu Nanti aku ceritakan. Jadi, kamu ini anak pak Tirta atau Anak Bu Susan?!"


Lanjut Sam penasaran


"Kamu kenal Mereka?" Sienna balik bertanya.


"Siapa sih yang gak kenal mereka?


Udah jawab aja? Jadi, kamu siapanya mereka?!" Sam nampak tak sabar.


"Aku,- Hanya... Saudara sepupu. Iya sepupu" sahut Sienna berbohong.


"Sepupu???" Sam memicingkan matanya seolah tak percaya.


"Aku boleh tanya sesuatu?"


Sienna menatapnya tajam


Sam mengernyitkan dahinya,saat melihat ekspresi Sienna yang seketika berubah ketus.


"Kenapa kamu susah di hubungi?"


"jadi kamu beneran hubungin aku? "


Sam nampak antusias


Sienna membuang muka


Pemuda menyebalkan ini, tak akan pernah tahu jika setiap tengah malam Sienna terus mencoba menghubungi nomor ponselnya.


"Enggak. cuma sekali doang sih. Lagian nomor kamu gak aktif"Elaknya malas.


"Maaf. waktu itu terjadi,-"


Belum juga Sam menyelesaikan kalimatnya, seseorang terdengar mengetuk pintu dan memanggil Sienna


"Non Sienna? Non di dalem ya? Di panggil tuan non?" Suara bi imah terdengar cukup keras.


Sam membentangkan jari telunjuknya di atas bibir mungil Sienna


"Sssstttt!" Desisnya, membiarkan suara bi imah menghilang.


Sienna lagi-lagi menatapnya tajam,dada nya kini malah terasa panas. Dan Sialnya Sienna tak bisa berpaling dari ketampanan pemuda yang ada di depan nya itu.


Suara bi Imah terdengar menggerutu, karna tak ada yang menyahutinya dan kemudian pergi begitu saja.


"Oke,Sudah aman. Sampai mana tadi?!"


Kali ini Sam mencondongkan wajahnya lebih dekat. Tatapan matanya liar menggoda.


Dan tiba-tiba Sienna menginjak kakinya.


"Awhhhh!" Teriaknya kaget.


"Jangan mesum ya! Awas minggir!"

__ADS_1


Sienna mencoba melarikan diri dari 'kurungan' Sam.


"Mesum? Siapa yang mesum sih?!"


protes Sam heran. Dan buru-buru keluar mengikuti jejak Sienna


Sienna keluar setengah berlari,di tak ingin Sam bertanya banyak hal padanya. Gadis itu segera menuju salah satu ruangan untuk menemui sang ayah. Sienna tak ingin ada orang yang berpikir macam-macam padanya juga pada Sam.


"Kamu dari mana sayang? Kok kayanya panik gitu?" Tanya sang papa


"Abis dari toilet pah," Tukasnya mencoba mengatur nafas.


''Ya udah, kita ambil foto keluarga ya! Ayo Rara" Ajak pak Tirta pada Rara yang tengah asik dengan ponselnya. Rara melirik sinis pada Sienna lalu bangkit dengan malas.


Sam berhasil menemukan Sienna,dia bersembunyi dan memperhatikan dari kejauhan.


"Gak mungkin kalo sepupu. Masa iya, mereka sedekat itu?" Gumamnya tak yakin.


"Mas, boleh tanya gak? Perempuan yang bergaun biru muda itu,siapa ya?"


Tanya Sam pada seorang pelayan.


"Oh itu non Sienna. Dia putri bungsu tuan Tirta" Jelasnya kemudian.


Sam terhenyak.


"Jadi,Dia anak pak Tirta. Tapi,.. Kenapa aku ngerasa Dekat dengan keluarga itu ya?" Sam bergumam sembari menatap dari kejauhan.


Hatinya seakan menjadi akrab dengan kebahagiaan Sienna dan pak Tirta .


"Sam,Ayo kita pulang!" Ajak sang papa yang pada akhirnya menemukan putranya itu.


"Kamu ngapain disini?"


"Abis dari toilet pah," sahutnya enteng


Tanpa banyak bicara,Sam kemudian pulang bersama sang papa. Dia tak ingin menunjukkan rasa penasarannya pada sang papa. Apalagi sekarang dia tahu, Rara dan Sienna telah menjadi saudara tiri.


Lagi-lagi tak ada kata pamit yang terucap darinya untuk Sienna. Namun kali ini,dia bisa sedikit lega. Setidaknya,Sam tahu kemana harus menemui gadis itu.


Setelah selesai sesi foto Sienna segera turun dari pelaminan dan kembali menuju ruang riasnya.


Matanya liar mencari sosok yang di temuinya tadi.


Sienna menghela nafas lesu. Tubuhnya terpaku di ambang pintu.


"Ternyata dia benar-benar pergi"


Gumamnya putus asa


"Siapa yang pergi?" sebuah Suara dari arah belakang sontak membuat Sienna menoleh cepat,


"Haris? Kamu ngapain disini?"


"aku nyari toilet, eh malah nyasar kesini. Kamu lagi ngapain?" Hariss menatapnya penuh tanya.


"Aku mau memperbaiki riasan. Kalau begitu aku pamit ya" Sienna segera masuk keruangannya.


Hariss terdiam sejenak,


"Kenapa susah banget sih ngobrol sama kamu" Desisnya kecewa.


Setelah menemukan toilet,Haris bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali untuk menemui sang ayah.


"Pah, ayo kita pulang?" Ajaknya.


"Kamu gak mau pamitan dulu sama Rara?" Tanya sang ayah.


"Kayanya dia lagi sibuk," tukasnya.


Para kolega pak Tirta satu persatu sudah mulai pulang ke rumah. Meninggalkan pesta pernikahan mewah itu.


Sam pun sudah kembali ke rumah, sekembalinya dari pesta itu wajahnya tampak berseri.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


Tanya sang papa yang sedari tadi memperhatikannya.


"Enggak kok pah,Sam lagi seneng aja. Oh iya pah, kok Sam gak pernah liat anaknya pak Tirta ya sebelumnya?"


Tanya Sam pada akhirnya


Pak Surya tertegun.


"Dia sibuk kuliah. Lain kali, kamu jangan terlalu dekat sama dia" Saran sang papa


"Loh, kok papa ngomong gitu? Memangnya kenapa Pah? Dan soal pak Tirta yang tadi peluk Sam kaya gitu, kenapa sih pah? Kayanya ada yang aneh deh? Kalian gak sembunyiin sesuatu dari Sam, 'kan?!" selidiknya


"Sudahlah,Kamu kebanyakan mikir. Sana pergi tidur!" perintah sang papa.


Jawaban pak Surya itu,pada akhirnya menyisakan tanya di benak sang putra. Sam jadi Semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Sam kembali ke kamarnya,nampak Eno yang sedang merapikan sepatu-sepatu mahal di kamar bos nya itu.


"Hai bos,udah pulang? Gimana pestanya?" Tanya Eno.


"Pestanya seru, dan bener-bener penuh kejutan. Gue seneng banget, 'No"


Sahutnya, sembari merebahkan tubuh di atas tempat tidur.


"Tumben nih si bos bilang Seru. biasanya males banget kalo di ajak ke kondangan 'manula'" Celetuknya.


"Kurang ajar banget lo, papa gue di bilang manula" Dengusnya melempar bantal


"Iiih..! Kan si bos sendiri yang bilang, kalo pesta pejabat itu isinya 'manula' semua. Gimana sih!" protesnya sembari mengingat


"Eh no. Lo tau gak gue ketemu siapa disana" Tanya Sam berharap Eno bisa menebaknya


"Siapa bos? Presiden ya? Atau Artis?"


Sahut Eno penasaran.


"Ternyata, Cewek yang Gue cari ada disana No. Dan ternyata dia anaknya pak Tirta" Jelas Sam lagi-lagi menyunggingkan senyum bahagianya.


"Hah?! Jadi yang si bos cari itu, anaknya pak Tirta?" Eno melotot tajam .


"Gak usah melotot deh,muka Lo serem!"


Desisnya


"Kok bisa kebetulan begitu yah bos? ternyata Cewek yang selama ini si Bos cari ada di depan mata"


Eno berdecak kagum. Dia tentu tak percaya jika gadis itu adalah putri dari seorang Tirta Ibrahim. Teman bisnis pak Surya majikannya.


"Gue yakin, gue bakalan bisa deketin dia"


Gumamnya yakin.


"Terus,Non Rara gimana bos?"


Tanya Eno bingung.


Sam menoleh kasar dan kemudian


Melemparkan bantal kedua tepat ke arah muka supirnya itu.


"Apa nya yang gimana? Ambil aja buat Lo!" Dengusnya kesal.


"Jadi kalian putus bos?" Timpalnya


"Siapa yang putus Eno. Jadian aja gak pernah gue" Elaknya.


"Yah sayang banget deh si bos. Cewek secantik Non Rara malah di buang"


Ledek Eno.


"Udah ah,gue mau mandi! Besok gue harus bisa ketemu lagi sama dia"


Sam nampak begitu antusias


"Tumben banget si bos ceria. tapi syukurlah, seenggaknya Bos gue gak galau lagi" Gumam Eno menghela nafas lega

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2